Industri Minyak di Timur Tengah Abad ke-20 M.

Timur Tengah adalah pusat geografis bagi industri minyak dunia. Minyak sangat penting dalam politik luar negeri dan domestik di hampir setiap negara di kawasan ini, para importir minyak dan juga eksportir minyak. Oleh sebab itu industri minyak di Timur Tengah mempunyai peran khusus bagi perkembangan ekonomi Timur Tengah.

Penemuan Ladang Minyak Pertama di Timur Tengah

industri minyak di timur tengah
William D’Archy pelopor industri minyak di Timur Tengah

Usaha pencarian sumber minyak di Timur Tengah pertama kali dilakukan oleh seorang pebisnis Inggris bernama William D’Archy. Pada tahun 1901, ia mendapatkan izin untuk mengekplorasi minyak di wilayah Iran, setelah menawarkan kontrak sebesar 20.000 pound sterling dan 16% dari keuntungan selama 60 tahun. Tidak hanya itu, perusahaannya juga tidak dikenai biaya dan memperoleh wilayah yang luas.

Setelah memperoleh izin, D’Archy mengirimkan George Reynold untuk melakukan eksplorasi sumber minyak. Eksplorasi itu membutuhkan biaya besar, sehingga pada suatu saat ketika ia berada di ambang kebangkrutan, D’Arcy meminta bantuan pemerintah Inggris. Pemerintah setuju untuk membantunya, karena takut ia mungkin akan menjual izinnya ke negara asing seperti Rusia.

Inggris masih merupakan kekuatan besar pada waktu itu. Oleh karena itu, mereka ingin mempertahankan eksistensi politik di Timur Tengah. Untuk melindungi kontrak dengan Dinasti Qajar, Pemerintah Inggris menekan perusahaan minyak Inggris Burmah Oil untuk memberi bantuan keuangan kepada D’Arcy pada 1905.

Investasi baru dari Burmah Oil Co. telah menyelamatkan proyek ini. Akan tetapi selama beberapa tahun selanjutnya keadaan tidak berubah, sumber minyak masih belum ditemukan.

Pencarian tanpa hasil ini menyebabkan kekayaan pribadi D’Arcy benar-benar habis. Bahkan beberap staf pencari sumber minyak dipecat untuk mengurangi anggaran yang dibutuhkan.

Sementara itu pemerintah Inggris dan para pemodal lain, terlihat mulai putus asa setelah tujuh tahun proyek tersebut tidak membuahkan hasil. Oleh karena itu, pada 26 Mei 1908 London mengirimkan perintah kepada Reynold untuk melakukan usaha pengeboran terakhir di sekitar Masjid Sulaiman dengan kedalaman 1600 kaki.

Di saat pengeboran tengah berlangsung, bau belerang tercium di udara di Masjid Suleiman. Hal itu merupakan pertanda bagus bagi Reynolds. Pada pukul 4 pagi, bor mencapai 1.180 kaki di bawah padang pasir dan menyentuh lokasi minyak berada. Akibatnya minyak pun menyembur setinggi 75 kaki ke udara.

industri minyak di timur tengah
Penemuan sumur minyak pertama di Iran

Tempat itu sangat terpencil sehingga butuh waktu lima hari sebelum D’Arcy mendapat kabar melalui telegram di Inggris. “Jika ini benar,” jawabnya, “semua masalah kita sudah berakhir.” Penemuan tersebut memang benar dan lebih banyak sumur minyak lain ditemukan di Persia, termasuk penemuan sumur minyak besar pada bulan September.

Setelah penemuan itu, D’Arcy dan Burmah menata ulang kepemilikan mereka pada tahun 1909 sebagai Anglo-Persian Oil Co (AIOC). Penawaran perdana sahamnya habis terjual dalam 30 menit di London. Pemerintah Inggris memegang setengah dari saham AIOC, Burmah Oil 22%, dan sisanya dipegang oleh gabungan para investor.

Sejak berita penemuan minyak di Timur Tengah tersebar, negara-negara besar saling berlomba untuk menemukan ladang minyak di Timur Tengah.

Perkembangan Industri Minyak di Timur Tengah

Perizinan eksplorasi pertama menetapkan pola di wilayah ini selama setengah abad ke depan. Industri perminyakan adalah monopoli vertikal dan horisontal. Perusahaan-perusahaan Barat menguasai prospeksi, sumber, pengangkutan, pemurnian, dan penjualan minyak.

Tujuh perusahaan besaratau yang disebut “The Seven Sisters” akhirnya mendominasi industri minyak di Timur Tengah. Mereka adalah adalah Standard Oil of New Jersey (didirikan oleh John Rockefeller), Royal Dutch Shell, British Petroleum, Gulf, Socony-Mobil, Texaco, dan Standard Oil of California. Banyak dari perusahaan-perusahaan ini memiliki pemilik dan direktur yang sama atau setidaknya masih satu keluarga.

Di sisi lain, Pemerintah Timur Tengah terlalu lemah, tidak memiliki teknologi untuk mengembangkan industri itu sendiri, sehingga dengan sukarela memberikan izin kepada perusahaan-perusahaan Barat untuk mengeksploitasi sumber daya alam vital mereka.

Perizinan minyak terbesar kedua di Timur Tengah ditandatangani antara Irak dan konsorsium perusahaan-perusahaan Barat. Calouste Gulbenkian menjadi negosiator yang merundingkan perizinan itu dengan imbalan 5 persen saham. Sebagai hasil dari kesepakatan ini, Gulbenkian dijuluki “Mr. Five Percent” dan menjadi salah satu orang terkaya di dunia pada saat itu.

industri minyak di timur tengah
Calouste Gulbenkian negosiator ulung konsensi minyak di Timur Tengah

Kepemilikan perusahaan dibagi sebagai berikut: 25 persen milik D’Arcy, terdiri dari Burmah dan pemerintah Inggris yang kemudian dikenal sebagai British Petroleum (BP); 25 persen Compagnie Française des Petroles (CFP), di mana pemerintah Perancis memiliki 40 persen; 25 persen Royal Dutch Shell, yang terdiri dari kepentingan Inggris dan Belanda; dan 25 persen A.S. gas, termasuk Standard Oil of New Jersey dan Socony Mobil.

Perusahaan-perusahaan ini membagi pembayaran 5 persen untuk Gulbenkian secara merata di antara mereka sendiri. Kontrak tersebut mencakup perizinan eksplorasi di seluruh Irak selama 75 tahun, tidak mengizinkan perpajakan bagi perusahaan, dan pendapatan untuk negara penghasil minyak tidak meningkat dengan harga yang ditetapkan oleh perusahaan minyak.

Model perizinan yang sebenarnya sangat merugikan negara-negara Timur Tengah ini terus diterapkan selama abad ke-20.

Tercatat pada tahun 1950, kepemilikan ladang minyak Timur Tengah dibagi sebagai berikut: Anglo-Persian Oil Co (AIOC) di Iran, Irak, dan Mosul; Basra Petroleum companies (IPC) di Irak; Arabian-American Oil Company (ARAMCO) di Arab Saudi; Kuwait Oil Company di Kuwait; Bahrain Petroleum Company di Bahrain; dan Petroleum Development Ltd. (IPC) di Qatar.

 

BIBLIOGRAFI

Hewins, Ralph. 1957. Mr. Five Per Cent: The Biography of Calouste Gulbenkian. London: Hutchinson.

Longhurst, Henry. 1959. Adventure in Oil: The Story of British Petroleum. London: Sidgwick and Jackson.

Parra, Francisco. 2004. Oil Politics a Modern of Petroleum. London: I. B. Tauris.

Stocking, George W. 1970. Middle East Oil. Nashville, TN: Vanderbilt University Press.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *