Abad Pertengahan Eropa

Share the knowledge!
Share on Facebook8Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Pin on Pinterest0Email this to someoneShare on Tumblr0Share on Reddit0

Abad pertengahan menunjuk pada periode dalam sejarah Eropa, antara zaman Eropa kuno dan zaman modern. Keruntuhan Kekaisaran Romawi pada tahun 470 M. Dianggap sebagai awal periode sejarah ini, sedang masa renaisans dianggap sebagai akhirnya.

Abad pertengahan sendiri dibagi menjadi tiga tahap: tahap awal atau sering disebut abad kegelapan, tahap perkembangan, dan tahap akhir. Istilah abad pertengahan awalnya digunakan oleh kaum humanis pada akhir abad ke-15 M untuk menyebut periode antara zaman kebudayaan klasik hellenis/Yunani dan zaman kebangkitan kembali kebudayaan itu.

Kondisi Eropa pada Abad Pertengahan

abad pertengahan
ilustrasi masyarakat Eropa abad pertengahan

Sejak Kekaisaran Romawi mengalami kemunduran dan keruntuhan, tidak ada imperium Eropa yang dapat mengisi kekosongan kekuasaan politik tersebut. Raja dan dinasti silih berganti berkuasa antara lain dinasti Meroving, Frankia, Kapet, Otto dan Hohenstaufen. Namun, kekuasaan mereka pada umumnya tidak berlangsung lama. Di antara para penguasa itu, hanya Karel Agung atau Charlemagne dari Frankia yang memerintah cukup lama dan baik. Ia berhasil melebur daerah-daerah yang luas di Eropa menjadi satu imperium yang kokoh.

Meskipun demikian, tidak dapat dinafikan pada abad pertengahan kota-kota Eropa mengalami kehancuran. Kota-kota itu menjadi tidak aman karena menjadi sasaran penyerbuan, perampokan, pemerkosaan, dan pembunuhan. Akibatnya, penduduk kota terpaksa meninggalkan rumah dan memencar ke  wilayah pedalaman.

Di pedalaman mereka bertani untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kota Roma, kota terbesar di Barat dengan penduduk hampir satu juta jiwa, bahkan berubah menjadi kota sepi yang berpenduduk hanya beberapa ribu jiwa. Sementara kehidupan mereka cukup memprihatinkan.

Pada masa itu berkembang sistem feodalisme dengan pertanian sebagai pusat kehidupan. Masyarakat hidup dalam berbagai kelompok, yakni bangsawan sebagai tuan tanah, orang bebas yang menjadi golongan  ksatria pengabdi bangsawan, dan petani yang hidup memprihatinkan dan bergantung pada bangsawan.

Masyarakat zaman pertengahan pada umumnya tidak mengenal pemerintah pusat. Mereka hanya bertanggung jawab kepada bangsawan tuan tanah. Dunia mereka sempit dan terbatas. Mereka hanya memahami dialek mereka sendiri. Jarang sekali mereka merasa perlu berhubungan dengan orang lain di luar daerah mereka.

Sampai akhir abad ke-10 M, tidak ada selusin kota di seluruh Eropa yang benar-benar memiliki kehidupan. Selain itu tidak ada satu kota pun yang berpenduduk lebih dari 20.00 jiwa. Kondisi menyedihkan ini berbanding terbalik dengan kehidupan dunia Islam di timur yang sedang mengalami masa keemasannya.

Baru pada abad ke-11, terjadi pertumbuhan kota dengan kehidupan perdangan yang berkembang. Kota-kota utama abad ke11 antara lain Paris di Prancis, Hamburg dan Koln di Jerman, Vvenesia, Genoa, Pisa dan Amalfi di Italia.

Pengaruh Gereja Pada Abad Pertengahan

Dasar-dasar peradaban abad pertengahan dibangun melalui suatu revolusi politik uni. Hal ini berlangsung dari abad ke-5 sampai akhir abad ke-8. Masyarakat Barat yang tidak mampu lagi memelihara kerangka pemerintahan yang berpusat di Roma menata diri kembali atas dasar geraja Kristen.

Gereja Roma berkembang menjadi daerah otonom sejak agama Kristen menjadi agama resmi kekaisaran Romawi pada tahun 380M. Agama ini merupakan satu lembaga yang kaya serta mempunyai pemimpin kharismatik. Organisasi kegerejaan disusun menurut sistem kekaisaran. Paus menjadi pemimpin dunia Kristen. Sementara Uskup Agung mengatur daerah semacam provinsi dan harus tanggap terhadap situasi.

Ketika Kekaisaran Romawi runtuh, gereja tidak ikut hancur. Sebaliknya, berkat pengalamannya mengatur organisasi, gereja menjadi cakap, mahir dan siap melanjutkan kepemimpinan Eropa. Dengan sikap konstruktifnya terhadap masyarakat, gereja akhirnya berhasil membangun masyarakat baru, masyarakat Kristen.

Di seluruh Eropa pada masa itu hanya ada satu lembaga gereja. Gereja inilah yang menjadi pusat pelayanan sosial, pusat pemberian jaminan bagi orang terancam, dan pengembangan ajaran-ajaran Kristen. Jika sesorang tidak dibaptis menjadi warga gereja, maka ia bukan lah anggota masyarakat. Apabila seseorang dikucilkan gereja, ia akan kehilangan haknua baik di bidang politik atau hukum.

Gereja waktu itu sangat kuat pengaruhnya baik dalam kehidupan sosai agama atau kehidupan politik. Banyak raja pada abad pertengahan didampingi pejabat tinggi gereja. Seperti Karel Agung didampingi Alcuin dan Edward dari Inggris yang didampingi Dunstan.

abad pertengahan
Karel Agung raja agung pada Abad Pertengahan Eropa

Kehidupan pada abad pertengahan diwarnai pengaruh kuat gereja di masyarakat. Oleh karena pengaruh ini, gereja dapat mengikat Eropa menjadi satu kesatuan. Masyarakat abad pertengahan, meskipun secara geografis dan politis terpisah satu sama lain dapat dipersatukan oleh satu ikatan kuat, yakni iman Kristen.

Gereja berhasil menciptakan dunia Kristen melampaui batas-batas kerajaan dengan Paus di Roma sebagai pusatnya. Kebudayaan dengan segala unsurnya selalu bercirikan agama, termasuk kehidupan bernegara, sosial, seni, ilmu pengetahuan , moral dan filsafatnya. Situasi seperti ini mencapai puncaknya pada abad ke-13 dengan bersatunya umat Kristen Eropa di Perang Salib.

Akhir Abad Pertengahan Eropa

Pembaruan kebuadayaan pada abad peprtengahan dimulai degnan renaisans dan reformas yang menjadi dasar kebudayaan modern. Pada waktu itu individualitas manusia mulai muncul kembali bersamaan dengan bangkitnya gairah terhadap kebudayaan Romawi dan Yunani yang diperoleh dari dunia Islam pasca Perang Salib.

Dengan renaisans kebudayaan mulai diduniakan dan dengan reformasi gereja mulai diawamkan. Keduanya melepaskan diri dari ikatan gereja. Mereka pada waktu itumenganggap perubahan tadi terjadi karena manusia sendiri yang melakukannya, tidak seperti anggapan umum abad pertengahan di mana setiap perubahan terjadi karena kehendak Tuhan.

Setelah timbulnya kesadaran akan kemampuan manusia sendiri yaitu akal, maka timbul keraguan atas apa yang dinamakan wahyu tuhan. Mereka pun mulai mengkritik kekuasaan tradisi. Golongan  humanis ini menganggap abad pertengahan sebagai zaman kebodohan dan kegelapan.

Ada perbedaan mencolok antara kebudayaan abad pertengahan dan zaman setelahnya. Ini membuat para ahli sejarah pada umumnya melihat abad pertengahan bertolak belakang dengan abad sesudahnya. Abad pertengahan dinilai sebaga abad keagmaan, sedang abad sesudahnya sebagai abad ilmu pengetahuan di mana rasionalitas di atas segalanya. Itulah sebabnya sejak tahun 1700M, pembagian zaman sejarah Eropa selalu menggunakan triak yang terkenal: zaman kuno, abad pertengahan, dan zaman modern.

Share the knowledge!
Share on Facebook8Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Pin on Pinterest0Email this to someoneShare on Tumblr0Share on Reddit0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *