Indonesian History

Sejarah Perang Tahta Jawa

Share the knowledge!
Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Pin on Pinterest0Email this to someoneShare on Tumblr0Share on Reddit0

 Kerajaan Mataram merupakan kerajaan Islam di Pulau Jawa yang berdiri pada abad ke-17. Kerajaan Mataram mengalami masa kejayaan pada masa kepemimpinan Sultan Agung. Setelah Sultan Agung wafat, ia digantikan oleh putranya yaitu Amangkurat I. Tahun 1703 raja Amangkurat I wafat dan kemudian digantikan oleh putranya yaitu Amangkurat II.

Dari sinilah mulai terjadi pertikaian. Pertikaian ini terjadi antara Amangkurat I dengan Pangeran Puger. Pangeran Puger meminta bantuan kepada VOC. Kemudian pada tahun 1704, Pangeran Puger dinobatkan oleh VOC sebagai raja dengan gelarnya Susuhunan Pakubuwana I. Peristiwa inilah yang disebut dengan peristiwa Perang Tahta Jawa I. Perang Tahta Jawa masih berlanjut sampai Perang Tahta Jawa III.

Silsilah Keluarga Mataram Surakarta

Silsilah Kerajaan Mataram bermula dari Ki Ageng Pamanahan yang mendapatkan sebidang tanah perdikan Mataram dari Sultan Hadiwijaya alias Jaka Tingkir dari Kerajaan Pajang pada tahun 1558. Hadiah ini diberikan karena Ki Ageng Pamanahan telah berjasa mengalahkan Arya Penangsang. Pada tahun 1577 Ki Ageng Pamanahan mulai membuka tanah tersebut untuk dijadikan wilayah pemukiman yang tertata. Akhir abad 16, pemkiman kecil itu tumbuh dan berkembang menjadi daerah yang makmur dan kemudian tumbuh menjadi pusat kekuasaan yang diberi nama Mataram.

Lambat laun semakin banyak saudagar-saudagar asing yang datang ke Mataram yang menyebabkan Mataram menjadi ramai dan makmur. Ki Ageng Pamanahan menjadi penguasa di Mataram. Namun, wilayah ini tetap berada di bawah kekuasaan Kerajaan Pajang. Ki Ageng Pamanahan menyebut dirinya sebagai Ki Gede Mataram setelah berkuasa selama kurang lebih 7 tahun.

Selama berkuasa itu, kedudukan Ki Ageng Pamanahan adalah sebagai pemilik tanah, dan petani sebagai buruh penyewa lahan. Hubungan antara penguasa dengan petani ini memunculkan hubungan antara gusti dengan kawula atau yang sering disebut dalam kehidupan Keraton adalah hubungan antara priyayi dengan wong cilik.

Setelah Ki Ageng Pamanahan wafat, kemudian diteruskan oleh Panembahan Senapati atau Sutawijaya. Sutawijaya memerintah mulai tahun 1587 sampai 1601. Sutawijaya sering disebut sebagai Pangeran Ngabehi Lor ing Pasar dan mempunyai gelar Pangeran Harya Mataram Senopati Pupuh.

Senopati melakukan pemberontakan terhadap Kerajaan Pajang. Senopati mengangkat dirinya sebagai raja Mataram dengan gelarnya Panembahan Senopati atau Senopati ing Alaga yang artinya panglima yang dijunjung tinggo atau sang panglima di medan perang.

Pengganti Sutawijaya adalah Raden Mas Jolang atau Panembahan Hanyakrawati yang memerintah dari tahun 1601 sampai tahun 1613. Setelah Raden Mas Jolang wafat, ia digantikan oleh Raden Mas Rangsang atau Pangeran Hanyakrakusuma atau yang lebih dikenal dengan Sultan Agung. Ia memerintah mulai tahun 1613 sampai tahun 1645. Pada masa kepemimpinan Sultan Agung, Kerajaan Mataram mengalami masa kejayaan.

Setelah itu digantikan oleh Amangkurat I atau Sinuhun Tegal Arum. Amangkurat I memerintah mulai tahun 1645 sampai 1677. Kerajaan Mataram mulai mengalami kegoyahan setelah wafatnya Amangkurat I. Setelah Amangkurat I wafat, Kerajaan Mataram mengalami berbagai pertikaian intern kerajaan Mataram. Pertikaian ini menyebabkan terjadinya Perang Tahta Jawa I, II, dan III hingga pada akhirnya terjadi Perjanjian Giyanti yang menyebabkan Kerajaan Mataram terpecah menjadi dua, yaitu di Surakarta dan Yogyakarta. Selain itu, penyebab lain adalah adanya faktor campur tangandari VOC yang pada waktu itu sudah berkuasa di Indonesia.

j2

Penyebab Terjadinya Perang Tahta Jawa

Perang Tahta Jawa terjadi akibat adanya pertikaian internal dalam karajaan Mataram. Pangeran Puger merupakan paman dari Amangkurat II. Sebelumnya, Trunojoyo melakukan pemberontakan terhadap Mataram. Berkat bujukan Belanda, Amangkurat II menyerang Trunojoyo dan berhasil membunuh Trunojoyo sehingga musuh Amangkurat II tinggal Pangeran Puger.

Pada waktu itu Pangeran Puger telah mendaulat dirinya sebagai sultan di Karta. Pertempuran antara keduanya terjadi lagi di kota Karta. Dalam buku karya G. Modjanto yang berjudul “Konsep Kekuasaan Jawa” disebutkan:

Dalam sejarah Mataram kita mengenal adanya perang saudara antara Mangku Rat II melawan adiknya, Pangeran Puger. Yang disebut kemudian mengadakan pemberontakan dengan menobatkan dirinya menjadi raja, mula-mula dengan berkedudukan di Jenar, Bagelen, kemudian di Plered, dengan gelar Sunan (Susuhunan) Ing Alaga. Ia dapat menghimpun kekuatan yang besar; karena itu hanya dengan bantuan VOC, Mangku Rat II berhasil menundukkannya. Karena terdesak Sunan Ing Alaga menyerah dan menyatakan taat kepada kakaknya. Ia pun kembali menjadi Pangeran Puger lagi.

Tahun 1704, Pangeran Puger dinobatkan oleh VOC sebagai raja baru dengan gelarnya Kanjeng Susushunan Pakubuwono Senapati Ing Ngalaga Ngabdurachman Sayidin Panatagama atau Pakubuwana I. Perang Tahta Jawa I berlangsung selama empat tahun dari 1704 sampai 1708. Tujuan terjadinya perang ini adalah untuk merebut Kartasura.

Pada tahun pertama, pasukan Amangkurat III di daerah pesisir yang berjumlah 40.000 orang berhasil dihalau. Pangeran Puger bersama Belanda menuju Kartasura dengan terlebih dahulu menjebol benteng Amangkurat III di Ungaran. Amangkurat mempercayakan kepada panglimanya untuk menjaganya, akan tetapi ternyata panglimanya justru membelot dan memihak Pangeran Puger. Hal ini menyebabkan mudahnya Pangeran Puger dan Belanda mendapat jalan menuju Kartasura.

Sehingga membuat Amangkurat III menyingkir dari keraton dan bergabung dengan Untung Surapati yang saat itu sedang menyusun kekuatan di Jawa Timur dan membentuk pemerintahan sendiri di pengasingan.[1] Surapati kemudian melakukan penyerangan terhadap Puger dan Belanda. Namun, pada tahun 1706 Surapati mengalami kekalahan dan akhirnya meninggal. Pada tahun 1707 Pasuruan berhasil direbut oleh pasukan gabungan Belanda dan Mataram. Amangkurat III bersama keluarganya dibuang ke Srilanka. Amangkurat III yang mengalami keputusasaan akhirnya mengakhiri hidupnya di Srilanka.

DAFTAR PUSTAKA

Buku:

Ardian Kresna. 2011. Sejarah Panjang Mataram: Menengok Berdirinya Kasultanan Yogyakarta. Yogyakarta: Diva Press.

  1. Moedjanto. 1987. Konsep Kekuasaan Jawa. Yogyakarta: Kanisius.

Raka Revolta. 2008. Konflik Berdarah di Tanah Jawa: Kisah Para Pemberontak Jawa. Yogyakarta: Bio Pustaka.

Suyono. 2003. Peperangan Kerajaan di Nusantara. Jakarta: Gramedia

Share the knowledge!
Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Pin on Pinterest0Email this to someoneShare on Tumblr0Share on Reddit0

No Comments Found

Leave a Reply