Dinasti Buwaihiyah (935-1062)

Share the knowledge!
Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Pin on Pinterest0Email this to someoneShare on Tumblr0Share on Reddit0

Wilayah Dinasti Buwaihiyah
Wilayah Dinasti Buwaihiyah

Dinasti Buwaihiyah merupakan dinasti paling kuat dan luas wilayahnya, jika kita membandingkannya dengan dinasti-dinasti lain yang muncul selama Daylami interlude. Dinasti ini muncul pada abad kesepuluh, sebelum datangnya dinasti Seljuq. Dinasti ini didirikan oleh tiga bersaudara keturunan Abu Syuja’ Buwaih, pada perkembangannya dinasti ini mempunyai kedudukan besar dalam pemerintahan khalifah Abbasiyah. Untuk lebih lengkapnya, mari kita lanjut kepada pembahasan di bawah ini.

Masa Awal Dinasti Buwaihiyah

Sejarah dinasti Buwaih dimulai dari tiga bersaudara keturunan Abu Syuja’ Buwaih, seorang berkebangsaan Persia dari Daylam, pesisir Laut Kaspia. Abu Syuja’ mengaku sebagai keturunan raja-raja Sasaniyah kuno. Dia adalah pemimpin sebuah gerombolan yang suka berperang, yang sebagian besar terdiri atas orang-orang dataran tinggi Daylami. Pada awal abad ke-10, ketiga anak Abu Syuja’: Ali (Imad al-Daulah), Hasan (Rukn al-Daulah), dan Ahmad (Mu’izz al-Daulah) merupakan pendiri dinasti Buwaihiyah. Kemunculan mereka di sejarah dinasti Abbasiyah bermula dari kedudukan panglima perang yang diraih Ali dan Ahmad dalam pasukan Makan ibn Kali dari dinasti Samaniyah, tetapi mereka berpidah ke kubu Mardawij ibn Ziyar pendiri dari dinasti Ziyariyyah untuk memerangi Samaniyah.

Ketika Mardawij terbunuh pada Januari 935 M, Ali yang tertua dari tiga bersaudara Buwaih, telah menjadi penguasa Isfahan, dan tak berselang lama ia menjadi menguasai seluruh Faris, Hasan telah menguasai daerah Jibal, dan Ahmad menguasai Karman dan Khuzistan. Syiraz kemudian dipilih sebagai ibukota dinasti baru ini. Seperti kebanyakan orang-orang Daylam lainnya, dinasti Buwaihiyah adalah penganut Syi’ah Itsna ‘Asyariyyah yang moderat. Peringatan-peringatan tradisional Syi’ah dibawa ke dalam wilayah-wilayah mereka, dan selama masa mereka terjadi sistematisasi dan intelektualisasi teologi Syi’ah.  Pada tahun 945, kemajuan besar terjadi dalam dinasti Buwaih, tepatnya ketika Ahmad memasuki kota Baghdad.

Masuknya Dinasti Buwaihiyah ke Baghdad

Sebelum kita lebih jauh membahas mengenai kedudukan dinasti Buwaih di Khalifah Abbasiyah, alangkah lebih baiknya jika kita membahas terlebih dahulu latar belakang masuknya dinasti Buwaihiyah ke Baghdad. Ketika Khalifah al-Mu’tasim dinobatkan sebagai Khalifah Abbasiyah ke-8, menggantikan al-Makmun, memunculkan rasa tidak senang pasukan Muslim (Arab-Persia). Untuk membendung pengaruh tentara Arab dan Persia, ia memperkejakan tentara bayaran Turki yang jumlahnya sangat banyak. Tentara Turki tersebut bersikap ceroboh dengan melewati kota Baghdad, sehingga para tentara Muslim yang dari awal menunjukan rasa keberatan atas kedatangan mereka, bersama-sama rakyat Baghdad melawan tentara bayaran dari Turki. Sehingga pecahlah peperangan dan huru-hara.

Untuk meredakan situasi yang kacau di Baghdad, akhirnya khalifah mengeluarkan kebijakan dengan mendirikan kota khusus untuk tentara Turki yang berjarak 60 mil arah barat laut Baghdad, kota tersebut bernama Sammara, sekaligus sebagai ibu kota baru. Masuknya tentara Turki ke dalam lingkungan khalifah, seakan menjadi bumerang bagi khalifah dan keturuannya. Karena para tentara bayaran tersebut menguasai istana dan memerintah seenaknya sebagai amir al-umara. Para tentara Turki ini dikenal kasar terhadap penduduk Baghdad, sehingga untuk melepaskan khalifah dari dominasi pengaruh Turki, maka Khalifah al-Mustakfi Billah (944-946M) terpaksa meminta bantuan kepada salah satu pemimpin dinasti Buwaihiyah, Ahmad Ibn Abu Shuza’ Buwaih di Daylam.

Ilustrasi Tentara dinasti Buwaihiyah
Ilustrasi Tentara dinasti Buwaihiyah

Pada tahun 945 M, dari ibu kota Shiraz, Ahmad menyerang Baghdad dan berhasil mengusir tentara Turki dari Baghdad. Setelah berhasil mengusir tentara Turki, Ahmad justru melihat kesempatan untuk menjadi penguasa yang baru di Baghdad.

Perkembangan Dinasti Buwaihiyah

Kekuasaan dinasti Buwaihiyah tersebut, diawali ketika Ahmad memasuki kota Baghdad dan memulai kekuasaan dinasti Buwaihiyah atas Khalifah Abbasiyah. Gelar Mu’izz al-Daulah diperolehnya dari Khalifah Mustakfi Billah. Ia memerintah sebagai wazir utama (amir al-umara) dan mengambilsegala kekuasaan atas orang-orang Sunni. Untuk menutupi wewenang khalifah, Ahmad memakai gelar sultan, mencetak mata uang atas namanya, dan menuntut namanya disebutkan bersama sang Khalifah dalam khutbah Jum’at.

Pada bulan Januari 946, Khalifah al-Mustakfi menjadi buta dan digulingkan oleh Mu’izz al-Daulah yang kemudian memilih al-Mutsi’ (946-974) sebagai khalifah baru. Festival-festival Syi’ah kini diselenggarakan, terutama perayaan bergabung pada peringatan kematian al-Husayn (sepuluh Muharam) dan perayaan bergembira memperingati pengangkatan Ali bin Abi Thalib sebagai penerus Rasulullah di Ghadir al-Khumm. Ini merupakan periode paling menyedihkan dalam institusi kekhalifahan Abbasiyah, ketika pemimpin kaum beriman hanya sekedar menjadi boneka di tangan amir al-umara.

Rezim Buwaihiyah, yang menguasai Iran, Irak, dan Mesopotamia, memprakarsai sebuah model baru dalam memerintah. Buwaihiyah mendudukkan Khalifah dalam kedudukan sebagai simbol kepala negara, mengorganisisr mereka sebagai pimpinan bagi seluruh muslim Sunni, dan mengakui hak mereka untuk membuat keputusan urusan agama. Namun pada praktiknya rezim Buwaih ini didasarkan pada sebuah koalisi keluarga yang saling berbagi kekuasaan.

Jika diamati dari keping mata uangnua, ketiga bersaudara Buwaih cukup puas dengan gelar amir atau malik yang diberikan pada julukan kehormatan seperti Mu’iz al-Daulah (orang yang memberi kemuliaan kepada negara), ‘Imad al-Daulah (tiang negara), dan Rukn al-Daulah (pilar negara). Semua gelar-gelar tersebut diberikan secara serentak oleh Khalifah kepada tiga putra Buwaih. Setelah periode mereka, sebutan-sebutan seperti itu menjadi kebiasaan. Contohnya gelar kehormatan amir al-umara juga disandang oleh beberapa penerus Mu’izz, meskipun sebutan tersebut tidak bermakna apa-apa lagi. Mui’z memerintah selama 24 tahun, sementara kedua saudaranya menguasai bagian kerajaan sebelah timur.

Selama masa kekuasaan mereka atas khalifah. Mereka menaikkan dan menurunkan khalifah sesuai kehendak mereka. Irak sebagai sebuah provinsi diperintah dari ibukota Buwaihi, Syiras di Faris. Di Baghdad, mereka melestarika sejumlah istana megah dan menyebutnya dengan nama dar al-mamlakah (kampung kerajaan). Baghdad bukan lagi pusat dunia muslim, karena kini ditandingi bukan saja oleh Syiraz, tetapi juga oleh Ghaznah, Kairo, dan Kordova.

Dengan berkuasanya Bani Buwaih, aliran Mu’tazilah bangkit lagi tertama di wilayah Persia, bergandengan tangan dengan kaum Syi’ah. Pada masa ini muncul para pemikir Mu’tazilah dari aliran Basrah, meskipun nama mereka tidak sebesar para pendahulu mereka di masa kejayaannya yang pertama. Namun, mereka meinggalkan banyak karya yang bisa dibaca hingga sekarang. Periode ini dapat dikatakan sebagai periode kebangkitan kedua Mu’tazilah. Salah satu tokoh Mu’tazilah periode kedua ini dalah al-Qadi Abd al-Jabbar, penerus aliran Basra setelah Abu Ali dan Abu Hasyim.

Puncak Kejayaan Dinasti Buwaihiyah

Kekuasaan dinasti Buwaihiyah mencapai puncaknya di bawah kepemimpinan ‘Adud al-Daulah (949-983), putra dari Rukn al-Daulah (Hasan). Dia bukan saja seorang penguasa Buwaih yang paling unggul, tetapi juga yang paling masyur pada zamannya. Di bawah kepemimpinannya, pada 977 M dia berhasil mempersatukan beberapa kerajaan kecil yang sudah muncul sejak periode kekuasaan Buwaihi di Persia dan Irak, sehingga dia dapat membentuk satu negara yang bersarnya hampir menyerupai imperium. A’dud al-Daulah menikahi putri Khalifah al-Tha’i dan menikahkan putrinya sendiri dengan sang khalifah pada 980 M, dengan cara ini dia berharap memiliki keturuanan yang akan meneruskan kekuasannya.

‘Adud adalah penguasa pertama dalam Islam yang menyandang gelar syahaniyah (raja atas raja). Meskipun dia tetap mempertahankan pusat pemerintahan di Syiraz, dia juga memperindah Baghdad, memperbaiki kanal-kanal yang sudah usang, dan di beberapa kota lain menndirikan sejumlah masjid, sebagaimana dicatat Ibnu Miskawaih, bendaharawan ‘Adud. Untuk lembaga-lembaga penyantun, ‘Adud menyediakan dana dari perbendaharaan negara. Salah satu bangunan terpenting yang dibuat pada masa itu adalah rumah sakit al-Bimaristan al-‘Adudi, di Baghdad yang dirampungkan pembangunannya pada 978=979. Rumah sakit tersebut memiliki 24 dokter yang juga bertugas sebagai pengajar ilmu kedokteran.

Dalam menciptakan perdamaian, ‘Adud bekerja sama dengan seorang wazir Kristen yang cukup terampil, Nashr ibn Harus, yang atas otoritas dari khalifah mendirikan dan memperbaiki sejumlah gereja dan biara. Teladan yang diperlihatkan ‘Adud dalam kepeduliannya terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan sastra diikuti oleh putranya Syaraf al-Daulah yang menggantikan ‘Adud setelah wafat.

Kemunduran dan Runtuhnya Dinasti Buwaihiyah

Persoalan utama yang menjadi penyebab runtuhnya dinasti Buwaihiyah adalah merosotnya loyalitas kekeluargaan. Perlu diingat kembali bahwa dinasti Buwaihiyah dalam melaksanakan dan menjaga kekuasaan merupakan hasil timbal balik hubungan kekeluargaan. Namun, ketika loyalitas kekeluargaan merosot, dan satu saudara siap berperang melawan saudara yang lain maka kesatuan kekuatan dinasti pun terpecah-belah.

Peperangan yang terjadi antara Baha’, Syaraf, dan saudara ketiga mereka, Shamsham al-Daulah, juga pertikaian antara anggota-anggota keluarga kerajaan untuk menentukan penerus mereka, dan fakta bahwa Buwaihi merupakan penganut Syi’ah sehingga sangat dibenci oleh orang-orang Baghdad yang mayoritas Sunni, berbagai hal tersebut menjadi faktor-faktor penting bagi keruntuhan dinasti Buwaihi. Pada tahun 1055 M, raja Saljuk Thugril Beg memasuki Baghdad, dan mengakhiri riwayat kekuasaan Buwaihi, raja terakhir dari dinasti ini di Irak, al-Malik al-Rahim (1048-1055), mengakhiri hidupnya dalam tawanan Thughril. Demikian uraian sejarah dinasti Buwaihiyah, dinasti yang erat dengan ikatan kekeluargaan dalam menjalankan kekuasannya.

BIBLIOGRAFI

Abdul Karim, M. 2014. Bulan Sabit di Gurun Gobin: Sejarah Dinasti Mongol Islam di Asia Tengah. Yogyakarta: Suka Press.

Bosworth, C. E. 1993. Dinasti-Dinasti Islam. Bandung: Mizan.

K Hitti, Philip. 2006. History of The Arabs. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta.

M Lapidus, Ira. 2000. Sejarah Sosial Umat Islam I dan II. Jakarta: RajaGrafindo Persada.

Maryam, Siti, dkk. 2003. Sejarah Peradaban Isma dari Masa Klasik hingga Modern. Yogyakarta: Lesfi.

Share the knowledge!
Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Pin on Pinterest0Email this to someoneShare on Tumblr0Share on Reddit0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *