Peradaban Lembah Sungai Indus (3000-500 SM)

Share the knowledge!
Share on Facebook15Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Pin on Pinterest0Email this to someoneShare on Tumblr0Share on Reddit0

Peradaban Lembah Sungai Indus menurut para arkeolog pernah berlangsung di Lembah Sungai Indus pada tahun 3000-500 SM. Zaman ini sering disebut zaman Chalcolithicum. Letak lembah Sungai Indus tepatnya berada di daerah perbukitan Baluchistan. Peradaban Sungai Indus dialiri lima anak anak sungai: Yellum, Ravi, Chenab, Beas, dan Suttly (Punjab). Daerah lembah sungai yang subur sehingga memungkinkan tumbuhnya kehidupan masyarakat yang menghasilkan peradaban yang cukup tinggi.

Wilayah ini didiami oleh bangsa Dravida yang merupakan suku asli dari India, yang memiliki ciri-ciri umum; kulit hitam, bibir tebal, hidung pesek, warna bola mata cokelat, postur tubuh pendek, berbadan tegap dan berambut ikal atau keriting. Dravida mempunyai kemajuan di berbagai bidang yaitu sistem pertanian bangsa dravida berbentuk agraris, sistem irigasi, hidupnya menetap, dan kehidupan dengan sistem tata kota.

lembah sungai indus
Situs peradaban Lembah Sungai Indus

Dari penemuan fosil-fosil, tampak bahwa di daerah itu terdapat dua tipe penduduk. Pertama, penduduk asli dengan ciri-ciri: kulit gelap, pendek, hidung lebar dan pesek dengan bibir tebal menonjol. Keturunan dari tipe ini sampai sekarang masih dapat kita jumpai di antara kasta rendah masyarakat India. Kedua, mereka yang seketurunan dengan suku Mediteranian. Orang-orang ini masih berhubungan erat dengan orang-orang yang hidup pada masa pradinasti di Mesir, Arab, dan Afrika Utara. Kulit mereka lebih terang, tubuh langsing, hidung mancung, dan bermata lebar.

Peradaban terbesar yang ada di daerah ini didukung dengan adanya keberadaan dua kota, yaitu Mohenjodaro dan Harappa yang kemungkinan dibangun oleh bangsa asli Dravida. Para ahli meyakini  bahwa pusat peradaban Mohenjodaro terletak di Lembah Indus yang berada di timur Sungai Indus, tepatnya di provinsi Sindu Pakistan dan kota Harappa diprovinsi Punjabi, India. Letak Mohenjodaro dan Harappa sendiri kurang lebih 800 km.

lembah sungai indus
Situs Harappa dan Mohenjodaro

 

Peradaban Lembah Sungai Indus

Sistem Pemerintahan Hasil Kebudayaan Kepercayaan
Memiliki dua kota yang sangat maju & mempunyai tata kota yang baik dan teratur pada masanya, yaitu Mohenjodaro dan Harappa.

 

Hidup menetap, dan hidup melalui sektor agraris, pedagang, dan pengrajin.

 

Menyembah dewi pertiwi yang dianggap sebagai sumber dari seluruh penciptaan dan mengenal sistem petapaan yang menekankan pada meditasi.
Wilayah dibagi menjadi dua, yaitu wilayah kota (pusat pemerintahan) dan wilayah administratif (daerah pemukiman).

 

Mohenjodaro:

sudah mengenal materai-materai berhuruf, memiliki kolam renang, sudah mengenal sistem drainase kota, terdapat perhiasan seperti kalung, gelang dan anting, baik yang terbuat dari perak ataupun emas, mereka juga sudah memiliki hewan ternak.

 

Di setiap wilayah memiliki kepala suku. Harappa:

Terdapat arca yang bernilai tinggi, ukiran yang terbuat dari terracotta, mengenal perkakas masak.

Baik Mohenjodaro dan Harappa   terdapat banyak seni pahat dan ukir, kerajinan, dan telah mengenal tulisan piktografik, memiliki rumah yang bertingkat sama seperti masa kini, bahkan sudah ada seni tari.

 

Ketika India masih di bawah kekuasaan pemerintah Inggris mulailah dirintis penggalian kota terpendam. Penggalian kota yang terpendam dipimpin oleh Sir John Marshall. Penggalian bekas kota dipusatkan di tepi Sungai Indus yaitu Harappa, Mohenjodaro, dan Chanhudaro.

Penggalian dilakukan sejak tahun 1925 di bekas kota Mohenjo-daro. Dari penggalian tersebut diketemukan antara lain:

  1. Materai-materai berhuruf, yang diduga sebagai sarana peringatan bahaya.
  2. Bangunan bekas rumah yang sudah memiliki pintu, ukuran batu bata yang sama, dan ditemukan pendopo. Peneliti menemukan kolam renang yang berukuran besar, dimungkinkan sebagai kolam renang yang disucikan untuk dewa-dewi. Ditemukan pula bangunan bekas perairan yang sudah tertata rapi, sistem drainase kota. Mereka sudah menggunakan alat-alat dari batu dan tembaga. Hal ini memperkuat bahwa warga masyarakat sudah mengenal dan menggunakan api.
  3. Perhiasan barang mewah menunjukkan keindahan berupa kalung, gelang, anting-anting yang terbuat dari emas dan perak. Alat-alat rumah tangga dan permainan anak-anak sudah dihiasi dengan seni gambar dan seni ukir yang indah.
  4. Mereka sudah mengenal binatang peliharaan, seperti: gajah, unta, kerbau dan anjing.

Dari penggalian di Harappa (daerah Punjab, sekitar 600 km utara kota Mohenjodaro) ditemukan, antara lain:

  1. Arca-arca yang telah memiliki nilai seni berkualias tinggi.
  2. Ukiran-ukiran kecil terbuat dari terracotta dengan berbagai bentuk, misalnya bentuk wanita telanjang dengan dada terbuka.
  3. Penghuni kota Harappa telah mengenal memasak, terbukti adanya peninggalan alat dapur terbuat dari tanah liat, periuk-periuk dan pembakaran batu bata.
  4. Arca-arca yang melukiskan manusia, lembu menyerang harimau, lembu bertanduk satu dan binatang angan-angan yang disucikan. Arca-arca ini menunjukkan tingginya teknologi peradaban masyarakat Harappa.

Ada beberapa pendapat yang dapat diajukan mengenai faktor keruntuhan peradaban Sungai Indus, yaitu:

  1. Kesulitan untuk mengontrol Sungai Indus bila terjadi banjir. Harappa barangkali ditinggalkan penduduknya karena bencana banjir.
  2. Penggundulan hutan oleh penduduk lembah Sungai Indus untuk diambil kayunya. Akibat penggundulan hutan ini adalah bahaya banjir dan erosi.
  3. Serbuan asing yang diperkirakan dilakukan oleh bangsa Arya. Bukti yang mendukung hal ini misalnya adalah ditemukannya kumpulan tulang belulang yang berserakan di suatu ruangan besar di tangga menuju tempat pemandian. Bentuk dan sikap tulang belulang itu ada yang menggeliat dalam posisi takut karena timbulnya serangan mendadak.

 

BIBLIOGRAFI

Keene, Michael. 2004. Agama-agama Dunia. Yogyakarta: Kanisius.

Supriyadi, Y. 2012. Sejarah Asia Selatan. Yogyakarta: Kalika.

Suud, Abu. 1998. Memahami Sejarah Bangsa-bangsa di Asia Selatan (sejak masa purba sampai masa kedatangan Islam). Jakarta: Dedikbud, direktorat jendral pendidikan tinggi, proyek pengembangan lambaga kependidikan.

Suwarno. 2012. Dinamika Sejarah Asia Selatan. Yogyakarta: Ombak.

Share the knowledge!
Share on Facebook15Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Pin on Pinterest0Email this to someoneShare on Tumblr0Share on Reddit0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *