Dinasti Idrisiyah : Dinasti Islam Syiah Pertama (788-927 M)

Share the knowledge!
Share on Facebook11Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Pin on Pinterest0Email this to someoneShare on Tumblr0Share on Reddit0

Dinasti Idrisiyah atau Adarisiyah adalah dinasti Islam pertama yang berdiri di Maghrib al-Aqsha (Maroko). Selain sebagai dinasti Islam pertama di Maroko, Idrisiyah juga merupakan dinasti Islam pertama yang berupaya memasukkan doktrin Syiah, meskipun dalam bentuk lunak ke wilayah Maroko. Meskipun wilayahnya kecil, dinasti ini merupakan pusat perjuangan Islam di Maroko, yang dikelilingi oleh pemerintahan lokal dengan bermacam-macam kepercayaan.

Dinasti ini didirikan oleh Idris bin Abdullah bin al-Hasan bin al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib di Maghrib al-Aqsha pada tahun 788, dan dapat bertahan cukup lama hingga tahun 927 M. Sebagai Daulah kedua (pertama Umayyah di Andalusia) yang tidak terikat dengan kekhalifahan, Idrisiyah dapat bertahan dalam waktu yang relatif lama.

Setidaknya terdapat dua faktor pendukung eksistensi Dinasti Idrisiyah. Pertama, pemerintahannya memperoleh dukungan penuh dari kabilah-kabilah Barbar yang terkenal kuat. Kedua, pusat pemerintahannya yang jauh dari kota Baghdad, sehingga khalifah Abbasiyah ragu-ragu untuk menyerang langsung Dinasti Idrisiyah.

Latar Belakang Berdirinya Dinasti Idrisiyah

Pertempuran Fakh yang berlangsung pada tahun 786 di Hijaz, menorehkan jejak panjang dalam sejarah Syiah. Pertempuran itu melibatkan simpatisan Ali (Syiah) melawan kekhalifahan Abbasiyah. Dalam pertempuran tersebut golongan Syiah yang memberontak mengalami kekalahan.

Pemberontak Syiah luluh lantah pascapertempuran, akan tetapi terdapat dua keturunan Ali yang berhasil selamat dari pertempuran itu. Mereka adalah Yahya bin Abdullah bin al-Hasan yang pergi ke Dailam dan saudaranya yang bernama Idris bin al-Hasan yang pergi ke Afrika Utara.

Idris berhasil sampai ke Maghrib al-Aqsha ditemani oleh orang kepercayaannya bernama Rasyid pada tahun 786 M.  Setibanya di Maghrib, idris segera mencari dukungan dari tokoh-tokoh Maroko untuk membangun suatu koalisi politik.

Situasi dan kondisi kawasan utara Maghrib al-Aqsha sendiri sangat mendukung bagi terbukanya jalan untuk sebuah kepemimpinan politik. Kondisi ini muncul akibat konflik internal yang memecah belah wilayah itu.

Konflik tersebut melibatkan kabilah-kabilah Barbar, antara suku-suku Shanhajiyah (Sanhadja), Masmudiyah (Masmouda) yang masih memegang teguh as-Sunnah, dengan suku Burghuathah (Berghwata), yang menciptakan sebuah ideologi agama baru.

Agama baru Burghuathah sudah jauh menyimpang dari akidah Islam dan lebih dekat kepada Zindiq. Oleh karena itu, di kawasan Maghrib tersebar pandangan yang memvonis kabilah Burghuathah dengan ideologi barunya tersebut sebagai orang-orang kafir.

Sulu-suku Mashmudiyah mengkhawatirkan akidah sesat suku Burghuathah. Mereka mencoba bertahan menghadapi penindasan suku Burghuathah. Akan tetapi, situasi, dan kondisi internal mereka yang juga kacau dan tidak stabil membuatnya membutuhkan seorang pemimpin yang dapat mempersatukan mereka di bawah satu bendera untuk membebaskan dari hegemoni Burghuathah.

Di tempat lain, Idris dan Rasyid yang telah melakukan pengembaraan selama dua tahun tiba di kota Tangier, ibu kota Maghrib al-Aqhsa saat itu. Di kota tersebut, Rasyid mulai mempropagandakan pengangkatan seorang amir Alawi yang mampu mengangkat panji Islam dan membebaskan masyarakat dari penindasan, dan kezindiqan.

Propaganda yang menyerukan pengangkatan seorang pemimpin dari keturunan ahlul bait ternyata mampu menarik dan menggalang  banyak dukungan. Dalam waktu yang relatif singkat, banyak masyarakat bergabung berkat usaha Rasyid yang begitu gencar mempromosikan ide dan gagasannya di tengah-tengah kabilah Awarba. Mayoritas simpatisan itu berasal dari daerah Wallili (Volubilis) yang waktu itu menjadi pusat perdagangan kabilah-kabilah Maroko.

Setelah persiapan dan pendukung telah siap dan solid, maka Rasyid pun mengajukan Idris untuk diangkat sebagai pemimpin kabilah-kabilah Maroko. Usulan itu segera mendapatkan sambutan hangat dari pemuka Awarba, karena mereka melihat bahwa Idris adalah sosok terbaik yang dapat menyelamatkan mereka dari pengaruh Kabilah Burghuathah dan memperjuangkan nasib mereka.

Selanjutnya, Idris pun datang ke Walili pada Agustus 788 M, lalu diangkat oleh para penduduknya sebagai pemimpin mereka sekaligus ketua kabilah Awarba Maghrib. Cabang-cabang Awarba lain yang sudah muak dengan Burghuathah segera menyusul bergabung, di antaranya Lawatah, Miknsah, dan Zuwarah.

Upaya Khalifah Abbasiyah untuk Melenyapkan Dinasti Idrisiyah

Berpusat di Walili, Idris terus aktif melakukan perluasan pengaruh. Usahanya membuahkan hasil, hampir seluruh kawasan utara Mahrib al-Aqsha tunduk kepadanya. Ia lantas melakukan ekspansi untuk menundukkan kabilah-kabilah lainnya dengan cara diplomasi atau jika terpaksa menggunakan kekerasan.

Pada tahun 789 M, Idris telah berhasil memperluas wilayah kekuasannya mulai dari Qairuwan hingga Samudera Atlantik. Dalam perluasan itu, ia banyak merebut wilayah kekasaan Daulah Abbasiyah.

Khalifah Abbasiyah, Harun ar-Rasyid marah setelah mendengar kemunculan Dinasti Idrisiyah yang telah menjelma sebagai ancaman bagi kekuasaan Daulah Abbasiyah di kawasan Ifriqiya (wilayah yang mencangkup Tunisia, Tripolitania, dan Constantinois). Kemunculan kekuatan Syiah di dunia Islam mana pun merupakan persoalan yang tidak akan didiamkan begitu saja oleh Daulah Abbasiyah. Oleh karena itu, Khalifah mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk melenyapkan Daulah Idrisiyah beserta pemimpinnya.

Dalam hal, Yahya al-Barmaki, salah satu Wazir Khalifah mengusulkan suatu cara untuk menyingkirkan Idris, yaitu dengan menugaskan seseorang yang licik untuk melaksanakan misi pembunuhan terhadap Idris.

Khalifah menyetujui ide tersebut. Selanjutnya, ia menunjuk seorang tabib bernama Sulaiman bin Jarir yang terkenal dengan julukan Asy-Syamakh al-Yamami untuk menjalakan misi itu.

Sulaiman pun segera berangkat ke Ifriqiya sambil membawa surat untuk gubernur Ifriqiya waktu itu, Ibrahim bin al-Aghlab. Surat tersebut berisikan instruksi agar gubernur memfasilitasinya untuk menjalankan misi dari khalifah.

Ibrahim lantas mempersilahkan Sulaiman menyeberangi batas wilayah kekuasaannya untuk pergi menuju ke Maghrib al-Aqsha. Setelah ia menyeberangi Ifriqiya, Sulaiman akhirnya berhasil bertemu dengan Idris dan berpura-pura ingin mengabdi kepadanya.

Setelah berpura-pura sebagai orang Syiah, akhirnya ia berhasil memperoleh kepercayaan Idris. Sembari ia berpura-pura mengabdi kepada Idris, ia juga menunggu waktu yang tepat untuk melancarkan aksinya. Pada bulan Juli tahun 791 M, ia mulai bergerak untuk melakukan pembunuhan. Usahanya itu berhasil, setelah ia berhasil membunuh Idris menggunakan racun.

Pascaterbunuhnya pemimpin Dinasti Idrisiyah, ia pun melarikan ke Ifriqiya dan melapor kepada Ibrahim bin al-Aghlab bahwa misinya sudah selesai, dan laporan itu kemudian diteruskan Ibrahim kepada Khalifah Harun ar-Rasyid.

Usaha Mempertahankan Eksistensi Dinasti Idrisiyah

Dengan meninggalnya Idris, maka terjadi kekosongan kekuasaan di pemerintahan Idrisiyah. Rasyid selaku orang kepercayaan Idris, dan pengelola Dinasti Idrisiyah berusaha mempertahankan kendali pemerintahan agar tetap berada di tangan keluarga Idris.

Idris meninggalkan seorang istri yang berasal dari bangsa Barbar bernama Kanzah yang sedang mengandung. Rasyid yang mengetahui hal tersebut, segera membuat kesepakatan dengan pemimpin kabilah-kabilah lain untuk menunggu sampai Kanzah melahirkan.

Apabila Kanzah melahirkan seorang bayi laki-laki, maka bayi itu  akan menjadi pemimpin mereka menggantikan ayahnya. Dua bulan kemudian, ia melahirkan bayi laki-laki, para pengikut Idris lantas memberikan bayi laki-laki itu nama yang sama dengan ayahnya, yaitu Idris.

Sejak saat itu, Rasyid menjadi wali bagi Idris II hingga ia berusia 10 tahun. Pada tahun 802 M, Rasyid secara resmi mengangkatnya sebagai pemimpin dinasti itu. Tidak lama berselang, ia sendiri meninggal dunia setelah menjadi korban dari konspirasi yang dilancarkan Gubernur Ifriqiya, Ibrahim al-Aghlab. Gubernur tidak ingin Rasyid memimpin Dinasti Idrisiyah yang sedang mengalami fase kebangkitan.

Pendirian Kota Fez Sebagai Ibu Kota Baru

Terbunuhnya dua pendiri Dinasti Idrisiyah, ternyata tetap tidak mampu melemahkan kekuatan dinasti itu. Idris II yang masih kecil kemudian diasuh oleh salah satu pemimpin bangsa Barbar bernama Abu Khalid Yazid bin al-Abbas al-Ubbadi.

Satu tahun kemudian, Abu Khalid memperbaharui kembali pelantikan Idris sebagai pemimpin Dinasti Idrisiyah. Setidaknya terdapat 4 kabilah yang masih loyal kepada keluarga Idris, yakni Kabilah Zanatah, Awarba, Shanhajah, dan Mashmudah.

Pada tahun 808 M, Idris II mulai menjalankan kepemimpinan secara independen. Banyak bangsa Arab yang datang dan bergabung dengannya, hal itu membuat kekuatannya semakin meningkat. Akan tetapi muncul permasalah dalam kebijakannya yang menjadikan orang-orang Arab sebagai orang kepercayaannya dan mengesampingkan orang dari bangsa Barbar. Bangsa Barbar yang merasa didiskriminasi menyulut kembali konflik lama antara Arab dengan Barbar.

Di sisi lain, Idris II memang ingin mengikis dominasi bangsa Barbar dan menyeimbangkan pemerintahannya. Selain itu, ia juga berorientasi untuk keluar dari Walili (Volubilis). Konflik rasial yang menyebabkan terbunuhnya Ishaq bin Abdul Hamid, kepala kabilah Awarba, semakin membulatkan tekad Idris untuk keluar dari kota Walili dan menetap di sebuah lembah bernama Fez.

Pada tahun 809 M, Idris II mulai membangun sebuah kota kecil di kawasan tersebut. Kota itu dikenal dengan nama, ‘Udwah al-Qarawiyyin (tepi lembah orang-orang Qairuwan), alasan pemberian nama itu adalah karena ia menempatkan orang-orang Arab yang bermigrasi dari Qairuwan di kota tersebut.

Setelah kota pertama berdiri, datang gelombang imigran dari Andalusia yang ingin bergabung dengan mereka. Idris II lantas mendirikan sebuah perkampungan di samping kota itu, untuk menjadi tempat tinggal para imigran tersebut. Ia menamai perkampungan itu ‘Udwah al-Andalusiyyin (tepi lembah orang-orang Andalusia).

Dari kedua ‘udwah itu, maka terbentuk lah kota Fez. Pada tahun 811 M, Idriss II mulai memerintah di kota tersebut, membentenginya dengan tembok dan membangun masjid di dalamnya.

Pascapendirian ibu kota baru, Idris II mulai menjalankan kebijakan invasi militer pada tahun 812 M. Invasi ini berhasil memperluas wilayah negaranya dari Tilimsan (Tlemcen) hingga pesisir Samudera Atlantik.

Pasukan Idrisiyah menyerang Khawarij Shufriyah di pegunungan Atlas dan berhasil mengalahkan mereka. Ia juga berhasil menguasai daerah Nafusah setelah berhasil mengalahkan orang-orang Burghuathah.

Idris II terus melanjutkan invasinya, ia berhasil menguasai kota Aghmat dan menaklukkan Tlemcen secara damai setelah mengadakan perjanjian gencatan senjata dengan orang-orang Aghlabiyah. Pada bulan Agustus 828, ia meninggal dunia. Prestasinya dalam mengokohkan pilar-pilar Dinasti Idrisiyah menjadikan dirinya dianggap sebagai pendiri sejati dinasti tersebut.

Perkembangan Dinasti Idrisiyah Pasca-Wafatnya Idris II

dinasti idrisiyah
Wilayah Dinasti Idrisiyah

Kepemimpinan Idris II digantikan putranya yang bernama Muhammad. Pada pemerintahan masa Muhammad, Dinasti Idrisiyah dibagi-bagi dengan saudara-saudaranya sesuai keinginan neneknya, Kanzah. Tidak lama berselang, konflik keluarga muncul akibat pembagian wilayah kekuasaan. Konflik internal juga memperlemah kekuatan dan kesatuan Dinasti Idrisiyah, sebelum konflik berhasil diatasi, Muhammad meninggal pada bulan April 836 M.

Muhammad digantikan putranya yang bernama Ali yang saat itu baru berusia sembilan tahun. Ia diasuh, dan didukung oleh sejumlah wali dari kalangan bangsa Arab, Awarba, dan segenap orang Barbar. Mereka membaiat Ali kecil sebagai pemimpin, dan menjaga loyalitas mereka kepadanya.

Tidak banyak sejarawan Arab klasik yang memaparkan pemerintahan Ali ini. Kemungkinan karena pemerintahannya yang relatif singkat, pada Februari 849 ia meninggal dunia.

Ali digantikan oleh saudaranya, Yahya I. Pada masa ini, Dinasti Idrisiyah mengalami kemajuan politik dan kebangkitan pembangunan. Di Ibu Kota Fez, banyak dibangun tempat-tempat pemandian dan penginapan bagi para pebisnis, serta tempat-tempat parkir bagi hewan tunggangan. Pertumbuhan pembangunan kota Fez, menarik pendatang dari berbagai daerah yang mengakibatkan semakin ramainya kota tersebut.

Kemunduran dan Keruntuhan Dinasti Idrisiyah

Pascameninggalnya Yahya I, kepemimpinan Dinasti Idrisiyah dipegang oleh putranya yang juga bernama Yahya. Yahya II tidak memilik kompetensi dan kapabilitas untuk memimpin, karena ia adalah seorang hedonis yang gemar berfoya-foya.

Kepemimpinan yang lemah, menimbulkan pemberontakan baru. Ketika pemberontakan mulai muncul, Yahya II justru melarikan diri dan bersembunyi di ‘Udwah al-Andalusiyyin hingga gejolak mereda. Sebelum pemberontakan mereda, ia terlebih dahulu meninggal di tempat itu.

Dengan tersiarnya kabar bahwa Yahya II telah meninggal, maka dewan Ahlul Halli wal Aqdi yang dipimpin oleh Abdurrahman bin Abu Sahl al-Hizami memanggil sepupu Yahya II, yaitu Ali bin Umar bin Idris. Ali II mewarisi separuh kekuasaan Dinasti Idrisiyah di bagian utara dari ayahnya. Sejak saat itu kekuasaan sebagai pemimpin Dinasti Idrisiyah berpindah dari jalur keturunan Muhammad bin Idris II ke jalur keturunan Umar bin Idris II.

Pada masa Ali II, pemerintahan Dinasti Idrisiyah ditumbangkan oleh pemberontakan yang dilancarkan oleh Abdurrazzaq, seorang pemimpin Khawarij Shufriyah. Pemberontakan itu memperoleh dukungan dari masyarakat Barbar yang tinggal di bukit Madyunah (Mediouna), mereka juga merupakan masyarakat Khawarij.

Pemberontakan tersebut sangat kental dengan nuansa primordialisme, karena dilatarbelakangi oleh permusuhan antara kabilah Madyunah dengan kabilah Awarba yang mendominasi kekuasaan Dinasti Idrisiyah. Ali II ternyata tidak mampu memadamkan pemberontakan itu, dan memaksa dirinya melarikan diri ke kabilah Awarba.

Pemberontak Khawarij, kemudian memasuki kota Fez dan berhasil menguasai ‘Udwah al-Andalusiyyin. Namun mereka gagal menguasai keseluruhan lembah Fez.

Situasi yang semakin kacau, membuat masyarakat ‘Udwah al-Qarawiyyin menunjuk Yahya bin al-Qasim bin Idris II sebagai pemimpin sementara mereka. Yahya pun mulai mengorganisir pasukan untuk menyerang para pemberontak.

Yahya III mendedikasikan dirinya untuk berperang melawan Khawarij Shufriyah dan berhasil memaksa mereka untuk pergi dari ‘Udwah al-Andalusiyyin. Masyarakat yang kagum akan kepemimpinannya, melantik Yahya II sebagai amir kota Fez dan negeri lain di sekitarnya. Sayangnya kepemimpinan Yahya harus berakhir ketika dirinya dibunuh oleh Ar-Rabi bin Sulaiman pada tahun 905 M.

Tidak dapat dipungkiri berbagai kekacauan yang dimulai sejak berakhirnya kepemimpinan Yahya I telah melemahkan Dinasti Idrisiyah. Gejolak perang saudara dan konflik dengan Khawarij telah mengakibatkan krisis ekonomi dan sosial yang cukup serius.  Kondisi ini diperparah dengan paceklik tahun 867 dan gempa bumi besar pada tahun 880 yang menghancurkan bangunan-bangunan kota Fez.

Pasca meninggalnya Yahya bin al-Qasim, dewan menunjuk Yahya bin Idris bin Umar yang waktu itu merupakan penguasa wilayah pedesaan dan kawasan bagian utara Dinasti Idrisiyah. Yahya bin Idris pun resmi menjadi amir daulah pada tahun 905 M dengan gelar Yahya IV.

Pada masa itu, konflik sudah mulai mereda dan situasi berangsur-angsur stabil. Yahya IV berhasil mempersatukan dan merekatkan kembali seluruh kabilah-kabilah yang berada di bawah pemerintahan Idrisiyah seperti sedia kala.

Ia dikenal sebagai pemimpin Dinasti Idrisiyah yang paling luruh perilakunya dan adil dalam kepemimpinannya. Selain itu ia juga sangat agamis karena menguasai ilmu di bidang fikih dan hadis. Akan tetapi, pada tahun 909 M, ia harus bersiap menghadapi ekspansi Daulah Fatimiyah yang bergerak dari Qairuwan menuju ke arah Maghrib al-Aqhsa.

Setelah berusaha keras mempertahankan kekuasaannya di Maghrib al-Aqhsa, Yahya IV harus mengakui kekuasaan al-Mahdi ‘Ubaydillah dan pada tahun 921 Fez diduduki pasukan Fatimiyah. Namun, kemenangan Fatimiyah di wilayah itu tidak bertahan lama.

Seorang amir Dinasti Idrisiyah yang bernama al-Hasan bin Muhammad bin Qasim atau terkenal dengan sebutan al-Hijam berhasil merebut kembali kota Fez dan mengusir pejabat Daulah Fatimiyah. Ia memerintah di kota Fez dalam kurun waktu dua tahun.

Pada tahun 927 M, salah satu panglima Daulah Fatimiyah yang bernama Musa bin Abi al-Afiyah dari kabalah Miknasa, berhasil merebut kembali kota Fez dan menguasai Maghrib al-Ausath dan Maghrib al-Aqsha. Tidak hanya berhenti di situ, ia juga menumpas sisa-sisa Idrisiyah yang melarikan diri ke wilayah pedesaan. Penaklukan kedua yang dilakukan oleh Musa bin Abi al-Afiyah sekaligus menandai berakhirnya eksistensi Dinasti Idrisiyah.

BIBLIOGRAFI

Bosworth, C. E. Dinasti-Dinasti Islam. Terj. Ilyas Hasan. Bandung: Mizan.

Boum, Aomar dan Park, Thomas K. 2016. Historical Dictionary of Morocco: Third Edition. United States of America: Rowman & Littlefield Publishers.

Hamka. 2016. Sejarah Umat Islam. Jakarta: Gema Insani Press.

Lapidus, Ira M. 2000. Sejarah Sosial Ummat Islam Bagian I dan II. Terj. Ghufron A. Ma’adi. Jakarta: RajaGrafiondo Persada.

Muhsin, Imam. “Sejarah Islam Pra-Modern di Afrika Utara”. Dalam Siti Maryam dkk. 2012. Sejarah Peradaban Islam dari Masa Klasik hingga Modern. Yogyakarta: LESFI.

 Thaqqusy, Muhammad Suhail. 2015. Bangkit dan Runtuhnya Daulah Fatimiyah. Terj. Masturi Irham. Jakarta: Pustaka al-Kautsar.

 

Share the knowledge!
Share on Facebook11Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Pin on Pinterest0Email this to someoneShare on Tumblr0Share on Reddit0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *