Dinasti Safawiyah di Persia

Share the knowledge!
Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Pin on Pinterest0Email this to someoneShare on Tumblr0Share on Reddit0

simbol dinasti Safawiyah
simbol dinasti Safawiyah

Dinasti Safawiyah di Persia berkuasa antara tahun 1501-1722 M. Dinasti ini merupakan salah satu kerajaan Islam yang cukup besar di Persia. Awal mulanya Kerajaan ini berasal dari sebuah gerakan tarekat yang berada di Ardabil, sebuah kota di Azerbaijan. Nama Safawiyah dinisbahkan kepada nama salah seorang guru Sufi di Ardabil bernama Syekh Ishak Safiuddin. Menurut riwayat, ia adalah keturunan dari Musa al-Khadim, imam ketujuh Syi’ah Itsna ‘Asyariyah.

Tarekat ini berdiri bersamaan dengan berdirinya Dinasti Utsmani.[1] Gerakan tarekat ini memiliki banyak pengikut yang sangat teguh memegang ajaran agama.

Gerakan ini mengubah model gerakannya dari gerakan keagamaan menuju gerakan politik. Ketika sudah menjadi kekuatan yang besar, Dinasti Safawiyah beberapa kali berhadapan dengan Dinasti Utsmani. Dinasti Safawiyah menyatakan Syi’ah sebagai madzhab negara, maka Dinasti Safawiyah dikenal sebagai peletak dasar terbentuknya negara Iran.

Dinasti Safawiyah mencapai puncak kejayaan pada masa Abbas I. Namun, kejayaan itu tidak mampu dipertahankann oleh para penerusnya. Hal ini dikarenakan sultan-sultan yang berkuasa lemah. Sehingga memicu terjadinya pemberontakan dan permasalahan yang berkepanjangan.

Sejarah Berdirinya Dinasti Safawiyah

Cikal bakal berdirinya Dinasti Safawiyah berawal dari gerakan tarekat yang diberi nama Safawiyah. Gerakan ini muncul di Persia, tepatnya di Ardabil, sebuah kota di Azerbaijan. Wilayah ini banyak ditinggali oleh suku Kurdi dan Armen.[2] Nama Safawiyah dinisbahkan kepada nama salah seorang guru Sufi di Ardabil bernama Syekh Ishak Safiuddin atau Shafi Ad-Din. Menurut riwayat, ia adalah keturunan dari Musa al-Khadim, imam ketujuh Syi’ah Itsna ‘Asyariyah.[3] Shafi Ad-Din berasal dari keturunan orang yang berada dan memilih sufi sebagai jalan hidupnya. Gurunya bernama Syaikh Tajuddin Ibrahim Zahidi (1216-1301 M) yang dikenal dengan julukan Zahid Al-Gilani. Dikarenakan prestasi dan ketekunannya dalam kehidupan tasawuf, Shafi Ad-Din diambil menantu oleh gurunya tersebut.[4]

Shafi Ad-Din mendirikan tarekat Safawiyah setelah ia menggantikan guru dan sekaligus mertuanya yang wafat pada tahun 1301 M. Pengikut tarekat ini sangatlah teguh memegang ajaran agama. Pada mulanya gerakan tasawuf Safawiyah bertujuan memerangi orang-orang ingkar, kemudian memerangi golongan yang mereka sebut “Ahli Bid’ah”.[5] Tarekat yang dipimpin Shafi Ad-Din ini semakin penting terutama setelah mengubah bentuk tarekat itu dari pengajian tasawuf murni yang bersifat lokal menjadi gerakan kenamaan yang besar pengaruhnya di Persia, Syria dan Anatolia.[6] Di negeri-negeri di luar Ardabi, Shafi Ad-Din menempatkan seorang wakil untuk memimpin murid-muridnya. Wakil tersebut diberi gelar khalifah dan nantinya akan menjadi komandan perang.[7]

Kemudian murid-murid tarekat mendukung tarekat Safawiyah untuk menghimpun kekuatan dengan menjadi tentara dan sangat fanatik kepada keyakinannya. Bahkan, mereka juga menentang orang-orang yang tidak sepaham dengan mereka. Tarekat Safawiyah banyak diterima oleh masyarakat sehingga tarekat ini mengubah model gerakan spiritual keagamaan menjadi gerakan politik. Hal ini mulai tampak ketika gerakan tarekat dipimpin oleh Junaid 1447-1460 M. Junaid memperluas kegiatan politik pada kegiatan keagamaan. Perluasan kegiatan ini mendapatkan hambatan-hambatan. Salah satunya dari penguasa Qara Qayunlu dan Aq- Qayunlu yang merupakan dua suku terkuat Turki. Sehingga terjadi konflik antara Junaid dengan penguasa Turki.

Keterlibatan tarekat Safawiyah dalam perpolitikan yang semakin besar mengantarkan tarekat Safawiyah berhadapan dengan kekuatan besar yang berkuasa saat itu yaitu Turki Utsmani. Pada saat Junaid memiliki konflik dengan Qara Qayunlu, ia mengalami kekalahan dan diasingkan ke suatu tempat.[8] Di tempat itu Junaid mendapat perlindungan dari penguasa Diyar Bakr yang juga bangsa Turki. Junaid tinggal di istana Uzun Hasan yang pada saat itu menguasai sebagian Persia. Selama dalam pengasingan, Junaid tidak tinggal diam. Ia mempersunting salah seorang saudara perempuan Uzun Hasan. Pada tahun 1459 M, Junaid mencoba merebut Ardabil tetapi gagal. Lalu pada tahun 1460 M Junaid mencoba merebut kota Sircassia tetapi pasukan yang dipimpinnya dihadang oleh tentara Sirwan. Junaid pun pada akhirnya terbunuh dalam pertempuran tersebut.[9]

Tampuk kepemimpinan gerakan Safawi selanjutnya diberikan kepada putera Junaid, Haidar, tetapi Haidar masih sangat kecil pada waktu itu. Setelah menunggu beberapa tahun, Haidar sudah cukup dewasa dan mempersunting salah satu putri Uzun Hasan. Dari perkawinan tersebut lahirlah Ismail yang di kemudian hari menjadi pendiri dinasti Safawi di Persia.[10]

Perkembangan dan Kemajuan Dinasti Safawiyah

wilayah Dinasti Syafawi
wilayah Dinasti Syafawi

Pada saat Ismail I berkuasa selama kurang lebih 23 tahun (1501-1524 M) ia berhasil memperluas wilayah kekuasaannya, ia juga dapat menghancurkan sisa-sisa kekuasaan Aq-qayunlu di Hamadan 1503 M, menguasai provinsi Kaspia di Nazandaran, Gurgan dan Yazd pada tahun 1504 M, Diyar Bakr 1505-1507, Baghdad dan daerah barat daya persia pada tahun 1508 M, Sirwan 1509 M dan Khurasan pada tahun 1510 M. Ismail I hanya memerlukan waktu selama sepuluh tahun untuk menguasai seluruh Persia.[11]

Ambisi politik mendorong Ismail I adalah untuk memperluas daerah kekuasaannya ke Turki Utsmani, namun karena Turki Utsmani merupakan dinasti yang sangat kuat pada masa itu akhirnya Ismail I mengalami kekalahan. Kekalahan itu meruntuhkan kebanggaan dan kepercayaan diri Ismail. Akibatnya, kehidupannya menjadi berubah. Ismail I lebih suka berfoya-foya dan keadaan tersebut menimbulkan dampak negatif bagi Dinasti Safawiyah, yaitu timbulnya perebutan kekuasaan diantara pimpinan-pimpinan suku-suku Turki, pejabat-pejabat Persia, dan Qizilbash.[12]

Sepeninggal Ismail I, kekuasaan Dinasti Safawiyah dilanjutkan oleh Tahmasp I (1524-1576 M), lalu setelah itu dilanjutkan oleh Ismail II (1576-1577 M) dan Muhammad Khubanda (1577-1587 M). Namun, pada pemerintahan ketiga sultan tersebut Dinasti Safawiyah mengalami kemunduran. Kemunduran tersebut terus berlangsung sampai pada akhirnya Abbas I naik tahta. Pada masa Abbas I, Dinasti Safawiyah perlahan-lahan mengalami kemajuan. Langkah-langkah yang ditempuh Abbas I dalam memajukan dinasti Safawiyah diantaranya adalah :[13]

  1. Berusaha menghilangkan dominasi Qizilbash atas Dinasti Safawiyah dengan cara membentuk pasukan-pasukan baru yang anggotanya terdiri dari budak-budak yang berasal dari tawanan-tawanan bangsa Georgia, Armania, dan Sircassia yang ada sejak pemerintahan Tahmasp I.
  2. Mengadakan perjanjian damai dengan Turki Utsmani. Di samping itu, Abbas I berjanji untuk tidak akan menghina tiga khalifah pertama dalam Islam yaitu Abu Bakar, Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan dalam khutbah-khutbah Jum’at. Sebagai jaminan atas syarat-syarat tersebut, Abbas I menyerahkan saudara sepupunya yaitu Haidar Mirza sebagai sandera di Istanbul.

Setelah Dinasti Safawiyah menjadi kuat kembali, Abbas I mulai melakukan ekspansi dan merebut kembali wilayah-wilayah kekuasaannya yang telah hilang. Abbas I juga melakukan penyerangan kepada Turki Utsmani. Pada saat itu Turki Utsmani dibawah kepemimpinan Sultan Muhammad II, Abbas I menyerang Turki Utsmani dan berhasil menaklukan wilayah Tabriz, Sirwan, dan Baghdad. Seterlah itu Abbas I juga berhasil menguasai kota Nakhchivan Erivan, Ganja dan Tiflish pada tahun 1605-1606 M. Pada tahun 1622 M, Abbas I berhasil merebut kepulauan Hurmuz dan mengubah pelabuhan Gumrun menjadi pelabuhan Abbas.

Pada pemerintahan Abbas I merupakan puncak kejayaan Dinasti Safawiyah. Secara politik Abbas I dapat mengatasi berbagai kemelut di dalam negeri yang mengganggu stabilitas negara dan berhasil merebut kembali wilayah-wilayah yang dulu pernah direbut dinasti lain pada pemerintahan sultan-sultan sebelumnya. Kemajuan lain yang dicapai Dinasti Safawiyah antara lain:

  1. Bidang Ekonomi

Setelah Abbas I berhasil merebut kepulauan Hurmuz dan mengubah pelabuhan Gumrun menjadi pelabuhan Abbas, maka jalur dagang yang biasa diperebutkan oleh Belanda, Inggris dan Perancis sepenuhnya berhasil dikuasai oleh dinasti ini.

  1. Bidang Pendidikan

Pada Dinasti Safawiyah muncul banyak sekali ilmuwan-ilmuwan terkenal diantaranya Baha’ al-Dîn al-‘Amili (generalis ilmu pengetahuan), Sadr al-Dîn al-Syîrâzî (filsuf) dan Muhammad Baqir ibn Muhammad Damad (filsuf, ahli sejarah, teolog, yang pernah mengadakan observasi atas kehidupan lebah).

  1. Bidang Pembangunan Fisik Tata Kota dan Seni

Para penguasa dinasti ini mengubah Isfahan, yang merupakan ibu kota dinasti ini menjadi kota yang sangat indah. Isfahan merupakan kota yang sangat penting bagi tujuan politik dan ekonomi. Di kota tersebut berdiri bangunan-bangunan megah seperti masjid, rumah sakit, sekolah-sekolah, jembatan raksasa di atas Zende Rud, dan istana Chihil Satun. Kota Isfahan semakin indah dengan dibuatnya taman-taman wisata. Ketika Abbas I wafat, di Isfahan terdapat 162 masjid, 48 akademi, 1802 penginapan, dan 273 pemandian umum.

Pada bidang seni, terlihat dari arsitektur bangunan-bangunannya yaitu seperti yang terlihat pada masjid Shah dan masjid Syaikh Lutf Allah. Unsur seni lainnya juga terlihat pada hasil kerajinan tangan, keramik, permadani, karpet, pakaian, tembikar dan lain-lain. Seni lukis juga sudah mulai muncul pada masa ini tepatnya pada saat sultan Tahmaps I berkuasa.

Kemunduran dan Kehancuran Kerajaan Syafawiyah

Kerajaan Safawiyah mengalami kemunduran pasca pemerintahan Abbas I. Enam sultan setelahnya tidak mampu untuk mempertahankan kemajuan yang sudah diraih oleh pendahulunya. Para Sultan juga lemah dalam memimpin dan memiliki sifat buruk yang juga mempengaruhi jalannya pemerintahan. Sehingga kerajaan Safawiyah banyak mengalami kemunduran dan tidak mengalami perkembangan.

Sepeninggal Abbas I, pemerintahan diambil alih oleh Safi Mirza (1628-1642), ia merupakan cucu dari Abbas I. Pada masa pemerintahannya, ia dikenal sebagai sultan yang lemah dan kejam terhadap para pembesar-pembesar kerajaan.[14] Ia juga tidak mampu mempertahankan kemajuan-kemajuan yang berhasil dilakukan Abbas I. Selain itu, kota Kandahar berhasil dikuasai oleh Dinasti Mughal dipimpin oleh Sultan Syah Jihan. Begitu pula dengan Baghdad yang berhasil direbut oleh Turki Utsmani.[15]

Setelah Safi Mirza, pemerintahan dipegang oleh Abbas II (1642-1667). Ia adalah sultan yang suka minum-minuman keras, suka menaruh curiga terhadap para pembesar dan memperlakukannya dengan kejam.[16] Rakyatpun tidak begitu peduli dengan pemerintahan Abbas II. Abbas II meninggal dikarenakan sakit. Selanjutnya dipimpin oleh Sulaiman (1667-1694), ia memiliki kebiasaan buruk seperti Abbas II yang juga seorang pemabuk. Banyak terjadi penindasan dan pemerasan. Terutama terhadap para ulama dan penganut paham Sunni serta cenderung memaksakan paham Syiah.[17] Sehingga tidak ada perkembangan yang berarti pada masa pemerintahannya.

Keadaan semakin bertambah buruk pada masa pemerintahan Husein ( 1694-1722). Ia memberikan kebebasan kepada para ulama Syiah untuk memaksakan paham Syiah dan pendapatnya terhadap penganut Sunni. Hal ini memicu kemarahan dari golongan Sunni di Afghanistan, sehingga mereka melakukan pemberontakan. Bangsa Afghan melakukan pemberontakkan pertama kali pada tahun 1709 dipimpin Mir Vays dan berhasil merebut wilayah Qandahar. Disisi lain pemberontakan terjadi di Herat yang dilakukan oleh suku Ardabil Afghanistan dan berhasil menduduki Marsyad.[18] Mir Vays diganti oleh Mir Mahmud dan ia dapat mempersatukan pasukannya dan pasukan Ardabil. Sehingga ia mampu merebut kembali wilayah-wilayah Afghan dari kekuasaan Safawiyah.

Syah Husein merasa terdesak karena ancaman-ancaman dari Mir Mahmud. Akhirnya, Syah Husein mengakui kekuasaan dan mengangkat Mir Mahmud menjadi Gubernur di Qandahar dengan gelar Husein Quli Khan (budak Husein).[19] Kekuasaan ini dimanfaatkan oleh Mir Mahmud untuk memperluas wilayah. Ia berhasil merebut Kirman dan Isfahan serta kembali memaksa Syah Husein untuk menyerah tanpa syarat. Pada tanggal 12 Oktober 1722 M, Syah Husein menyerah dan pada 25 Oktober Mir Mahmud memasuki kota Isfahan dengan penuh kemenangan.[20] Kemudian Mir Mahmud digantikan oleh Asyraf untuk menguasai Isfahan.

Pemerintahan selanjutnya dilanjutkan oleh salah seorang putera Husein bernama Tahmasp II (1722-1732), ia mendapat dukungan penuh dari suku Qazar dari Rusia. Dengan demikian, ia memproklamasikan dirinya sebagai penguasa yang sah dengan pusat pemerintahan di kota Astarabad. Tahmasp II melakukan kerjasama dengan Nadir Khan dari suku Afshar untuk menaklukan bangsa Afghan yang berada di Isfahan pada tahun 1726 M. Pasukan Nadir Khan berhasil merebut Isfahan pada tahun 1729 M. Asyraf terbunuh dalam peperangan itu. Dinasti Syafawiyah kembali berkuasa.

Namun, Tahmasp II dipecat oleh Nadir Khan dan digantikan oleh Abbas III (1733-1736) yang merupakan anak dari Nadir Khan. Anaknya masih sangat kecil, sehingga pada 8 Maret 1736, Nadir Khan mengangkat dirinya sendiri sebagai sultan. Pada masa pemerintahan Nadir Khan, Dinasti Safawiyah berhasil ditaklukan oleh Dinasti Qazar. Maka berakhirlah kekuasaan Dinasti Safawiyah di Persia.[21]

DAFTAR PUSTAKA

Hamka, Sejarah Umat Islam III . Jakarta: Bulan Bintang, 1981.

Lapidus, Ira M. Sejarah Sosial Umat Islam; Bagian Kesatu dan Dua, terj. Ghufron A.      Mas’adi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1999.

Maryam, Siti, dkk, Sejarah Peradaban Islam: Dari Klasik Hingga Modern. Yogyakarta:   Lesfi, 2012.

Syaefudin, Machfud, dkk. Dinamika Peradaban Islam: Perspektif Historis. Yogyakarta: Pustaka Ilmu Yogyakarta, 2013.

[1]Machfud Syaefudin, dkk, Dinamika Peradaban Islam: Perspektif Historis (Yogyakarta: Pustaka Ilmu Yogyakarta, 2013), hlm. 214.

[2]Ibid.

[3]Siti Maryam, dkk, Sejarah Peradaban islam: Dari Klasik Hingga Modern (Yogyakarta: Lesfi, 2012), hlm. 283.

[4]Machfud Syaefudin, dkk, Dinamika Peradaban Islam, hlm. 215.

[5] Siti Maryam, dkk, Sejarah Peradaban Islam, hlm. 284.

[6] Ibid.

[7] Ibid.

[8] Machfud Syaefudin, dkk, Dinamika Peradaban Islam, hlm. 216.

[9] Ibid.

[10] Ibid., 217.

[11]Ibid., 218.

[12]Ibid.

[13]Ibid., 219-220.

[14]Ibid., hlm. 223.

[15]Ibid., hlm. 223-224.

[16]Ibid.

[17] Siti Maryam, dkk, Sejarah Peradaban Islam., hlm. 289.

[18] Machfud Syaefudin, dkk, Dinamika Peradaban Islam, hlm. 224.

[19]Ibid.

[20]Hamka, Sejarah Umat Islam III (Jakarta: Bulan Bintang, 1981), hlm. 71.

[21]Ira M. Lapidus, Sejarah Sosial Umat Islam; Bagian Kesatu dan Dua, terj. Ghufron A. Mas’adi ( Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1999), hlm. 464.

Share the knowledge!
Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Pin on Pinterest0Email this to someoneShare on Tumblr0Share on Reddit0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *