Hernan Cortes dan Keruntuhan Peradaban Aztek (1519-1524 M)

Share the knowledge!
Share on Facebook4Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Pin on Pinterest0Email this to someoneShare on Tumblr0Share on Reddit0

Hernan Cortes adalah seorang conquistador  dan penjelajah yang mengalahkan kekaisaran Aztek dan mengklaim Meksiko untuk kerajaan Spanyol. Ia  salah satu penakluk paling berbahaya dan tamak yang hidup pada abad ke-16. Ketika ia pertama kali menginjakkan kaki di Meksiko sebagai pemimpin pasukan bayaran, ia membantai kaum tidak bersalah dan menghancurkan peradaban mereka. Peradaban Aztek hancur, dan Cortes memperkaya diri melebihi impiannya.

Biografi Hernan Cortes

hernan cortes
Hernan COrtes

Hernan Cortes lahir di Medellin, Spanyol, pada tahun 1485 M. Ia berasal dari keluarga bangsawan yang tidak begitu kaya tetapi memiliki kehormatan besar. Ayahnya bernama Martin Cortes de Monroy dan ibunya bernama Dona Catalina Pizarro Altamarino. Melalui ibunya, Cortes mempunyai hubungan saudara dengan Francisco Pizarro, yang kemudian menaklukan Kekaisaran Inca di Peru.

Setelah masa kecil yang sakit-sakitan, orang tuanya mengirim Cortes, yang masih berusia 14 tahun, bersekolah ke Salamanca yang bergengsi. Mereka berharap lingkungan intelektual di tempat itu dapat menjadikan putra mereka menjadi orang hebat. Meskipun demikian, hal itu tidak berjalan lancar, karena Cortes segera kembali pulang ke kampung halamannya.

Setelah kehidupan kedaerahan kota kecil tidak lagi memuaskan bagi Cortes muda, ia memutuskan untuk pindah ke Dunia Baru pada 1502, saat itu usianya baru menginjak 19 tahun. Pada tahun 1503 M, ia tiba di Hispaniola (Haiti dan Republik Dominika sekarang), dan dengan cepat menjadikan dirinya orang handal yang pintar memanfaatkan kesempatan. Di Hispaniola, ia bekerja sebagai seorang administrator.

Pada tahun 1510, di usianya yang ke-26 tahun, Cortes berhasil memperoleh tempat dalam sebuah ekspedisi untuk menaklukan Kuba. Ekspedisi ini dipimpin oleh Diego Velazquez de Cuellar, yang menjadi gubernur Kuba setelah penaklukan tersebut.

Selanjutnya, Velazques menunjuk Cortes sebagai sekretarisnya, setelah terkesan dengan kemampuannya. Akan tetapi hubungan baik antara kedua pria ini tidak lah berlangsung lama, sebagian disebabkan karena Cortes sering main perempuan, bahkan ketika ia sudah bertunangan dengan saudari ipar Velazquez, Catalina Suarez.

Pascaberkonflik dengan Velazques, Cortes menjadi semakin gelisah dengan kehidupannya di Kuba. Pada tahun 1518, ia membujuk Velazques untuk menunjuknya sebagai pemimpin ekspedisi untuk mengeksplorasi dan mengolonisasi tanah utama Dunia Baru (Meksiko). Meskipun pada saat-saat terakhir, Velazques berubah pikiran dan membatalkan ekspedisi Cortes. Namun, ia terlambat karena Cortes mengabaikan pembatalan tersebut dan tetap melanjutkan ekspedisinya.

Penaklukan Meksiko

Pada Maret 1519, Cortes dan sebuah pasukan berjumlah 600 orang menginjakkan kaki di semenanjung Yucatan, dan sebulan kemudian ia berhasil mengklaim  tanah itu sebagai bagian dari kerajaan Spanyol.  Cortes mendata pada masa itu seperti ramalan keagamaan Meksiko, yang di dalamnya mencertiakan bahwa Quetzalcoatl, dewa yang berinkarnasi pada seorang raja Toltek pada abad ke-12, dimohon menarik janji atau ancamannya. Ia mencapai kemenangan atas beberapa suku asli yang melawan, pada akhirnya ia berhasil membuktikan sebagai pengatur strategi dan penakluk yang handal.

Memasuki bulan Oktober 1519, Cortes dan pasukannya telah tiba di Cholula. Pada waktu itu, Cholula adalah kota terbesar nomor dua di wilayah tersebut setelah Tenochtitlan.

Banyak orang-orang penting di kota itu berkumpul di alun-alun kota untuk berdiskusi dengan orang Spanyol yang datang, tetapi para penjajah itu sama sekali tidak memiliki keinginan untuk berdiskusi. Dalam sebuah aksi kejam, Cortes memerintahkan pasukannya untuk membumihanguskan kota Cholula. Ribuan penduduk tidak bersenjata dibantai dalam peristiwa tersebut.

hernan cortes
Moctezuma menerima kedatangan cortes

Setelah peristiwa pembantaian kejam itu, Cortes dan anak buahnya diterima dengan damai oleh kaisar Aztek, Moctezuma II, di kota Tennochtitlan. Moctezuma sendiri percaya bahwa Cortes adalah perwujudan dari dewa Aztek, Quetzalcoatl (Ular Berbulu). Terlebih setelah mendengar kehebatan militer para pendatang tersebut, ia berusaha menghindari peperangan langsung dengan mereka.

Bagi Moctezuma, Cortes berniat untuk menerima penyerahan diri kaisar Aztek kepada raja Spanyol. Setelah penyerahan kekuasaan terlaksanan Cortes menjadikan Moctezuma sebagai tahanan.

 Sementara itu, di Kuba, Velazquez menjadi iri dengan kesuksesan Cortes. Pada tahun 1520, ia mengirimkan pasukan di bahwa pimpinan Panfilo de Narvaes untuk menangkap conquistador pembangkang itu. Bentrokan antara kedua pasukan pun tidak terhindarkan, walaupun jumlah pasukan Narvaez lebih besar, tetapi Cortes berhasil memenangkan pertempuran itu.

Kemenangan Cortes harus dibayar mahal, karena selama ketidakhadirannya di Tenochtitlan, wakil yang ditunjuknya sebagai penanggung jawab justru membunuh banyak figur penting kota tersebut. Akibatnya, pemberontakan pun tidak dapat dihindarkan. Dalam peristiwa itu Moctezuma tewas. Setelah gagal masuk kembali ke Tenochtitlan, Cortes meninggalkan kota itu dan nyaris kalah dari pasukan Aztek yang mengejarnya.

hernan cortes
Cortes berusaha merebut Tenochtitlan

Pasca terusir dari Tenochtitlan, Cortes tidak tinggal diam begitu saja. Ia segera mengumpulkan kembali pasukannya di tanah-tanah sekutu. Salah satu sekutu kuat Cortes adalah suku Tlaxcala, yang telah lama membenci suku Aztek. Pada akhir tahun 1520, ia kembali ke Tenochtitlan dengan tujuan untuk merebut kembali kota utama suku Aztek.  Ketika perang pecah antara kedua belah pihak, pasukan Spanyol dan aliansi suku-suku penentang Aztek berusaha mendobrak pertahanan Aztek melalui strategi penyerangan terus-menerus.

Setelah Tenochtitlan terkepung untuk beberapa waktu, pertahanan kota itu akhirnya runtuh. Kejatuhan kota ini menandai akhir dari kekaisaran Aztek. Cortes pun menjadi penguasa wilayah Meksiko, yang ia namai sebagai Spanyol baru di Laut Samudera.

Sebagai gubernur koloni baru antara tahun 1521 sampai 1524, Cortes memerintahkan penghancuran banyak artefak suku Aztek. Penduduk asli dipaksa menjadi pekerja paksa dan mereka secara kejam dieksploitasi. Di sisi lain, Cortes hanya peduli terhadap kejayaan pribadi.

Mereka yang menderita di bawah tekanan Cortes akhirnya melaporkan kepada otoritas kerajaan Spanyol. Cortes pun akhirnya diturunkan dari jabatannya oleh raja Spanyol, setelah banyaknya laporan yang masuk mengenai keburukan pemerintahan si gubernur.

Akhir Hidup Hernan Cortes

Pada tahun 1528, Cortes kembali ke Spanyol untuk membahas kasusnya. Setibanya di Spanyol ia mendapat gelar kebangsawanan “don” dan nama “Marques del Valle de Oaxaca” sebagai imbalan atas upayanya untuk memperluas kekaisaran Spanyol yangmasih muda.

Kendati memperoleh gelar dan nama penghargaan, ia tidak dipekerjakan kembali sebagai gubernur, dan tidak pernah lagi diberi jabatan penting dalam administrasi Spanyol yang baru. Selama perjalanannnya ke Spanyol, propertinya dikelola dengan salah oleh administrator kolonial yang kasar. Ia berpihak kepada penduduk asli setempat dalam sebuah tuntutan hukum. Penduduk asli kemudian mendokumentasikan pelanggaran Cortes dalam Huexotzinco Codex.

Cortes kembali ke Meksiko pada 1530 dengan gelar dan kehormatan baru, namun kekuasaannya telah dikurangi. Meskipun Cortes masih memegang otoritas militer dan izin untuk melanjutkan penaklukannya, viceroy Don Antonio de Mendoza telah diangkat pada 1535 untuk mengelola urusan sipil Spanyol. Pembagian wewenang ini menyebabkan perselisihan, dan kegagalan beberapa bisnis tempat Cortes terlibat.

Dua dekade akhir kehidupannya adalah saksi kehidupan pahit Cortes yang melakukan perjalanan pulang pergi ke Spanyol dan Dunia Baru. Ia berusaha melawan apa yang dirasakannya sebagai konspirasi berbagai rival dan musuh yang kuat. Ia meninggal dalam usia 62 tahun di Castilleja de la Cuesta, provinsi Seville pada 2 Desember 1547, akibat penyakit selaput paru-paru. Seperti Colombus, ia meninggal sebagai orang kaya tetapi menderita sakit hati.

BIBLIOGRAFI

Gifford, Clive. 2009. Ensiklopedia Sejarah dan Budaya. Terj. Nino Oktorino. Jakarta: Lentera Abadi.

Jones, Barry.  2013. Dictionary of World Biography. Canberra: Australian National University E Press.

Montefiore, Simon Sebag. 2008. Tokoh Kontroversial Dunia. Jakarta: Erlangga.

Toynbe, Arnold. 2007. Sejarah Umat Manusia. Terj. Agung Prihantoro. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

 

Share the knowledge!
Share on Facebook4Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Pin on Pinterest0Email this to someoneShare on Tumblr0Share on Reddit0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *