Fathu Makkah/Penaklukan Mekkah 8 H

Share the knowledge!
Share on Facebook4Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Pin on Pinterest0Email this to someoneShare on Tumblr0Share on Reddit0

Salah satu momen bersejarah yang sangat berkesan dalam sejarah hidup Rasulullah adalah peristiwa Penaklukan Mekkah/Fathu Makkah. Dalam perjuangan Rasul mendakwahkan Islam, kaum Quraisy menjadi kaum yang paling aktif menentang dakwah Rasul. Berbagai upaya mereka lakukan untuk menghentikan laju perkembangan Islam, meskipun demikian usaha-usaha yang dilakukan kaum Quraisy tidak lah mampu menghentikan laju perkembangan Islam.

Setelah Rasul hijrah ke Madinah, jumlah penganut agama Islam terus bertambah. Ditambah dengan rangkaian kemenangan-kemenangan gemilang umat Islam dalam peperangan melawan suku Quraisy, semakin menambah kuat pengaruh Isla. Puncaknya adalah peristiwa penaklukan Mekkah, ketika panji-panji Islam berhasil memasuki Mekkah, dan merobohkan berhala-berhala di sekitar Ka’bah. Peristiwa penaklukan tersebut merupakan bagian penting dari sejarah umat Islam, untuk itu pada kesempatan ini, kita akan membahas lebih lanjut mengenai peristiwa penaklukan Mekkah/Fathu Makkah.

Latar Belakang Fathu Makkah

Peristiwa peperangan untuk menaklukkan Mekkah, di latar belakangi oleh konflik antara Bani Khuza’ah, dan Bani Bakar. Dua kabilah ini telah lama saling bermusuhan, bahkan sejak zaman jahiliyah. Namun, yang menjadi permasalahan, konflik antara kedua kabilah tersebut terjadi saat umat Islam, dan kaum Quraisy sedang menjalani masa genjatan senjata, sesuai dengan perjanjian Hudaibiyah.

Atas dasar ini, maka Bani Khuza’ah bergabung ke pihak Nabi, sementara Bani Bakar bergabung ke pihak Quraisy. Akan tetapi, perjanjian Hudaibiyah yang seharusnya menjadi masa genjatan senjata, justru dimanfaatkan Naufal bin Muawiyah Ad-Daili, bersama segolongan orang Bani Bakar untuk melampiaskan dendam lama terhadap Bani Khuza’ah. Mereka melakuakan serangan mendadak pada malam hari, ketika bani Khuza’ah sedang berada di mata air mereka, Alwatir.

Padahal sudah terinci jelas di salah satu point perjanjian Hudaibiyah, bahwa siapa yang ingin bergabung ke pihak Muhammad dan perjanjiannya, dia boleh melakukannya. Sebaliknya, siapa yang ingin bergabung ke pihak Quraisy, dan perjanjiannya dia boleh melakukannya. Kabilah mana pun yang bergabung dengan salah satu pihak, berarti kabilah tersebut dianggap sebagai bagian dari pihak yang diikuti. Dengan demikian, penyerangan terhadap suatu kabilah yang telah bergabung salah satu pihak, dianggap sebagai penyerangan terhadap pihak yang bersangkutan.

Dalam serangan mendadak ini, Bani Bakar bisa menghabisi beberapa orang dari Bani Khuza’ah. Ketika kedua belah pihak bertempur hebat, secara diam-diam Quraisy memberi bantuan persenjataan kepada Bani Bakar.  Bantuan yang diberikan oleh suku Quraisy ini merupakan kesalahan fatal yang tidak dapat ditolerir, dan telah melanggar perjanjian.

Naufal beserta gerombolannya berhasil mendesak Bani Khuza’ah hingga ke tanah suci. Saat terdesak penduduk Khuza’ah berlindung di rumah Budail bin Warqa’ Al-Khuza’i. Pada saat yang sama Amr bin Salim Al-Khuza’i cepat-cepat pergi ke Madinah untuk menemui Rasulullah.

Respon Rasulullah atas Pelanggaran Kaum Quraisy

Sesampainya Amr bin Salim di Madinah, ia segera bergegas menemui Rasulullah. Pada saat di hadapan Rasul, Amr melantunkan syair dengan maksud meminta bantuan kepada Rasul,

Ya Rabbi, aku memanggil Muhammad

Sekutu orang tua kami, dan orang tuanya dulu[1]

Dahulu kalian adalah anak, sedangkan kami adalah ayah[2]

Kami berdamai dan melepaskannya

Tolonglah kami, semoga Allah memberimu pertolongan gemilang

Panggilah hamba-hamba Allah agar datang sebagai bala bantuan

Di Tengah mereka ada Rasulullah yang siap berperang

Putih laksana bulan purnama yang terang benderang

Yang bila dizalimi, ia berubah karena marah

Dalam pasukan besar yang seperti laut yang mengalir hingga mengeluarkan buih

Quraisy telah mengingkari perjanjian denganmu

Melanggar perjanjianmu yang kuat

Mengincar untuk membunuhiku di Kada’

Mereka mengira aku tidak mengajak siapapun

Mereka sangat hina dan jumlah mereka sangat sedikit

Mereka menyerang kami di Al-Watsir pada malam saat kami sedang tahajud

Dan membunuh kami saat kami ruku’ dan sujud

Setelah mendengar lantunan syair dari Amr bin Salim, Rasulullah bersabda, “Engkau pasti akan ditolong wahai Amr bin Salim.” Budail dan beberapa orang dari Khuza’ah juga berangkat untuk menemui Rasulullah di Madinah. Setelah bertemu, dia mengabarkan apa yang menimpa orang-orang Bani Khuza’ah dan bantuan yang diberikan Quraisy terhadap Bani Bakar. Setelah memberikan laporan, mereka kembali ke Mekkah.

Sebagian riwayat mengisyaratkan bahwa Rasulullah mengirim utusan untuk memberi pilihan kepada kaum Quraisy. Menyerahkan tebusan bagi orang-orang yang terbunuh dari kalangan Khuza’ah, atau mereka memilih melepaskan persekutuan mereka dengan Bani Bakar, atau perang. Pada saat itu kaum Quraisy memilih jalan peperangan.

Kaum Quraisy Mengirimkan Abu Sufyan untuk Memperbarui Perjanjian

Setelah utusan Rasul kembali ke Madinah, kaum Quraisy mulai menyadari kesalahan dari keputusan mereka. Mereka sadar dengan jumlah pasukan Quraisy yang sekarang, mereka hanya akan dihancurkan oleh pasukan muslim. Untuk itu mereka memutuskan mengirimkan pemimpin mereka, Abu Sufyan ke Madinah untuk memperbarui perjanjian.

Ketika Abu Sufyan menemui Rasulullah dan berdiplomasi, Rasul sama sekali tidak menanggapinya. Kemudian ia menemui Abu Bakar, dan berbicara kepadanya, meminta agar Abu Bakar mau berbicara kepada beliau. Abu Bakar berkata, “Aku tidak sudi melakukannya.”

Kemudian Abu Sufyan menemui Umar bin Khatab, untuk meminta bantuan yang sama. Umar berkata, “Apakah layak bila aku memintakan pertolongan bagi kalian kepada Rasulullah? Demi Allah, kalau pun hanya mendapatkan debu, tentu debu itu akan kugunakan untuk menyerang kalian.”

Abu Sufyan lantas menemui Ali bin Abi Thalib. Abu Sufyan berkata, “Wahai Ali, engkau adalah orang yang paling dekat hubungan kekerabatannya denganku. Aku datang karena ada keperluan. Aku tidak akan kembali dengan tangan hampa. Mintakanlah pertolongan untukku kepada Muhammad.”

Ali menjawab, “Celaka engkau, wahai Abu Sufyan. Rasulullah telah mengambil keputusan, dan kami tidak bisa mempengaruhi beliau.” Mendengar jawaban tersebut, Abu Sufyan kebingungan dan berkata kepada Ali, “Wahai Abul Hasan, kulihat semua urusan terasa amat berat bagiku. Karena itu, nasehatilah aku.”

Ali berkata, “Aku tidak melihat lagi sesuatu pun yang dapat berguna bagimu. Tetapi bukanlah engkau pemimpin Bani Kinanah? Bangkit dan berilah jaminan perlindungan untuk manusia, kemudian pulanglah ke tempatmu.”

Setelah itu Abu Sufyan berdiri di masjid, dan berkata, “Wahai orang-orang, aku telah memberi jaminan perlindungan untuk manusia.” Kemudian Abu Sufyan naik unta dan kembali ke Mekkah. Sesampainya di Mekkah, Abu Sufyan menceritakan semua kejadian yang ia alami di Madinah.

Persiapan Perang dan Usaha Merahasiakannya

Rasulullah memerintahkan para sahabatnya untuk mempersiapkan perang tanpa memberi tahu maksud dan tujuan tersebut. Beliau menginginkan hal itu sebagai sesuatu yang rahasia, dan agar Quraisy berada dalam kondisi yang tidak siap untuk berperang.

Rasul meminta bantuan dari kabilah-kabilah yang berada di sekitar Madinah, diantaranya; Suku Aslam, suku Hifaar, sku Mazinah, suku Juhainah, suku Asyja’, dan suku Sulaim. Dengan tambahan pasukan dari kabilah-kabilah tersebut, total jumlah pasukan kaum Muslimin ketika itu mencapai 10.000 prajurit.

Jumlah pasukan yang sangat besar ini, menunjukkan perkembangan kekuatan Muslim dalam rentang waktu antara perjanjian Hudaibiyah, dan penaklukan kota Mekkah.

Sementara itu, Hathib bi Abi Balta’ah, salah satu sahabat Nabi yang pernah mengikuti perang Badar, menulis surat yang hendak dirimkan kepada Quraisy, yang isinya mengabarkan keberangkatan pasukan Muslim ke Mekah.

Surat itu dibawa oleh seorang wanita yang sudah tua, bernama Sarah. Nabi kemudian mengutus Ali, Az-Zubair, dan Miqdad yang mengejar wanita itu, hingga mereka bertemu di Raudhah Kahakh, yang berjarak dua belas mil dari Madinah. Mereka berhasil mendapatkan surat tersebut.

Setelah surat tersebut kemduan diserahkan kepada Rasul, Beliau bertanya: “Apa ini, wahai Hathib?” Hathib menjawab: “Jangan terburu menuduhku wahai Rasulullah. Dulu aku adalah seoranga anak angkat di kalangan Quraisy. Aku bukanlah apa-apa bagi mereka. Sementara orang-orang yang bersamamu dari kalangan Muahjirin, ada yang memiliki kerabat yang bisa melindungi keluarga dan harta mereka.

Karena di sana aku tidak memiliki kerabat yang bisa melindungi keluargaku, maka aku pun ingin ada orang-orang yang bisa melindungi kerabatku di sana. Tidaklah aku melakukan ini karena hendak murtad, keluar dari agama ini, dan tidak pula karena rela terhadap kekufuran setelah memeluk Islam.”

Maka rasulullah bertanya kepada para sahabatnya: “Apakah ia bisa dipercaya?” Umar bin Khatab pun berkata: “Wahai Rasulullah, biarkan aku memenggal leher orang munafik ini.” Rasul kemudian bersabda: “Sesungguhnya dia pernah mengikuti perang Badar. Lalu bagaimana engkau bisa mengetahui hal itu. boleh jadi Allah sudah mengetahui isi hati orang yang pernah mengikuti perang Badar, lalu berkata “Berbuatlah sesuka kalian, Aku telah mengampuni dosa-dosa kalian.” Allah SWT kemudian menurunkan ayat yang berbunyi :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّخِذُواْ عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمۡ أَوۡلِيَآءَ تُلۡقُونَ إِلَيۡهِم بِٱلۡمَوَدَّةِ وَقَدۡ كَفَرُواْ بِمَا جَآءَكُم مِّنَ ٱلۡحَقِّ يُخۡرِجُونَ ٱلرَّسُولَ وَإِيَّاكُمۡ أَن تُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ رَبِّكُمۡ إِن كُنتُمۡ خَرَجۡتُمۡ جِهَٰدٗا فِي سَبِيلِي وَٱبۡتِغَآءَ مَرۡضَاتِيۚ تُسِرُّونَ إِلَيۡهِم بِٱلۡمَوَدَّةِ وَأَنَا۠ أَعۡلَمُ بِمَآ أَخۡفَيۡتُمۡ وَمَآ أَعۡلَنتُمۡۚ وَمَن يَفۡعَلۡهُ مِنكُمۡ فَقَدۡ ضَلَّ سَوَآءَ ٱلسَّبِيلِ ١

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad di jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus. (Q. S. Al Mumtahanah: 1)

Dengan demikian, Allah mensyariatkan untuk memusuhi orang-orang kafir, dan bertindak tegas terhadap mereka serta melarang bekerja sama dan berteman dengan mereka.

Pasukan Islam bergerak Menuju Mekkah

Pada hari kesepuluh bulan Ramadhan 8 H/Januari 630M, Rasulullah meninggalkan Madinah dan berangkat menuju Mekkah bersama 10.000 sahabat. Urusan di Madinah dipercayakan kepada Abu Ruhm Kultsum bin Hushain Al-Ghifari. Ketika Rasulullah tiba di Juhfah, beliau bertemu pamannya, Abbas bin Abdul Muththalib, yang telah masuk Islam dan hijrah bersama seluruh keluarganya.

Rasulullah melanjutkan perjalanan dalam keadaaan puasa, begitu pula semua orang, hingga tiba di Al-Kudaid, sebuah mata air yang terletak antara Asfan dan Qudaid. Mata air tersebut terletak 86 km dari Mekkah, dan 301 km dari Madinah.

Rasulullah kemudian berbuka puasa di sana bersama semua orang yang bersamanya. Setelah itu Nabi melanjutkan perjalanan hingga tiba di Marr Azh-Zhahran. Beliau memerintahkan pasukan untuk berhenti dan mereka pun menyalakan api unggun. Mereka menyalakan ribuan api unggun, dan mengangkat Umar bin Khatab sebagai penjaga.

Abu Sufyan Masuk Islam

Setelah pasukan muslim singgah di Marr Azh-Zhahran, Abbas berputar-putar menaiki keledai Rasulullah, barang kali mendapatkan tukang kayu bakar atau seseorang yang bisa memberi kabar kepada orang-orang Quraisy agar mereka keluar, dan meminta jaminan kepada Rasul sebelum beliau memasuki Mekkah.

Allah menjadikan orang-orang Quraisy tidak mendengar kabar ini, meskipun mereka selalu bersikap waspada. Berita mengenai pasukan muslim sama sekali tidak terdengar oleh orang-orang Quraisy. Maka keluarlah Abu Sufyan, Hakim bin Hizam, dan Budail bin Zarqa’ berusaha mencari informasi.

Mereka kemudian bertemu dengan Abbas bin Abdul Muththalib. Abbas memperingatkan Abu Sufyan bahwa pasukan tersebut adalah pasukan muslim, dan menyarankkan Abu Sufyan untuk meminta jaminan keamanan kepada Rasul.

Abu Sufyan setuju dengan saran dari Abbas, maka keduanya berangkat menuju perkemahan kaum muslimin untuk menemui Rasulullah. Dalam perjalanannya, mereka bertemu Umar bin Khatab. Ketika tau orang yang bersama Abbas adalah Abu Sufyan, Umar segera bergegas ke tenda Rasulullah untuk memperingatkan beliau.

Mereka sampai di tenda Rasulullah dalam waktu hampir bersamaan. Sesampainya di tempat Rasulullah, Umar berkata: “Wahai Rasulullah, ini adalah Abu Sufyan. Biarkan aku memenggal lehernya.” Kemudian Abbas berkata, “Wahai Rasulullah aku telah melindunginya.”. Rasulullah kemudian memerintahkan Abu Sufyan untuk pergi ke tenda Abbas, dan meminta mereka kembali ke tenda Rasulullah keesokan harinya.

Abbas dan Abu Sufyan menuruti apa yang dikatakan Rasulullah, keesokan harinya Abu Sufyan menemui kembali Rasulullah. Sempat timbul keraguan pada diri Abu Sufyan, tetapi ia akhirnya masuk Islam. Rasulullah juga memberi jaminan, siapapun yang memasuki rumah Abu Sufyan, ia aman. Barang siapa menutup pintunya, ia aman, dan siapapun yang memasuki Masjidil Haram, ia aman.

Abu Sufyan kemudian kembali ke Mekkah, dan memperingatkan kepada Quraisy, tentang kekuatan kaum muslim dan mencegah mereka agar tidak melawan. Meskipun telah diperingatkan, masih ada beberapa orang Quraisy yang keras kepala, mereka berkumpul bersama Ikrimah bin Abu Jahal, Shafwan bin Umayyah, dan Suhail bin Amr, dengan maksud memerangi orang-orang Muslim.

Pasukan Islam Meninggalkan Marr Azh-Zhahran Menuju Mekkah

Pada Selasa pagi, 17 Ramadhan, Rasulullah meninggalkan Marr Azh-Zhahran menuju Mekkah. Dari Marr Azh –Zhahran, Rasulullah beserta pasukan muslim melanjutkan perjalanan hingga tiba di Dzi Thuwa. Di tempat ini beliau membagi pasukan muslim yang akan memasuki Mekkah.

fathu Makkah
Rute Fathu Makkah

Khalid bin Walid ditempatkan di sayap kanan bersama Bani Aslam, Sulaim, Ghifar, Muzainah, Juhainah, dan beberapa kabilah Arab lainnya. Rasul memerintahkan pasukan Khalid untuk masuk dari dataran rendah Mekkah. Rasul bersabda kepada mereka, “Jika ada orang-orang Quraisy yang menghadang kalian, perangilah mereka, dan tunggulah kedatanganku di Shafa.”

Az-Zubair bin Al-Awwam menempati sayap kiri, membawa bendera Rasulullah dan memerintahkannya agar memasuki Mekkah dari dataran tinggi, tepatnya dari arah Kada’. Rasul memerintahkan untuk menancapkan benderanya di Al-Hajun dan tidak boleh meninggalkan tempat itu sebelum Nabi tiba di sana. Sementara itu Abu Ubaidah bin Al-Jarrah memimpin pasukan tanpa senjata, untuk memasuki Mekkah melalui jalur tengah lembah hingga masuk ke Mekkah.

Pasukan Islam Memasuki Mekkah

Setiap pasukan yang telah dibagi Rasul, bergerak melewai jalan yang telah ditetapkan. Dalam perjalanannya dua anggota pasukan Khalid gugur, yaitu Kurz bin Jabir, dan Khunais bin Khalid bin Rabi’ah. Mereka tersesat dari induk pasukan, sehingga dibunuh orang-orang Quraisy.

Pasukan Quraisy mencoba menghadang laju pasukan Khalid di Khandamah. Pada pertempuran tersebut Khalid dapat membunuh dua belas orang musyrik. Sisa dari pasukan Quraisy tersebut, akhirnya melarikan diri. Khalid bin Walid berhasil memasuki Mekah dan menunggu kedatangan Rasulullah di Shafa. Sementara itu, Az-Zubair terus merangsek hingga dapat menancapkan bendera di Al-Hujun.

Rasulullah Menghancurkan Berhala di Sekitar Ka’bah

Di tempat lain, Rasulullah bergerak bersama Muhajirin dan Anshar hingga masuk Masjidil Haram. Beliau menghampiri Hajar Aswat lalu menciumnya. Rasul kemudian berthawaf di sekeliling Ka’ba sambil memegang busur. Pada waktu itu, di sekitar Ka’bah terdapat 360 berhala, beliau menyodok berhala-berhala itu dengan busur sambil mengucapkan ayat:

وَقُلۡ جَآءَ ٱلۡحَقُّ وَزَهَقَ ٱلۡبَٰطِلُۚ إِنَّ ٱلۡبَٰطِلَ كَانَ زَهُوقٗا ٨١

Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap (Q. S. Al-Isra’: 81)

قُلۡ جَآءَ ٱلۡحَقُّ وَمَا يُبۡدِئُ ٱلۡبَٰطِلُ وَمَا يُعِيدُ ٤٩

Katakanlah: “Kebenaran telah datang dan yang batil itu tidak akan memulai dan tidak (pula) akan mengulangi” (Q. S. Saba’:49)

Setelah Rasulullah selesai melakukan thawaf. Beliau memanggil Utsman bin Thalhah dan memerintahkannya untuk mengambil kunci Ka’bah. Setelah masuk ke dalam Ka’bah, Rasul melihat berbagai gambar, seperti gambar Ibrahim dan Islam yang sedang membagi anak panah untuk undian.

Beliau bersabda, “Semoga Allah membinasakan mereka. Demi Allah, sekali pun Ibrahim tidak pernah mengundi dengan anak panah ini.” Nabi kemudian memerintahkan agar semua gambar tersebut dimusnahkan.

Setelah itu Rasul menutup pintu Ka’bah, dan Sholat di dalamnya. Selesai sholat, Rasul kemudian mengelilingi bagian dalam Ka’bah, dan bertakbir di setiap sudutnya. Setelah itu Rasul membuka pintu Ka’bah, dan berpidato untuk pertama kalinya di hadapan orang-orang Quraisy yang telah menunggunya.

Dalam pidatonya Rasul Bersabda “Kukatakan kepada kalian seperti yang dikatakan Yusuf kepada saudara-saudaranya. Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kalian. Pergilah, karena kalian orang-orang yang bebas.”

Eksekusi Para Penjahat Quraisy

Rasulullah telah menginstruksikan kepada semua komandan perangnya agar tidak memerangi orang-orang Quraisy, kecuali orang-orang yang memerangi mereka. Beliau telah mengumumkan keamanan seluruh penduduk Mekkah, kecuali sembilan orang, beliau halalkan darah mereka, sekalipun mereka tertangkap di bawah kain penutup ka’bah. Sembilan orang itu adalah:

  1. Abdul Uzza bin Khathal
  2. Abdullah bin Abu Sarh
  3. Ikrimah bin Abu Jahal
  4. Harits bin Nufail bin Wahab
  5. Miqyas bin Shubabah
  6. Habbar bin Al-Aswad
  7. Dua biduan milik Ibnu Khathal, keduanya selalu menyanyikan lagu yang berisi cacian terhadap Rasul.
  8. Sarah, Budak milik Bani Abdul Muthalibb yang membawa surat Hathib bin Abu Balta’ah.

Meskipun begitu, di antara orang-orang tersebut beberapa mendapatkan amnesti dan akhirnya masuk Islam. Mereka adalah Ibnu Abu Sarh, Habbar bin Al-Aswad, salah seorang dari biduan Ibnu Khathal, Sarah, dan Ikrimah bin Abu Jahal. Untuk Abu Sarh, Utsman bin Affan memintakan amnesti kepada rasul.

Sementara Ikrimah, ia sempat melarikan diri ke Yaman. Istirinya kemudian memintakan amnesti kepada Rasul, setelah Rasul memberi amnesti, istrinya menyusul ke Yaman. Setelah mereka kembali lagi ke Mekkah, Ikrimah masuk Islam.

Pengambilan Baiat dan Keberadaan Rasulullah di Mekkah

Ketika Allah telah menaklukkan Mekkah utnuk Rasulullah dan kaum muslimin, penduduk Mekkah bisa membuka mata mereka untuk menerima kebenaran. Mereka akhirnya menyadari bahwa tidak ada jalan kebenaran selain Islam.

Mereka pun masuk Islam dan berkumpul untuk menyatakan baiat. Rasulullah duduk di Shafa untuk membaiat mereka. Sementara Umar bin Khatab berada di bawah beliau, memegang tangan orang-orang yang berbaiat. Di dalam kitab al-Madarik disebutkan bahwa seletah beliau selesai membaiat kaum laki-laki, beliau juga membaiat kaum wanita.

Rasulullah berada di Mekkah selama sembilan belas hari. Selama itu Nabi memperharui simbol-simbol Islam dan menyampaikan petunjuk kepada orang-orang. Nabi juga memerintahkan Abu Usaid Al-Khuza’i untuk memperharui beberapa bagian di Tanah Suci. Rasulullah mengirimkan beberapa kelompok orang untuk mendakwahkan ajaran Islam serta merobohkan semua berhala di sekitar Mekkah.

Demikianlah peristiwa Fathu Makkah, suatu peperangan yang sangat menentukan, dan kemenangan besar untuk menumpas dan menghancurkan eksistensi paganisme. Fathu Mekkah juga menandai babak baru, perkembangan Islam di Jazirah Arab dan sekitarnya.

BIBLIOGRAFI

Karam Dhiya’ Al-Umuri. 2010. Shahih Shirah Nabawiyah. Jakarta: Pustaka as-Sunnah.

Ira M. Lapidus. 2000. Sejarah Sosial Ummat Islam. Jakarta: RajaGrafindo Persada.

Philip K. Hitti. 2006. History of The Arabs. Jakarta: Serambi.

Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri. 2011. Sirah Nabaiyah: Ar-Rahiq Al-Makhtum. Jakarta: Ummul Qura.

Catatan

[1] Perjanjian yang dikukuhkan antara Khuza’ah dan Bani Hasyim sejak masa abdul Muthalib

[2] Ibu Abdu Manaf yang bernama Hubai istri Qusyai, berasal dari bani Khuza’ah

Share the knowledge!
Share on Facebook4Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Pin on Pinterest0Email this to someoneShare on Tumblr0Share on Reddit0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *