Kesultanan Perlak (840-1292 M)

Share the knowledge!
Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Pin on Pinterest0Email this to someoneShare on Tumblr0Share on Reddit0

Sumatera merupakan wilayah Nusantara yang paling awal mendapatkan pengaruh Islam melalui jalur perdagangan. Wilayah ini juga menjadi tempat kemunculan kerajaan-kerajaan Islam paling awal di Nusantara. Kerajaan Islam pertama yang muncul di Nusantara adalah Kesultanan Perlak.

Kesultanan ini muncul pada abad ke-9 dan bertahan hingga akhir abad ke-13. Terdapat bukti-bukti yang menunjukkan eksistensi Kesultanan Perlak sebagai Kerajaan Islam pertama di antaranya adalah naskah Idhar al-Haq karya Abu Ishak Makarani,  naskah Tadzkirah Thabat Jumu Sulthan As-Salathin karya Syaikh Syamsul Bahri Abdullah al-Asyi, dan naskah Silsilah Raja-Raja Perlak dan Pasai karya Sayyid Abdullah ibn Sayyid Habib Saifuddin.

Kondisi Geografis Perlak

Selat Malaka sejak zaman dahulu terkenal sebagai jalur perdagangan utama Nusantara. Pedagang dari berbagai penjuru dunia berlayar melalui selat tersebut untuk melakukan perdagangan, dari selat tersebut masuk lah ajaran agama-agama baru ke Nusantara.

Sebelum berdirinya Kesultanan Malaka, pelayaran selat Malaka tidak melalui pantai Semenanjung Malaka, melainkan melalui sisi barat Selat Malaka menyisiri pantai-pantai Sumatera. Kota pelabuhan terpenting pada waktu itu adalah Melayu yang terletak di muara Sungai Batanghari, Jambi.

Pada bulan Desember-Maret di sebelah utara katulistiwa bertiup lah angin musim timur laut, yang memungkinkan kapal-kapal dagang India dan negeri Cina berlayar ke perairan Selat Malaka. Kapal-kapal tersebut bertahan di perairan Selat Malaka hingga bulan Mei, sebelum mereka berlayar untuk kembali ke negeri masing-masing dengan memanfaatkan angin musim barat daya.

Hasil bumi Sumatera turut meramaikan perdagangan internasional di Selat Malaka. Daerah penghasil lada yang utama pada waktu itu adalah Aceh. Menurut para pedagang Arab dan Cina penanaman lada di Aceh telah dimulai sejak abad ke-9, yakni di daerah-daerah Perlak, Lamuri, dan Samudra.

Meskipun demikian lada bukan lah tanaman asli Aceh, melainkan tanaman dari Malagasi (Madagaskar). Para pedagang dari Arab dan Persia membawa lada ke Aceh dan mencoba menanamnya di daerah tersebut. Dari percobaan tersebut ternyata tanah dan iklim Aceh sangat cocok untuk membudidayakan tanaman lada.

Dalam waktu singkat Aceh pun tumbuh menjadi daerah penghasil dan pengekspor terbesar lada pada masa itu. Bandar Perlak dijadikan bandar utama di pantai timur Sumatera bagian utara. Wilayah tersebut terus tumbuh dan berkembang hingga menjadi kota perdagangan internasional, yang banyak disinggahi pedagang dari penjuru dunia, termasuk pedagang muslim.

Latar Belakang Berdirinya Kesultanan Perlak

kesultanan perlak
Wilayah Perlak

Nama Perlak diambil dari nama Kayu Perlak. Kayu jenis ini merupakan kayu khas daerah Perlak. Atas dasar ini lah kemudian daerah penghasil kayu Perlak disebut dengan Negeri Perlak. Setelah perdagangan semakin ramai di Selat Malaka, maka pedagang-pedagang pun menyebut Negeri Perlak sebagai Bandar Perlak. Kitab Negarakertagama menyebut negeri itu dengan nama Parlak. Sementara Marcopolo yang berkunjung ke negeri itu pada tahun 1292 mencatatnya dengan nama Negeri Ferlec.

Sebelum berdirinya  Kesultanan Perlak, di wilayah Perlak telah berdiri sebuah kerajaan bercorak Hindu-Buddha yang sederhana bernama Kerajaan Perlak. Raja yang berkuasa di kerajaan ini bergelar Meurah yang berarti maharaja.

Perlak semakin berkembang ketika dipimpin oleh Pangeran Salman, seorang pangeran yang memiliki darah Kisra Persia. Putri dari Pangeran Slaman kemudian menikah dengan Muhammad Ja’far Shiddiq, seorang pendakwah dari negeri Arab, yang nantinya akan menurunkan pendiri Kesultanan Islam pertama di Nusantara.

Berdasarkan naskah Idhar al-Haq, sekitar tahun 790 M, sebuah kapal layar berlabuh di Bandar Perlak. Kapal tersebut membawa seratus juru dakwah yang dipimpin oleh nakhoda dari kekhalifahan Abbasiyah. Kapal itu datang dari Teluk Kambay, Gujarat dan berlabuh di Bandar Perlak.

Salah seorang juru dakwah tersebut bernama Ali ibn Muhammad Ja’far Shiddiq. Ia adalah seorang muslim Syiah yang melakukan pemberontakan kepada khalifah al-Makmun. Namun, usahanya itu menemui kegagalan, akibatnya ia diperintahkan untuk berdakwah keluar dari negeri Arab sebagai hukumannya.

Setelah beberapa waktu berdakwah di Bbandar Perlak, Ali ibn Muhammad Ja’far Shiddiq menikah dengan putri istana Perlak. Putra pertama hasil dari pernikahan itu bernama Syed Maulana Abdul Azz Syah. Ia berhasil mendirikan Kesultanan Perlak pada tahun 840 M, sebagai Kesultanan Islam (Syiah) pertama di Nusantara. Setelah berhasil mendirikan Kesultanan Perlak, ia memperoleh gelar Sultan Alaiddin Syed Maulanan Abdul Azis Syah.

Perkembangan Kesultanan Perlak

Sultan Alaiddin Syed Maulana Abdul Aziz Syah memerintah sebagai sultan pertama Perlak hingga tahun 864 M. Setelah ia wafat, kesultanan Perlak dipimpin oleh keturunannya yang bernama Sultan Alaiddin Syed Maulana Abdul Rahim Syah. Ia memerintah selama periode 864-888 M. Selanjutnya Sultan Abdul Rahim Syah digantikan oleh Sultan Alaiddin Syed Maulana Abbas Syah, yang berkuasa selama 25 tahun, yakni dari tahun 888 sampai 913 M.

Pascawafatnya sultan ketiga Perlak, tidak ada pelantikan sultan yang baru di Kesultanan Perlak. Hal ini dipicu kondisi yang tidak kondusif di wilayah Kesultanan Perlak. Kondisi tersebut muncul akibat perang saudara di kalangan rakyat Perlak, yakni perang antara pengikut Syiah dengan Ahlus Sunnah wal Jama’ah (Sunni).

Dua tahun berselang, ketika  konflik antara aliran sudah mulai mereda, Syed Maulana Ali Mughayat Syah dilantik sebagai sultan baru Kesultanan Perlak. Ia hanya memerintah dalam waktu yang relatif singkat, pemerintahannya hanya bertahan tiga tahun.

Pada tahun 918, di akhir masa pemerintahan Sultan Ali Mughayat konflik antara Syiah dan Sunni kembali muncul ke permukaan. Dalam konflik kedua itu kaum Sunni memperoleh kemenangan, sehingga sultan yang akan berkuasa selanjutnya berasal dari kaum Sunni.

Sultan pertama Kesultanan Perlak yang berasal dari golongan Sunni bernama Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdul Kadir Syah Johan Berdaulat. Ia memerintah pada tahun 928-932 M. Setelah Sultan pertama itu wafat, ia digantikan oleh Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin Syah Johan Berdaulat. Ia memerintah dalam waktu cukup lama, yakni mulai tahun 932 sampai 956 M. Sultan selanjutnya adalah Sultan Makhdum Alaiddin Abdul Malik Syah Johan Berdaulat, yang memerintah antara tahun 956-983 M.

Pada akhir masa pemerintahan Sultan Abdul Malik Syah terjadi konflik ketiga yang melibatkan golongan Syiah dan Sunni. Konflik itu berlangsung selama empat tahun dan diakhiri dengan persetujuan damai yang membagi wilayah kesultanan Perlak menjadi dua, yaitu:

  1. Perlak bagian pesisir, yang dikuasai oleh golongan Syiah. Perlak pesisir dipimpin oleh Sultan Aalaiddin Syed Maulana Syah, yang berkuasa pada tahun 976-988 M.
  2. Perlak bagian pedalaman, yang dikuasai oleh golongan Sunni. Kerajaan Perlak pedalaman dipimpin oleh Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Syah Johan Berdaulat, yang memimpin antara tahun 986 hingga 1023 M.

 

Serangan Sriwijaya dan Penyatuan dengan Samudera Pasai

Pada tahun 986 M, Kerajaan Sriwijaya (Kerajaan bercorak Buddha di Nusantara) menyerang Kesultanan Perlak Pesisir. Peperangan hebat pun pecah yang  melibatkan pasukan kedua kerajaan tersebut. Dalam perang ini, Sultan Perlak Pesisir, yaitu Sultan Alaiddin Syad Maulana Mahmud Syah gugur dalam peperangan.

Pascagugurnya Sultan Perlak Pesisir, wilayah kesultanan Perlak secara keseluruhan akhirnya dikuasai oleh Sultan Perlak Pedalaman yang beraliran Sunni. Kehadiran pasukan Sriwijaya di wilayah Perlak, segera direspon oleh Sultan Malik Ibrahim Syah dengan mengobarkan semangat rakyat Perlak untuk melawan Sriwijaya.

Pertempuran besar pun terjadi selama bertahun-tahun. Perang antara kedua kerajaan itu baru berakhir pada tahun 1006 M, ketika Sriwijaya memutuskan mundur dari pertempuran untuk bersiap menghadapi serangan raja Dharmawangsa dari Kerajaan Medang di Jawa.

Dengan berakhirnya perang antara Kesultanan Perlak dan Kerajaan Sriwijaya, wilayah Perlak secara keseluruhan dipimpin oleh keturunan Sultan Malik Ibrahim Syah yang berasal dari golongan Sunni. Pada masa ini kondisi Kesultanan Perlak relatif damai, tanpa adanya peperangan melawan kerajaan luar.

Berikut nama-nama Sultan Perlak dan masa pemerintahannya setelah meninggalnya Sultan Malik Irahim Syah:

  1. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Mahmud Syah Johan Berdaulat (1023-1059 M).
  2. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Mansur Syah Johan Berdaulat (1059-1078 M).
  3. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdullah Syah Johan Berdaulat (1078-1109 M).
  4. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ahmad Syah Johan Berdaulat (1109-1135 M)
  5. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Mahmud Syah Johan Berdaulat (1135-1160 M)
  6. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Usman Syah Johan Berdaulat (1160-1173).
  7. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Syah Johan Berdaulat (1173-1200)
  8. Sultan Makhdum Alaiddin Abdul Jalil Syah Johan Berdaulta (1200-1230).
  9. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin Syah II Johan Berdaulat, memerintah anara tahun 1230-1267). Sultan memiliki dua orang putri , yaitu putri Ratna Kamala dan putri Ganggang. Menurut beberapa sumber, Putri pertama dinikahkan dengan Sultan Malaka bernama Sultan Muhammad Syah alias Parameswara dan putri Ganggang dinikahkan dengan sultan pertama Samudera Pasai, Al-Malik al-Saleh alias Merah Silu.
  10. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdul Azis Syah Johan Berdaulta (1267-1292).

Kemunculan Kerajaan Samudera Pasai  pada tahun 1267 M, perlahan-perlahan menyaingi pamor dari Kesultanan Perlak. Sultan Malik Abdul Aziz Syah merupakan sultan terakhir Kesultanan Perlak.

Setelah ia wafat, wilayah Kesultanan Perlak digabungkan degan Kerajaan Samudera Pasai pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Malik al-Zahir, putra dari Merah Silu. Penggabungan yang dilakukan Sultan Samudera Pasai itu, sekaligus menandai berakhirnya pemerintahan kesultanan pertama di Nusantara.

BIBLIOGRAFI

Daliman. A. 2012. Islamisasi dan Perkembangan Kerajaan-Kerajaan Islam di Nusantara. Yogyakarta: Ombak.

Darmawijaya. 2010. Kesultanan Islam Nusantara. Jakarta: Pustaka al-Kautsar.

De Graaf. “South East Asian Islam to The Eighteenth Century”.  Dalam P. M. Holt dkk. 1970. The Cambridge History of Islam Volume II. Cambridge: Cambridge University Press.

Share the knowledge!
Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Pin on Pinterest0Email this to someoneShare on Tumblr0Share on Reddit0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *