Kerajaan Kutai Abad V M

Share the knowledge!
Share on Facebook6Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Pin on Pinterest0Email this to someoneShare on Tumblr0Share on Reddit0

Kerajaan Kutai Martadipura merupakan kerajaan bercorak Hindu yang eksis pada abad ke-5 M. Kutai termasuk salah satu kerajaan tertua yang ada di Indonesia.  Letak dari kerajaan Kutai berada di wilayah Kutai, Kalimantan Timur. Sebagai salah satu kerajaan tertua, tidak banyak peninggalan arca atau prasasti yang menjelaskan kehidupan masyarakat Kutai. Akan tetapi dari peninggalan-peninggalan yang ditemukan dapat diketahui aktivitas keagamaan raja Kutai pada masa lampau.

Kerajaan Kutai ada setelah penduduk Nusantara mengadakan hubungan dagang dengan India dan Cina. Hubungan ini telah berlangsung sejak abad pertama masehi. Percampuran budaya memunculkan kerajaan bercorak Hindu. Kerajaan itu dipimpin oleh seorang raja. Sebelum budaya India masuk, pemerintahan desa dipimpin oleh seorang kepala suku. Kepala suku merupakan orang terpilih yang memiliki kharisma dan mampu melindungi warganya.

Setelah budaya India masuk, terjadi perubahan besar. Bentuk pemerintahan desa diubah menjadi pemerintahan kerajaan seperti halnya di India. Kedudukan kepala suku digantikan oleh seorang raja. Raja memiliki kekuasaan sangat besar, bahkan sering disembah oleh rakyatnya. Selain itu, raja tidak lagi wakil nenek moyang tetapi merupakan penjelmaan dewa di dunia. Model pemerintahan seperti ini lah yang pertama kali diterapkan di Kerajaan Kutai.

Penemuan Sumber-Sumber Tertua

Meskipun terdapat bukti-bukti yang menunjukkan bahwa kerajaan tertua terletak di Kalimantan, tetapi pulau tersebut sedikit sekali mendapat perhatian dari para penulis dari Cina. Berita tertua yang mempunyai keterkaitan dengan daerah di Kalimantan, berasal dari zaman dinasti Tang (618-906 M), padahal berita-berita Cina yang berhubungan dengan Jawa telah ada sejak abad V M dan Sumatra sejak abad VI M.

Kurangnya perhatian dari orang-orang Cina, kemungkinan besar disebabkan karena pulau Kalimantan tidak terletak pada jalur utama perdagangan mereka. Kurangnya perhatian terhadap sejarah Kalimantan, ternyata terlur berlanjut di masa-masa sesudahnya, sehingga di dalam keseluruhan sejarah Asia Tenggara daerah ini masih menjadi daerah yang terlupakan.

Di pulau yang berada di luar perhatian pedagang-pedagang Cina itu lah, untuk pertama kalinya ditemukan bukti-bukti tertua adanya suatu kehidupan masyarakat bercorak Hindu-Buddha. Peninggalan-peninggalan paling awal ditemukan di Sulawesi Selatana dan di Kalimantan Timur.

Di Sempaga, Sulawesi Selatan ditemukan arca Buddha yang berasal dari mazhab seni Amaravati. Sementara di Kota Kutai ditemukan sejumlah Arca Buddha yang memperlihatkan langgam seni arca Gandara.

Selain arca-arca Buddha, ditemukan pula arca-arca bercorak Hindu, di antaranya mukhalinga yang di di Sepauk, dan arca Ganesa yang ditemukan di Sarawak. Walaupun daerah Kalimantan dan Sulawesi berada di luar perhatian Cina, tetapi tidak berarti kedua wilayah itu terisolir dengan daerah luar.

Penemuan-penemuan di atas merupakan salah satu bukti adanya hubungan dengan daerah luar. Hubungan tersebut awalnya merupakan hubungan dagang, yang kemudian berkembang menjadi hubungan agama dan budaya.

Prasasti Yupa: Bukti Eksistensi Kerajaan Kutai

Selain benda-benda berupa arca, di Kalimantan ditemukan pula beberap buah prasasti yang dipahat pada tiang batu. Tiang batu itu disebut yupa. Nama tersebut disebutkan pada prasasti-prasastinya sendiri. Hingga saat ini telah ditemukan tuuh buah yupa, dan kemungkinan masih terdapat yupa lain yang masih tertimbun.

kerajaan kutai
Prasasti Yupa Kerajaan Kutai

Huruf Pallawa yang dipahatkan pada yupa itu berasal dari awal abad V M. Sementara bahasa yang digunakan adalah bahasa Sansakerta. Semuanya dibuat atas titah seorang penguasa daerah itu yang bernama Mulawarman. Dapat dipastikan ia adalah orang Indonesia asli, karena kakeknya masih menggunakan nama asli, Kundunga.

Prasasti yang menyebutkan sislsilah Mulawarman sebagai raja terbesar Kutai, berbunyi sebagai berikut:

“Sang Maharaja Kundunga yang amat mulia, mempunyai putra yang mashur, Sang Aswawarmman namanya, yang seperti Ansuman (dewa Matahari) menumbuhkan keluarga yang sangat mulia. Sang Aswawarmman mempunyai putra tiga, seperti api (yang suci) tiga. Yang terkemuka dari ketiga putra itu adalah Sang Mulawarmman, araj berperadaban baik, kuat dan kuasa. Sang Mulawarmman telah mengadakan kenduri (selamatan) emas amat banyak. Buat peringatan kenduri itu lah tugu batu ini didirikan oleh Brahmana.”

Dari yupa itu dapat diketahui bahwa raja Mulawarman mempunyai seorang ayah bernama Aswawarman yang dianggap sebagai pendiri dinasi (vansakartta), seorang kakek bernama Kundunga, dan dua orang saudara.

Terdapat keterangan menarik dari yupa tersebut bahwa pendiri dinasti bukan Kundunga, melainkan Aswawarman, ayahnya. Keterangan tersebut menimbulkan beberapa pendapat mengenai tokoh Kundunga. Poerbatjaraka misalnya, menduga bahwa Kundunga adalah penduduk asli, karena nama Kundunga bukan nama Hindu dan belum menganut agama Hindu. Berbeda halnya dengan Aswawarman yang merupakan nama Hindu.

Yupa lainnya berbunyi:

                “Sang Mulawarman, raja yang mulia dan terkemuka, telah memberi sedekah 20.000 ekor sapi kepada para brahmana yang seperti api, (bertempat) di dalam tanah yang suci (bernama) Waprakeswara. Buat peringatan akan kebaikan budi sang raja, tugu ini dibikin oleh para brahmana yang datang di tempat ini.”

Yupa-yupa dari Kutai ditulis oleh para pendeta yang datang ke daerah itu, sebagai peringatan atas kemurahan hati raja Mulawarman yang memberikan hadiah sapi sebanyak 20.000 ekor kepada para brahmana.

Jika yupa tersebut diartikan secara harfiah berarti peternakan pada abad V M sudah sangat maju. Padahal di daerah Kalimantan didominasi hutan belantara dan rawa, persoalannya darimana pakan ternak diperoleh jika daerah tersebut didominasi oleh hutan belantara.

Akan tetapi jika yupa tersebut tidak diartikan secara harfiah, maka mungkin hadiah 20.000 sekor sapi itu hanya mengacu kepada salah satu jenis upacara keagamaan dengan syarat tertentu. Di India dikenal upacara aswameda dan rajasuya, mungkin upacara pemberian 20.000 ekor sapi dapat disejajarkan dengan kedua upacara itu.

Kondisi Agama dan Masyarakat Kutai

Keterangan mengenai agama yang dianut oleh Raja Mulawarman bisa diketahui dari yupa. Salah  satu yupa menyebutkan sebuah bangunan suci yaitu waprakesara. Tempat suci semacam ini juga terdapat di Jawa, yang dikenal dengan nama baprakeswara. Waprakeswara selalu dihubungkan dengna Dewa Trimurti Hindu (Wisnu, Brahma, dan Siwa). Terdapat pula penyebutan tentang dewa Angsuman atau Dewa Matahari yang merupakan salah satu dewa Hindu. Dari bukti-bukti tersebut dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa agama yang dianut oleh Mulawarman adalah agama Hindu.

Pertanyaan pun muncul, bagaimana bisa Raja Mulawarman menganut agama Hindu, sementara agama itu sendiri adalah agama turun-temurun. Persoalan itu dapat dijawab melalui upacara vratyastoma di dalam ajaran agama Hindu, upaca vratyastoma diperuntukan bagi orang-orang Hindu yang telah dikeluarkan dari kastanya karena melanggar aturan agama.  Upacara ini dipimpin langsung oleh pendeta brahamana yang didatangkan langsung dari India.

Melalui upacara yang cukup berat ini, maka segala macam kesalahan dan soa yang pernah dilakukan seorang anggota kasta dapat dihapus dan hukuman yang pernah ditimpakan kepadanya berupa pengucilan dari kastanya dapat dihapuskan. Setelah menjalani pacara vratyastoma, orang itu dapat kembali menjadi anggota kastanya.

Upacara vratyastoma ini lah yang mungkin digunakan Mulawarman untuk menjadikan dirinya seorang raja Hindu. Akan tetapi, bisa juga Aswawarman adalah orang India yang kemudian menjadi menantu Kundunga. Sebagai legitimasi keberadaannya sebagai raja Hindu, maka Mulawarman perlu menuliskan asal-usulnya. Itu lah sebabnya Aswawarman disebut sebagai pendiri dinasti atau wamsakara.

Dari semua bukti prasasti yang ada, hampir tidak ada kemungkinan untuk mengungkapkan kehidupan masyarakat Kutai secara detail. Prasasti-prasasti tersebut tidak sedikit pun menyinggung kehidupan masyarakat masa tersebut. Akan tetapi bukan berarti kehidupan masa kerajaan Kutai, tidak dapat dibayangkan sama sekali.

Yupa-yupa yang ditulis menggunakan bahasa Sansakerta dan huruf Pallawa merupakan petunjuk untuk menduga kehidupan masyarakat saat itu. Meskipun tidak jelas, tetapi dapat dipastikan bahwa sudah ada sebagian penduduk Kutai yang kehidupannya dipengaruhi oleh kebudayaan India.

Perlu diketahui bahwa bahasa Sansakerta pada dasarnya bukan merupakan bahasa rakyat India sehari-hari, tetapi lebih merupakan bahasa resmi untuk masalah-masalah keagamaan. Oleh karena itu dapat katakan di wilayah kerajaan Kutai sudah ada golongan masyarakat yang menguasai bahasa Sansakerta, sehingga kaum brahmana pada saat itu telah menjadi suatu golongan tersendiri di dalam masyarakat Kutai.

Golongan lain di dalam sistem kasta Kerajaan Kutai adalah kaum ksatria, yang terdiri dari kaum kerabat Mulawarman. Gologan ini masih terbatas kepada orang-orang yang mempunyai hubungan erat dengan raja.

Di luar dua golongan di atas, masih terdapat golongan lain yang bisa dikatakan berada di luar pengaruh India. Mereka dalah rakyat Kutai Purba yang pada umumnya terdiri dari penduduk setempat dan masih memegang pengaruh agama asli leluhur mereka.

BIBLIOGRAFI

Munandar, Agus Aris dkk. 2012. Indonesia dalam Arus Sejarah. Jakarta: Iichtiar Baru van Hoeve.

Poesponegoro, Marwati Djoened. 1992. Sejarah Nasional Indonesia II. Jakarta: Balai Pustaka.

Suwardono. 2013. Sejarah Indonesia Masa Hindu-Buddha. Yogyakarta: Ombak.

Share the knowledge!
Share on Facebook6Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Pin on Pinterest0Email this to someoneShare on Tumblr0Share on Reddit0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *