Kekhalifahan Sokoto (1808-1903 M.)

Share the knowledge!
Share on Facebook12Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Pin on Pinterest0Email this to someoneShare on Tumblr0Share on Reddit0

Selama hampir satu abad (sekitar 1808-1903) kekhalifahan Sokoto di Afrika Barat memperluas bentuk tertentu peraturan Islam di sebagian besar wilayah Sudan di selatan Sahara dan utara zona hutan Afrika Barat. Kekhalifahan ini terus berlanjut di bawah pemerintahan Inggris dengan beberapa pemimpin moderat yang bersedia tunduk pada otoritas Inggris, namun tradisi Islam politik yang dianut oleh pendiri Sokoto, Usman dan Fodio, masih bertahan di Nigeria utara.

Kekhalifahan Sokoto dibentuk menyusul kesuksesan jihad yang diproklamirkan oleh Usman dan Fodio (1754-1817). Pembentukan Kekhalifahan Sokoto di Afrika Barat dimaksudkan untuk menjadi negara teokratis yang menyatukan orang-orang Usman, Fulani dan menegakkan hegemoni politik mereka atas masyarakat lain, terutama negara Hausa yang sebelumnya mendominasi kawasan ini.

Latar Belakang Jihad Usman dan Fodio

kekhalifahan Sokoto
Usman dan Fodio pendiri kekhalifahan Sokoto

Usman dan Fodio lahir pada 15 Desember 1754 di Gobir dan merupakan anak dari seorang guru Fulani. Ia belajar dengan berbagai syekh (bahasa Arab: guru, atau shehu dalam bahasa Hausa) di sekolah al Quran yang sekarang menjadi wilayah utara Nigeria. Seiring perkembangan pengetahuannya, reputasinya di kalangan muslim Sufi Qadiriya yang populer di wilayah ini juga ikut melejit berkat pengabdian dan prestasinya di dalam tarekat.

Ia secara bertahap mengumpulkan pengikut di antara penduduk lokal dan menarik banyak siswa. Melanjutkan untuk berkhotbah, ia semakin kontras dengan apa yang ia lihat sebagai jalan lurus yang diperlukan muslim. Kendati praktik keagamaannya direndahkan oleh para penguasa muslim Hausa di wilayah tersebut.

Saat ketenarannya menyebar dan jumlah pengikutnya tumbuh, penguasa Hausa setempat dari Gobir, berusaha mencegah pengajaran Usman berlanjut. Situasi semakin memburuk hingga konflik antara pengikut Usman dan negara menyebabkan perang pada tahun 1804.

Pada saat itu, Usman dan Fodio memulai serangkaian seruan yang mendorong umat Islam di seluruh wilayah untuk pertama kali melarikan diri dari ketertindasan. Ia juga menulis sejumlah traktat agama dan politik yang menjelaskan posisi dan letakk visinya tentang tata pemerintahan Islam yang tepat.

Akhirnya Usman terpilih sebagai khalifah di antara pengikut Fulani-nya. Ia kemudian memproklamirkan jihad melawan penguasa yang menolak untuk mematuhi apa yang ia gambarkan sebagai ajaran murni Islam.

Pembentukan Kekhalifahan Sokoto

Para pejuang Usman berhasil mengalahkan Gobir pada tahun 1808 dan segera mengalihkan perhatian mereka ke negara-negara Huasa lainnya di wilayah tersebut. Banyak orang yang memiliki keluhan terhadap negara-negara ini dan penguasa mereka datang ke Usman untuk meminta dukungan atas usaha mereka.

Usman menanggapi permintaan tersebut dengan adil. Ia memberi sebuah bendera yang mengumumkan bahwa mereka mengobarkan perjuangan mereka dengan dukungannya. Namun ia menolak untuk memproklamasikan dirinya sebagai Madhi yang diharapkan oleh banyak Sufi muslim akan menyelamatkan agama dari berbagai tantangannya.

Sebagai orang bijak dalam kehidupan dunia dan masalah iman, Usman dan Fodio menyadari bahwa ia tidak ahli dalam perang maupun administrasi sebuah negara. Oleh karena itu, kedua tugas ini ia wakilkan ke saudaranya, ‘Abd Allah bin Muhammad, dan putra keduanya, Muhammad Bello (1781-1837).

Mereka adalah pemimpin yang mengorganisir kampanye militer selanjutnya dan kemudian membangun struktur Sokoto yang terdesentralisasi. Setiap negara Hausa yang ditaklukkan ditugaskan kepada seorang emir yang memerintah di bawah kekuasaan Usman dan sesuai dengan hukum Islam. Emir tersebut dapat dipecat jika ia menyimpang dari hukum Islam. Menurut beberapa perkiraan, Sokoto adalah negara Afrika terbesar di manapun di benua itu pada awal abad kesembilan belas.

kekhalifahan sokoto
Wilayah Kekhalifahan Sokoto

Pendukung Usman dan Fodio terus merencanakan perluasan negara lebih lanjut. Setelah kematiannya pada tahun 1817, wewenang diserahkan kepada Muhammad Bello, yang memerintah sebagai sultan Sokoto dan membangun Sokoto di atas warisan ayahnya. Bello juga merupakan seorang penerjemah tradisi Islam yang terpelajar dan dihormati, banyak tulisannya melanjutkan tradisi yang sebelumnya ditetapkan untuk negara dan menambahkannya.

Permasalahan Internal Kekhalifahan Sokoto

Pada pertengahan abad kesembilan belas, Sokoto diliputi oleh banyak kesulitan. Upaya penaklukkan negara bagian Bornu di barat tidak pernah berhasil, dan penguasa Bornu keberatan melalui sepucuk surat kepada Muhammad Bello, bahwa kekuatan Sokoto tidak hanya menyerang orang-orang yang berkomitmen untuk mereformasi agama namun memperbudak orang-orang muslim yang ditangkap di sana.

Perbudakan tidak dilarang bagi umat Islam dan dipraktikkan di banyak masyarakat Islam, namun perbudakan sesama muslim dilarang. Sementara itu, Sokoto memperoleh sebagian besar kekayaannya dari perbudakan, baik sebagai pemasok budak untuk perdagangan budak dan ketergantungannya pada tenaga kerja paksa. Di perkebunan dan untuk merawat ternaknya. Beberapa budak ini tentu saja muslim.

Praktik ini mengganggu beberapa pemimpin agama Sokoto, namun seringkali hanya dianggap sedikit mengganggu pada tujuan mempertahankan negara Islam.

Otoritas politik menaruh perhatian lebih besar untuk mengalahkan banyak pemberontakan di pinggiran negara.Selain itu juga untuk menghadapi perjuangan dinasti di dalam elite Sokoto sendiri dan di antara para emir dari berbagai provinsi independennya.

Perselisihan ini pada umumnya diselesaikan dengan sukses melalui cara militer tradisional dan kesultanan berupaya mengurangi kecenderungan modernisasi, yang dalam kasus apapun selalu dicurigai di negara konservatif dan teokratis.

Penaklukan oleh Inggris

Kekhalifahan Sokoto adalah salah satu entitas politik Afrika yang dinamis di awal abad kesembilan belas, namun pada perkembangannya kondisi kesultanan mengalami kemunduran akibat konflik internal. Kondisi ini diperparah dengan diangkatnya Frederick Lugard (1858-1945)sebagai komisaris tinggi Protektorat Inggris untuk Nigeria Utara pada tahun 1900. Dengan diangkatnya Lugard, Sokoto menghadapi tantangan yang tidak mudah mereka hadapi.

Lugard tidak menyukai penyelesaian diplomatik yang mungkin bisa menghindari perang dan lebih memilih untuk melakukan penaklukan. Ia berasumsi penaklukan tersebut akan disambut oleh Hausa dan Fulani yang tertindas. Ia yakin mereka merasa jijik dengan korupsi dan penyimpangan dari hukum Islam yang dilakukan Kekhalifahan Sokoto. Akan tetapi ia meremehkan sifat dan kekuatan kepercayaan di kalangan warga biasa.

Sultan menyadari kekuatan Inggris, meskipun ia berjuang mempertahankan wilayahnya, Inggris tetap dapat menaklukan wilayah Sokoto satu demi satu. Sultan saat itu, Attahiru dan Ahmadu (memerintah 1902-1903), berdebat dengan penasihat kursus terbaik untuk diikuti masukannya. Namun, pada bulan Maret 1903 Inggris telah berhasil mengalahkan tentara lemah kesultanan di kota Sokoto itu sendiri dan secara efektif mengakhiri kemerdekaan kekhalifahan.

Sultan, meskipun begitu, mengumpulkan semua orang yang akan mengikutinya – dan ada banyak. Banyaknya pengikut sultan mengejutkan pejabat Inggris. Mereka melarikan diri ke Mekah untuk menghindari penyerahan kepada penjajah yang mereka anggap orang-orang kafir. Pasukan Inggris terus melacak pergerakan mereka. Puncaknya pada bulan Juli 1903 sultan dan hampir semua orang yang telah bergabung dengannya terbunuh. Beberapa pengamat menggambarkan sebagai pertempuran yang tidak perlu.

Sementara itu, negara Sokoto terus berlanjut di bawah pemerintahan Inggris dengan beberapa pemimpin moderat yang bersedia tunduk pada otoritas Inggris. Kendati demikian, tradisi politik Islam yang dianut oleh Usman dan Fodio dan dipraktikkan pada abad pemerintahan independen di Sokoto masih tetap bertahan dalam budaya politik Nigeria utara.

Seiring dengan berkurangnya pengaruh pemerintahan Inggris pada abad ke-20 dan karena tradisi Islam lokal muncul kembali di tempat mereka, dampak dari ketaatan ketat terhadap hukum Islam terus berlanjut sampai abad kedua puluh satu.

BIBLIOGRAFI

Mc. Neill, William H. 2010. Berkshire Encylopedia of World History 2nd Edition. Massahusetts: Berkshire Publishing Group.

Lapidus, Ira. M. 2000. Sejarah Sosial Ummat Islam. Jakarta: RajaGrafindo Persada.

Last, Murray. 1967. The Sokoto caliphate. London: Longman

Share the knowledge!
Share on Facebook12Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Pin on Pinterest0Email this to someoneShare on Tumblr0Share on Reddit0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *