Industri Garam di Madura Abad XIX-XX

Garam di Madura telah lama dikenal dengan kualitas mutunya. Namun sebelum terkenal ternyata garam pernah dianggap sebagai komoditas tidak menguntungkan oleh penduduk Madura. Akan tetapi, setelah modernisasi dan monopoli yang dilakukan oleh Pemerintah Kolonial Belanda, garam Madura berubah menjadi salah satu komoditas bernilai yang mendominasi perdagangan Nusantara pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Dimulainya Industri Garam di Madura

Garam telah lama menjadi salah satu komoditas yang diperdagangkan baik untuk kebutuhan industri pengolahan ikan yang sederhana sejak abad ke-9 maupun untuk keperluan bumbu makanan yang telah menjangkau seluruh Nusantara. Pada abad ke-17,selain tembakau dan beras, garam merupakan komoditas utama perdagangan di Jawa.

industri garam di madura
Petani Garam Madura

Anthony Reid dalam Asia Tenggara dalam Kurun Niaga (2014:33) mengungkapkan bahwa sejak dulu wilayah pesisir Jawa Timur (termasuk Madura) sudah dikenal sebagai wilayah penghasil garam dengan mutu baik. Melalui pelabuhan-pelabuhan di antara Jawa dan Surabaya, garam yang berasal dari Madura didistribusikan ke seluruh wilayah Nusantara.

Sebagai salah satu komoditas penting di Madura, garam telah lama diperdagangkan. Sejak Pemerintah Lokal Madura hingga kekuasaan Veerenigde Oost Indische Compagnie (VOC), garam di Madura diproduksi berdasarkan sistem sewa. Namun, pada awalnya produksi garam dipandang merupakan aktivitas tidak menguntungkan, oleh karena itu monopoli produksi garam tersebut diberikan Pemerintah Lokal kepada orang-orang Cina. Di satu sisi, banyak pula penduduk asli yang menggunakan ladang garamnya untuk keperluan lain karena harga garam sangat murah.

Kenaikan harga garam pada tahun 1861 menyebabkan orang-orang yang tadinya menyepelekan aktivitas ekonomi ini, mulai melirik perdagangan garam. Akibat kenaikan ini, terjadi kenaikan luas tanah pegaraman. Orang-orang yang dulu menyewakan tanahnya pun, mulai mencoba mengklaim kembali tanahnya. Kondisi ini menciptakan ketidakteraturandalam produksi garam. Untuk mengatasi ini pemerintah Belanda mulai mengatur hak kepemilikan tanah pegaraman, sehingga setiap orang yang berhak dapat mengklaimnya.

Pada awal abad ke-20, ketika Pemerintah Lokal Madura dihapuskan dan sistem Pemerintahan Kolonial Belanda diterapkan, secara bersamaan Madura menjadi pusat produksi garam berdasarkan sistem monopoli. Kebijakan ini sekaligus mengesahkan pengambilalihan produksi garam dari  kendali orang-orang Cina. Peraturan ini menjadikan Pemerintah Kolonial Belanda sebagai produsen utama garam di Hindia Belanda (Kuntowijoyo, 2002: 181).

Kebijakan monopoli garam tersebut menjadikan aktivitas pembuatan garam memiliki nilai ekonomi penting di Pulau Madura. Sebagai produsen utama , garam-garam Madura didistribusikan ke seluruh wilayah-wilayah yang dikuasai Pemerintah Kolonial Belanda di Nusantara. Penunjukan Madura sebagai pusat pembuatan garam tidak terlepas dari pertimbangan geografis. Wilayah Madura terbentuk dari konfigurasi tanah kapur dan memiliki musim kemarau cukup panjang, oleh sebab itu Madura berpotensi menjadi penghasil garam dengan mutu baik (Memori Residen Madura Timur J. G. van Heyst tahun 1928: CLXV).

Pada awal abad ke-20, setidaknya terdapat tiga wilayah penting industri garam di Madura yaitu: Sampang, Pamekasan dan Sumenep. Ketiga daerah tersebut semuanya terletak di wilayah selatan pulau Madura. Tempat pembuatan garam yang terdapat di Sampang, Pamekasan dan Sumenep dinamakan zoutnegorizen atau zoutlanden yang berarti tempat pembuatan garam. Masing-masing tempat itu memiliki jumlah empang (plot) garam yang beragam. Sampang memiliki sekitar 1. 377 empang, Pamekasan memiliki 1. 547 empang dan Sumenep memiliki 1. 648 empang.

Aktivitas produksi garam tidak dilepaskan dari keberadaan pembuatnya. Pembuat garam atau dapat disebut sebagai produsen garam adalah kelompok-kelompok penghasil garam. Produsen garam ini dapat dibagi ke dalam dua kelompok. Pertama, pemilik-pemilik ladang dan pembuat garam yang terkadang keduanya merupakan orang yang sama. Kedua, adalah para buruh industri garam yang bekerja dari awal produksi sampai pemasaran (Kuntowijoyo, 2002: 396).

Dalam proses produksi garam, para produse ini sangat tergantung dengan cuaca. Saat kondisi alam baik, maka produksi garam mengalami peningkatan. Namun ketika kondisi alam berubah dan musim hujan tiba, maka otomatis produksi garam menurun.

Proses Distribusi Garam Madura

Keberhasilan produksi garam Madura menjadi aktivitas ekonomi yang menguntungkan tidak dapat dilepaskan dari sistem distribusinya yang efektif. Pendistribusian garam sebagian besar dilakukan dengan menggunakan kapal atau perahu. Pada masa Pemerintahan Kolonial Belanda sebagian besar pendistribusian garam dilakukan oleh Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM). Pada awal abad ke-20, perusahaan milik Kerajaan Belanda ini praktis memonopoli, kendati tidak sepenuhnya mematikan aktivitas pelayaran Nusantara termasuk yang terkait dengan perdagangan (Lapian, 1999: 91).

Selain KPM, perusahaan Kereta Api swasta yang beroperasi di Madura sejak 1896, Madoera-Stoomtram Maatschappij (MSM), juga turut ambil bagian dalam aktivitas distribusi garam. Selain melakukan pengangkutan garam di darat, MSM juga memiliki armada pengangkutan laut untuk penumpang maupun barang (Kuntowijoyo, 2002: 341).

industri garam di madura
Kereta api berperan penting dalam proses distribusi

Pada perkembangannya, selain pelayaran yang diusahakan KPM, MSM dan penduduk lokal, pendistribusian garam juga dilakukan oleh Oost-Java Zeetransport (OJZ). OJZ merupakan armada pengangkutan resmi milik perusahaan garam yang dibentuk karena biaya pengangkutan garam oleh KPM dan MSM sangat mahal. Sebelumnya, pada tahun 1908 perusahaan garam mengeluarkan kebijakan sistem tender terbuka. Kebijakan ini pada akhirnya melatarbelakangi persaingan dalam distribusi garam antara KPM, MSM, OJZ dan pelayaran perahu..

Kombinasi distribusi garam lewat laut dan darat menjadikan perusahaan garam Belanda memperoleh profit besar. Sayangnya keberhasilan perusahaan garam itu, tercoreng karena praktek tidak jujur beberapa pegawainya. Untuk mengatasi itu, pada tahun 1924 dibentuk badan pengawasan tempat penjualan garam. Mantri garam di Sampang, Omben, Torjun, dan Kedungdung sekarang diawasi secara periodik oleh mantri garam Pamekasan untuk menghindari penyelewengan. Selain itu tempat penjualan di Ketapang diawasi oleh kontrolir garam di Surabaya secara langsung (Memori Kontrolir Sampang (F. Van Mourik) 6 Mei 1924: CLII).

Daftar Pustaka

Kuntowijoyo. 2002. Perubahan Sosial Pada Masyarakat Agraris: Madura 1850-1940. Yogyakarta: Mata Bangsa.

Lapian. A. B. 1999. “Nusantara: Silang Bahari”, dalam Loir, Henri Chambert (Ed), Panggung Sejarah: Persembahan Kepada Prof. Dr. Denys Lombard. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Ma’arif. Samsul. 2015. The History of Madura. Yogyakarta: Alaska Publisher.

Ricklefs, M.C. 2008. Sejarah Indonesia Modern 1200-2008. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta.

Memori Kontrolir Sampang (F. Van Mourik), 6 Mei 1924.

Memori Residen Madura Timur J. G. van Heyst tahun 1928.

Similar Posts:

Share the Knowledge!

1 thought on “Industri Garam di Madura Abad XIX-XX”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *