Perang Tujuh Tahun 1756-1763 M

Perang Tujuh Tahun merupakan perang antara berbagai kekuatan besar di Eropa. Tujuan dari perang itu untuk memperebutkan dominasi benua ini, sekaligus meguasai lautan dan wilayah jajahan. Dalam perang tersebut aliansi Austria, Prancis, Swedia, Rusia, dan Spanyol berhadapan melawan gabungan kekuatan Prusia, Inggris, Portugal, dan Hanover.

Latar Belakang Perang Tujuh Tahun

Penyebab Perang Tujuh Tahun berakar pada hasil konflik sebelumnya, Perang Suksesi Austria (1740-48). Perjanjian Aix-la-Chapelle yang mengakhiri perang ini tidak mampu untuk meredakan kemarahan Austria karena kehilangan provinsi kaya Silesia yang direbut Prusia. Perjanjian juga tidak mampu menahan ambisi kolonial Prancis dan Inggris yang saling bertentangan, sehingga memicu pertempuran baru yang lebih besar.

Meskipun Perang Tujuh Tahun pada dasarnya merupakan kelanjutan dari Perang Suksesi Austria, namun terdapat dua perbedaan signifikan dibanding perang sebelumnya.

Perbedaan penting pertama adalah bahwa Perang Tujuh Tahun benar-benar perang global, membutuhkan komitmen total dari sumber daya dan semua pasukan. Oleh karena itu, negara-negara yang berperang menempatkan semua yang mereka miliki untuk terus berjuang, keuntungan pun menjadi hal sekunder.

Perbedaan utama kedua adalah pergeseran definitif pada poros aliansi yang telah ada selama paruh pertama abad ke-18. Austria dan Inggris, sekutu lama, melanggar perjanjian mereka dan Austria memihak Prancis yang sebelumnya adalah musuhnya. Prusia pada gilirannya memutuskan hubungan dengan Prancis dan memihak Inggris.

Tokoh-tokoh utama dalam Perang Tujuh Tahun adalah Ratu Maria Theresa dari Austria; George II dan kemudian George III dari Inggris; Louis XV dari Prancis; Frederick II (kemudian dikenal sebagai Frederick Agung) dari Prusia; dan Ratu Elizabeth dari Rusia.

Kekuatan Setiap Negara

Prusia

Pada awal perang, Prusia memiliki 145.000 pasukan dan dianggap paling efektif di Eropa dalam pertempuran formasi linier. Hal ini dicapai dengan pelatihan menyeluruh yang disiplin.

Pada periode setelah Perang Suksesi Austria, Frederick II juga telah mereformasi kavaleri berat menjadi yang terbaik di Eropa. Kehebatan kavaleri Eropa berhasil menimbulkan pukulan kejutan terhadap musuh-musuh mereka.

Orang Prusia memiliki sistem yang sangat terorganisir dalam mempertahankan kestabilan tentara mereka di lapangan. Sistem kanton yang diperkenalkan pada tahun 1720-an dan 1730-an secara teratur memanggil semua pria berbadan sehat di distrik tertentu untuk diseleksi. Orang-orang terbaik akan melanjutkan ke unit reguler untuk latihan wajib militer. Mereka akan beraltih dengan resimen reguler selama setahun, sementara sisanya akan berlatih dengan resimen garnisun di daerah tersebut.

Inggris

Sebelum perang dimulai, Inggris memliki sekitar 90.000 pasukan. Jumlah pasukan mencapai hampir 150.000 orang selama perang, namun menemukan cukup banyak tentara untuk tentara adalah masalah tersendiri. Untuk mengisi barisan Angkatan Laut Kerajaan dan milisi setempat Inggris banyak menarik tahanan dari penjara. Sebagian besar tentara lantas ditempatkan di luar negeri.

Kekuatan terbesar tentara Inggris selama Perang Tujuh Tahun adalah kemampuannya untuk beradaptasi dengan berbagai kondisi. Ketika tentara diminta untuk berperang di Amerika Utara, menjadi jelas bahwa taktik linier tradisional tidak sesuai untuk pertempuran di daerah berhutan lebat di perbatasan. Agar efektif di hutan, tentara harus menggunakan senjata ringan agar dapat bergerak cepat.

Rusia

Kekuatan tentara Rusia adalah 333.000 orang, terbagi menjadi 174.000 pasukan lapangan dan sisanya adalah milisi dan tentara garnisun. Selama perang, Rusia biasanya hanya menggunakan antara 60.000-90.000 orang untuk satu kampanye.

Keunggulan jumlah pasukan adalah aset terbesar Rusia. Orang-orang Rusia mampu memberi lebih banyak bala bantuan daripada yang diperkirakan Prusia. Reformasi telah disusun untuk memperbaiki angkatan perang, namun hanya diimplementasikan saat perang dimulai dan tidak banyak menunjukkan hasil berarti di akhir.

Austria

Tentara Austria berdiri di 201.000 pasukan pada tahun 1756. Orang-orang Austria telah membentuk sebuah komisi reformasi setelah kekalahan dalam Perang Silesia tahun 1748. Pelatihan intensif juga dilakukan di semua cabang. Kekuatan Infanteri bersenjata  ditingkatkan, meski masih belum sampai tingkat yang sama dengan Prusia. Untuk mengimbangi kekuatan tempur Prusia, maka Austria mengandalkan strategi bertahan.

Prancis

Perang Tujuh Tahun menandai titik terendah bagi tentara Prancis pada abad ke-18. Jumlah pasukan berjumlah lebih dari 200.000 orang, namun beremampuan buruk. Kualitas kepemimpinan rendah, kurangnya disiplin, perwira yang tidak bersemangat dan penundaan pelaksanaan reformasi yang diperlukan menjadi sebab hal ini terjadi.

Namun ada beberapa pengecualian terhadap peraturan di antara pasukan Prancis di koloni-koloni tersebut. Pasukan Perancis yang ditempatkan di Amerika Utara adalah pasukan perbatasan yang sangat terlatih dengan strategi linier mereka. Inggris belajar dari kekalahan awal dari mereka untuk menerapkan taktik serupa dengan strategi pelatihan mereka sendiri.

Pasukan Perusahaan India Timur Perancis juga berkualitas tinggi. Pada akhir 1740an mereka menggunakan pasukan pribumi (suku Indian) dalam perang linier. Seperti di Amerika Utara, Inggris belajar dari kekalahan itu dan menerapkan teori Prancis kepada pasukan mereka sendiri di wilayah tersebut atau India.

Akan tetapi, orang Prancis tidak dapat memperkuat kekuatan kolonial mereka setelah tahun 1758 Angkatan Laut Kerajaan Inggris berhasil menghalangi akses angkatan laut Prancis ke koloni mereka sendiri. Pada saat yang sama, Inggris terus memperkuat koloni mereka melebihi jumlah orang Prancis.

Jalannya Perang Tujuh Tahun

Peperangan dimulai pada tahun 1756 dan berlangsung selama tujuh tahun. Pada masa awal perang ini Prancis dan Austria mendominasi peperangan, sehingga keduanya diramalkan bakal memenangi perang.

Namun, Inggris di bawah Perdana Menteri Pitt the Elder segera bergabung dengan Prusia. Kemenangan gemilang Prusia dalam pertempuran melawan Prancis di Rossbach pada tahun 1757. Kemenangan di Rossbach menandai titik balik peperangan.

Setelah menang di Rossbach, Prusia kembali menuai kemenangan di Leuthen melawan Austria dan di Zorndorf melawan Rusia. Kemenangan Prusia diikuti kemenangan Inggris atas Prancis di Plassey di India dan di Quebec, Kanada.

Perang Tujuh Tahun
Pasukan Prusia di Pertempuran Zorndorf

Pada tahun 1759, pertempuran semakin memanas yang ditandai dengan kemenangan pasukan Inggris-Prusia atas pasukan Prancis di Minden, Jerman. Sementara itu, angkatan laut Inggris juga menorehkan hasil gemilang dengan mengalahkan armada Prancis di Teluk Quiberon. Aliansi Inggris-Prusia terus menorehkan kemenangan, setelah pada tahun 1760 Inggris merebut Montreal, Kanada.

Untuk membalas kemenangan Prusia, Austria dan Rusia menambah jumlah kekuatan pasukan. Penambahan pasukan ini membuat pasukan Prusia merubah strategi perang menjadi bertahan untuk menahan gempuran pasukan tersebut.

Prusia hampir hancur, tetapi diselamatkan oleh kematian Tsarina Rusia, Elizabeth, yang wafat pada tahun 1762. Tsar baru Peter III menarik Rusia keluar dari peperangan dan meninggalkan Prusia dan Austria yang saling berhadapan untuk memperebutkan Silesia dan Saxony.

Orang-orang Prusia mampu meraih keunggulan di kedua provinsi. Namun perang tersebut tidak pernah mencapai tujuan akhir, karena kedua belah pihak telah kelelahan dan kehabisan sumber daya perang. Perdamaian pun menjadi satu-satunya jalan yang dapat ditempuh. Oleh sebab itu, seorang utusan Austria tiba untuk membuka negosiasi damai pada tanggal 29 November 1762.

Di tempat lain, dengan naiknya George III ke tahta Inggris pada tahun 1760, strategi Inggris mulai berubah. George III lebih memperhatikan perang di wilayah koloni dan kurang peduli dengan perang di Jerman.

Pada bulan Oktober 1761, aliansi pemerintah Inggris William Pitt dan Duke of Newcastle yang telah mempromosikan sebuah perang kolonial / kontinental bersama resmi berakhir. Lord Bute menjadi menteri utama dan Inggris pun mulai meninggalkan Prusia baik secara politik maupun finansial.

Awalnya kedua negara telah sepakat untuk tidak bernegosiasi dengan pihak manapun kecuali jika disetujui, namun Inggris melanggar kesepakatan ini saat mereka mulai mengajukan tawaran negosiasi kepada Prancis. Sikap Inggris tersebut menyebabkan keretakan hubungan yang serius antara Prusia dan Inggris.

Akhir Perang Tujuh Tahun

Perang Tujuh TahunPerang Tujuh Tahun akhirnya diakhiri dengan dua perjanjian damai yang terpisah. Pertama, Perjanjian Paris, melibatkan Inggris Raya, Prancis, dan Spanyol dan ditandatangani pada tanggal 10 Februari 1763. Di bawah persyaratannya, Inggris mendapatkan Kanada, Pulau Cape Breton, Newfoundland, lembah Sungai Ohio, dan semua tanah di timur Sungai Mississippi.

Prancis melepaskan semua klaim untuk New France dengan menerima imbalan hanya dua pulau di lepas pantai Newfoundland, St Pierre dan Miquelon. Prancis juga menerima Martinique, Guadeloupe dan Marie Galante di Karibia, sementara Inggris mempertahankan Grenada dan semua Lesser Antilles kecuali St Lucia.

Inggris juga menjadi kekuatan Eropa yang dominan di daerah Carnatic dan Bengal di India, sementara Pondicherry dikembalikan ke Prancis. Belle Isle (di lepas pantai Prancis) diberikan kembali ke Prancis sebagai imbalan bagi wilayah Minorca dan Inggris mengembalikan Goree di Afrika Barat dengan imbalan Senegal.

Prancis juga sepakat untuk mengevakuasi semua wilayah George III di Jerman dan sekutu-sekutunya. Inggris mengembalikan Kuba dan Filipina ke Spanyol sebagai pengganti Florida dan penarikan dari Portugal.

Orang-orang Austria dan Prusia menandatangani Perjanjian Perdamaian Hubertusburg pada tanggal 15 Februari 1763. Semua perbatasan tahun 1756 dikembalikan seperti semula. Austria menarik diri dari Silesia dan Prusia mundur dari Saxony. Silesia tetap menjadi bagian Prusia dan pembagian Prusia sebagai negara tidak terjadi. Sebenarnya hasil perang justru telah memperkuat peran Prusia sebagai kekuatan besar Eropa.

BIBLIOGRAFI

Gifford, Clive. 2009. Ensiklopedia Sejarah dan Budaya. Terj. Nino Oktorino. Jakarta: Lentera Abadi.

Marston, Daniel. 2001. The Seven Years’ War. Oxford: Osprey Publishing.

Toynbe, Arnold. 2007. Sejarah Umat Manusia. Terj. Agung Prihantoro. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Tucker, Spencer.C. 2011. Battles that Changed History : An Encyclopedia of World Conflict. California: ABC-CLIO, LLC.

Similar Posts:

Share the Knowledge!

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *