Dinasti Mamluk (1250-1517 M)

Share the knowledge!
Share on Facebook6Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Pin on Pinterest0Email this to someoneShare on Tumblr0Share on Reddit0

Jika kita membicarakan dinasti Mamluk, dalam wawasan sejarah Islam dikenal dua nama yang sama. Pertama, dinasti Mamluk yang berpusat di Mesir. Dinasti ini eksis dari tahun 1250 M sampai dengan 1517 M. Kedua, dinasti Mamluk yang terdapat di India. Dinasti yang terdapat di India muncul pada tahun 1206 M sampai dengan 1290 M.

Sebenarnya kedua dinasti ini dapat dikatakan pernah eksis sezaman dan sama-sama didirikan oleh para budak. Namun, dinasti Mamluk yang terdapat di Mesir eksis lebih lama, dengan waktu lebih dari dua abad setengah, jauh lebih lama dibanding dinasti Mamluk yang di India yang hanya eksis kurang lebih delapan dasawarsa. Pada pembahasan kali ini akan dibahas lebih jauh mengenai Dinasti Mamluk di Mesir atau Daulat al-Atrak, dinasti yang  berdiri pada awal masa-masa kejatuhan umat Islam.

Proses Bedirinya Dinasti Mamluk

Dinasti Mamluk berdiri pada pertengahan abad ke-13 M. Kehadirannya memiliki hubungan dengan dinasti sebelumnya, yaitu dinasti Ayyubiyah. Hal ini terjadi karena orang-orang yang terlibat dalam proses pendirian dinasti Mamluk adalah budak-budak yang bekerja untuk dinasti Ayyubiyah. Kata Mamluk sendiri bermakna budak. Mereka pada awalnya adalah para tawanan penguasa dinasti Ayyubiyah yang dijadikan sebagai budak, kemudian para budak tersebut diberi pendidikan militer dan agama, untuk selanjutnya dijadikan sebagai tentaranya.

Tentara Dinasti Mamluk
Ilustrasi Tentara Mamluk

Tentara Mamluk, pada umumnya berasal dari daerah Kaukasus dan Laut Kaspia. Di Mesir, mereka ditempatkan di pulau Raudhah di Sungai Nil untuk menjalani latihan militer dan keagamaan. Karena itulah, mereka dikenal dengan julukan Mamluk Bahri (Laut). Saingan mereka dalam ketentaraan pada masa itu adalah tentara yang berasal dari suku Kurdi.

Penguasa dinasti Ayyubiyah mengeluarkan suatu kebijakan dengan menempatkan budak-budak tersebut sebagai kelompok tersendiri yang terpisah dari masyarakat. Pada masa Al-Malik Ash-Shaleh, ia menerapkan hubungan simbiosis mutualisme dengan mejadikan para tentara budak ini sebagai pengawal untuk menjamin kelangsungan kekuasaannya. Sebagai imbalannya mereka mendapatkan hak-hak istimewa, baik dalam penghargaan yang bersifat materil maupun dalam karier kemiliteran.

Al-Malik Ash-Shaleh  melihat tentara Mamluk sebagai tentara yang setia dan telah menunjukan kemampuannya pada saat perang melawan tentara Salib dan saat bersaing dengan rival-rival politiknya. Karena sebab tersebut, loyalitas tentara Mamluk kemudian terpusat pada pribadi Al-Malik Ash-Shaleh, bukan kepada dinasti sebagai institusi. Kita dapat melihat tentara Mamluk lebih sebagai tentara pribadi daripada tentara militer sebuah dinasti.

Apabila ditelusuri lebih lanjut, berdirinya dinasti Mamluk berawal dari kekisruhan politik setelah wafatnya Al-Malik Ash-Shaleh, penguasa terakhir dari dinasti Ayyubiyah pada tahun 1249 M. Kemudian ia digantikan oleh anaknya yang bernama Turansyah, yang berasal dari istrinya yang notabene bersal dari suku Kurdi. Turansyah dianggap sebagai ancaman untuk masa depan mereka, hal ini dikarenakan Turansyah lebih memiliki kedekatan dengan tentara asal Kurdi daripada dengan mereka.

Pada tahun 1250 M, tentara Mamluk dibawah komando Aybak dan Baybars berupaya untuk melakukan kudeta politik melalui serangkaian perebutan kekuasaan, puncaknya mereka berhasil membuhu Turansyah. Istri Al-Malik, Syajarah Al-Dur, seorang yang juga berasal dari kalangan Budak Turki atau Armenia, ia berusaha untuk mengambil kendali pemerintahan, dengan menjadikan dirinya sebagai sultanah pertama, sesuai kesepakatan dengan golongan Mamluk.

Kepemimpinan Al-Dur berlangsung tiga bulan. Ketika para amir memilih kerabatnya, yang juga panglima utama kerajaan Izzudin Aybak sebagai sultan, ia kemudian memutuskan menikah dengan pemimpin Mamluk tersebut dan menyerahkan tampuk kekuasaan kepadanya sambil berharap dapat terus berkuasa di balik layar.

Selanjutnya untuk mengambil simpati keluarga Ayyubiyah, Aybak mengangkat seorang keturuan Ayyubiyah yang bernama Musa sebagai penguasa. Namun, Musa pada akhirnya dibunuh juga oleh Aybak. Dengan tewasnya Musa di tangan Aybak, keberadaan dinasti Ayyubiyah pun berakhir dan menandai awal dari kemunculan dinasti Mamluk.

Mamluk Bahri dan Burji

Sebelum kita membahas lebih lanjut mengenai perkembangan dinasti Mamluk, akan lebih baik jika kita mengetahui kategorisasi penguasa dinasti Mamluk. Kita membaginya menjadi dua dinasti besar: Bahri (1250-1390) dan Burji (1382-1517). Pertama, Mamluk Bahri, pada awalnya adalah budak-budak yang dibeli sultan al-Shalih dari Dinasti Ayyubiyah, yang menempatkan budak-budaknya di pulau kecil Rawdah di Banjaran Sungai Nil. Di pulau ini, para budak dididik pendidikan agama dan kemiliteran, karena mereka memang disiapkan menjadi pengawal sultan. Kebanyakan mereka berasal dari ras Turki dan Mongol.

Kedua, Mamluk Burji, mereka terdiri atas budak-budak yang dimpor selanjutnya. Awalnya mereka juga dimiliki tugas seperti pengawal, tetapi kelompok ini dibentuk oleh Qallawun, raja Mamluk Bahri. Kebanyakan mereka berasal dari Sirkasius, kemudian ditempatkan di menara-menara benteng. Keseluruhan raja Dinasti Mamluk berjumlah 47 orang, 24 dari Mamluk Bahri, dan 23 orang dari Mamluk Burji.

Perkembangan Awal Dinasti Mamluk

dinasti Mamluk map
dinasti Mamluk map

Aybak membangun kekuasaan para Mamluk di Mesir selama tujuh tahun (1250-1257). Selama masa pemerintahannya ia tidak ditemani rekan seperjuangannya, Baybar. Karena tidak ada persamaan visi, Baybar pergi meninggalkan Mesir dan berdiam di Syiria. Menurut pandangan beberapa ahli sejarah, kepergian Baybars ke Syiria akibat kegagalannya menduduki jabatan sultan. Pada tahun-tahun pertamanya memerintah, Aybak sibuk mengikis legitimasi Ayyubiyah di Suriah, memecat raja cilik al-Asyraf, dan mengatasi pengaruh seorang jenderalnya yang menyaingi kepopulerannya karena sukses melawan Lous IX.

Pada saat yang bersamaan, ratu tidak hanya berbagi kekuasaan, tapi mendominasi pemerintahan. Akhirnya, karena mendengar gossip bahwa sultan berencana untuk menikah lagi, ia memutuskan membunuh Aybek ketika mandi. Setelah peristiwa itu, dikatakan bahwa al-Dur dipukuli dengan sepatu kayu oleh beberapa budak wanita istri Aybak yang pertama, dan tubuhnya kemudian dilemparkan dari atas menara.

Aybak meninggal pada tahun 1257, yang kemudian digantikan oleh anaknya, Ali yang masih berusia muda. Namun, Ali hanya memerintah kurang lebih 2 tahun karena pada tahun 1259, ia mengundurkan diri. Selanjutnya, ia digantikan oleh wakilnya Quthuz.

Quthuz mengklaim bahwa ia merupakan cucu keponakan Syah Khawarizm, yang kemudian ditangkap oleh bangsa Mongol, dan dijual ke Damasukus, di tempat tersebut ia dibeli Aybak. Setelah Quthuz naik tahta, Baybar yang mengasingkan diri ke Syiria kembali ke Mesir. Tampilnya Quthuz sebagai Sultan menggantikan Ali telah memberi kesempatan untuk kembali ke Mesir.

Kedatangan Baybars yang membawa sejumlah Mamluk disambut oleh Quthuz. Ia menyambut baik kedatangan Baybar karena jika tetap berada di Syiria, Baybar diperirakan dapat mengancam kedudukannya di Mesir. Ia beranggapan akan lebih menguntungkan karena tidak ada lagi saingan yang lebih senior di kalangan pimpinan Mamluk.

Perang ‘Ain Jalut

dinasti mamluk vs mongol
Mamluk vs mongol

Pada awal tahun 1260 M, tentara Mongol dari Baghdad telah memasuki Syria dengan menyeberangi sungai Eufrat untuk melakukan penyerbuan ke Mesir. Mereka telah menduduki Nablus dan Gaza tanpa mendapat perlawanan. Selanjutnya, pasukan Mongol yang dipimpin Kitbuga wakil dari Hulagu mengirimkan utusan ke Mesir meminta Sultan Quthuz menyerah kepada Hulagu di Baghad.

Sultan Quthuz tidak bersedia menyerah, ia pun membunuh utusan Mongol itu. karena hal tersebut, semangat tentara Mongol untuk menaklukkan Mesir bertambah besar. Oleh karena itu, Kitbuga dan tentaranya terus maju melintasi Yordania menuju Galile. Sementara itu, tentara Mamluk bergerak ke arah utara sepanjang pantai Palestina dan membentuk kamp di dekat Acre.

Di saat tentara Mongol sedang berada dalam perjalanan menuju Galile, tentara Mamluk bertolak mencegah masuknya tentara Mongol. Tentara Mamluk di bawah pimpinan Quthuz dan Baybar sebagai panglima perang berhasil menghancurkan pasukan Mongol yang dipimpin Kitbuga, pada 3 September 1260 M, peristiwa ini dikenal dengan peristiwa perang ‘Ain Jalut.

Perlu diketahui perang ini adalah peristiwa besar dalam sejarah Islam dan merupakan kemenangan pertama yang berhasil dicapai kaum muslim terhadap orang-orang Mongolia. Mereka berhasil menghancurkan mitos yang mengatakan bahwa mereka tidak akan pernah terkalahkan. Setelah kemenangan ini kaum muslim mengejar orang-orang Mongolia ke arah utara.

Setelah kemenangan di Perang ‘Ain Jalut, Baybar mengharapkan kota Alleppo sebagai hadiah, dan tanda pengakuan atas gerakan militernya, namun sultan menolak permintaannya tersebut. Pada 24 Oktober 1260, dalam perjalan pulang melalui Suriah, ketika berburu bersama Quthuz, seorang agen Quthuz mendekati sultan lalu mencium tangannya, dan Baybars menebaskan pedangnya ke leher sultan. Sultan yang terbunuh kemudian digantikan oleh pembunuhnya.

Puncak Kejayaan Dinasti Mamluk

  1. Pemerintahan Baybar

Sultan Mamluk yang paling berjaya adalah al-Malik al-Zhahir Rukn al-Din Baybar al-Bunduq (1260-1277). Pada awalnya ia adalah seorang budak dari Turki sama seperti Aybek, ketika usia muda dijual ke Damaskus seharga 800 dirham, tetapi kemudian dikembalikan lagi karena ada cacat pada salah satu mata birunya.

Al-Shalih kemudian mengangkatnya sebagai pemimpin pasukan pengawal. Setelah itu, karier militernya berjalan lancar dan cepat, sehingga berhasil mendapatkan komando militer tertinggi di negeri itu. Dengan tubuh yang tinggi tegap, kulit agak gelap, pemberani dan energik, ia memiliki kualitas kepemimpinan dibanding laki-laki yang lain.

Menurut Philip. K. Hitti, Baybar menjadi Mamluk agung yang pertama, penguasa, dan pendiri sejati kekuasaan Mamluk. Kemenangan pertamanya ia dapatkan dalam peperangan melawan Mongol di perang ‘Ain Jalut, tetapi puncak ketenarannya didapatkan berkat perjuangannya melawan Tentara Salib. Perlawannya ini menghancurkan inti pertahanan pasukan Franks, dan memungkinkan terwujudnya kemenangan yang diraih oleh para penerusnya, yaitu Qallawun dan al-Asyraf.

Dalam salah satu ekspedisinya ke daerah utara Suriah, Baybar menghancurkan sisa kekuatan Assasin untuk selama-lamanya. Sementara para jenderalnya berhasil memperluas wilayah kekuasaannya hingga bagian barat ke wilayah suku Berber, dan ke selatan mencapai wilayah Nubia, yang akhirnya berada dalam kekuasaan Sultan Mesir.

Kapasitas Baybar lebih dari sekadar pemimpin militer. Ia tidak hanya berhasil mengorganisir angkatan perangnya, tetapi ia juga menggali sejumlah kanal, memperbaiki pelabuhan, serta menghubungkan Kairo dan Damaskus dengan layanan burung pos, yang hanya membutuhkan waktu 4 hari, burung pos ini asalnya dikembangkan pada periode Fatimiyah. Terminal-terminal kuda didirikan di setiap pos pemberhentian yang siap mengangkutnya kapan pun.

Baybar membangun banyak tempat umum, mempercantik masjid, menerapkan pajak untuk negara, zakat, dan sedekah. Di antara beberapa monumen arsitektur Baybar adalah msajid Agung di Kairo dan Damaskus, serta sekolah yang menyandang namanya masih bertahan hingga kini. Perpustakaan Zhahiriyah yang terdapat di Damaskus dibangun di atas kuil yang menaungi makamnya.

Baybar dikenal sebagai sultan pertama di Mesir yang mengangkat empat orang hakim, mewakili empat mazhab fiqih ortodoks, dan mengorganisir mahmil khusus untuk orang Mesir, disertai dasar-dasar yang permanen dan sistematis. Salah satu peristiwa yang sangat penting diketahui pada masa pemerintahan Baybar adalah penobatan satu rangkaian baru dari kekhalifahan Abbasiyah yang menyandang nama Abbasiyah, namun hanya mempunyai kekuasaan semu.

Sultan melakukan itu dengan tujuan untuk memberikan legitimasi atas takhtanya, memberikan nuansa keagungan pada istananya dalam pandangan umat Islam. Untuk mencapai tujuan ini ia mengundang paman khalifah Abbasiyah yang terakhir, dan putra khalifah al-Zhahir yang lolos dari pembantaian di Baghdad, dari Damaskus pada Juni 1261.

Baybar kemudian menobatkannya, dalam satu upacara yang megah dan agung, sebagai khalifah al-Mustanshir. Khalifah tersebut dikawal dengan penuh kebesaran dari Suriah, bahkan orang Yahudi dan Kristen menyertainya dengan membawa Taurat dan Injil. Selain itu, keagungan genealoginya terus dilantunkan oleh anggota dewan hakim. Selanjutnya, sultan menerima dari khalifah bonekanya tersebut ijazah penobatan sultan yang memberinya kekuasaan penuh atas Mesir, Suriah , Diarbekir, Hijaz, Yaman, dan daratan Efrat.

Tiga bulan kemudian Baybar berangkat dari Kairo untuk mengantar, dan mengukuhkan kekhalifahan di Baghdad, tetapi saat tiba di Damaskus, ia meninggalkan al-Muntanshir untuk menentukan nasibnya sendiri, al-Munthashir diserang di padang pasir oleh gubernur Mongol dari Baghdad.

Satu tahun kemudian, salah satu keturunan kekhalifahan Abbasiyah yang lain berangkat ke Kairo, sama dengan khalifah sebelumnya, ia segera dinobatkan oleh Baybar sebagai khalifah dengan gelar al-Hakim. Keturuan dari al-Hakim selama dua setengah abad mendapatkan gelar khalifah boneka ini. Para Khalifah ini merasa puas dengan namanya yang terukir di mata uang dan namanya yang disebutkan di setiap sholat Jum’at di Mesir.

Kebijakan Baybar dengan melantik khalifah untuk legitimasi kekuasaan, ternyata menarik perhatian beberapa penguasa Islam lainnya seperti Abu Numay, seorang Sharif Mekah yang sebelumnya tunduk pada dinasti Hafsun di Tunis, yang menyatakan kesetiaannya pada Mamluk. Begitu juga, Sultan Bayazid I dari dinasti Utsmani dan Muhammad Taghlab dari Syria yang berupaya menjalin hubungan dengan Mamluk di Mesir serta mengharapkan legitimasi dari khalifah atas kekuasaan mereka.

Kebijakan selanjutnya yang dilakukan Baybar dalam rangka menarik simpati rakyat adalah menghidupkan kembali keberadaan mazhab Sunni di Mesir. Hal ini dilakukan oleh Baybar dengan pertimbangan bahwa mayoritas penduduk Mesir bermazhab Sunni, sementara pemerintahan harus mendapatkan dukungan dari rakyatnya.

  1. Pemerintahan Qallawun

Setelah Baybar meninggal, pemimpin dari Dinasti Mamluk yang paling terkenal adalah al-Malik al-Manshur Sayf al-Din Qallawun (1279-1290). Seperti pendahulunya, ia adalah seorang budak dari Turki, tepatnya dari Qipchaq. Qallawun muda kemudian dibawa ke Mesir, dan dijual kepada al-Shalih. Ia mengamankan tahta dengan menyingkirkan para pesaingnya, Salamisy (1279) putra Baybar yang berusia tujuh tahun, yang menggantikan saudaranya Barakah (1277-1279), berusia sembilan belas tahun yang gemar berfoya-foya. Qallawun merupakan satu-satunya penguasa Mamluk yang keturunannya berlanjut hingga generasi keempat. Bahri terkahir, al-Shalih Hajji adalah cicitnya.

Tak lama setelah Qallawun menetapkan dirinya sebagai penguasa Mesir, Il-Khan Mongol dari Persia mulai mengancam wilayah kekuasaannya di Suriah. Di antara pemimpin Mongol, Abaqa (1265-1281) putra Hulagu dan penerusnya, serta putranya Arghun (1284-1291), condong berpihak kepada kaum Kristen, dan terlibat dalam negosiasi dengan Paus, dan beberapa bangsawan Eropa lainnya yang mendesak dilakukannya perang Salib baru dengan tujuan menyingkirkan Mesir dari Suriah.

Qallawun berhasil mengalahkan Abawa pada pertempuran Emessa tahun 1280, meskipun Abawa didukung pasukan berjumlah besar dan tambahan pasukan dari Armenia, Franks, dan Georgia. Tidak lama setelah itu bangsa Mongol masuk Islam. Sultan memperkuat hubungan bilateral dengan Golden Horde, Kaisar Bizantium, Republik Genoa, raja Prancis, Castile, dan Sisillia.

Kebijakan-kebijakan Qallawun antara lain, ketika menyerang Armenia Kecil karena mereka membantu pasukan Mongol, dan kastil-kastil tentara Salib dihancurkan. Tripoli yang pernah dibumihanguskan, dibangun kembali beberapa tahun kemudian. Pada akhir pemerintahannya, Qallawun mengeluarkan perintah untuk memecat orang Kristen dari semua kantor pemerintahannya.

Pada masanya pembangunan berkembang dengan pesat, ia merenovasi benteng-benteng pertahanan. Di Kairo ia membangun sebuah rumah sakit, yang tersambung dengan satu masjid-sekolah, serta sebuah kompleks kuburan bangsawan yang besar dengan keindahan seni Arabesque. Qallawun juga membangun beberapa rumah sakit, termasuk diantaranya rumah sakit muslim yang masih ada hingga sekarang. Sultan mendapatkan inspirasi untuk membangunnya saat berbaring karena sakit perut di Rumah Sakit Nuri di Damaskus. Ketika itulah ia bertekad untuk mendirikan rumah sakit di Kairo.

Kemunduran dan Keruntuhan Dinasti Mamluk

Setelah masa Baybar dan Qallawun, tidak ditemukan lagi figur sultan seperti mereka, sehingga kondisi dinasti Mamluk pun menjadi memburuk dan puncaknya ketika Mesir menjadi daerah kekuasaan Utsmani, setelah sultan Salim dari Utsmani berhasil mengalahkan Tuman Bay (sultan terakhir Mamluk) di pertempuran 22 Juni 1517 M . Pada bagian ini kita akan membahas faktor-faktor yang menjadi penyebab kemunduran dan runtuhnya dinasti Mamluk, di sini penulis membagi faktor keruntuhan tersebut menjadi empat.

  1. Konflik perebutan kekuasaan

Konflik politik intern yang sebelumnya terjadi di keluarga Ayyubiyah, kembali terjadi pada pemerintahan dinasti Mamluk. Kita dapat melihat konflik tersebut pada dua periode yang berbeda. Pertama, konflik pada masa awal pembentukan kesultanan, yang menyebabkan kematian Aybak, Syajarah al-Durr dan Quthuz. Konflik ini hanya pada tingkat pimpinan Mamluk, tidak berpengahruh hingga ke bawah. Justru konflik pada masa ini sebagai pengantar proses integrasi.

Kedua, konflik perebutan kekuasaan masa Mamluk Burji, persaingan menduduki jabatan sultan di lingkungan Mamluk Burji lebih keras dan kejam dibanding masa Mamluk Bahri. Pembunuhan terahadao sultan untuk menggantikan kedudukannya menjadi hal yang biasa, sehingga pada masa itu banyak sultan yang meninggal dengan cara tidak wajar. Konflik kedua ini lah yang mengantarkan kesultanan Mamluk menuju kehancurannya.

  1. Munculnya Budaya Hidup Mewah dan Hedonistik.

Pada tahun 1390 M, kekuasaan Mamluk Bahri berakhir. Sejak periode ini, jabatan sultan tidak lagi menggambarkan lembaga yang menjamin kelangsungan pemerintahan, tetapi tempat kesenangan, dan kemewahan untuk diperebutkan. Penggunaan uang negara untuk kemewahan sultan yang dimulai An-Nasir jauh bertambah parah di tangan Mamluk Burji. Untuk memenuhi keinginan sultan, pajak kepada rakyat dan pedagang ditingkatkan. Sikap sultan ini jelas menghilangkan wibawa sultan dalam pandangna para amir seingga menghilangkan kemampuan kontrolnya terhadap daerah.

  1. Rusaknya Moralitas Para Penguasa dan Lemahnya Kontrol Pendidikan Agama

Pendidikan yang diberikan dinasti Ayyubiyah kepada Mamluk Bahri berbeda dengan yang dilakukan Mamluk Bahri terhadap Mamluk Burji. Ketika Mamluk Bahri dalam pendidikan di Rawdah, di samping latihan-latihan militer yang bersifat fisik, pendidikan keagamaan tidak ketinggalan, bahkan merupakan dasar. Mamluk Burji kurang mendapatkan pendidikan keagamaan. Oleh karena itu, tidak mengherankan para penguasa dari Mamluk Burji yang rusak moralnya. Contohnya Barsbay yang tidak mengenal huruf Arab, Muayyad Syah yang pemabuk, Inal tidak bisa baca tulis, dan Yalbay yang kurang waras.

  1. Munculnya Turki Utsmani

Ancaman dari luar semakin membahayakan dinasti Mamluk. Ancaman ini bukan dari Mongol di bawah pimpinan Timur Lenk. Melainkan ancaman ini datang dari Turki Utsmani, kemajuan yang luar biasa Utsmani menjadikan mereka sebagai ancaman terbesar dinasti Mamluk.

Konflik kedua dinasti ini mulai memanas sejak pemerintahan Qait Bay dan Bayazid II. Penemuan senjata api di Eropa telah banyak membantu Utsmani dalam pertempuran melawan Mamluk. Dinasti Mamluk menganggap penggunaan senjata seperti itu mengurangi harga diri. Keahlian perang gaya lama masih menjadi kebanggan mereka. Oleh karena itu, senjata api hanya diberikan kepada kelas militer paling rendah yang terdiri dari orang-orang Negro yang kesetiaannya diragukan.

Puncak konflik kedua dinasti ini berlangsung pada 22 Juni 1517 M, yaitu peperangan antara Tuman Bay dan Sultan Salim yang berlangsung di luar kota Kairo. Kekalahan Mamluk dalam perang ini sekaligus mengakhiri riwayat dinasti tersebut.

BIBLIOGRAFI

Ahmad, Al-‘Usairy. 2013. Sejarah Islam. Jakarta: AkbarMedia.

Bosworth, C. E. 1993. Dinasti-Dinasti Islam. Bandung: Mizan.

K. Hitti, Philip. 2006. History of The Arabs. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta.

Kusdiana, Ading. 2013. Sejarah dan Kebudayaan Islam: Periode Pertengahan. Bandung: Pustaka Setia.

Yatim, Badri. 2013. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: RajaGrafindo Persada.

Share the knowledge!
Share on Facebook6Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Pin on Pinterest0Email this to someoneShare on Tumblr0Share on Reddit0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *