History of Islam

Etnis Berber

Share the knowledge!
Share on Facebook8Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn2Pin on Pinterest0Email this to someoneShare on Tumblr0Share on Reddit0

Dalam perkembangan Islam periode awal, tidak selamanya hanya berotasi pada kehadiran dan peran dari orang-orang  Arab. Melainkan banyak etnis lain yang berkontribusi juga dalam perkembangan perdaban Islam. Salah satunya adalah etnis Berber di Afrika, yang berperan besar bagi perkembangan Islam di Afrika dan Andalusia. Dari etnis ini pula muncul dinasti-dinasti yang mempunyai pengaruh cukup besar dalam peradaban Islam.

Asal-Usul Etnis Berber

Berber adalah nama etnis untuk orang-orang yang berasal dari Afrika Utara atau Maghrib (istilah Arab yang berarti “tanah matahari terbenam”). Orang Berber telah menetap di tanah Afrika sejak milenium 1 SM. Mereka memiliki kesamaan linguistik berdasarkan bahasa tak tertulis yang disebut Tamazight. Meskipun mereka memiliki ciri budaya yang sama, Berber membedakan satu sama lain melalui berbagai model kehidupan yang berbeda-beda: seminomadik atau nomaden (untuk orang-orang dari Gurun Sahara, yang disebut Targis atau Touareg.

Etnis Berber terbagi dalam keluarga, kelompok keturunan dan suku. Mereka menetap di wilayah yang terbentang dari Samudera Atlantik sampai Cyrenaica dan beberapa lokasi di Mesir Barat. Wilayah ini mencakup tiga wilayah utama: Barat, tengah, dan timur Berberia, yang juga disebut Ifriqiyya.

Orang Berber telah memeluk agama Kristen dan Yahudi sebelum mereka memeluk Islam, mengikuti penaklukan Arab pada abad ke-7 Masehi.

Sejarawan besar muslim, Ibn Khaldun (1332- 1406) adalah orang pertama yang mempelajari sejarah, budaya, dan sosiologi Berber dalam tujuh jilid karyanya berjudul, Al-Kitab al-Ibar (The Book of Historical Example). Ia menjelaskan perbedaan  antara orang Arab dan Berber yang meliputi gaya hidup, ekonomi, hubungan kekuasaan dan gambaran situasi sosio-politik Maghrib abad pertengahan. \

Peran Etnis Berber dalam Perkembangan Islam

Secara khusus, persaingan antara etnis Arab dan Berber telah menandai sejarah Islam di Afrika Utara dan Andalusia (Spanyol). Andalusia termasuk karena wilayah itu diserang oleh tentara muslim Berber-Arab pada tahun 711 dan akhirnya menjadi Kekaisaran Islam selama sekitar delapan abad

Munculnya Islam di Afrika Utara menyebabkan fenomena Arabisasi Orang Berber, meski mereka sama sekali tidak pernah kehilangan identitas budaya mereka. Bagaimanapun pendudukan Arab di abad ketujuh dan kedelapan mendapatkan perlawanan sengit dari Berber. Dengan demikian, islamisasi Berber relatif lamban dan mencapai puncaknya pada abad ke-12. Pada masa-masa itu orang Berber selalu memberontak.

Orang-orang Berber juga dikenal menyukai tren religius heterodoks dan gerakan sektarian, seperti Khawarij dan Syiah yang menentang Khilafah Sunni. Hubungan kompleks etnis Berber dengan berbagai tren Islam yang ditumpangkan pada fenomena sosiologis aliansi keluarga atau perselisihan kesukuan mendasari sejarah dinasti-dinasti Maghrib abad pertengahan.

etnis berber
Beberapa Dinasti Berber yang pernah berdiri

Setelah periode Umayyah Damaskus (660-749) berakhir, negara-negara pembangkang pertama yang berasal dari khilafah di timur muncul di Maghrib dan didukung oleh Berber setempat, di antaranya dinasti Syi’ah pertama, Idrisiyah (789-974) di Berberia Barat dan Dinasti Khawarij Rustamiyah (777-909) di Berberia Tengah.

Pada abad kesepuluh dan kesebelas, Maghrib terbagi menjadi dua zona pengaruh politik dan agama dari Khalifah yang bersaing di Barat, yaitu Muslim Sunni di Cordoba dan Fatimiyah Syiah di Kairo. Selain itu, sebelum dipindahkan ke Mesir, Negara Fatimiyah pada awalnya bertempat di Ifriqiyya.

Paruh kedua abad kesebelas muncul  Kekaisaran Berber Sunni  pertama bernama Al-Murabitun (1056-1147). Kekaisaran ini didirikan oleh suku Berber nomaden, Lamtuna. Al-Murabitun  mengembangkan peradaban gemilang yang disebut ‘Hispano-Berber’ atau ‘Hispano-Maghribi’ ‘di Berberia barat, tengah dan Andalusia.

etnis berber
Wilayah al-Murabitun

Di Andalusia, al-Murabitun berusaha menyatukan kembali tanah Islam yang terpecah setelah jatuhnya kekhalifahan Umeyyah pada tahun 1031 M. Al-Murabitun juga berjasa menghentikan usaha Reconquista (penaklukan Nasrani di Andalusia), meskipun hanya untuk sementara.

Kontak langsung dengan budaya kota Andalusia sangat berkontribusi terhadap perkembangan peradaban Al-Murabitun di Afrika Utara. Namun, eksistensi dari dinasti harus berakhir setelah beberapa kesultanan muslim di Spanyol menolak otoritasnya. Kondisi ini diperparah dengan munculnya sebuah gerakan keagamaan baru di wilayah selatan Maroko yang menyangkal legitimasinya.

Gerakan itu bernama al-Muwahiddun yang didirikan oleh Ibnu Tumart, seorang ulama yang menyebarkan ajaran pembaharuan moral. Ia mengekspos supresmai al-Quran dan hadis, dan tidak mau mengakui otoritas mazhab-mazhab fiq.Ibnu Tumart juga menyebarkan doktrin transendensi dan keesaan Tuhan.

Di bawah otoritasnya sebuah pemerintahan yang baru diorganisisr melalui sebuah dewan yang beranggotakan 50 perwakilan suku Berber. Berkat gerakan ini sebuah dinasti Berber yang baru dapat berdiri dan mengambil alih semua wilayah Maghribi. Dinasti baru bernama Al-Muwahhidun itu kemudian membentuk Kekaisaran Hispano-Berber kedua yang lebih kuat daripada yang sebelumnya.

Al-Muwahidun mencapai kemakmuran ekonomi, setelah kesuksesan perdagangan antara etnis Afrika kulit hitam, Berber, dan Eropa Mediterania. Selain itu, kehidupan budaya mereka  tercerahkan berkat kehadiran  para filsuf besar seperti Ibn Rusyd dan Ibn Tufayl yang turut membangun kemegahan Kekaisaran al-Muwahidun.

Perhatian utama para Khalifah Muwahhidun di Spanyol adalah memenangi perang suci melawan Kristen, namun keinginan itu tidak berhasil dicapai. Mereka justru mengalami kekalahan telak di Las Navas de Tolosa pada 1212, yang membuat mereka diusir dari semenanjung itu. Bersamaan dengan peristiwa itu pamor Muwahhidun merosot dan akhirnya runtuh seperti dinasti pendahulunya.

Hancurnya Imperium al-Muwahhidun menandai berakhirnya fase pembentukan negara dan Islamisasi di Afrika Utara pada periode kekhalifahan.

BIBLIOGRAFI

Hitti, Phillip K. 2006. History of The Arabs. Terj. Cecep Lukman Yasin dan Dedi Slamet Riyadi. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta.

Lapidus, Ira M. 2000. Sejarah Sosial Ummat Islam Bagian I dan II. Terj. Ghufron A. Mas’adi. Jakarta: RajaGrafindo Persada

Meri, Josef W. 2006. Medieval Islamic Civilization : An Encyclopedia. New York: Taylor & Francis Group.

Share the knowledge!
Share on Facebook8Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn2Pin on Pinterest0Email this to someoneShare on Tumblr0Share on Reddit0

No Comments Found

Leave a Reply