Historiografi Hoesein Djajadiningrat

Share the knowledge!
Share on Facebook14Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Pin on Pinterest0Email this to someoneShare on Tumblr0Share on Reddit0

Perkembangan ilmu pengetahuan memang sangat mempengaruhi perkembangan penulisan sejarah. Sejak berkembangnya tradisi menulis, manusia mulai mengabadikan berbagai hal penting dalam bentuk tulisan. Penulisan peristiwa-peristiwa penting atau sejarah ini kemudian dikelompokkan menjadi beberapa periode berdasarkan cirinya masing-masing. Di Indonesia sendiri pembabakan sejarah penulisan sejarah (historiografi) dibagi menjadi tiga masa, yakni historiografi masa tradisional, kolonial, dan modern (nasional). Historiogfari masa tradisional didominasi oleh cerita-cerita mitos dan istanasentris, sementara historiografi masa colonial didominasi oleh cerita-cerita belandasentris yang isinya lebih rasional.

Sedangkan historiografi masa modern lebih menampakkan sisi kekritisan para sejarawan – terutama sejarawan lokal – untuk dapat menuliskan sejarah yang benar-benar valid menggunakan metode tertentu. Salah satu sejarawan yang telah menggunakan metode kritis ini adalah Hoesein Djajadiningrat. Ia dikenal sebagai bapak metodologi penelitian sejarah Indonesia berkat salah satu karyanya yang fenomenal.

 

Perkembangan Awal Historiografi Modern di Indonesia

Historiografi modern adalah penulisan sejarah Indonesia yang bersifat kritis atau memenuhi kaidah-kaidah ilmiah. Penulisan sejarah modern di Indonesia memiliki beberapa karakteristik sebagai berikut:

  1. Upaya menuntut ketepatan metodologi dalam usaha untuk mendapatkan fakta sejarah secermat mungkin, mengadakan rekonstruksi sebaik mungkin, serta menerangkannya setepat mungkin sesuai kaidah-kaidah ilmiah.
  2. Historiografi modern lebih banyak berfokus mengenai nasionalisme
  3. Historiografi modern juga memunculkan suatu terobosan baru, yaitu munculnya peranan-peranan rakyat kecil sebagai pelaku sejarah.

Beberapa karya yang dapat dikategorikan sebagai contoh historiografi modern, misalnya Critische Beschouwingen van de Sejarah Banten (1913); The Peasant Revolt of Banten in 1888 (1966); Protest Movement in Rural Java (1973); Modern Indonesia, Tradition and Transformation (1984); Ratu Adil (1984); Indonesia Historiography (2001); dan masih banyak lagi.

Biografi Hoesein Djajadiningrat

google web

Hoesein Djajadiningrat mempunyai nama lengkap Pangeran Arya Djajadiningrat. Ia lahir pada tanggal 8 Desember 1886 di Kramatwatu, Serang, Banten dan meninggal di Jakarta 12 November 1960 pada usia 73 tahun. Ayahnya merupakan seorang bupati Banten yang bernama Raden Bagoes Djajawinata dan ibunya bernama Ratu Salehah. Ia mempunyai dua kakak yaitu Ahmad Djajadiningrat dan Hasan Djajadiningrat. Kakaknya yang bernama Ahmad melanjutkan jalan ayahnya menjadi bupati Banten, sedangkan Hasan menjadi tokoh dalam Sarekat Islam.

Karena Hoesein merupakan anak dari golongan pejabat, maka ia bisa mengenyam pendidikan modern yaitu di Hogare Burger School (HBS). Ketika masih remaja ia sudah terlihat sebagai pemuda yang pintar dan berbakat dalam ilmu keagamaan maupun ilmu pengetahuan umum. Melihat potensi yang dimiliki Hoesein, maka Snouck Hurgronje menyekolahkan Hoesein ke Universitas Kerajaan Leiden pada tahun 1905 setelah lulus dari HBS tahun 1899. Hingga akhirnya ia meraih gelar doktor pada tahun 1913 dengan desertasinya yang berjudul Critische Beschouwing van de Sadjarah Banten (Pandangan Kritis Tentang Sejarah Banten) dan mendapat predikat cumlaude dari promotornya Snouck Hurgronje.

snouck-h
Snouck Hurgronje

Pada bulan Mei 1914 hingga April 1915 ia tinggal di Aceh untuk belajar bahasa Aceh guna mempersiapkan penyusunan Kamus Bahasa Aceh – Belanda. Dengan bantuan dari Teuku Mohammad Nurdin, Abu Bakar Aceh, dan Hazaeu hingga akhirnya kamus itu terselesaikan dengan judul Atjeh Nederlandsch Woordenboekpada tahun 1934. Pada tahun 1919 ia menjabat sebagai pembina surat kabar bulanan Sekar Roekoen yang berbahasa Sunda yang diterbitkan oleh Perkoempoelan Sekar Roekoen. Selain itu ia pun menerbitkan Pusaka Sunda (majalah berbahasa Sunda yang membahas tentang kebudayaan Sunda). Pada tahun yang sama ia juga mendirikan Java Instituut dan sejak tahun 1921 menjadi redaktur majalah Djawa yang diterbitkan oleh lembaga tersebut bersama sama dengan Raden Ngabehi Purbacaraka (Poerbatjaraka).

Tahun 1924 ia diangkat sebagai guru besar di Rechtshoogeschool te Batavia (Sekolah Tinggi Hukum) di Jakarta dan memberikan kuliah tentang Hukum Islam, bahasa Jawa, Melayu, dan Sunda. Tahun 1935 dan 1941 diangkat menjadi anggota Dewan Hindia. Ia pernah menjadi konservator naskah (manuskrip) di Bataviaasch Genootschap can Kunsten en Wetenschappen (Perkumpulan Masyarakat Pencinta Seni dan Ilmu Pengetahuan). Pada mulanya sebagai anggota direksi, kemudian dari tahun 1936 menjadi ketuanya. Pada tahun 1940 ia menjabat sebagai Direktur Pengajaran Agama.

Pada masa Jepang ia menjabat sebagai Kepala Departemen Urusan Agama. Tahun 1948 diangkat menjadi Menteri Pengajaran, Kesenian, dan Ilmu Pengetahuan pada masa pemerintahan presiden Sukarno. Tahun 1952 menjadi guru besar Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Tahun 1957 menjadi pemimpin umum Lembaga Bahasa dan Budaya (LBB) sekaligus merangkap sebagai anggota Komisi Istilah di lembaga tersebut.

 

Karya-Karya Hoesein Djajadiningrat

Karya-karya yang dihasilkan oleh Hoesein Djajadiningrat terbilang cukup banyak. sebagai kaum pribumi Hoesein berhasil membuktikan prestasinya tidak kalah dengan orang-orang Belanda. Hasil karyanya yang fenomenal adalah Critische Beschouwingen van de Sejarah Banten (1913) yang merupakan hasil disertasinya di Universitas Leiden, Belanda. Karya ini terdiri dari tiga bab yakni bab pertama berisi tentang sejarah Banten, bab kedua berisi tentang tinjauan sejarah, dan bab ketiga berisi tentang catatan-catatan atas bagian legenda sajarah Banten. Pada akhir karyanya ini, Hoesein Djajadiningrat juga mencantumkan tulisan tentang cirri penulisan sejarah Jawa.hoesein-book

Hoesein membagi Sajarah Banten yang meliputi 66 pupuh menjadi dua bagian. Bagian pertama (pupuh 1-16) menceritakan Kerajaan Galuh dan Majapahit, penyebaran Islam oleh Wali Songo, serta tumbuhnya kerajaan-kerajaan Demak, Pajang, dan Mataram. Sementara bagian kedua (pupuh 17-66) khusus menceritakan Kerajaan Banten pada masa pemerintahan Maulana Hasanuddin, Maulana Yusuf, Maulana Muhammad, Sultan Abulmafakhir, dan Sultan Abulfath Abdulfattah (Sultan Ageng Tirtayasa). Pada bagian ini juga diuraikan mengenai perluasan pengaruh Banten ke Sumatera bagian selatan, serta hubungan Banten dengan Mataram. Namun demikian Hoesein hanya menganalisis bagian kedua saja dari Sajarah Banten. Semua data yang diperoleh kemudian diuji kebenarannya dengan menggunakan sumber sejarah yang lain sebagai pembanding.

Penulisan sejarah Banten oleh Hoesein dibuat dengan menggunakan tembang macapat, yang di dalamnya berupa percakapan antara Sandimaya dan Sandisastra. Karya Hoesein ini terbilang dinamis, sebab Sandimaya berperan sebagai orang yang bercerita, kemudian setelah satu atau dua bagian cerita dipaparkan, maka pertanyaan-pertanyaan dari Sandisastra akan dimunculkan. Untuk penamaan tokoh diambil dari sebuah kitab fonetik bahasa Jawa kuno, yang masing-masing memiliki arti.

Setelah lulus dari Universitas Leiden, Hoesein juga menghasilkan sebuah karya dalam bentuk kamus bahasa Aceh yang berjudul Atjeh-Netherlandsche Woordenboek yang dterbitkan tahun 1934. Kamus ini dianggap sebagai kamus bahasa daerah terlengkap hingga saat ini, bahkan Prof. Snouck Hurgronje selaku salah seorang gurunya kagum atas karya Hoesein tersebut.

Hoesein Djajadiningrat juga menghasilkan karya ilmiah lainnya antara lain:yang berupa pidato-pidato yang pernah disampaikan, seperti karya tulis yang berkaitan dengan Islam dengan judul De Mohammedaansche Wet en het Geesttesleven der Indonesische Mohammedaansche (1925). Karya ini juga merupakan pidato yang pernah disampaikan pada perguruan tinggi yang sama. Karya dengan judul De Magische Achtergrond van de Maleische Pantoen. Karya ini pernah disampakain Hoesein dalam pidatonya tanggal 28 Oktober 1933 ketika hari ulang tahun ke-9 Sekolah Hakim Tinggi. Hoesein juga pernah menyampaikan pidato ilmiah yang berjudul Apa Artinya Islam yang pernah disampaikan pada ulang tahun Sekolah Tinggi Hukum pertama (1925) dan juga disampaikan pada ulang tahun Universitas Indonesia keempat pada tahun 1954. Hoesein juga ikut berpartisipasi menuliskan sebuah tulisan yang berjudul Local Traditions and the Study of Indonesian History  dalam buku An Introduction to Indonesian Historiography yang terbit pada tahun 1965 Selain itu Hoesein juga memiliki berbagai karya lainnya dalam bentuk artikel dalam berbagai majalah.

Kontribusi Hoesein Djajadiningrat dalam Historiografi Modern di Indonesia

Sebagai salah satu tokoh intelektual Indonesia, Hoesein Djajadiningrat memiliki peran atau kontribusi yang sangat besar terutama dalam perkembangan penulisan sejarah (historiografi) modern di Indonesia. Hoesein menjadi pelopor dalam penulisan sejarah yang kritis. Hoesein dalam Critische Beschouwingen van de Sejarah Banten sejatinya melakukan studi filologis yang menggunakan suatu karya dari historiografi tradisional sebagai objek dan sekaligus sebagai sumber sejarah. Ia tidak hanya melakukan kritik ekstern dan intern terhadap sumber yang digunakan, tetapi juga melakukan analisis unsur-unsur kultural yang terdapat dalam historiografi tradisional dan demikian dapat terlihat sisi kesubjektifitasan dari masing-masing sumber.

Hoesein menyebutkan dalam karya disertasinya tersebut bahwa ada beberapa naskah yang ditemukan dan kemudian dijadikan sebagai sumber dalam penulisan sejarah, misalnya:

  1. Naskah yang dimiliki oleh Prof. Snouck Hurgronje yang ditulis dalam tulisan arab tanpa harakah (pegon), dan menggunakan bentuk tulisan kuno. Naskah ini memiliki kekurangan karena sebagian besar bagian permulaan dan akhirnya hilang. Berdasarkan sebuah catatan dari Prof. Snouck, naskah ini diterima pada tahun 1892 dari bupati Serang yang pada waktu itu sedang menjabat.
  2. Naskah yang menjadi koleksi Brandes dengan No. 86 di Bataviaasch Genootschap. Naskah ini ditulis dalam pegon. Naskah ini merupakan salinan dari suatu naskah yang dipinjamkan pada akhir tahun 1890 dan berasal dari Banten. Sementara jika dilihat dari segi isinya, maka memang benar-benar sama dengan naskah No. 1.
  3. Naskah yang dimiliki oleh Prof. Snouck Hurgronje yang juga ditulis dalam pegon. Naskah ini dinilai memiliki kecacatan dari segi isinya, sebab apa yang apa yang tidak terdapat dalam dua naskah sebelumnya, tercantum dalam naskah ini. naskah ini juga mempunyai kekurangan-kekurangan lain. Naskah ini diterima oleh Prof. Snouck pada tahun 1890 dari bupati Serang masa itu.

Sebenarnya ada sekitar sepuluh naskah berupa karya historiografi tradisional yang ditemukan. Naskah-naskah tersebut mengisahkan tentang sejarah Banten, namun dari kesepuluh naskah tersebut tidak ada yang lengkap isinya. Masing-masing naskah memiliki kekurangan, dan tidak sedikit juga yang susah diartikan maknanya. Dari semua naskah atau sumber sejarah yang ditemukan, Hoesein melakukan perbandingan sehingga dapat ditemukan mana naskah yang benar-benar valid informasinya dan mendekati kebenaran.

Salah satu contoh kritik yang dilakukan Hoesein yakni pada penanggalan atas kematian Sultan Abul Mafakir yang pada beberapa sumber disebut pada tahun 1662/63, padahal berdasarkan sumber yang dinilai paling valid, kematian Abul Mafakir jatuh pada tahun 1651. Perbedaan antara naskah-naskah sejarah Banten ini dimungkinkan karena kesalahan pada saat penyalinan atau penulisan kembali di kemudian hari.

Berkat disertasinya tersebut, Hoesein bahkan disebut-sebut sebagai pengganti Brandes yang merupakan ahli kepurbakalaan Jawa pada saat itu. Bahkan ia juga digelari sebagai bapak metodologi penelitian sejarah Indonesia

Hoesein juga memberikan kontribusi dalam pengenalan sifat-sifat penulisan sejarah Jawa, yang antara lain:

  1. Sejarah atau cerita-cerita Jawa selalu menampilkan dua bagian utama yakni:
  2. Tradisi-tradisi yang luas tentang zaman yang lebih tua (kuno) di seluruh Jawa
  3. Peristiwa-peristiwa di Banten sejak masuknnya Islam hingga pada masa penulis membuat karya
  4. Penulisan sejarah Jawa biasanya merupakan hasil perbendaharaan dari prototip hindu, misalnya saja cerita mengenai Ciung Wanara.
  5. Tradisi-tradisi Jawa yang ditulis dalam sejarah Jawa juga terpengaruh oleh Islam, baik dalam penulisan silsilah maupun beberapa kisah
  6. Hoesein juga membanding-bandingkan Sajarah Banten dengan tradisi-tradisi yang ada di Banten. Hal ini dilakukan demi mengetahui perkembangan yang terjadi, terutama ketika terjadi penyimpangan pada sejarah yang telah dituliskan.

Perkembangan historiografi Indonesia masa modern ditandai dengan penggunaan metodologi dalam penulisan sejarah. salah satu tokoh yang terkenal dalam historiografi Indonesia masa modern ini adalah Hoesein djajadinigrat. Hoesein djajadinigrat merupakan salah seorang sejawaran yang telah menghasilkan karya yang sangat penting bagi perkembangan historiografi di Indonesia. Karya disertasinya yang berjudul Critische Beschouwingen van de Sejarah Banten memberikan warna baru bagi penulisan sejarah di Indonesia. Sebagai pelopor penggunaan metodologi penelitian dalam sejarah, Hoesein memberikan kontribusi terutama dalam memperkenalkan metode kritis dalam penelitian sejarah. Hoesein memperbandingkan beberapa sumber atau naskah sejarah yang telah diperoleh untuk dapat menyusun sejarah Banten secara benar.

Dari berbagai pemaparan di atas, pemberian gelar terhadap Hoesein Djajadiningrat yang tertera dalam keputusan presiden No. 86/TK/Tahun 2015 pada tanggal 7 Agustus 2015 tentang Penganugerahan Tanda Kehormatan Bintang Budaya Paramadharma kepada 8 orang. Hoesein Djajadiningrat termasuk ke dalam 8 daftar nama tersebut sebagai pelopor tradisi keilmuan.


 

DAFTAR PUSTAKA

Sumber Buku:

…, Ensiklopedi Nasional Indonesia Jilid 4. Jakarta: PT Cipta Adi Pustaka. 1989.

Djajadiningrat, Hoesein. Tinjauan Kritis Tentang Sejarah Banten. Jakarta: Djambatan, 1983.

Kartodirdjo, Sartono. Pemikiran dan Pengembangan Historiografi Indonesia: Suatu Alternatif. Jakarta: PT Gramedia. 1982.

Sumanto, Abiq. Politik Islam Hindia Belanda: Het Kantoor voor Inlandsche zaken. Jakarta: PT Pustaka LP3ES Indonesia. 1985.

Legge, John. Kaum Intelektual dan Perjuangan Kemerdekaan. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti. 1993.

  1. Swantoro, Dari Buku ke Buku. Jakarta: KPG & Tenbi. 2002.

Sumber Internet:

http://eunikeyoanita.blogspot.co.id/2011/01/study-mengenai-dr-jla-brandes-dan.html diakses tanggal 26 November 2015.

https://id.wikipedia.org/wiki/Hussein_Jayadiningrat diakses pada tanggal 26 November 2015.

Share the knowledge!
Share on Facebook14Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Pin on Pinterest0Email this to someoneShare on Tumblr0Share on Reddit0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *