Puncak Kejayaan Abbasiyah (786-833 M)

Share the knowledge!
Share on Facebook2Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Pin on Pinterest0Email this to someoneShare on Tumblr0Share on Reddit0

Perkembangan peradaban umat Islam pada periode klasik, tidak dapat kita lepaskan dari ajaran al-Qur’an dan Sunnah. Islam mengajarkan betapa pentingnya ilmu pengetahuan, berangkat dari ajaran tersebut beberapa pemimpin Islam pada masa klasik memandang  ilmu pengetahuan sebagai aspek terpenting bagi kemajuan suatu peradaban. Dari pemahaman seperti itu, tidak mengherankan banyak wilayah Islam pada masa klasik muncul sebagai pusat peradaban dunia pada masanya. Salah satu pusat peradaban dunia yang terkenal pada masa klasik adalah peradaban Islam di Baghdad pada masa kejayaan Abbasiyah.

Dimulai dari masa pemerintahan Harun Al-Rasyid, hingga anaknya Al-Makmun. Ibu kota Kekhalifahan Abbasiyah tersebut menjelma menjadi pusat pemerintahan yang menawarkan kemajuan peradaban bagi masyarakat dunia. Banyak ilmuwan-ilmuwan muslim luar biasa yang muncul pada masa itu. Kehadiran Baghdad  layaknya oase untuk kegersangan keilmuwan pada masa klasik, sehingga tidak mengherankan orang-orang dari penjuru dunia berbondong-bondong menuju Baghdad untuk mencari ilmu di sana. Kemajuan keilmuwan juga dibarengi dengan kemajuan di sektor perdagangan, dan sistem perpajakan yang akan dipaparkan lebih lanjut pada pembahasan kali ini.

Baghdad: Pusat Kejayaan Abbasiyah

kejayaan Abbasiyah
Ilustrasi Kota Baghdad

Periode kejayaan dinasti Abbasiyah dimulai sejak masa kekhalifahan al-Mahdi (775-785) hingga al-Wathiq (842-847), dan mencapai puncaknya secara khusus pada masa pemerintahan Harun al-Rasyid (786-809) dan putranya al-Makmun (813-833). Pada masa Harun al-Rasyid Baghdad mulai muncul sebagai pusat peradaban dunia, dengan tingkat kemakmuran dan peran internasional yang luar biasa.

Baghdad menjadi saingan satu-satunya bagi Bizantium. Kejayaannya berjalan seiring dengan kemakmuran kerajaan, terutama ibu kotanya. Kemegahan Baghdad mencapai puncaknya pada masa al-Rasyid, dengan julukan Baghdad sebagai “kota melingkar”. Sementara itu kemajuan keilmuwan Baghdad mencapai puncaknya pada masa al-Makmun, dengan didirikannya Baitul Hikmah sebagai pusat perpustakaan dan kajian keilmuwan.

kejayaan Abbasiyah
Kota Melingkar Baghdad

Kemegahan Baghdad tercermin dari bangunan istananya, istana khalifah menempati sepertiga ruang kota Baghdad. Bagian istana yang paling mengesankan adalah ruang pertemuan yang dilengkapi dengan karpet, gorden, dan bantal terbaik dari Timur.

Harun al-Rasyid merupakan khalifah yang sangat mencintai keilmuwan, dia begitu senang bergaul dengan orang-orang berilmu, selain itu dia selalu mengagunggkan perintah dan larangan Allah. Dia tidak menyukai perdebatan dalam masalah agama, dan tidak suka membicarakan sesuatu yang tidak jelas nashnya.

kejayaan abbasiyah
Harun al-Rasyid

Meskipun hidup di istana yang sangat megah, al-Rasyid merupakan pemimpin yang dikenal dengan kedermawanannya. Dia tidak segan-segan memberikan sedekah dalam jumlah banyak bagi orang-orang yang membutuhkan. Kebesaran al-Rasyid, menjadi contoh ideal kerajaan Islam dan penerusnya.

Sifat dan perilaku yang sama juga tergambarkan pada putra al-Rasyid, yaitu al-Makmun. Al-Makmun merupakan sosok yang begitu mencintai literatur-literatur keilmuwan, bahkan dia menugaskan orang-orangnya untuk mencari literatur-literatur kuno ke penjuru dunia. Meskipun demikian banyak sejarawan yang dengan ceroboh menggambarkan kedua pemimpin saleh tersebut sebagai pribadi buruk yang senang mabuk-mabukan.

Ibnu Khaldun dalam Muqaddimahnya, dengan keras menentang pendapat tersebut. Al-Rasyid dan al-Makmun merupakan pemimpin saleh yang menjauhkan diri dari khamr, mereka hanya mengkonsumsi perasan kurma yang pada masa itu memang tidak melanggar syari’at agama. Sehingga, mereka sama sekali tidak pernah mabuk karena khamr.

Kemegahan istana dan harta yang melimpah pada masa al-Rasyid,  juga sering disalah gunakan saudara-saudaranya untuk berfoya-foya. Salah satunya adalah yang dilakukan oleh ‘Ulayyah, saudara perempuan al-Rasyid. ‘Ullayah menjadi wanita pertama yang menggenakan pengikat kepala berhiaskan permata, hanya untuk menutupi bekas luka di dahinya.

Baghdad sempat mengalami kehancuran, ketika terjadi perang saudara antara al-Makmun, al-Amin, dan pamannya Ibrahim ibn al-Mahdi. Perang yang dipicu keserakahan al-Amin, yang tidak melaksanakan amanat ayahnya Harun al-Rasyid, untuk memberikan otonomi wilayah kekuasaan Abbasiyah bagian timur kepada al-Makmun.

Tidak lama setelah itu, saat al-Makmun menjadi Khalifah, Baghdad kembali bangkit menjadi pusat perdagangan dan intelektual. Pada masa ini, sepajang pelabuhan ditambatkan ratusan kapal dari penjuru dunia. Tujuan mereka selain berdagang, banyak juga yang mempunyai tujuan untuk mencari ilmu.

Para pedagang memainkan peranan utama, bagi perkembangan perekonomian Baghdad. Selain itu, para pekerja professional dokter, pengacara, guru, penulis, dan sebagainya mulai mendapatkan kedudukan penting pada masa al-Makmun.

Kemegahan Baghdad selain tergambarkan dari literatur-literatur sejarah, juga masih dapat kita temukan pada karya-karya sastra yang terkenal hingga sekarang. Mulai dari cerita seribu satu malam, hingga cerita jenaka Abu Nawas, seorang penyair kesayangan al-Rasyid.

Kemajuan Ekonomi Daulah Abbasiyah

Sama seperti kemajuan negeri-negeri terdahulu, ekonomi menjadi salah satu faktor terpenting bagi kejayaan suatu imperium. Hal yang sama juga berlaku pada masa imperium Abbasiyah. Ekonomi imperium Abbasiyah digerakkan oleh perdagangan, dengan Baghdad menjadi pusatnya.

Sektor industri yang berasal dari daerah-daerah kekuasaan Abbasiyah, menjadi aspek penting bagi geliat perdagangan Abbasiyah. Tercatat kain linen di Mesir, sutra dari Syria, dan Irak, kertas dari Samarkand, serta berbagai produk pertanian seperti gandum dari Mesir, dan kurma dari Irak.

Bersamaan dengan kemajuan daulah Abbasiyah, dinasti T’ang di China juga mengalami periode kejayaan, sehingga hubungan perdagangan antara kedua imperium menambah semarak kegiatan perdagangan dunia. Banyak kapal-kapal China yang bersandar di pelabuhan Baghdad, begitu juga banyak perkampungan Arab di pelabuhan China.

Selain melalui jalur laut, perdagangan juga dilakukan memalui darat melewati Jalan Sutra. Dari sana, barang-barang dagangan dari Abbasiyah dikirim ke wilayah China dan India. Barang-barang dari Eropa pun harus melalui bandar perdagangan Abbasiyah, jika ingin mengirimkan barang ke China dan India. Begitulah gambaran perekonomian Abbasiyah, yang menjadi faktor kemajuan imperium tersebut.

Sistem Pemerintahan Abbasiyah Periode Kejayaan

Di bawah Khalifah, Jabatan Wazir memainkan peran vital dalam struktur pemerintahan Abbasiyah. Memasuki abad ke-9, jabatan Wazir telah berkembang menjadi kepala pemerintahan, dengan berbagai macam tugas seperti mengontrol birokrasi, menyeleksi petugas-petugas gubernur, dan terlibat di dalam kewenangan pengadilan Mazalim.

Pengembangan fungsi dan jabatan pemerintahan pusat pada intinya merupakan usaha memusatkan kekuasaan imperium, dan khalifdah semakin mudahmengendalikan, dan menjalin komunikasi dengan wilayah-wilayah provinsi dai kota Baghdad.

Selain kecenderungan pemerintah yang bersifat memusat ini, wilayah provinsi yang ada tidak seluruhnya diperintah oleh birokrasi. Terdapat peringkat pengontrolan pada tingkatan tiap provinsi, ada yang dikontrol langsung oleh pemerintah ada pula yang secara longgar kurang mendapatkan kontrol pemerintah.

Beberapa provinsi yang dikontrol secara langsung adalah Irak, Mesopotamia, Mesir, Syria, Iran Barat dan Khuzistan yang secara geografis sangat dekat dengan Baghdad. provinsi-provinsi tersebut diorganisir untuk menumbuhkan kepatuhan kalangan pejabat terhadap kehendak pemerintah pusat, dan menjamin penyetoran pajak wilayah provinsi kepada pemerintah pusat. Jabatan Gubernur relatif pendek, untuk mencegah pengembangan dukungan lokal yang dapat digunakan untuk memberontak.

Selain pemerintahan yang diperintah secara langsung terdapat beberapa daerah yang tidak mungkin dikontrol oleh pemerintah pusat. Secara Geografis, provinsi-provinsi itu terletak di dataran tinggi Caspian-Jilan, Provinsi-provinsi di Asia Tengah, dan sebagian besar provinsi Afrika Utara. Di wilayah-wilayah tersebut, Khalifah hanya membentuk sebuah garnisun untuk mengawasi pengumpulan pajak dan upeti.

Pemerintahan daerah diorganisir untuk kepentingan pajak. Beberapa survei dilakukan di kampung-kampung untuk memastikan jumlah tanah pertanian, jenis tanaman, dan target panen, selanjutnya informasi ini disampaikan ke pemerintah pusat. Pajak dari seluruh daerah haruslah dapat diperkirakan sebelumnya, sebagain untuk kepentingan masing-masing daerah.

Administrasi yang hirakris ini tidak mencakup seluruh tanah garapan. Sejumlah tanah pertanian, termasuk perkebunan imperium Timur Tengah yang terdahulu, properti gereja, tanah-tanah liar, dan tanah yang disita oleh khalifah, tidak termasuk bagian dari dari administrasi provinsial. Sistem perpajakan yang maju ini juga turut serta mendorong kemajuan imperium Abbasiyah.

Kebangkitan Intelektual Daulah Abbasiyah

Seperti yang sudah dipaparkan di atas, kejayaan dinasti Abbasiyah tidak dapat dilepaskan dari kebangkitan intelektual pada masa itu. Kebangkitan intelektual sebagian besar disebabkan oleh masuknya berbagai pengaruh asing, sebagian dari Indo-Persia dan Suriah, dan yang paling dominan dari pengaruh Yunani.

Gerakan intelektual ini ditandai oleh gerakan penerjemahan karya-karya berbahasa Persia, Sansakerta, Suriah, dan Yunani ke bahasa Arab. Sebenarnya, gerakan penerjemahan telah dimulai sejak masa dinasti Umayyah. Gerakan penerjemahan semakin berkembang pada masa dinasti Abbasiyah, jika pada masa Umayyah metode penerjemahan dilakukan per-kata maka pada masa Abbasiyah penerjemahan dilakukan per-kalimat. Dari metode ini, terjemahan menjadi lebih mudah untuk dipahami.

Pada masa awal kebangkitan penerjemahan, bahasa Yunani diterjemahkan ke bahasa Syria, baru kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. hal ini dikarenakan para penerjemah biasanya berasal dari pendeta Kristen Syria yang hanya memahami bahasa Yunani, dan bahasa Syria.

Dengan semakin gencarnya gerakan penerjemahan, semakin memperkaya literatur-literatur ilmu pengetahuan, filsafat, dan sastra dalam bahasa Arab. Orang-orang Arab Islam yang sebelumnya tidak terlalu mempunyai  keingintahuan yang tinggi, menjelma menjadi penerima dan pewaris peradaban bangsa-bangsa yang lebih tua.

Hanya dalam waktu beberapa tahun sarjana-sarjana Arab telah mampu menyerap ilmu dan budaya yang dikembangkan selama berabad-abad oleh orang Yunani. Selain Yunani, peradaban lain yang banyak berpengaruh pada pembentukan budaya universal Islam adalah budaya India, terutama dalam bidang mistiisme, astronomi dan matematika. Sementara untuk bidang sastra, pengaruh Persia begitu dominan dalam perkembangan sastra Abbasiyah.

kejayaan baghdad
al-Makmun

Titik tertinggi pengaruh Yunani terjadi pada masa al-Makmun. Kecenderungan rasionalistik khalifah dan para pendukungnya dari kelompok Muktazilah, yang menyatakan bahwa teks-teks keagamaan harus bersesuaian dengan nalar manusia, mendorongnya untuk mencari pembenaran bagi pendapatnya itu dari karya-karya filsafat Yunani.

Tidak lengkap rasanya membahas gerakan penerjemahan masa Abbasiyah, tanpa membahas tokoh utama penerjamahan masa itu. Ketua penerjemahan masa keemasan Abbasiyah adalah Hunayn ibn Ishaq, seorang penganut sekte Ibadi dari Kristen Nestor. Dia merupakan pelopor penerjemahan langsung dari bahasa Yunani ke bahasa Arab. Salah satu keberhasilannya adalah menerjemahkan tujuh buku Galen tentang anatomi, yang versi Yunaninya tidak ditemukan lagi pada masa berikutnya. Selain karya Galen, karya Plato, Republik dan Aristoeles, Categories termasuk beberapa literatur Yunani yang berhasil ia terjemahkan.

Baitul Hikmah: Pusat Kajian Keilmuwan Masa Kejayaan  Abbasiyah

Pada masa pemerintahan al-Makmun, dia membangun Bayt al-Hikmah (rumah kebikjasanaan), sebuah perpustakaan, akademi, dan biro penerjemahan, yang dalam hal ini merupakan lembaga pendidikan paling penting pada masanya.

Institusi ini merupakan kelanjutan dari institusi serupa di masa Imperium Sasania Persia, yang bernama Jundishapur Academy. Tetapi berbeda dari institusi pada masa Sasania yang hanya menyimpan karya-karya sastra, pada masa Abbasiyah fungsi institusi ini diperluas.

Baitul Hikmah telah dirintis sejak 815 M, kemudian Baitul Hikmah dipergunakan secara lebih maju yaitu sebagai tempat penyimpanan buku-buku kuno yang didapat dari berbagai penjuru dunia, dari Bizantium hingga India. Di institiusi ini, al-Makmun mempekerjakan Muhammad ibn Musa al-Khawarizmi yang terkenal sebagai ilmuwan muslim di bidang matematika dan astronomi.

Orang-orang Persia juga masih dipekerjakan di Baitul Hikmah. Direktur perpustakaan Baitul Hikmah sendiri adalah seorang nasionalis Persia, dan ahli Pahlewi, Sahl ibn Harun. Sehingga pada masa al-Makmun Baitul Hikmah selain sebagai perpustakaan, berkembang menjadi pusat kegiatan studi, dan penelitian. Sehingga tidak dapat dipungkiri, bahwa Baitul Hikmah memberikan kontribusi luar biasa bagi perkembangan keilmuwan muslim pada masanya.

BIBLIOGRAFI

As-Suyuthi, Imam. 2015. Tarikh Khulafa’. Terj. Samson Rahman. Jakarta: Pustaka al-Kautsar.

Bosworth, C. E. 1993. Dinasti-Dinasti Islam. Terj. Ilyas Hasan. Bandung: Mizan.

Hitti, Phillip K. 2006. History of The Arabs. Terj. Cecep Lukman Yasin dan Dedi Slamet Riyadi. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta.

Karim, M. Abdul. 2014. Bulan Sabit di Gurun Gobi. Yogyakarta: Suka Press.

Khaldun, Ibnu. 1986.  Muqaddimah. Terj. Ahmadie Thoha. Jakarta: Pustaka Firdaus.

Khuluq, Lathiful. 2012. “Perkembangan Peradaban Islam Masa Daulah Abbasiyah”. Dalam Siti Maryam dkk (ed). Sejarah Peradaban Islam dari Masa Klasik Hingga Modern. Yogyakarta: LESFI.

Lapidus, Ira M. 2000. Sejarah Sosial Ummat Islam Bagian I dan II. Terj. Ghufron A. Mas’adi. Jakarta: RajaGrafindo Persada

Share the knowledge!
Share on Facebook2Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Pin on Pinterest0Email this to someoneShare on Tumblr0Share on Reddit0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *