Akulturasi Budaya Islam dan Ritual Jawa

Share the knowledge!
Share on Facebook19Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Pin on Pinterest0Email this to someoneShare on Tumblr0Share on Reddit0

Prolog Akulturasi Budaya Islam dan Ritual Jawa

Islam merupakan salah satu agama yang memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan masyarakat Indonesia, terutama masyarakat Jawa. Masuknya Islam di Indonesia yang secara damai membuat masyarakat menerima Islam meskipun sebelumnya telah berkembang berbagai kebudayaan dan aneka ritual yang bersifat lokal.

Masyarakat Jawa sendiri merupakan masyarakat yang sudah memiliki bermacam-macam budaya yang bahkan berkembang sebelum kedatangan Islam. Pasca Islam masuk, tidak serta merta menggeser keberadaan budaya lokal.

Selain itu upaya islamisasi yang dilakukan oleh para tokoh Islam di Indonesia pada masa awal sengaja menggunakan pendekatan budaya sebagai sarana dakwah. Hal ini membuat adanya kontak antara kebudayaan dan ritual lokal dengan budaya Islam.

Sebagian besar dari kontak yang terjadi akan menimbulkan proses akulturasi, meskipun tidak menutup kemungkinan terjadi asimilasi ataupun sinkretisme. Proses akulturasi antara budaya Islam dengan kebudayaan lokal terutama ritual menjadi suatu hal yang menarik untuk dibahas karena keduanya saling menyatu dan diterima baik oleh masyarakat.

 

 

Pengertian Ritual

Ritual merupakan kata sifat dari rites (ritus) yang berarti segala yang dihubungkan atau disangkutkan dengan upacara keagamaan. Sementara sebagai kata benda, ritual merupakan segala yang bersifat upacara keagamaan.

Ritual atau yang juga dikenal dengan ritus ini sebenarnya merupakan penampakan dari keyakninan religius dan praktek-prakteknya. Kepercayaan terhadap suatu hal menuntut seseorang untuk memperlakukannya secara khusus, sehingga ada tata cara perlakuan secara sakral yang bahkan tidak dapat dipahami secara ekonomi maupun rasional.

Keberadaan ritual bertujuan untuk meningkatkan solidaritas dan menghilangkan perhatian kepada kepentingan individu.

Ritual atau ritus dapat dibedakan menjadi dua jenis, yakni ritus krisis hidup dan ritus gangguan. Ritus krisis hidup merupakan ritus-ritus yang dilakukan untuk mengiringi krisis hidup yang dialami manusia ketika beralih dari satu tahapan kehidupan, misalnya kelahiran, kematian, dan lainnya. Sedangkan ritus gangguan merupakan ritus yang dilakukan untuk menghindarkan dari adanya gangguan roh.

Setiap upacara keagamaan dalam ritual memiliki beberapa komponen, yakni tempat upacara, waktu upacara, benda-benda atau alat-alat upacara, dan orang-orang yang melakukan upacara. Dalam upacara keagamaan, ada beberapa hal yang sering dilakukan mulai dari bersaji, berkorban, berdoa, makan bersama, menari dan bernyanyi, dan masih banyak lagi, tergantung masing-masing kepercayaan yang dianut.

Pengertian Akulturasi

Dalam KBBI akulturasi diartikan sebagai percampuran dua kebudayaan atau lebih yang saling bertemu dan saling mempengaruhi.

Akulturasi merupakan suatu proses perubahan dimana terjadi penyatuan kebudayaan berbeda sehingga unsur kebudayaan asing itu lambat laun dapat diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kebudayaan sendiri.

Proses terjadinya akulturasi berlangsung dalam jangka yang lama. Hal ini dikarenakan unsur budaya asing diterima secara selektif dan unsur budaya asing yang tidak diterima atau ditolak sehingga proses perubahan kebudayaan melalui mekanisme akulturasi masih memperhatikan adanya unsur-unsur komunikasi antara dua kelompok masyarakat yang berbeda kebudayaan.

Ritual Masyarakat Jawa pra-Islam

Kehidupan masyarakat Jawa tidak dapat dilepaskan dari berbagai ritual keagamaan. Ritual ini telah ada sejak sebelum kedatangan Islam di Indonesia. masyarakat Jawa memiliki kepercayaan terhadap keberadaan roh halus pada setiap benda (animisme). Orang Jawa mempercayai keberadaan roh baik dan roh jahat di berbagai tempat. Roh jahat dipercaya akan mengganggu manusia setiap saat, dan baru berhenti ketika diberikan sesaji.

Pemberian sesaji harus dilakukan melalui serangkaian upacara. Sesaji dipersembahkan kepada roh yang biasanya bermukim di pohon beringin, sendang, belik, kuburan-kuburan, atau tempat-tempat lain yang dianggap keramat. Pemberian sesaji dilakukan dalam bentuk upacara. Upacara juga dilakukan untuk meminta berkah dari roh baik. untuk melestarikan upacara pemujaan itu, masyarakat membuat patung dari batu sebagai tempat-tempat pemujaan nenek moyang.

Mereka juga membuat bunyi-bunyian, tari-tarian, dan bayang-bayang nenek moyang sebagai penyempurna jalannya upacara. Hal ini bertujuan agar roh nenek moyang berkenan menerima permohonan keselamatan yang mereka minta.

Salah satu upacara yang dianut oleh masyarakat Jawa adalah slametan. Slametan atau wilujengan merupakan salah satu upacara pokok dari hampir seluruh ritus dalam sistem religi orang Jawa pada umumnya.

Slametan ini biasanya dilakukan di salah satu rumah yang memiliki hajat tertentu, dengan mengundang keluarga dan tetangga terutama yang laki-laki. Slametan seringkali diadakan pada malam hari. Slametan dilakukan untuk memperingati beberapa hal seperti kelahiran, pernikahan, dan juga kematian.

Upacara slametan dalam masyarakat Jawa sangat beragam jenisnya, antara lain sebagai berikut:

  1. Tingkeban. Upacara atau ritual ini dilakukan ketika kandungan berusia 7 bulan, maka dari itu orang Jawa juga sering menyebut tingkeban dengan slametan mitoni. Dalam upacara ini biasanya dihidangkan 7 buah nasi tumpeng dengan 7 macam lauk-pauk dan 7 macam juadah dengan warna yang berbeda-beda pula. Setiap hidangan memiliki makna yang melambangkan kelahiran yang cepat dan selamat.

Upacara slametan ini biasanya diadakan pada hari Setu Wage dalam bulan ketujuh kandungan. Hari Setu Wage dipilih karena dianggap sama dengan istilah metu age, atau lekas keluar. Sejak diadakannya upacara mitoni, calon ibu harus mematuhi berbagai syarat dan pantangan, seperti mencuci rambutnya seminggu sekali dengan air merang yang sudah diberi kekuataan ghaib atau ucapan mantera-mantera.

  1. Upacara kelahiran. Ketika bayi lahir, dhukun bayi[1] akan memotong tali pusar bayi dengan menggunakan pisau yang terbuat dari bambu (welat), sambil menggumamkan mantera-mantera. Setelah itu dhukun bayi akan memandikan bayi dan memberikan minum berupa ramuan yang terbuat dari madu, sari sunthi, dan daun kelor.

Dhukun bayi juga akan menaruh ari-ari pada bejana tanah liat. Untuk anak laki-laki, ari-ari dalam bejana dapat dibuang ke kali atau dikubur di bagian belakang rumah, sementara untuk anak perempuan, ari-arinya dapat dikubur di depan rumah bagian kanan. Dalam bejana biasanya juga disertai dengan benda perlambang seperti sehelai kertas yang bertuliskan aksara Jawa yang ditulis dengan jarum atau canthing.

  1. Upacara perkawinan. Dalam upacara ini disediakan sesaji bojawali. Bagi pengantin yang keduanya berstatus bujang (jejaka dan perawan) menyediakan sesaji yang memiliki makna antara lain daun sirih, pisang sanggan, dan tumpeng tulung.

Untuk pengantin yang sudah berkeluarga (misalnya duda atau janda) menggunakan sesaji pancareksajati yang di dalamnya juga berisi sesaji dengan makna tertentu. Upacara perkawinan dalam masyarakat Jawa terdiri dari berbagai rangkaian acara mulai dari lamaran, pasok tukon, liru kalpika, siraman, midadareni, dan panggih.

  1. Upacara kematian. Pada upacara kematian akan diadakan slametan mulai dari surtanah, telung dinane, pitung dinane, patangpuluh dinane, satus dinane, setahun, rong tahun, lan nyewu (hari ke-1, ke-3, ke-7, ke-40, ke-100, satu tahun, dua tahun dan ke-1000). Dalam upacara slametan kematian ini terdapat sesaji lengkap mulai dari tumpeng, ingkung, sega gulung.

Akulturasi Budaya Islam dan Ritual Jawa

Agama Islam mengajarkan agar para pemeluknya melakukan kegiatan-kegiatan ritualistik tertentu. Kegiatan ritualistik yang dimaksud meliputi berbagai bentuk ibadah sebagaimana yang tersimpul dalam rukun Islam, yakni syahadat, shalat, puasa, zakat, dan haji.

Khusus mengenai shalat dan puasa, intisari dari shalat adalah doa yang ditunjukkan kepada Allah Swt, sedangkan puasa adalah suatu bentuk pengendalian nafsu dalam rangka penyucian rohani. Aspek doa dan puasa tampak mempunyai pengaruh yang sangat luas, mewarnai berbagai bentuk upacara tradisional orang Jawa.

Bagi orang Jawa, hidup ini penuh dengan upacara atau ritual, baik upacara yang berkaitan dengan lingkaran hidup manusia, dan juga upacara-upacara yang berkaitan dengan aktivitas kehidupan sehari-hari, dan upacara-upacara yang berhubungan dengan tempat tinggal.

Upacara-upacara itu semula dilakukan dalam rangka untuk menangkal pengaruh buruk dari daya kekuatan gaib yang tidak dikehendaki yang akan membahayakan bagi kelangsungan kehidupan manusia. Tentu dengan upacara itu harapan pelaku upacara adalah agar hidup senantiasa dalam keadaan selamat.

Secara luwes Islam memberikan warna baru pada upacara-upacara itu dengan sebutan kenduren atau slametan. Di dalam upacara slametan ini yang pokok adalah pembacaan doa yang dipimpin oleh orang yang dipandang memiliki pengetahuan tentang Islam.

Sebagaimana diketahui, dalam tradisi Islam Jawa, setiap kali terjadi perubahan siklus kehidupan manusia, rata-rata mereka mengadakan ritual selamatan, dengan memakai berbagai benda-benda makanan sebagai simbol penghayatannya atas hubungan diri dengan Allah Swt .

Bagi masyarakat muslim Jawa, ritualitas sebagai wujud pengabdian dan ketulusan penyembahan kepada Allah, sebagian diwujudkan dalam bentuk simbol-simbol ritual yang memiliki kandungan makna mendalam.

Simbol-simbol ritual merupakan ekspresi atau pengejawantahan dari penghayatan dan pemahaman akan “realitas yang tak terjangkau” sehingga menjadi “yang sangat dekat”. Dengan simbol-simbol ritual tersebut, terasa bahwa Allah selalu hadir dan selalu terlibat, “menyatu” dalam dirinya.

Nilai-nilai Islam telah merasuki pelaksanaan upacara slametan dalam berbagai bentuknya. Berikut adalah beberapa jenis upacara yang berkaitan dengan lingkungan hidup, yaitu:

  1. Upacara tingkeban atau mitoni, dilakukan pada saat janin berusia tujuh bulan dalam perut ibu. Dalam tradisi santri, pada upacara tingkeban ini seperti yang dilakukan di daerah Bagelen dibacakan nyanyian perjanjen dengan alat musik tamburin kecil. Nyanyian ini dibawakan oleh empat orang dan di hadapan mereka duduk sekitar 12 orang yang turut menyanyi. Nyanyian perjanjen ini sesungguhnya merupakan riwayat Nabi Muhammad yang bersumber dari kitab Barzanji.
  2. Upacara kelahiran, dilakukan pada saat anak diberi nama dan pemotongan rambut, pada waktu bayi berumur tujuh hari atau sepasar. Karena itu slametan pada upacara ini disebut dengan korban aqiqah yang diucapkan dalam lidah Jawa kekah, ditandai dengan penyembelihan hewan akikah berupa kambing dua ekor bagi anak laki-laki dan satu ekor kambing bagi anak perempuan.

    akulturasi budaya islam dan ritual jawa
    upacara kelahiran Jawa
  3. Upacara sunatan, dilakukan pada saat anak laki-laki dikhitan. Namun pada usia mana ank itu dikhitan, pada berbagai masyarakat pelaksanaannya berbeda-beda. Ada yang melaksanakannya antara usia empat dampai delapan tahun, dan juga antara usia 12 sampai 14 tahun. Pelaksanaan khitan ini sebagai bentuk perwujudan secara nyata tentang pelaksanaan hukum Islam. sunatan atau khitanan ini merupakan pernyataan pengukuhan sebagai orang islam. karena itu seringkali sunatan disebut selam, sehingga mengkhitankan dikatakan nyelamaken, yang mengandung makna mengislamkan (ngislamaken).
  4. Upacara perkawinan, dilakukan pada saat pasangan muda-mudi akan memasuki jenjang berumah tangga. Upacara ini ditandai secara khas dengan pelaksanaan syariat islam yakni akad nikah (ijab qabul) yang dilakukan oleh pihak wali mempelai wanita denga pihak mempelai pria dan disaksikan oleh dua orang saksi. Slametan yang dilakukan berkaitan dengan upacara perkawinan ini sering dilaksanakan dalam beberapa tahap, yakni pada tahap sebelum aqad nikah, tahap akad nikah, dan tahap sesudah akad nikah (ngundhuh manten, resepsi pengantin).
  5. Upacara kematian, upacara untuk orang-orang yang meninggal setelah 3, 7, 40, 100, dan 1000 hari, merupakan budaya lokal yang berlaku di Jawa, upacara tersebut disebut “selamatan” dari kata Islam dan salam, yakni kedamaian atau kesejahteraan. Upacara ini kemudian disebut tahlilan dari kata tahlil, yakni lafal la ilaha illa Allah secara bersama-sama. Tahlilan kirim doa kepada leluhur terkadang dilakukan oleh keluarga secara bersama-sama pada saat-saat ziarah kubur, khususnya pada waktu menjelang bulan Ramadhan. Upacara ziarah kubur ini disebut upacara nyadran.

    akulturasi budaya islam dan ritual jawa
    Tahlilan

Dewasa ini bacaan tahlilan lebih meluas penggunaannya. Tahlilan tidak saja sebagai upaya mendoakan ahli kubur, tetapi tahlil dibaca juga sebagai pelengkap dari doa slametan sehingga kapan saja diadakan upacara slametan dimungkinkan juga untuk dibacakan tahlilan. Misalnya pada waktu mau pindah runah, syukuran sembuh dari sakit, naik pangkat, mau berangkat dan pulang dari perjalanan jauh seperti naik haji dan lain sebagainya.

Tradisi-tradisi tersebut bagi muslim tradisionalis telah diislamkan, karena dengan suasana yang demikian sangat efektif untuk menanamkan jiwa tauhid.

Simpulan

Masyarakat Jawa merupakan salah satu masyarakat yang memiliki berbagai ritual keagamaan yang bervariasi. Ritual keagamaan ini bahkan sudah ada sejak berkembangnya kepercayaan animisme. Kepercayaan akan adanya roh menjadikan masyarakat Jawa melakukan ritual demi mengusir gangguan roh jahat.

Selain itu ritual yang dilakukan oleh orang Jawa juga bertujuan untuk mengharap berkah dari nenek moyang mereka. Ritual atau upacara keagamaan di Jawa yang berkembang sebelum kedatangan Islam antara lain, tingkeban, upacara kelahiran, upacara perkawinan, upacara kematian. Secara keseluruhan ritual tersebut mengandung makna-makna tertentu.

Pasca kedatangan Islam, ritual-ritual tersebut mulai mengalami akulturasi dengan budaya Islam. kedatangan Islam mewarnai ritual-ritual lokal Jawa sehingga keduanya dapat menyatu dan menjadi kebudayaan yang berkembang di kalangan masyarakat Jawa.

Proses akulturasi antara budaya Islam dan ritual masyarakat Jawa ini tidak serta merta terjadi secara instan, tetapi diperlukan proses panjang yang akhirnya membuat masyarakat Jawa lambat laun menerima keberadaan budaya Islam.

DAFTAR PUSTAKA

Agus, Bustanuddin. Agama dalam Kehidupan Manusia: Pengantar Antropologi Agama. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2006.

Jamil, Abdul, dkk.. Islam dan Kebudayaan Jawa. Yogyakarta: Gama Media, 2002.

Koentjaraningrat. Beberapa Pokok Antropologi Islam. tt: Dian Rakyat, 1965.

______________. Kebudayaan Jawa. Jakarta: Balai Pustaka, 1984.

Sholikhin, Muhammad. Ritual dan Tradisi Islam Jawa. Yogyakarta: Narasi, 2010.

Sutiyono. Poros Kebudayaan Jawa. Yogyakarta: Graha Ilmu,2013.

Winangun, Y. W. Wartaya. Masyarakat Bebas Struktur: Liminitas dan Komunitas Menurut Victor Turner. Yogyakarta: Kanisius, 1990.

[1]Dhukun bayi adalah orang yang membantu kelahiran bayi sebelum adanya bidan.

Thanks to Surti Nurpitasari

Share the knowledge!
Share on Facebook19Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Pin on Pinterest0Email this to someoneShare on Tumblr0Share on Reddit0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *