History of Islam

Perang Yarmuk: Momen Krusial Penaklukan Suriah (636 M.)

Share the knowledge!
Share on Facebook18Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn2Pin on Pinterest0Email this to someoneShare on Tumblr0Share on Reddit0

Perang Yarmuk merupakan pertempuran antara pasukan Arab Khilafah Rashidun, yang dipimpin oleh Abu Ubaydah ibn al-Jarrah dan Khalid ibn al-Walid melawan pasukan Kekaisaran Bizantium di bawah komando Theodorus Trithyrius dan Mahan dari Armenia. Pertempuran ini berlangsung selama enam hari pada bulan Agustus 636 di dekat Sungai Yarmuk, anak sungai terbesar di Sungai Yordan. Pertarungan tersebut menandai dimulainya gelombang besar pertama penaklukan militer Islam.

Latar Belakang Perang Yarmuk

Seusai Perang Riddah pada musim gugur 633 M, tiga pasukan yang setiap kelompok terdiri atas 3000 orang bergerak ke utara dan mulai menyerang Suriah sebelah selatan dan tenggara. Ketiga pasukan itu, dipimpin oleh Amr ibn al-Ash, Yazid ibn Abi Sufyan, dan Syurahbil ibn Hasanah.

Yazid mengangkat saudaranya Muawiyah (pendiri dinasti Umayyah), sebagai ajudannya. Yazid dan Syurahbil bergerak ke Tabuk-Ma’an, sementara Amr mengambil rute pesisir melewati Aylah.

Jumlah pasukan kemudian bertambah menjadi kira-kira 7.500 orang. Setelah Abu Ubaydah ibn al-Jarrah, yang tidak lama kemudian menjadi komandan pasukan gabungan, memimpin salah satu pasukan dan mengambil rute perjalanan haji kuno dari Madinah ke Emesa.

perang yarmuk
Pergerakan empat pasukan muslim pada tahun 634 M

Dalam pertempuran pertama di lembah Arabah, dataran rendah sebelah selatan Laut Mati, Yazid berhasil mengalahkan Sergius, seorang patrik dari Palestina, yang bermarkas di Caesarea. Ketika pasukan Sergius mundur ke Gazza, sisa-sisa pasukan itu dikalahkan kembali di Dathin dan hampir musnah tanpa sisa (4 Februari 634 M).

Dihadapkan dengan perkembangan ini, kaisar Bizantium Heraklius mengumpulkan pasukan besar di Antiokhia. Pasukan itu diorganisir menjadi lima tentara terpisah, termasuk orang Bizantium asli dan juga Slavia, Frank, Armenia, Georgia, dan Arab Kristen.

Heraklius berusaha memanfaatkan fakta di lapangan, bahwa pasukan Arab terbagi menjadi empat tentara utama: di Palestina, di Yordania, di Kaisarea, dan di Emesa (Homs) di Suriah. Sang kaisar berencana untuk memusatkan kekuatannya  dan mengalahkan orang-orang Arab satu persatu. Strategi Heraklius cukup berhasil, sehingga pertempuran sengit yang setidaknya mampu menahan laju pasukan Arab terjadi.

Sementara itu, Khalid ibn al-Walid, Sang Pedang Allah, yang beroperasi di Irak-memimpin sekitar 500 veteran Perang Riddah bekerjasama dengan Bani Syaiban, pimpinan al-Mutsanna ibn Haritsah, telah berhasil menguasai Irak. Khalid pun bersiap untuk melakukan serangan langsung ke Persia. Namun, sebelum serangan dilakukan, Khalid diperintahkan oleh Abu Bakar untuk segera berangkat dan membantu pasukan yang sedang bertempur di Suriah.

Setelah melakukan perjalanan berat selama 18 hari,secara dramatis Khalid muncul di dekat Damaskus dan langsung berhadapan dengan pasukan Bizantium. Dari sana, ia mulai memimpin beberapa serangan, dan dalam satu penyerbuan ia berhasil mengalahkan pasukan Kristen Gassan di Marja Rahit pada hari Minggu Paskah.

Kemudian, Khalid terus bergerak ke Bushra. Di tempat ini, ia berhasil secara gemilang membuka jalan untuk menggabungkan pasukan-pasukan Arab lain, yang kemudian menghasilkan kemenangan di Ajnadayn pada 30 Juli 634 M. Kemenangan ini melapangkan jalan mereka menuju Palestina.

Dalam pasukan gabungan itu, Khalid memegang komando tertinggi. Sejak saat itu, serangan-serangan sistematis dilakukan. Bushra, salah satu ibu kota kerajaan Gassan, jatuh tanpa perlawanan berarti. Fihl, di sebelah timur Yordania mengalami nasib serupapada 23 Januari 635.

Jalan menuju kota metropolis Damaskus, berhasil dibersihkan dengan mengalahkan musuh di Marja Shufar pada 25 Februari 635.

Dua minggu kemudian, Khalid telah berdiri di depan gerbang kota tertua di dunia, Damaskus. Pada malam bersejarah itu, Paulus melarikan diri dengan menuruni benteng kota. Damaskus akhirnya menyerah pada bulan September 635 M, setelah dikepung selama 6 bulan, karena pengkhianatan para penguasa sipil dan agama, termasuk di antaranya St. John.

Setelah ditinggalkan oleh pasukan Bizantium, penduduk sipil Damaskus menyerah. Syara-syarat penyerahan diri itu menjadi model perjanjian yang kemudian diterapkan di kota-kota Suriah-Palestina lainnya.

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang. Berikut ini beberapa jaminan dari Khalid ibn al-Walid kepada semua penduduk Damaskus jika ia masuk ke kota: ia berjanji akan menjamin keamanan hidup, harta benda, dan gereja mereka. Dinding kota tidak akan dihancurkan, pasukan Islam juga tidak akan memasuki rumah-rumah mereka. Kemudian kami akan memberi mereka janji Allah dan perlindungan Nabi-Nya, khalifah, dan semua orang yang beriman. Selama mereka membayar pajak, tidak akan ada yang menimpa mereka kecuali kebaikan.

Pajak kepala dipungut sebesar satu dinar atau satu jarib per orang.

Persiapan Menuju Medan Perang Yarmuk

perang yarmuk
Pergerakan kedua kubu menjelang Perang Yarmuk

Di tengah situasi yang semakin mendesak, Heraklius telah menghimpun pasukan dalam jumlah besar di bawah pimpinan saudaranya, Theodorus. Mereka mempersiapkan diri untuk melancarkan serangan besar yang paling menentukan.

Orang-orang Arab mempelajari garis besar rencana Bizantium dari tahanan orang-orang Bizantium, Khalid untuk sementara meninggalkan Emesa , Damaskus, dan kota-kota penting lainnya, serta menempatkan sekitar 25.000 pasukan di lembah Yarmuk, sebuah anak sungai di sebelah timur Yordania.

Alasan pemilihan Yarmuk karena lebih sesuai sebagai tempat operasi kavaleri. Selain itu, dekat juga dengan markas pasukan di Najd, sekaligus menawarkan rute pelarian yang strategis.

Sementara itu, pasukan Byzantium berkemah di sebelah utara Wadi Raqqad . Menurut sumber muslim, terdapat di 200.000-250.000 pasukan Bizantium dan tentara muslimsendiri hanya sekitar 24.000 – 40.000 orang. Namun berdasarkan perkiraan modern ada sekitar  50.000-100.000 pasukan Bizantium dan hanya 7.500-25.000 untuk orang Arab. Berapapun jumlahnya, semua sumber sepakat bahwa orang Arab kalah jumlah.

Komandan Lapangan Bizantium, Mahan, membentuk empat pasukannya dalam barisan pertempuran dengan lebar 12 mil. Ia membagi jumlah kavaleri sama dengan jumlah infanteri, menempatkannya di belakang untuk bertindak sebagai cadangan. Selain itu, Mahan juga menempatkan pasukan Kristen Arab-nya di garda terdepan.

Di pihak Muslim, Khalid menawarkan diri untuk mengambil alih komando tentara gabungan untuk perang di Yarmuk. Abu Ubaydah yang kalah pengalaman dalam strategi peperangan dari Khalid menerima usulan tersebut.

Khalid membagi tentara menjadi 36 infanteri dan 4 unit kavaleri, dengan garis depan sekitar 10 mil. Kavaleri tersebut membentuk sekitar seperempat kekuatan muslim.

Khalid membagi sebagian besar kavaleri ke bagian sayap sebagai cadangan untuk menghentikan pasukan Bizantium yang menerobos di sana. Sisanya, ia simpan sebagai cadangan di bawah komando pribadinya di tengah. Dengan demikian tentara muslim dibagi menjadi 4 sub kelompok dari 9 formasi infanteri. Masing-masing diorganisir atas dasar klan atau suku.

Pecahnya Pertempuran

perang yarmuk
Lokasi Perang Yarmuk berada di balik jurang

Pertempuran dimulai pada pertengahan Agustus 636 M, dengan dua tentara terpisah kurang dari satu mil. Bizantium memulai serangan awal terhadap pasukan muslim dengan mengirim empat pasukan. Namun serangan awal itu tidak kuat, karena Mahan hanya mencoba menemukan titik lemah di garis pasukan muslim.

Pada hari kedua, pihak Bizantium menyerang saat fajar. Mahan meluncurkan dua pasukan untuk menyerang bagian tengah garis muslim. Akan tetapi, serangan itu hanya untuk mengecoh, karena serangan utama datang dari sayap. Bizantium membuat kemajuan besar dengan serangan dari sayap ini dan nyaris meraih kemenangan. Namun, kavaleri cadangan Khalid membuat perbedaan dan muncul sebagai penyelamat. Kavaleri itu, pertama-tama menutupi sayap kanan pasukan muslim dan kemudian ke kiri.

Pada hari ketiga Byzantium memulai serangan lagi, kali ini mencoba menerobos lini di mana sayap kanan Muslim bergabung dengan bagian tengah. Lagi-lagi, pasukan kavaleri cadangan muslim membuat perbedaan, mencegah bencana dan mendorong Bizantium kembali ke posisi semula.

Pada hari keempat, Bizantium kembali mendekati kemenangan. Percaya bahwa serangan hari sebelumnya telah sangat melemahkan sayap kanan Muslim, Mahan melanjutkan serangan di bagian itu.

Kali ini, orang-orang Armenia dari tentara Byzantine benar-benar menembus garis kanan muslim dan melaju di perkemahan mereka. Namun, sekali lagi kavaleri cadangan Khalid mencegah bencana di hari itu.  Khalid membagi kavaleri itu menjadi dua bagian utama untuk menyerang orang-orang Armenia dari setiap sisi. Menghadapi pasukan muslim di tiga sisi, membuat orang-orang Armenia dipaksa untuk mundur, dan garis pasukan muslim dipulihkan. Ada kerugian yang signifikan di masing-masing pihak pada hari itu.

Pada awal hari kelima, Mahan mengirim seorang utusan kepada kaum Muslim yang meminta gencatan senjata beberapa hari untuk dinegosiasikan. Abu Ubaydah bersedia menerima usulan tersebut, namun Khalid menolaknya. Perang pun berlanjut, meski tidak ada pertempuran besar hari itu. Sampai hari kelima kaum Muslim tetap menggunakan strategi bertahan.

Baru pada hari keenam, dengan asumsi bahwa semangat pasukan Bizantium telah melemah, Khalid memerintahkan sebuah serangan. Ia berencana menggunakan pasukan kavalerinya untuk mengalahkan pasukan Bizantium, meninggalkan infanteri mereka tanpa dukungan kavaleri dan terbuka terhadap serangan dari sisi dan belakang. Selain itu, Khalid juga merencanakan penyerangan simultan besar-besaran di bagian kiri Bizantium yang akan menggulung mereka ke jurang sungai.

Khalid kemudian mengarahkan kavaleri untuk menyerang bagian belakang infanteri Armenia. Di bawah tekanan serangan tiga lapis kavaleri Muslim, orang-orang Armenia itu hancur, membawa sisa tentara Bizantium bersama mereka.

Pasukan Bizantium dan tentara bayaran yang terduri atas bangsa Arab dan Armenia yang tidak terbunuh di medan perang menyelamatkan diri ke tepi sungai yang terjal dan ke lembah Rukkad. Beberapa orang yang berusaha menyebrangii sungai justru hampir di bantai di sisi sebelahnya.

Theodorus sendiri tewas dan pasukan kerajaan berubah menjadi sekumpulan prajurit yang panik, putus asa dan berantakan. Saat itulah nasib Suriah berakhir. Salah satu provinsi terbaik untuk selamanya jatuh ke tangan Imperium Timur.

Perang Yarmuk mengamankan Suriah dan Palestina bagi kaum muslimin. Khalid kemudian merebut kembali Damaskus dan Emesa. Kaisar Heraklius kembali ke Konstantinopel untuk mengkonsolidasikan pasukannya melawan serangan muslim di Mesir. “Selamat berpisah, wahai Suriah,  sebuah negeri sempurna yang direbut musuh.” Demikian kata perpisahan yang diucapkan oleh Heraklius sebelum kembali ke Konstantinopel.

Di pihak lain, satu cobaan besar kepada pasukan muslim yang baru saja meraih kemenangan gemilang. Datang surat dari Madinah yang menyatakan bahwa khalifah Abu Bakar telah wafat. Sekarang yang memerintah ialah Umar bukan Abu Bakar lagi.

Peralihan administrasi di Suriah pun segera dilaksanakan. Abu Ubaydah seorang sahabat nabi yang terkemuka, diangkat oleh Umar sebagai gubernur jenderal di Suriah sekaligus komandan tertinggi menggantikan Khalid yang tampaknyanya kurang disukai Umar. Dengan sikap lapang dada,  segala urusan kepemimpinan diserahkannya kepada Ubaydah.

Khalid tetap menjadi serdadu biasa meneruskan pertempuran di tempat-tempat yang lain. Ketika ditanyai orang, Khalid berkata, “Saya berperang bukan karena Umar.”.

BIBLIOGRAFI

As-Suyuthi, Imam. 2015. Tarikh Khulafa’. Terj. Samson Rahman. Jakarta: Pustaka al-Kautsar.

Bauer, Susan Wise. 2016. Sejarah Dunia Abad Pertengahan: Dari Pertobatan Konstantinus Sampai Perang Salib Pertama. Terj. Aloysius Prasetya. Jakarta: Elex Media Komputindo.

Hamka. 2016. Sejarah Umat Islam. Jakarta: Gema Insani.

Hasan, Hasan Ibrahim. 1989. Sejarah Kebudayaan Islam. Yogyakarta: Kota Kembang.

Hitti, Phillip K. 2006. History of The Arabs. Terj. Cecep Lukman Yasin dan Dedi Slamet Riyadi. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta.

Katsir, Ibnu. 2004. Al-Bidayah Wan Nihayah Masa Khulafa’ur Rasyidin. Jakarta: Darul Haq.

Lapidus, Ira M. 2000. Sejarah Sosial Ummat Islam Bagian I dan II. Terj. Ghufron A. Mas’adi. Jakarta: RajaGrafindo Persada

Share the knowledge!
Share on Facebook18Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn2Pin on Pinterest0Email this to someoneShare on Tumblr0Share on Reddit0

No Comments Found

Leave a Reply