Nasionalisme di Dunia Islam

Share the knowledge!
Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Pin on Pinterest0Email this to someoneShare on Tumblr0Share on Reddit0

Islam
nasionalisme di dunia Islam

Jatuhnya dunia Islam ke dalam kekuasaan bangsa Barat, telah menyadarkan umat Islam bahwa mereka telah tertinggal jauh bila dibandingkan dengan bangsa Barat. Kesadaran ini membuat para penguasa dan rakyat muslim terdorong untuk belajar dari Barat (Eropa). Bangsa pertama yang sadar akan kondisi ini adalah Turki Utsmani, sebab bangsa ini yang pertama kali mendapatkan kesempatan menghadapi kekuatan bangsa-bangsa Barat.

Dunia Islam begitu terpukul dengan situasi dan kondisi seperti ini, usaha mereka untuk dapat menyeimbangkan dengan kemajuan Barat adalah dengan melakukan pembaharuan. Pembaharuan dalam Islam meliputi bidang akidah, ilmu pengetahuan dan pendidikan. Dalam perkembangannya, usaha pembaharuan ini memasuki wilayah politik.

Gerakan politik yang pertama muncul adalah gagasan Pan Islamisme, yaitu persatuan Islam se-Dunia, yang awalnya diwacanakan oleh gerakan Wahabiyah dan Sanusiyah. Namun wacana Pan Islamisme baru didengungkan dan digerakkan dengan lantang oleh Jamaludin al-Afghani (sang filosof yang menjadi penghubung antara Pan Islamisme dan Nasionalisme). Usaha al-Afghani ini mendapat tantangan dari sultan Turki, yang akhirnya membuat semangat Pan Islamisme yang telah menyebar ke negeri-negeri Islam ini meredup.

Ide Nasionalisme muncul setelah meredupnya gagasan Pan Islamisme. Ide Nasionalisme muncul dari Barat dan masuk ke dunia Islam melalui persentuhan Islam dengan Barat, dipercepat dengan banyaknya pelajar musllim yang belajar di Barat dan lembaga-lembaga pendidikan model Barat. Untuk lebih memperjelas permasalahan yang terkait dengan munculnya ide Nasionalisme ini, maka akan dibahas secara khusus dalam pembahasan ini, supaya kita mengetahui dengan betul bagaimana ide Nasionalisme muncul di dunia Islam bersama para tokoh-tokoh pejuangnya.

Arti dan Sejarah Nasionalisme

Banyak teori dikemukakan untuk mencari dan mengidentikkan nasionalisme dengan bahasa, kebudayaan, ras, politik, ilmu bumi, ekonomi atau agama. Ini adalah faktor yang memberi bantuan kepada pembentukan kesadaran nasional. Padahal  sejauh ini tidak ada yang muskil atau ajaib mengenai nasionalisme. Ada yang menyatakan bahwa nasionalisme adalah kesadaran jiwa. Nasionalisme adalah suatu kepercayaan, yang dianut oleh sejumlah besar manusia perseorangan, sehingga mereka membentuk suatu “kebangsaan”, nasionalisme adalah rasa kebersamaan segolongan sebagai suatu “Bangsa”.[1] Sedangkan “bangsa” disini digambarkan dalam pikiran penganutnya, sebagai rakyat atau masyarakat yang bergabung bersama dan tersusun dalam satu pemerintahan dan berdiam bersama dalam suatu daerah tertentu. Jika cita-cita nasional telah menjadi kenyataan, maka terbentuklah suatu badan politik yang dikenal sebagai “ Negara”. Negara tidak usah merupakan bangsa, karena bangsa adalah pengertian psikologis, suatu pemikiran. Bangsa ialah apa yang disangka rakyat tentang diri mereka secara politis.[2]

Berbicara mengenai arti bangsa, banyak yang mengidentikkan dengan arti ras, padahal ras adalah hal jasmaniah, yang dapat ditentukan dengan tegas oleh ilmu pengetahuan, seperti ukuran tengkorak, bentuk rambut, warna mata dan kulit. Dengan kata lain, ras ialah apa sebenarnya rakyat itu secara antropologis.[3] Pada kenyataannya, kemampuan rohaniah manusia bergantung pada sifat-sifat yang turun temurun diwarisi, dan betapapun juga pengaruh rangsangan alam sekitarnya, namun reaksi seseorang terhadap lingkungannya dibatasi dan ditentukan menurut potensi pada saat kelahirannya.

Pada pertengahan abad ke 19, para cerdik pandai menyadari hakikat sejati dan pentingnya ras.[4] Semangat rasis mulai mendapat tempat di hati para orang yang berkepentingan. Namun kehidupan politik di dunia pada umumnya lebih dipengaruhi oleh nasionalisme dari pada ras. Politik praktis tidak berdasarkan apa yang mereka anut sebagai ideologi politiknya. Perang dunia pertama adalah contoh peristiwa yang tepat soal ini.[5] Perang itu pada umumnya dianggap sebagai peperangan ras. Namun  jika kita tengok lebih cermat pada hakikatnya, ras-ras yang sekarang ini adalah tidak ada, mereka sebetulnya hanya perincian-perincian menurut sejarah berdasarkan bahasa, dan kebudayaan saja, yang sama sekali tidak mengindahkan garis-garis rasial yang sebenarnya.

Kebangsaan merupakan konsep yang sangat intensif, artinya, yang umumnya menunjukan kepada persamaan dan kesatuan kebudayaan, bahasa dan sejarah. Semuanya adalah hasil logika, pikiran sempit orang Eropa yang menyesatkan. Terjadinya ide kebangsaan berpokok pangkal pada pandangan politik di abad pertengahan, di mana batas geografis, feudal, serta perbedaan logat dalam bahasa dipandang sebagai sebab perbedaan di antara bangsa-bangsa.

Pada paruh pertama abad ke 19 tampak pandangan Eropa meluas hingga ke seluruh dunia. Istilah nasionalisme diganti dengan Ras. Lalu munculah perkataan-perkataan pseudo rasial seperti “Pan Slavia”, “Pan Jermania”, “Pan Britania”, “Pan Latinia”, dan lain-lain. Perkembangan baru nasionalisme pada tingkat rasial, mulanya terbatas pada pusat-pusat lama kebudayaan Eropa, tapi dengan berkembangnya ide-ide barat terus meluas sampai sampai ke semua pelosok.

Akhir abad ke 19, fase pertama nasionalisme itu sampai ke Asia. Timbul gerakan Turki muda, Mesir  Muda, dan gerakan-gerakan nasionalisme lainnya di segala daerah yang berjauhan letaknya, seperti Aljazair, Iran, dan India adalah tanda yang jelas bahwa Asia telah dihinggapi oleh kesadaran nasionalisme.[6]

Kemunculan dan Perkembangan Ide Nasionalisme di Dunia Islam

Secara umum muncul dan berkembangnya ide nasionalisme di dunia Islam disebabkan oleh Kolonialisme dan sikap pemerintahan Turki Utsmani. Kesadaran penguasa dan masyarakat atas dominasi Barat membawa pada kesadaran nasional. Jadi semakin banyak yang cinta tanah air dan mengharapkan masa depannya, sehingga serangan-serangan Eropa yang semakin banyak justru menggerakkan mereka untuk membela kemerdekaan mereka yang terancam.[7] Seperti di negara Turki, usaha besar-besaran yang dilakukan orang Barat untuk menghancurkan kekuasaan Turki Utsmani mendapat tantangan berat dari pihak penguasa dan masyarakat umumnya di pihak yang lain. Sebenarnya ide kebangsaan yang digelorakan oleh pihak Turki Utsmani, diilhami juga oleh pemikiran orang barat dalam menjalankan misi kolonialisasi. Tidak berbeda jauh dengan yang terjadi di Turki, di wilayah lain yaitu Mesir, munculnya ide Nasionalisme berawal ketika pendudukan Napoleon Bonaparte.

Walaupun orang-orang Perancis ini dapat dienyahkan, namun pengaruh-pengaruh Eropa tetap meresap di Lembah Nil. Hal itu dapat dilihat dari langkah Chediv Ismail meng-Eropakan Mesir dan keberaniannya menggadaikan kemerdekaan Mesir. Muncullah gerakan dari pemimpin-pemimpin Mesir yang sadar untuk segera menghentikan petualangan gila Ismail dan menyelamatkan masa depan Mesir. Mereka tidak hanya menentang Ismail, namun juga kepada kaum Pasya.[8]

Faktor lain yang mendorong lahirnya ide Nasionalisme di belahan dunia Islam adalah kebencian yang membara, seperti api di tempat pandai besi, terhadap sikap-sikap yang ditunjukkan penguasa Turki Utsmani kepada mereka yang tidak sebangsa dengan bangsa Turki. Bagi bangsa Arab, meskipun dominasi Turki sudah seribu tahun lamanya, namun perbedaan ras ini tidak pernah bisa berhubungan baik, karena temperamen rasial yang sangat bertentangan. Ketidakadilan yang dilakukan bangsa Turki telah melukai hati orang Arab, maka bertambah beranglah mereka, karena hal itu dianggapnya sebagai penghinaan terhadap mereka yang disebut sebagai “Umat  pilihan”.[9]

Ketika pecah Perang dunia yang pertama, kondisi ini dimanfaatkan oleh pihak Barat untuk semakin menghancurkan kekuatan Islam, seperti pemberian bantuan oleh Inggris kepada Arab ketika melakukan pemberontakan terhadap kerajaan Turki. Orang Arab dikobarkan semangatnya dengan janji-janji muluk kaum sekutu, yaitu janji menarik akan diberikan kemerdekaan nasional sesudah perang. Itulah yang mendorong orang Arab bangun memerangi orang Turki, membunuhnya dengan keberanian yang luar biasa.[10]

Tokoh-tokoh Pencetus Ide Nasionalisme di Dunia Islam

Ide nasionalisme muncul di dunia Islam melalui persentuhan budaya dengan bangsa Barat. Memang ide tersebut awalnya terinspirasi dari pemikiran Barat, yang kemudian diadopsi oleh umat Islam dan diperkenalkan oleh para tokoh pengusungnya. Di antara tokoh-tokohnya berdasarkan wilayah munculnya ide nasionalisme adalah :

  1. Turki

Sebagaimana telah disebutkan, Turki merupakan daerah pertama yang mempunyai kesadaran akan Nasionalisme. Di antara tokoh atau kelompok yang berusaha mengembangkan ide Nasionalisme adalah gerakan Zaman Tanzimat dan Usmani Muda yang memiliki tujuan yang sama, yaitu mengadakan konstitusi, agar kekuasaan absolut sultan dapat dibatasi, akan tetapi hal itu gagal dan sultan masih berkuasa secara absolut. Muncul kemudian Turki Muda, yang merupakan perkumpulan golongan-golongan, di antara golongan tersebut adalah “persatuan dan kemajuan” (Ittihad ve Terekki). Golongan yang disebut terakhir ini berhasil menggulingkan Sultan Abdul Hamid yang berkuasa secara absolut pada tahun 1908.

young ottomans
the young ottomans

  1. Mesir

Rifa’ah Badawi Rafi’ al-Tahtawi adalah pemikir pembaharuan yang berpengaruh di pertengahan pertama abad ke 19. Pada 1826, ia diangkat menjadi imam mahasiswa-mahasiswa yang dikirim ke Paris. Selama di Paris, ia banyak membaca buku sejarah, teknik, ilmu bumi, politik, buku-buku karangan Montesquieu, Voltaire dan Rousseau. Ia pernah menjadi pimpinan dari surat kabar al-Waqai’ al-Mishriyyah yang memuat kemajuan Barat dan teori politik tentang pemerintahan, seperti tentang demokrasi, aristokrasi, monarki, pemerintahan dan konstitusi Prancis. Pada 1870, didirikan pula majalah Raudhah al-Madaris yang ditujukan untuk memajukan bahasa Arab dan menyebarkan ilmu pengetahuan modern pada khalayak umum. Menurutnya, tujuan pendidikan bukan hanya mengajarkan ilmu pengetahuan tetapi juga menanamkan patriotisme.[11] Patriotisme adalah dasar kuat untuk membentuk suatu masyarakat yang mempunyai peradaban. Dari sini muncul istilah dua persaudaraan, yaitu persaudaraan Islam dan persaudaraan se-tanah air. Meski tidak menjelaskan yang lebih penting antara keduanya, namun dalam perkembangannya persaudaraan se-tanah air lebih kuat dari persaudaraan Islam.

Setelah al-Tahtawi, muncul Jamaluddin al-Afghani, merupakan tokoh pembaharu yang bergerak di berbagai negeri muslim dan meninggalkan pengaruh di daerah-daerah yang dikunjunginya. Daerah-daerah yang pernah dikunjunginya adalah India, Mesir, Persia (Iran), dan Turki. Yang paling mendapat pengaruhnya adalah Mesir dan Persia.[12] Ia lebih memperhatikan soal politik dan sadar akan bahaya dominasi asing atas negeri-negeri muslim. Usahanya dalam melakukan pembaharuan di bidang politik adalah dengan membentuk Hizb al-Wathani (Partai Nasional) dengan slogan “Mesir untuk orang Mesir”. Kemudian saat tinggal di Paris, ia bersama dengan orang-orang Islam dari berbagai negeri mendirikan al-Urwah al-Wusqa.

Jamaluddin al Afghani
Jamaluddin al Afghani

Pokok pikiran al-Afghani adalah dunia Islam dan Populisme.[13] Doktrin politiknya adalah Pan-Islamisme. Menurutnya, umat Islam mesti bersatu dan berjuang bersama di bawah panji Islam. pemerintahan sultan atau raja yang absolute harus diubah dengan sistem syura. Selain ingin membangkitkan semangat Islam universal, ia juga berusaha membangkitkan semangat lokal, yang pada akhirnya memunculkan ide nasionalisme. Pemikirannya ini mempengaruhi secara langsung kepada Urabi Pasya, yang sempat berhasil menguasai pemerintahan Mesir pada tahun 1882, sebelum dikalahkan oleh Inggris. Pemikiran al-Afghani juga berhasil mempengaruhi kepada Muhammad Abduh, seorang pembaharu yang konservatif.

Muhammad Abduh terkenal sebagai salah satu murid Jamaluddin al-Afghani yang setia. Tahun 1880, ia diangkat menjadi redaktur surat kabar resmi pemerintah Mesir, al-Waqai’ al-Mishriyyah. Di bawah pimpinanannya, surat kabar ini bukan hanya menyiarkan berita-berita resmi, tetapi juga artikel-artikel tentang pentingnya nasionalisme di Mesir. Dan saat menjadi rektor Universitas al-Azhar, Abduh berusaha mengajarkan kepada bangsanya, bahwa jalan terbaik mencapai kemerdekaan, ialah dengan mencerdaskan otak dan dengan meningkatkan pengetahuan. Ajaran dan pendapat dari Abduh ini mempengaruhi dunia Islam, khususnya lewat karyanya seperti majalah al-Manar dan Tafsir al-Manar.[14]

Pada akhir abad ke 19 muncul salah seorang nasionalis Mesir, yaitu Mustafa Kamil yang mengajukan gagasan tentang kesatuan bangsa, semangat patriotik, semangat kebencian terhadap pemerintahan asing, dan juga pembentukan sebuah pemerintahan konstitusional dan pendidikan model barat.[15] Ia merupakan seorang agitator yang pandai dan penuh semangat. Dalam upaya menyebarkan gagasannya, ia melakukan ceramah, mengeluarkan jurnal, dan menunggangi gerakan politik Hizb al-Wathani.

  1. Arab

Awalnya ide Nasionalisme di Arab muncul sebagai bentuk perlawanan terhadap penguasa Turki Usmani yang bersikap diskriminatif. Selanjutnya gerakan Nasionalisme di daerah Arab menyerukan untuk menggulingkan pemerintahan Turki Usmani. Hal ini mendapat kegagalan, dan para tokohnya dibuang ke Mesir dan ke Eropa (Barat). Kemudian orang-orang yang dibuang tersebut membentuk organisasi “Komite Nasional Arab” pada tahun 1895. Akhirnya organisasi ini berhasil melemahkan Turki Usmani lewat gerakan pemberontakan yang terjadi di Hijaz dan Yaman pada 1905. Peristiwa ini terkenal dengan sebutan Revolusi Arab.[16]

Simpulan

Nasionalisme adalah suatu kepercayaan yang dianut oleh sejumlah besar manusia perseorangan, sehingga mereka membentuk suatu kebangsaan, yang mana jika cita-cita nasional itu terwujud maka akan terbentuk negara, meskipun negara tidak mesti sebuah bangsa.

Nasionalisme muncul di dunia Islam berawal dari persentuhan budaya Islam dengan Barat, seperti pengiriman pelajar muslim ke Eropa lalu dikuatkan dengan kolonialisasi di dunia Islam serta sikap diskriminatif penguasa Turki Usmani terhadap bangsa non-Turki. Bangsa yang pertama sadar akan nasionalisme adalah Turki Usmani, kemudian disusul Mesir dan Arab.

Beberapa tokoh, baik kelompok maupun perseorangan, yang membawa pengaruh nasionalisme di wilayah-wilayah tersebut di antaranya Gerakan Zaman Tanzimat, Usmani Muda, Turki Muda (Ittihad ve Terekki), al-Tahtawi, al-Afghani, Muhammad Abduh, Mustafa Kamil, dan Komite Nasional Arab.

Ide nasionalisme di wilayah-wilayah tersebut dimaksudkan untuk membebaskan dari belenggu kekuasaan bangsa lain. Turki Usmani berusaha keluar dari intervensi bangsa asing. Mesir pun awalnya sama berusaha keluar dari kolonialisasi Prancis, meski akhirnya mereka pun berusaha keluar dari kekuasaan Turki Usmani. Sedangkan Arab, ide nasionalisme mereka diusahakan agar terbebas dari kekuasaan Turki Usmani yang dianggap diskriminatif.

BIBLIOGRAFI

M Lapidus, Ira. 1999. Sejarah Sosial Umat Islam Jilid III. (Jakarta: Raja Grafindo ).

Nasution, Harun. 1975. Pembaharuan dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Gerakan. (Jakarta: Bulan Bintang).

Rahman, Fazlur. 1994. Islam. (Bandung: Pustaka).

Stoddard, Lothrop. 1966. Dunia Baru Islam (The New World Order). (Jakarta: Panitia Penerbit Dunia Baru Islam).

Footnote

[1] Lothrop Stoddard, Dunia Baru Islam (The New World Order), (Jakarta: Panitia Penerbit Dunia Baru Islam, 1966), hlm. 137.

[2] Ibid., hlm. 138.

[3] Ibid.

[4] Ibid., hlm. 139.

[5] Ibid.

[6] Ibid., hlm 141.

[7] Ibid., hlm. 144

[8] Ibid., hlm. 152.

[9] Umat pilihan adalah umat yang telah ditakdirkan menguasai seluruh Dunia Islam. Ibid., hlm. 173.

[10] Ibid., hlm. 151.

[11] Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Gerakan, (Jakarta: Bulan Bintang, 1975),  hlm., 48.

[12] Fazlur Rahman, Islam, (Bandung: Pustaka, 1994), 333.

[13] Populisme adalah paham yang mengakui dan menjunjung tinggi hak, kearifan dan keutamaan rakyat kecil. Dorongan populis al-Afghani timbul dari pertimbangan akan keadilan dan kenyataan bahwa suatu pemerintahan akan kuat berdiri, stabil dan jaminan yang sebenarnya dalam menghadapi kekuatan dan intrik Barat. Lihat Fazlur Rahman, hlm. 333.

[14] Nasution, hlm. 68.

[15] Ira M Lapidus, Sejarah Sosial Umat Islam Jilid III, (Jakarta: Raja Grafindo, 1999), hlm. 112-113.

[16] Stoddard, hlm. 147-148.

Share the knowledge!
Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Pin on Pinterest0Email this to someoneShare on Tumblr0Share on Reddit0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *