Pengaruh Filsafat Yunani terhadap Pertumbuhan Filsafat dalam Islam

Share the knowledge!
Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Pin on Pinterest0Email this to someoneShare on Tumblr0Share on Reddit0

Screenshot_2016-03-07-20-11-10_1

Berbicara mengenai sejarah pemikiran Islam, tentu saja banyak membahas tentang seputar perkembangan Islam. Mulai dari pokok-pokok ajaran Islam, sistem ajaran Islam, pemikiran politik dan hukum Islam pada masa Nabi, masa Khulafa ar-Rasyidun, Umayyah dan Abbasiyah. Kemudian, pemikiran Islam semakin mengalami perkembangan dengan munculnya pemikiran teologi yang pertumbuhannya semakin berkembang, diikuti dengan munculnya sufisme dan tarekat sampai dengan adanya Filsafat Islam.

Pada perkembangannya, Islam memiliki banyak persoalan-persoalan yang memerlukan pemikiran untuk dapat menyelesaikannya. Tentu saja dalam memecahkan persoalan memerlukan peran akal yang optimal. Sehingga muncullah Filsafat Islam. Filsafat Islam sendiri memiliki historis yang cukup panjang. Ketika berbicara tentang Filsafat Islam, tentu saja tidak lepas dari Filsafat Yunani, karena Filsafat Islam memang mendapat pengaruh dari Filsafat Yunani.

Pengertian Filsafat Yunani dan Filsafat Islam

Sebelum berbicara lebih lanjut mengenai Filsafat Yunani dan Filsafat Islam, sebaiknya terlebih dahulu mengetahui apa itu filsafat. Filsafat berasal dari bahasa Yunani, yaitu philosophia. Philos yakni cinta, sedangkan sophia atau sophos yakni pengetahuan atau kebijaksanaan. Jadi, filsafat dalam arti sempit adalah cinta pada pengetahuan atau kebijaksanaan. Akan tetapi, orang Arab memindahkan kata Yunani philosophia ke dalam bahasa Arab menjadi falsafa. Hal ini menyesuaikan tabiat susunan kata-kata Arab dengan pola fa’lala, fa’lalah dan filsfat. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata ini disebut filsafat. Ciri-ciri filsafat, yaitu kritis, sistematis, runtut, komprehensif, konsisten, universal, bertanggung jawab, bebas, dan rasio.

Filsafat Yunani sendiri lahir untuk menggantikan kepercayaan dari orang-orang Yunani yang banyak bersumber dari dongeng dan mitos-mitos. Banyaknya kepercayaan terhadap mitos, maka muncullah golongan yang menentangnya. Golongan yang menentang adalah ahli pikir yang pada waktu itu mulai berpikir tentang semesta alam dan berupaya mencari jawaban dengan menggunakan akal (rasio).

Kemudian mulai terjadi pergeseran pemikiran dari mitologis ke kosmologis. Periodesasi dari Filsafat Yunani dapat dibagi menjadi tiga masa; masa kuno (kosmosentris), masa pertengahan (teosentris), masa modern (antroposentris), dan masa kontemporer (logosentris). Para ahli pikir Yunani diantaranya Thales, Anaximander, Pythagoras, Demokritus, Heraclitus, dan Parmanides.

Sedangkan Filsafat Islam menurut Muhammad ‘Athif al-‘Iraqy dalam buku Hasyimsyah Nasution yang berjudul Filsafat Islam, Filsafat Islam secara umum ialah meliputi di dalamnya Ilmu Kalam, Ushul Fikih, Ilmu Tasawuf, dan ilmu pengetahuan lainnya yang diciptakan oleh ahli pikir Islam.[1]Adapun ciri-ciri filsafat Islam, yaitu religius, rasional, dan sinkretis, berikut penjelasan karakteristik Filsafat Islam:

  1. Filsafat Islam membahas masalah yang sudah pernah dibahas Filsafat Yunani dan lainnya, seperti ketuhanan, alam, dan roh.
  2. Filsafat Islam membahas masalah yang belum pernah dibahas filsafat sebelumnya, seperti filsafat kenabian.
  3. Dalam Filsafat Islam terdapat perpaduan antara agama dan filsafat, antara akidah dan hikmah, antara wahyu dan akal.[2]

Penamaan dari disiplin ilmu ini sendiri memiliki dua pendapat, ada yang menyebutnya dengan Filsafat Islam, ada pula yang menyebutnya Filsafat Arab. Masing-masing pendapat sama-sama memiliki alasannya masing-masing.

Menurut Hasyimsyah Nasution dalam bukunya Filsafat Islam:

Kalau dianalisis tentang penamaan tersebut, dapat dikatakan bahwa memberi predikat Arab tidaklah tepat, karena kebanyakan filsuf yang membangun ilmu ini bukanlah orang Arab, melainkan orang Persia, Turki, Afghanistan, Spanyol, dan lain-lain, walaupun kebanyakan karya mereka ditulis dalam bahasa Arab, tetapi yang pasti bahwa orang Arab belum mengenal ilmu ini sebelum ekspansi Islam.[3]

Hubungan Filsafat Islam dengan Filsafat Yunani

      Pemikiran Yunani terbagi menjadi dua zaman:[4]

  • Zaman Yunani atau Helenis, zaman ini terhitung dari abad VI SM-akhir abad IV SM. Pada masa ini muncul berbagai aliran dari para filsuf seperti Pythagoras, Plato, Aristoteles, dan lain-lain.

plScreenshot_2016-03-07-20-11-53_1

  • Zaman Helenistis-Romawi, zaman ini setelah Aristoteles. Masa ini terhitung sejak pemerintahan Alexander the Great (356-326 SM) yang dikenal zaman Filsafat Yunani yang merupakan warisan Yunani telah tersebar, orang-orang Romawi, ahli pikir dari Mesir, Syiria, dan ahli pikir yang berada disekitar Laut Tengah berhasil mengembangkan Filsafat Yunani. Masa ini diawali abad IV SM-pertengahan abad VI M di Romawi Barat yang berpusat di Roma. Di Byzantium (Romawi Timur)-pertengahan abad VII M yang berpusat di Alexandria (Iskandariah)-abad VIII di Syiria dan Irak, juga pada sekolah yang ada di Edessa, Nisibis, dan Antioch. Dapat dikatakan bahwa masa ini sampai munculnya Filsafat Islam di Baghdad.

Pada abad ke VII M Alexander Yang Agung banyak melakukan ekspansi ke berbagai penjuru, diantaranya adalah Mesir, Syria, Mesopotamia, dan Persia. Sejak itulah mulai terjadi hubungan Islam dengan Filsafat Yunani. Alexander the Great dalam menaklukan wilayah, tidak hanya ingin sekedar menguasai, tetapi ia juga ingin menyatukan kebudayaan, ia bercita-cita untuk mempersatukan semua bangsa di dalam satu kerajaan besar. Sehingga, ia pun membangun pusat-pusat pengajaran kebudayaan Yunani.[5]

Screenshot_2016-03-07-20-10-46_1

           Pusat pengkajian kebudayaan dibagi menjadi dua, yaitu di Barat (Athena dan Roma) dan Timur (Mesir, Antioch di Suriah, Judisyapur di Mesopotamia, dan Bactra di Persia).[6] Baik bagian Barat dan Timur letaknya cukup strategis sehingga dipilih menjadi pusat pengkajian kebudayaan dan berbagai ilmu pengetahuan.[7]Adanya pusat pengajaran ini banyak melahirkan para cendekiawan.

Kota Iskandariah di Mesir memiliki perpustakaan yang didalamnya terdapat banyak karya dari para cendekiawan Yunani yang merupakan generasi pertama yang membahas berbagai bidang ilmu pengetahuan. Adapun ilmu pengetahuan yang dikaji seperti filsafat, teologi, sains, bahkan matematika.[8]

Kemudian, setelah abad VII M, tepatnya di kota Iskandariah muncul ahli pikir generasi kedua yang mengkaji berbagai buku yang merupakan peninggalan dari generasi pertama. Ahli pikir generasi kedua ini adalah orang-orang Arab yang mulai melakukan penerjemahan. Pada waktu itu, Iskandariah bukan hanya menjadi tempat pusat ilmu pengetahuan saja, tetapi juga merupakan tempat bertemunya berbagai kebudayaan. Kemasyuran Iskandariah terdengar sampai arah Timur dan berbagai wilayah lain, bahkan kaum Nasrani Suryan tertarik dan melakukan penerjemahan ke dalam bahasa Suryani.[9]

Jadi, masuknya Filsafat Yunani dapat dikatakan masuk bersamaan dengan misi ekspansi yang dilakukan Alexander the Great yang berhasil menaklukan wilayah yang kemudian dijumpai oleh ahli pikir Islam, sehingga para pemikir Islam menerima pengajaran baru berupa kajian kebudayaan Yunani dan ilmu pengetahuan yang diciptakan oleh Alexander the Great.

Faktor-faktor Timbulnya Filsafat Islam

Adapun faktor-faktornya sebagai berikut:[10]

  • Faktor dorongan ajaran Islam, Islam menginginkan agar kita sebagai umat berpikir tentang kejadian penciptaan langit dan bumi. Dan penciptaan langit dan bumi tentu ada yang menciptakannya, atas dasar keingintahuan inilah perlunya pemikiran untuk dapat mencari tahu lebih lanjut dengan menggunakan pemikiran filsafat.
  • Faktor perpecahan di kalangan umat Islam (intern), sepeninggal Utsman bin Affan banyak terjadi perpecahan yang awalnya karena persoalan politik, namun berlanjut ke berbagai bidang seperti agama. Mereka cenderung mempertahankan argumen masing-masing dan untuk menyerang lawan, maka masing-masing menggunakan akalnya. Mereka mempelajari pemikiran dari Yunani dan Persia yang mengutamakan akal sebagai sumber, sehingga mereka dapat membentuk filsafat sendiri.
  • Faktor dakwah Islam, dalam dakwah terutama ketika memberi seruan kepada orang-orang untuk masuk Islam misalnya, tentu dalam menyampaikan segala dalil harus rasional. Hal inilah yang memicu perlunya filsafat.
  • Faktor menghadapi tantangan zaman (ekstern), kehidupan mengalami dinamika, begitu juga Islam yang harus menyesuaikan diri dengan zaman yang memiliki persoalan baru. Oleh karena itu, Islam juga harus memiliki pemikiran yang berkembang. Pengembangan pemikiran inilah berlangsung dalam filsafat.
  • Faktor pengaruh kebudayaan lain, setelah wilayah kekuasaan Islam semakin meluas, tentu banyak bertemu dengan kebudayaan lain dan tertarik untuk mempelajari, sehingga terjadi sentuhan dengan budaya asli.

Pertumbuhan dan Perkembangan Filsafat Islam

Wilayah Timur dari pusat pengkajian kebudayaan tepatnya di kota Antioch di Suriah banyak menjadi tempat pelarian para pemikir sebagai efek terjadinya peperangan di Laut Tengah. Di Antioch terdapat sebuah sekolah bernama Edessa yang merupakan pusat dari pengembangan pemikiran Yunani yang eksistensinya dapat terjaga sampai abad VII. Di Kota Edessa terdapat sebuah wilayah bernama Harran yang menjadi wadah untuk menyebarkan ilmu-ilmu Yunani bagi orang-oprang Arab.[11]

Sedangkan perkembangan di wilayah Timur yang lain, yaitu Jundisyapur juga menjadi tempat pelarian bagi para filsuf Yunani karena wilayah Edessa ditutup atas perintah dari Kaisar Byzantium karena dinilai bertentangan dengan ajaran kristen. Jadi. Kegiatan filsafat berpindah dari Yunani ke Jundisyapur, dan dimulailah penerjemahan filsafat Yunani ke dalam bahasa Persia.[12]

Pada masa Khulafa Rasyidun Filsafat Yunani memang belum dapat berkembang karena masih terfokus pada ekspansi. Begitu pula pada masa Umayyah, terlebih lagi Umayyah justru banyak mendominasi kebudayaan Arabnya. Namun, pada masa Umayyah sebenarnya sudah ada upaya penerjemahan, tapi tidak dapat berkembang dan berjalan karena lebih fokus pada politik.[13]

Pada masa Ummayah sudah ada upaya untuk melakukan penerjemahan buku yang disponsori Khalifah Khalid ibn Yazid, buku yang diterjemahkan berkaitan dengan keperluan hidup praktis, seperti kimia. Kemudian masa Umar ibn Abd al-Aziz juga melakukan penerjemahan buku-buku kedokteran, kimia, dan geometri. Riwayat lain mengatakan penerjemahan dimulai masa Khalifah Marwan ibn Hakam tentang ilmu kedokteran. Lalu di simpan di perpustakaan negara sampai Umar ibn Abdul Aziz naik tahta.[14]

Golongan yang banyak tertarik kepada Filsafat Yunani adalah kaum Mu’tazilah, Abu al-Huzail, al-Nazzam, al-Jahiz, al-Jubba’i yang pengaruhnya dapat dilihat dari pemikiran-pemikiran teologi mereka.[15]

Filsafat Yunani baru mendapat perhatian pada masa Abbasiyah. Terlebih lagi pusat pemerintahan dipegang oleh orang-orang Persia, seperti keluarga Baramikah yang sudah lebih dulu mempelajari kebudayaan Yunani.[16]Tepatnya pada masa al-Ma’mun. Pada masanya penerjemahan benar-benar dilakukan secara serius dan besar-besaran. Al-Ma’mun dikenal sebagai orang yang sangat mencintai ilmu pengetahuan. Dalam upayanya melakukan penerjemahan, ia mengutus utusan keseluruh Byzantium untuk mencari naskah atau buku-buku mengenai ilmu apa saja untuk dibawa ke Baghdad. Termasuk karya Aristoteles dan Plato. Penerjemahan tidak hanya menerjemahkan bahasa Yunani, tetapi juga berbahasa Persia dan bahasa Suryani.[17]

Al-Ma’mun mendirikan Bait al-Hikmah sebagai wadah untuk penerjemahan yang dipimpin oleh Hunain Ibn Ishak, ia merupakan orang Nasrani yang ahli bahasa Yunani, ia dibantu oleh Yahya ibn Masawaih, Sabit ibn Qurra, Qusta ibn Lukas al-Ba’labaki, Ishaq ibn Hunain, dan lain-lain. Bait al-Hikmah tidak saja menjadi penerjemah, tapi juga sebagai pusat pengembangan filsafat dan sains.[18]

Pusat pengembangan ilmu pengetahuan tidak hanya di Baghdad, tetapi juga di kota Marwa (Persia Tengah) (menerjemahkan buku dalam bidang matematika dan astronomi), Jundisyapur (menerjemahkan buku yang menyangkut obat-obatan dan kedokteran) dan Haran (menerjemahkan buku filsafat dan kedokteran).[19]

Berikut kegiatan penerjemahan buku-buku yang berjalan melalui tiga periode, yaitu:

  • Periode pertama, masa khalifah Al-Mansur sampai penghujung masa khalifah Harun ar-Rasyid (abad ke-8). Dalam periode ini dikenal nama-nama penerjemah yang termasyhur, yaitu Ibnu al-Muqqafa, Jaris ibn Jabril, Yuhanna bin Masaweh dan lain-lain. Ibnu al-Muqqafa adalah penerjemah Kalilah wa Dimnah, dialah orang pertama yang menyalin Logika Aristoteles ke dalam bahasa Arab. Ketika Harun ar-Rasyid menjadi khalifah, ia telah mengumpulkan para penerjemah untuk menerjemahkan buku-buku ilmu pengetahuan dan kesusasteraan ke dalam bahasa Arab, bahkan ia telah membentuk suatu tim untuk mengumpulkan buku-buku ilmu pengetahuan Yunani untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.
  • Periode kedua, masa khalifah Al-Makmun (abad ke-9 M). Dalam periode ini Al-Makmun mendirikan sebuah Institusi untuk para penerjemah, yang diberi nama Baitul Hikmah di Bagdad, digunakan untuk menerjemahkan buku-buku ilmu pengetahuan dari bahasa Yunani dan Syiriani ke dalam bahasa Arab. Hunayn ibn Ishak sebagai pemimpin penerjemahan. Di periode inilah nama Al-Kindi mulai dikenal. Sebagian besar buku yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab adalah buku-buku karangan Aristoteles, Plato, dan buku-buku mengenai Neo-Platonisme.
  • Periode ketiga, terjadi sekitar abad ke-10 M, periode ini merupakan periode terakhir zaman penerjemahan secara besar-besaran dalam dunia Islam dan muncul pula penerjemah-penerjemah, seperti Abu Bisr Matta bi Yunus al-Qannai (940 M), Yahya bin Adi al-Mantiqy (974 M), Ishak ibn Ishak bin Zura (1008 M). Mereka melanjutkan usaha-usaha di periode kedua dengan menyalin dan memberi komentar tentang buku-buku logika dan matematika Aristoteles. Dengan penerjemahan buku-buku ilmu pengetahuan dan kesusasteraan ini semakin terbukalah pemikiran kaum muslimin untuk berfilsafat, sehingga metode berfikir ala Aristoteles semakin digandrungi.[20]

Filsafat Yunani, pemikirannya memang memberikan pengaruh dan kontribusi yang luar biasa, tapi perlu digaris bawahi bahwa bukan berarti para filsuf Muslim lantas menerima mentah-mentah segala pemikiran Yunani. Filsafat Yunani dapat dikatakan sebuah sumber ilmu yang dipelajari para filsuf Muslim sebagai rujukan, namun para filsuf bukan berarti menyalin pemikiran Yunani secara persis, terbukti dari para filsuf yang memiliki pandangan sendiri atau memiliki teori filsafat sendiri.

Dari upaya penerjemahan yang dilakukan, maka umat Islam mampu menguasai warisan intelektual dari tiga jenis kebudayaan, yaitu Yunani, Persia, dan India. tapi sayangnya kejayaan ilmu ini hanya dapat bertahan sampai abad ke XIII M, kemudian pusat ilmu tersebut diambil alih oleh orang-orang Barat.[21]

Berikut periodesasi perkembangan Filsafat Islam:

  • Periode mutakallimin, dapat dikatakan bahwa ini merupakan masa pendekatan filsafat yang mulai membicarakan mengenai segala masalah mengenai keagamaan Islam. Tapi, banyak yang berargumen bahwa masa ini filsafat Islam belum muncul, tapi teologi Islam dengan munculnya aliran-aliran teologi seperti Khawarij, Syiah, Murjiah, dan lain-lain.
  • Periode filsafat sistematik awal di timur, masa ini ditandai dengan munculnya pemikiran dari al-Kindi yang hidup pada masa Abbasiyah. Pada masa ini banyak melahirkan para filsuf, seperti al-Kindi, al-Farabi, Ibn Sina, dan lain-lain.
  • Periode filsafat sistematik di barat yang berpusat di Andalusia atau Spanyol, di Cordova. Pada masa ini melahirkan filsuf seperti Ibn Rusyd, Ibn Khaldun, Ibn Thufail, dan lain-lain.
  • Periode mistik atau filsafat iluminasi yang melahirkan para filsuf seperti Suhrawardi, Mulla Sadra, Ibn Arabi, dan lain-lain.
  • Periode modern atau pembaharu yang melahirkan para filsuf Muslim seperti Muhammad Abduh, Muhammad Iqbal, Jamal al-Din al-Afgani, dan lain-lain.
  • Periode kontemporer melahirkan filsuf seperti Faziur Rahman, Murtadha Muthahari, dan lain-lain.[22]

Adapun Perkembangan Filsafat Islam menurut Jalaluddin dan Usman Said, membagi filsafat pendidikan Islam yang intinya sebagai berikut:

  • Periode awal perkembangan Islam, merupakan pemikiran yang bersumber dari al-Quran dan Hadis yang tentu sudah dimulai pada masa Nabi Muhammad yang kemudian menjadi teladan bagi manusia.
  • Periode klasik, mulai ditandai pada masa pasca pemerintahan Khulafa-Rasyidun sampai masa Imperialis Barat dengan rentang waktunya pada masa awal Umayyah zaman keemasan Islam dan kemunduran kekuasaan Islam secara politis hingga awal abad ke-19. Pada masa ini melahirkan para filsuf pendidikan, contohnya, Ibn Qutaibah dengan karya al-Ma’arif, Fadhl al-Arab, ‘Uyun al-Akhbar, dan lain-lain.
  • Periode modern, masa ini ditandai dengan dikuasainya Umayyah dan juga Abbasiyah oleh imperialis Barat. Filsuf masa ini contohnya Muhammad Abduh dengan karyanya al-Manar dan ‘al-Urwat al-Wusqa.[23]

Tokoh Filsuf Muslim

Tokoh-Filsafat-dari-Yunani-yang-Ilmu-Pengetahuannya-Masih-Digunakan-hingga-Kini

      Berikut adalah beberapa filsuf Muslim dengan pemikirannya:

  • Abu Yusuf Ya’qub Ibn Ishaq al-Kindi, ia dikenal sebagai orang yang pandai bahasa Yunani dan turut melakukan penerjemahan pada masanya. Ia banyak membuat sinopsis dari karangan Aristoteles. Al-kindi menganut aliran Mu’tazilah.ia ahli dalam berbagai ilmu pengetahuan, yaitu matematika, geometri, astronomi, dan lain-lain. Adapun pemikirannya mengenai falsafat, menurutnya tidak ada pertentangan antara falsafat dan agama. Hal ini dikarenakan falsafat itu berbicara mengenai hakikat atau kebenaran, sedangkan agama merupakan cabang dari falsafat. Ia juga membicarakan soal jiwa dan akal, bahwa manusia memiliki tiga daya, yaitu: daya nafsu pusatnya di perut, daya berani pusatnya di dada, dan daya berpikir pusatnya di kepala. Pemikirannya sendiri mendapat pengaruh dari Aristoteles, Plato, dan Neo-Platonisme.

Screenshot_2016-03-07-20-16-08_1

  • Abu Nasr Muhammad Ibn Muhammad Ibn Tarkhan Ibn Uzlagh al-Farabi, ia banyak menulis karya dalam berbagai bidang, seperti logika, ilmu politik, etika, dan lain-lain. Ia memiliki keyakinan bahwa filsafat Aristoteles dan Plato yang dapat disatukan, kemudian ia tuangkan dalam bentuk karyanya yang berjudul “Tentang Persamaan antara Plato dan Aristoteles”. Filsafatnya yang terkenal adalah falsafah emanasi. Ia juga membahas mengenai jiwa dan akal manusia.
  • Abu ‘Ali Husain Ibn Abdillah Ibn Sina, ia banyak meninggalkan banyak tulisan yang kemudian disempurnakan muridnya, yaitu Abu ‘Ubaid al-Juzjani. Ibn Sina semenjak kecil banyak mempelajari berbagai ilmu, seperti bahasa Arab, geometri, fisika, dan lain-lain. Dalam falsafah ia juga memiliki paham emanasi dan akal baginya adalah melekat. Ia mempunyai filsafat tentang jiwa dan akal yang lebih jelas dan sempurna dari filsafat al-Farabi.
  • Abu Hamid Muhammad Ibn Muhammad Ibn Muhammad al-Ghazali. Menurut al-Ghazali, tingkat ma’rifat yang terdapat dalam tasawuf ialah jalan yang membawa kepada pengetahuan yang kebenarannya dapat diyakini. Pemikirannya lebih bersifat sufi. Ia mengatakan bahwa kebenaran dapat dicapai melalui jalan sufi ia kritik, agar dapat sampai pada kebenaran, orang harus menempuh jalan falsafat.
  • Abu al-Walid Muhammad Ibn Ahmad Ibn Muhammad Ibn Rusyd, ia memiliki keahlian dalam bidang kedokteran, filsuf, dan ahli hukum. Ia memiliki perhatian terhadap filsafat Aristoteles bahkan ia banyak melakukan penafsiran terhadap filsafat Aristoteles. Menurutnya tugas falsafat ialah tidak lain dari berfikir tentang wujud untuk mengetahui pencipta semua yang ada ini.[24]

Daftar Pustaka

Nasution, Harun. 1986. Islam ditinjau dari Berbagai aspeknya. Jilid II. Jakarta: Universitas Indonesia (UI-Press).

Nasution, Hasyimsyah. 2002. Filsafat Islam. Jakarta: Gaya Media Pratama.

Soleh, Khudori. 2013. Filsafat Islam: Dari Klasik Hingga Kontemporer. Yogyakarta: AR-    RUZZ MEDIA.

Zar, Sirajuddin Zar. 2012. Filsafat Islam: Filosof dan Filsafatnya Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

www.tuanguru.com/2011/11/perkembangan-filsafat-Islam.html. diakses tanggal 30 Nopember 2014,           pukul 19.30.

File://C:/Users/TIM%20COM/Downloads/Sejarah%20Filsafat%20Islam.pdf diakses tanggal 30   Nopember 2014, pukul 19.00.

http://zainuddin.lecturer.uin-malang.ac.id/2013/11/12/sejarah-pertumbuhan-dan-perkembangan-filsafat-islam/, diakses tanggal 30 Nopember 2014.

[1] Hasyimsyah Nasution, Filsafat Islam, (Jakarta: Gaya Media Pratama,2002), hlm.2.

[2] Sirajuddin Zar, Filsafat Islam: Filosof dan Filsafatnya (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2012), hlm.14.

[3] Nasution, Filsafat Islam, hlm.4.

[4] Ibid, hlm. 8.

[5] Ibid, hlm.9.

[6]Harun Nasution, Islam ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Jilid II (Jakarta: UI-Press, 1986), hlm.46.

[7] Nasution, Filsafat Islam, hlm.9.

[8]Ibid.

[9]Ibid, hlm.10.

[10]http://zainuddin.lecturer.uin-malang.ac.id/2013/11/12/sejarah-pertumbuhan-dan-perkembangan-filsafat-islam/, diakses tanggal 30 Nopember 2014.

[11] Nasution, Filsafat Islam, hlm.10.

[12] Ibid, hlm.10-11.

[13] Nasution, Islam ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Jilid II, hlm.46.

[14] Nasution, Filsafat Islam, hlm.11-12.

[15] Nasution, Islam ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Jilid II, hlm. 43.

[16] Ibid.

[17]Nasution, Filsafat Islam, hlm.13.

[18] Ibid.

[19] Ibid.

[20] Sirajuddin Zar, Filsafat Islam: Filosof dan Filsafatnya,hlm.9-10.

[21]Ibid.

[22] File://C:/Users/TIM%20COM/Downloads/Sejarah%20Filsafat%20Islam.pdf diakses tanggal 30 Nopember 2014.

[23] www.tuanguru.com/2011/11/perkembangan-filsafat-Islam.html. diakses tanggal 30 Nopember 2014.

[24] Nasution, Islam ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Jilid II, hlm.47-58.

Share the knowledge!
Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Pin on Pinterest0Email this to someoneShare on Tumblr0Share on Reddit0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *