Modernisme Islam di Indonesia Abad XIX-XX

Share the knowledge!
Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Pin on Pinterest0Email this to someoneShare on Tumblr0Share on Reddit0

Modernisme Islam
Modernisme Islam

Modern yaitu sikap dan cara berpikir serta cara bertindak sesuai dengan perkembangan zaman, sedangkan modernisasi adalah proses pergeseran sikap dan mentalitas sebagai warga masyarakat untuk dapat hidup sesuai dengan perkembangan zaman. Menurut Harun Nasution, modernisasi mengandung arti pikiran, aliran, gerakan, dan usaha mengubah paham-paham, adat-istiadat, institusi lama untuk disesuaikan dengan keadaan baru yang ditimbulkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern.[1] Modernisme dalam Islam biasanya timbul sebagai hasil dari kontak antara dunia Islam dengan dunia Barat.

Kemudian mereka juga memimpin pelawanan terhadap penjajah. Munculnya gagasan nasionalisme yang diikuti dengan pembaharuan pendidikan sehingga kebangkitan Islam semakin berkembang. Selain itu juga muncul organisasi-organisasi sosial keagamaan di Indonesia.

Sejarah Modernisme Islam di Indonesia

Modernisme yang lahir di Timur tengah telah memberikan pengaruh besar kepada kebangkitan Islam di Asia Tenggara, khususnya di Indonesia. Di Indonesia, bermula dari pembaharuan Islam di Minangkabau. Pusat kekuasaan Minangkabau adalah Pagaruyung dan raja hanya berfungsi sebagai lambang. Kekuasaan berada di tangan para penghulu adat. Walaupun Islam sudah masuk sejak abad ke-16, tetapi praktek sinkretisme masih dilakukan. Hal ini kemudian memunculkan gerakan untuk memperbaiki masyarakat Minangkabau dengan mengembalikan kehidupan sesuai ajaran Islam. Gerakan tersebut dikenal dengan nama Paderi. Pada mulanya gerakan ini dilakukan melalui ceramah di surau dan masjid. Pemurnian Islam ini dimulai oleh Tuanku Koto Tuo dengan pendekatan damai, tetapi mengalami kegagalan. Kekuatan baru muncul pada tahun 1803, ketika tiga ulama pulang dari Mekah yaitu Haji Miskin, Haji Sumanik, dan Haji Piobang.

kaum Padri
kaum Padri

Gerakan Paderi melawan kaum Adat dimulai. Kaum Paderi berkeinginan memperbaiki masyarakat Minangkabau dengan mengembalikan kehidupan yang sesuai dengan ajaran Islam yang sebenarnya, tetapi kaum Adat justru ingin melestarikan adat istiadat warisan leluhur mereka. Adat yang selama ini dianut adalah kebiasaan-kebiasaan buruk, seperti menyabung ayam, berjudi, madat, dan minum-minuman keras. Terjadilah benturan antara kaum Adat dengan kaum Paderi. Kaum Adat yang merasa terdesak, kemudian meminta bantuan kepada Belanda. Kaum Paderi kemudian pindah melawan Belanda. Kaum Paderi yang dipimpin oleh Muhammad Syahab yang dikenal dengan Tuanku Imam Bonjol. Awalnya Belanda mengalami kekalahan, tetapi kemudian Belanda melakukan perjanjian damai. Belanda mengajak berunding kaum Paderi tetapi berujung pada penangkapan Tuanku Imam Bonjol (25 Oktober 1837). Perlawanan kaum Paderi akhirnya berhasil dikalahkan.

Indonesia merupakan negara penduduk mayoritas muslim. Agama Islam secara terus menerus menyadarkan pemeluknya bahwa mereka harus membebaskan diri dari cengkeraman pemerintahan kafir. Perlawanan dari raja-raja Islam terhadap pemerintahan kolonial tak pernah berhenti. Padam di suatu tempat muncul di tempat lain. Belanda menyadari bahwa perlawanan itu diinspirasi oleh ajaran Islam.[2] Banyak perlawanan umat Islam yang dimotori oleh para Haji dan ulama. Perlawanan-perlawan tersebut diantaranya perlawanan kaum Paderi di Minangkabau (1821-1838), perlawanan Pangeran Diponegoro (1825-1830), perlawanan di Aceh (1873-1904), dan perlawanan di Cilegon (1888).

Usaha mengadakan perlawanan untuk membebaskan diri dari pengaruh Belanda terus dilakukan. Akan teatapi, usaha-usaha itu selalu gagal karena beberapa sebab, diantaranya: (1) Belanda diperlengkapi dengan organisasi dan perlengkapan modern, sementara kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia masih bersifat tradisional, (2) penduduk Indonesia sangat tergantung pada wibawa seorang pemimpin, sehingga ketika pemimpinnya tertangkap atau terbunuh, perlawanan terhenti dengan kemenangan pihak Belanda, (3) tidak ada kesatuan antara kerajaan-kerajaan Islam dalam melawan Belanda, karena (4) Belanda berhasil menerapkan politik adu domba, dan (5) dengan politik adu domba itu, banyak penduduk pribumi yang ikut memerangi rekan-rekannya sendiri.[3]

Kebangkitan Islam dan modernisme di Indonesia semakin berkembang dengan adanya emansipasi wanita yang dipelopori oleh RA. Kartini (1879-1904). Kemudian dibentuknya organisasi-organisasi sosial keagamaan, seperti Budi Utomo, Muhammadiyah di Yogyakarta (1912), Nahdlatul Ulama (NU) di Surabaya (1926).

Diantara anak-anak Indonesia yang mendapatkan kesempatan belajar adalah anak laki-laki. Mengenai keadaan wanita Indonesia pada waktu itu masih ada dalam konservatisme dan sangat terikat oleh adat. Pengajaran disekolah hanya diperuntukkan bagi anak laki-laki, sedangkan anak perempuan hanya mendapat pendidikan di rumah atau dilingkungan keluarga dan pendidikan yang diperoleh tidak lebih dari persiapan menjadi seorang ibu rumah tangga yang baik.[4] Sehingga dibandingkan dengan anak laki-laki dalam hal pendidikan umum mereka jauh dari ketertinggalan. Emansipasi merupakan keinginan untuk mendapatkan hak dan kebebasan dari kungkungan adat. Pelopor gerakan emansipasi yaitu RA. Kartini, ia menyerukan agar bangsa Indonesia mendapat pendidikan, khususnya perempuan. Ide-ide RA. Kartini sudah ada dalam kumpulan surat-surat yang ditulisnya “Habis Gelap Terbitlah Terang” (1899-1904). Dengan upaya pendidikan untuk perempuan pada masa itu menjadikan sebagai suatu modernisme di Indonesia.

Pada tahun 1905 di Jakarta berdiri perkumpulan Jamiyatul Khair yang mendirikan sekolah dasar. Kurikulum sekolah ini bukan hanya agama tetapi juga ilmu pengetahuan Barat. Siswa lulusan dari sekolah ini kemudian dikirim ke luar negeri unutk melanjutkan studi. Gerakan modernisme ini meluas ke Minangkabau dengan perintisnya Syekh Thare Jalaluddin. Melalui majalah Al-Iman yang diterbitkan di Malaysia oleh Said Muhammad Agil adalah sebagai alat penyebar ide reformisme dan modernisme keluar Minangkabau. Pengaruhnya terlihat di Padang yaitu muncul H. Abdullah Ahmad. Ia mendirikan sekolah dasar pada tahun 1909 dan mendirikan majalah Al-Munir yang bertujuan menyebarkan agama Islam yang sebenarnya dan terbit pada 1910-1916.[5]

Pada 20 Mei 1908 di Jakarta juga didirikan Budi Utomo (BU). Latar belakang berdirinya yaitu keprihatinan Wahidin Sudirohusodo terhadap kondisi anak-anak Indonesia yang masih mengalami hambatan dalam mengakses pendidikan karena kurangnya dana belajar. Tujuannya yaitu memberi pengajaran bagi orang Jawa agar mendapat kemajuan dan usaha membangkitkan kembali kultur Jawa yakni kombinasi antara tradisi, kultur, dan pendidikan Barat. Pada tahun 1906-1907 Wahidi melakukan propoganda berkeliling jawa untuk menghimpun dana. Ide ini kemudian diterima dan dikembangkan oleh Sutomo dengan mendirikan BU di Jakarta. Anggotanya sekitar 10 ribu orang (Jawa dan Madura).

Pembaharuan yang mempunyai pengaruh yang besar yaitu KH. Ahmad Dahlan, Bapak Muhammadiyah yang didirikan pada 1912 M di Yogyakarta. Latar belakang berdirinya yaitu keprihatinan terhadap kondisi agama dan umat Islam di Indonesia yang terkungkung dalam kebiasaan yang menyimpang. Tujuannya yaitu ingin memperbaiki agama dan umat Islam Indonesia. Agama Islam harus dibersihkan dari percampuran ajaran bukan Islam, seperti perbuatan musyrik, bid`ah, dll. Pembaharuan di bidang keagamaan adalah memurnikan dan mengembalikan sesuai dengan aslinya sebagaimana yang diperintahkan Allah dalam Al Qur‘an dan diturunkan oleh Nabi Muhammad melalui sunah-sunahnya. Bidang pendidikan mempunyai fungsi penting karena dengan pendidikan pemahaman tentang Islam mudah diwariskan kepada generasi berikutnya. Sistem pendidikan dengan menggabungkan cara tradisional dan modern. Bidang kemasyarakatan yang ditempuhnya adalah dengan mendirikan rumah sakit, poliklinik, rumah yatim piatu yang dikelola oleh lembaga-lembaga. Usaha di bidang sosial ini ditandai dengan berdirinya Pertolongan Kesengsaraan Umum (PKU) pada tahun 1923.[6]

Nahdlatul Ulama lahir pada 31 Januari 1926 di Surabaya. Latar belakang lahirnya NU yaitu motif agama dan nasionalisme. Motif agama yaitu semangat menegakkan dan mempertahankan Agama Allah. Sedangkan motif nasionalisme yaitu niatan kuat untuk menyatukan para ulama dan tokoh-tokoh agama dalam melawan penjajahan. Semakin meluasnya gerakan Islam di perkotaan seperti yang dilakukan oleh Muhammadiyah maka hal ini dapat mengurangi ruang gerak umat Islam di pedesaan. Untuk menampung dan memberikan wadah di pedesaan maka dibentuk organisasi NU.

Corak Islam Modern di Indonesia

Corak Islam modern yaitu mewujudkan kemerdekaan dari penjajah Barat. Di Indonesia corak modern diantaranya:

  1. Puritanisme agama

Di indonesia gerakan pemurnian ajaran agama Islam dilakukan oleh para ulama-ulama karena pada saat itu masyarakat masih menjalankan ajaran yang tidak sesuai dengan islam. Berkembangnya paham sinkretisme dan masuknya tahyul, bid`ah dan khurafat dalam ajaran Islam.

  1. Reformasi pendidikan

Corak reformasi ini berusaha melakukan pembaharuan dalam bidang pendidikan dengan cara melakukan perubahan kurikulum pendidikan dan memadukan dengan pendidikan modern. Tidak hanya pendidikan agama tetapi juga dimasukkan pendidikan Barat.

  1. Nasionalisme

Corak nasionalisme yaitu suatu gerakan yang berusaha melakukan perlawanan terhadap dominasi asing dengan tujuan membebaskan wilayah Indonesia dari cengkraman penjajah Belanda. Gerakan ini juga mewujudkan kemerdekaan suatu negara.

DAFTAR PUSTAKA

Nasution, Harun. Pembaharuan dalam Islam, Sejarah Pemikiran dan Gerakan. Jakarta: PT. Bulan Bintang, 2011.

Suhartono. Sejarah Pergerakan Nasional: dari Budi Utomo sampai Proklamasi 1908-1945. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2001.

Yatim, Badri. Sejarah Peradaban Islam: Dirasah Islamiyah II. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. 2008.

[1]Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam, Sejarah Pemikiran dan Gerakan (Jakarta: PT. Bulan Bintang, 2011), hlm. 3.

[2]Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam: Dirasah Islamiyah II (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2008), hlm. 252.

[3]Ibid., hlm. 241-245.

[4]Suhartono, Sejarah Pergerakan Nasional: dari Budi Utomo sampai Proklamasi 1908-1945 (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001), hlm. 27.

[5] Ibid., hlm 44.

[6]Ibid., hlm. 44-45.

Share the knowledge!
Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Pin on Pinterest0Email this to someoneShare on Tumblr0Share on Reddit0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *