History of Islam

Perang Shiffin (657 M)

Share the knowledge!
Share on Facebook19Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn2Pin on Pinterest0Email this to someoneShare on Tumblr0Share on Reddit0

Peristiwa terbunuhnya Utsman bin Affan merupakan sebuah tragedi dalam sejarah Islam. Pembunuhan yang terjadi akibat ketidakpuasan sebagian muslim ini sekaligus menandai retaknya persatuan di antara umat Islam yang telah dirintis oleh Rasulullah. Hal ini dibuktikan dengan tidak adanya stabilisasi politik setelah wafatnya Utsman. Pasca terbunuhnya Utsman, muncul sebuah konflik baru antara dua tokoh kuat muslim yakni Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Abu Sufyan. Konflik tersebut bermula dari ketidakmauan Muawiyah untuk berbaiat kepada Khalifah Ali dan akhirnya menyebabkan pecahnya Perang Shiffin.

Latar Belakang Perang Shiffin

Setelah  Perang Jamal dan Ali dibaiat oleh mayoritas kaum Anshar dan Muhajirin, Ali memindahkan kursi kekhalifahannya dari Madinah ke Kufa. Dari Kufa, ia mengirim gubernur-gubernur baru yang menerima pemikirannya, untuk mengambil alih fungsi administraif provinsi-provinsi yang memberontak. Akan tetapi salah satu dari para gubernur itu menolak berbaiat kepadanya, ia dalah gubernur Syam, Muawiyah ibn Abu Sofyan.

Muawiyah merupakan politikus yang sangat licin dan mempunyai ambisi besar. Perangainya yang lemah lembut dan tidak segan-segan mengelurkan hartanya, membuatnya menjadi politikus yang disegani dan memiliki banyak sekutu.

Ketika Ali mengutus Jarir bin Abdullah untuk menyerahkan surat kepada Muawiyah untuk berbaiat, Muawiyah tidak serta merta menerimanya. Ia justru mengumpulkan Amr bin al-Ash dan tokoh-tokoh negeri Syam untuk bermusyawarah.

Setelah bermusyawarah, mereka memutuskan untuk menolak berbaiat kepada Ali hingga para pembunuh Utsman ditumpas atau Ali menyerahkan para pembunuh tersebut. Jika ia tidak memenuhi permintaan ini maka  mereka akan memerangi Ali dan menolak berbaiat kepadanya hingga mereka berhasil menghabisi seluruh pembunuh Utsman tanpa sisa.

Setelah itu Jarir pulang menemui Ali dan menceritakan keputusan Muawiyah dan penduduk Syam. Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib merespon ancaman Muawiyah dengan berangkat dari Kufah bertujuan untuk menduduki Syam. Ia mempersiapkan  pasukan di Nukhailah dan menunjuk Abu mas’ud Uqbah bin Amru sebagai amir sementara di Kufah.

Sebelum berangkat beberapa orang menganjurkan agar khalifah tetap tinggal di Kufah dan cukup mengirim pasukan ke sana, namun beberapa orang lainnya menganjurkannya supaya turut keluar bersama pasukan.

Ketika berita keberangkatan pasukan Ali sampai kepada Muawiyah, ia segera bermusyawarah dengan Amr bin Ash yang juga menganjurkan Muawiyah untuk keluar bersama pasukannya. Amr lalu berpidato di hadapan penduduk Syam bahwa “Sesungguhnya penduduk Kufah dan Bashrah telah musnah pada perang Jamal, tidak tersisa bersama Ali kecuali segelintir orang saja. Termasuk sekelompook orang yang membunuh Khalifah Amirul Mukminin Utsman bin Affan. Allah Allah! Jangan sia-siakan hak kalian, jangan biarkan darah Utsman tertumpah sia-sia.”

Kemudian ia menulis pesan kepada seluruh pasukan di Syam, dalam waktu singkat mereka sudah berkumpul dan mengangkat panji-panji bagi amir masing-masing. Pasukan Syam telah bersiap-siap berangkat. Mereka bergerak menuju Eufrat dari arah Shiffin. Sementara di pihak lain, Ali bersama pasukannya bergerak dari Nukhlailah menuju tanah Syam.

Pecahnya Perang Shiffin

Kedua kubu saling berhadapan pada Juli 657 di tempat bernama Shiffin, di hulu sungai Eufrat. Sesampainya di Shiffin kedua pasukan sempat saling berebut sumber air, hingga menimbulkan konfrontasi kecil. Kemudian kedua pihak sepakat berdamai dalam urusan air ini. Sehingga mereka saling berdesak-desakan di sumber air itu, mereka tidak saling berbicara dan mengganggu.

Ali berdiam selama dua hari tanpa mengirim sepucuk surat pun kepada Muawiyah dan Muawiyah pun juga melakukan hal yang sama. Kemudian Ali mengirim seorang utusan kepada Muawiyah, namun kesepakatan belum juga tercapai. Muawiyah tetap bersikeras menuntut darah pembunuh Utsman.

Setelah terjadi kebuntuan dalam negosiasi maka pertempuran antara keduanya pun tidak dapat dihindarkan. Pada awalnya Ali mengajak Muawiyah untuk bertempur satu lawan satu, supaya konflik di antara mereka segera usai. Sehingga siapa yang hidup ia adalah yang menang dan menjadi khalifah. Namun, Muawiyah menolak ajakan itu, hanya Amr yang mau.

Ketika Ali dan Amr berhadap-hadapan dan menyentak lembing serta pedang masing-masing, hampir saja Amr tewas oleh pedang Ali. Pedang Alli telah mengenai pinggangnya, hampir menembus perutnya mengenai tali celananya dan putus, hingga auratnya terlihat. Ali tidak mau melanjutkan pertempuran itu dan berbalik menuju tempat lain dan membiarkan Amr menutupi auratnya.

Setelah itu, perempuran besar baru dimulai. Pada awalnya, Muawiyah mendominasi pertempuran , tetapi akhirnya pasukan Muawiyah dipaksa mundur karena mendapat serangan keras dari pasukan Ali. Bahkan, beberapa orang serdadu Ali telah sampai di depan kemah Muawiyah.

perang shiffin
Lukisan Perang Shiffin

Dalam pertempuran terakhir pada 28 Juli 657 M, pasukan Ali di bawah pimpinan Malik al-Asytar hampir menang ketika Amr ibn al Ash dengan licik melancarkan siasatnya. Ia memerintahkan pasukan Muawiyah untuk melekatkan salinan al-Quran di ujung tombak dan mengangkatnya, sebuah tanda yang diartikan pasukan Ali sebagai seruan untuk mengakhiri perang dan mengikuti keputusan al-Quran.

Ketika tombak-tombak pasukan Muawiyah diangkat, tentara Ali tidak menyerang lagi, padahal mereka hampir menang. Ali sendiri menganggap itu hanya tipu daya musuh saja. Ia berseru, “Wahai hamba Allah, teruskan merebut hakmu, teruskan memerangi musuhmu, Muawiyah. Amr bin Ash, Ibnu bin Muith, Habib bin Muslimah, Ibnu Abi Sarah, dan Dhihak ibnu Qais. Mereka itu bukanlah ahli agama, bukanlah ahli al-Quran. Aku lebih mengetahui keadaan mereka. Aku berteman dengan mereka sejak kecil dan sampai dewasa. Pada waktu kecil mereka hanyalah anak-anak nakal dan pada waktu besarnya mreka laki-laki yang jahat semata. Mereka mengangkat al-Quran hanyalah rencana mereka. Mereka mengangkat al-Quran tidak lain hanyalah tipuan.pecayalah pada apa yang kukatakan.”

Orang banyak itu menjawab, “tidak sampai hati kami akan meneruskan peperangan kalau kami telah diseru  kepada kitab Allah.”

Pada awalnya Ali hendak meneruskan peperangan, tetapi suara pengikutnya pecah. Sebagian dari mereka sudah tidak mau berperang lagi, sehingga Ali terpaksa menghentikan perang dengan hati yang amat kesal. Perang pun akhirnya berakhir, dan konflik antar keduanya dilanjutkan ke jalur perundingan.

Dimulainya Perundingan

Setelah perang berhenti, Ali mengutus Asy’ats ibnu Qaist untuk menemui Muawiyah dan menanyakan tentang tujuan mengangkat al-Quran di atas kepala tombak. Muawiyah menjawab bahwa maskudnya adalah agar perkara ini dihukumkan saja menurut hukum Kitabullah. Apa yang diputuskan oleh kedua orang yang diutus itu, maka kelak akan diterima. Asy’ats tidak melawan usulan Muawiyah, dan kembali untuk menyampaikannya kepada Ali.

Sebelum Ali menyatakan pikirannya dengan tergesa-gesa banyak orang telah menjawab setuju. Orang Syam yang mendengar itu lalu berkata bahwa utusan mereka adalah Amr bin Ash. Lalu pengikut Ali (orang Irak) berkata, “Kami memilih Abu Musa al-Asy’ari.”

Ali yang mendengar pendapat kaumnya lalu berkata, “Jika telah kamu bantah perintahku pada awal perkara ini, sekarang jangalah dibantah pula. Aku tidak suka berwakil pada Abu Musa.” Abu Musa memang merupakan orang yang dikenal saleh tapi ia tidak begitu loyal kepada Ali.

Namun, penolakan Ali justru ditekan oleh  mayoritas pengikutnya yang berkehendak untuk mengutus Abu Musa. Sekali lagi Ali terpaksa menurut. Pada waktu itu, terlihat bahwa pengaruh Ali mulai hilang terhadap pengikutnya. Di sisi lain, pengaruh Muawiyah semakin menguat kepada pasukannya.

Kedua juru runding memegang dokumen kesepakatan tertulis yang memberikan otoritas penuh untuk mengambil keputusan. Keduanya memutuskan untuk menunda perundingan hingga bulan Ramadhan. Ali dan Muawiyah menyetujui tempat perundingan yaitu di Daumatul Jandal, Adhruh.

Pada bulan Ramadhan yang telah disepakati atau pada Januari 659 M, kedua kubu bertemu kembali di Daumatul Jandal, Adhruh, dengan membawa 400 saksi dari masing-masing pihak.

Perundingan yang Merugikan

Apa yang tepatnya terjadi dalam perundingan bersejarah ini sulit dipastikan. Berbagai versi muncul dalam berbagai sumber yang berbeda. Ada riwayat yang menyebutkan bahwa kedua pihak sepakat untuk melengserkan kedua pemimpin mereka, sehingga melapangkan jalan bagi calon baru. Akan  tetapi setelah Abu Musa yang lebih tua berdiri dan menegaskan bahwa ia memecat Ali dari jabatan kekhalifahannya dan memilih Abdullah bin Umar, Amr mengkhianatinya dan menetapkan Muawiyah sebagai khalifah.

Namun, kajian kritis yang dilakukan sejarawan-sejarawan modern, memperlihatkan bahwa riwayat itu mencerminkan pandangan kelompok Irak (kebanyakan riwayatnya menjadi rujukan) yang berkembang pada masa Dinasti Abbasiyah, musuh Dinasti Umayyah.

Kemungkinan yang telah terjadi adalah bahwa kedua juru runding memecat kedua pemimpin mereka, sehingga Ali menjadi pihak yang kalah, karena Muawiyah tidak memiliki jabatan kekhalifahan yang harus diletakkan. Ia tidak lain hanyalah seorang gubernur sebuah provinsi.

Hasil arbitrase itu telah menempatkan dirinya setara dengan Ali, yang posisinya menjadi tidak lebih dari pemimpin yang diragukan otoritasnya. Berdasarkan keputusan para arbitor, Ali dilengserkan dari jabatan kekhalifahan yang sebenarnya, sementara Muawiyah dilengserkan dari jabatan kekhalifahan fiktif yang ia klaim dan belum berani ia kemukakan di depan publik.

Terdapat kerugian lain yang diderita Ali karena menerima tawaran arbitrase, yaitu turunnya simpati sejumlah besar pendukungnya. Pendukung yang membelot itu akhirnya membentuk sebuah sekte baru, bernama Khawarij. Kelompok ini pada perkembangannya akan memusuhi Ali dan akhirnya menyebabkan khalifah terbunuh dalam perjalanannya ke Masjid Kufah, pada 24 Januari 661 M.

BIBLIOGRAFI

As-Suyuthi, Imam. 2015. Tarikh Khulafa’. Terj. Samson Rahman. Jakarta: Pustaka al-Kautsar.

Bauer, Susan Wise. 2016. Sejarah Dunia Abad Pertengahan: Dari Pertobatan Konstantinus Sampai Perang Salib Pertama. Terj. Aloysius Prasetya. Jakarta: Elex Media Komputindo.

Hamka. 2016. Sejarah Umat Islam. Jakarta: Gema Insani.

Hasan, Hasan Ibrahim. 1989. Sejarah Kebudayaan Islam. Yogyakarta: Kota Kembang.

Hitti, Phillip K. 2006. History of The Arabs. Terj. Cecep Lukman Yasin dan Dedi Slamet Riyadi. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta.

Katsir, Ibnu. 2004. Al-Bidayah Wan Nihayah Masa Khulafaur Rasyidin. Jakarta: Darul Haq.

Lapidus, Ira M. 2000. Sejarah Sosial Ummat Islam Bagian I dan II. Terj. Ghufron A. Mas’adi. Jakarta: RajaGrafindo Persada

Share the knowledge!
Share on Facebook19Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn2Pin on Pinterest0Email this to someoneShare on Tumblr0Share on Reddit0

No Comments Found

Leave a Reply