Rumah Sakit Islam Periode Klasik

Siapa yang dapat menafikan pentingnya peran rumah sakit dalam kehidupan manusia dewasa ini. Hampir di setiap daerah kita bisa menjumpainya. Akan tetapi tahukah pembaca jika rumah sakit merupakan salah satu sumbangan terbesar peradaban Islam bagi dunia kesehatan.

Mungkin belum banyak yang tau jika peradaban Islam merupakan yang pertama kali mendirikan rumah sakit di dunia. Mereka lebih mendahului bangsa-bangsa lain lebih dari sembilan abad. Oleh karena itu, pembahasan kali ini akan mengupas lebih jauh mengenai sejarah rumah sakit Islam periode awal.

Rumah Sakit Islam Pertama

Rumah sakit Islam pertama kali didirikan pada masa kekhalifahan al-Walid ibn Abdul Malik yang memegang jabatan dari tahun (705-715 M). Rumah sakit ini khusus menangani penyakit lepra, yang terkenal sebagai penyakit ganas saat itu.

Setelah itu, banyak rumah sakit didirikan di berbagai belahan dunia Islam lainnya. Sebagian mencapai prestasi yang tinggi, sehingga keberadaan rumah sakit-rumah sakit ini menjadi benteng ilmu kedokteran. Mungkin banyak yang mengira bahwa rumah sakit adalah produk barat, tetapi faktanya rumah sakit di Eropa baru dibangun lebih dari sembilan abad setelah Islam.

Rumah Sakit Islam dikenal juga dengan istilah al-Baimarastanat (tempat tinggal orang sakit). Terdapat dua macam rumah sakit saat itu, yakni: rumah sakit permanen dan rumah sakit yang berpindah-pindah.

Rumah sakit permanen adalah rumah sakit yang didirikan di kota-kota. Jarang sekali ditemukan sebuah kota Islam, meskipun kecil, tanpa ada rumah sakit di dalamnya.

Adapun rumah sakit yang berpindah-pindah adalah rumah sakit yang didirikan di desa-desa, padang pasir, dan gunung-gunung. Rumah sakit yang berpindah-pindah ini dibentuk dengan cara diangkut di atas sejumlah unta yang diperkirakan mencapai empat puluh unta.

Rumah sakit model tersebut mulai umum ditemukan pada masa sultan Mahmud as-Saljuqi yang memerintah antara tahun 1117-1131 M. Kafilah-kafilah ini dilengkapi dengan berbagai macam-macam peralatan medis dan obat-obatan, selain diikuti oleh sejumlah dokter. Mereka mampu mencapai setiap negeri yang berada di bawah kekuasaan Islam.

Kemajuan Rumah Sakit Islam

Rumah sakit permanen di kota-kota besar mencapai kemajuan yang sangat tinggi. Beberapa rumah sakit yang paling terkenal adalah rumah sakit al-Adhudi (981M) di Baghdad, rumah sakit an-Nuri di Damaskus (1154M), dan rumah sakit al-Manshuri al-Kabir Kairo (1284M).

Rumah sakit al-Adhudi didirikan oleh Adhdu Daulah ibnu Buwaih pada 981 M di Baghdad. Rumah sakit ini memiliki perpustakaan ilmiah besar, apotek, dan tempat memasak untuk pasien. Para pegawai dan seluruh komponen rumah sakit mencapai jumlah yang banyak. Para dokter juga mempunyai jadwal masing-masing untuk melayani pasien, dan selalu ada dokter yang bertugas berjaga dalam waktu 24 jam.

Baghdad 1
Ilustrasi kota Baghdad

Untuk Baghdad sendiri tercatat terdapat dokter yang sangat terkenal bernama Jibril ibn Bakhtisyu (w. 830M). Ia dikenal sebagai dokter khalifah al-Rasyid dan al-Makmun, dan diriwayatkan telah mengumpulkan kekayaan sebanyak 88.800.000 dirham. Kekayaan itu menunjukan bahwa profesi dokter bisa  menghasilkan banyak uang.

Sebagai dokter pribadi al-Rasyid, Jibril menerima 100 ribu dirham dari khalifah yang harus berbekam dua kali setahun. Selain itu ia menerima uang dalam jumlah yang sama karena jasanya memberikan obat penghancur makanan di usus. Keluarga Bakhtisyu’ melahirkan enam atau tujuh generasi dokter ternama hingga paruh pertama abad ke-11.

rumah sakit islam
Rumah Sakit Islam an-Nuri. Wikipedia

Rumah sakit Islam kedua adalah an-Nuri al-Kabir di Damaskus. Rumah sakit ini didirikan oleh sultan Nurrudin Mahmud pada 1154 M. Bangunan an-Nuri termasuk yang paling besar dan tetap eksis dalam waktu yang lama (1154-1899M).

Rumah sakit selanjutnya adalah rumah sakit al-Manshuri al-Kabir yang didirikan oleh sultan Mamluk, al-Manshur Saifuddin Qallawun di Kairo pada 1284 M. Rumah sakit ini menjadi contoh dalam hal ketelitian, kebersihan, dan sistematika. Dalam satu hari rumah sakit ini bisa mengobati lebih dari empat ribu pasien.

Rumah sakit-rumah sakit besar tersebut telah mempunyai bagian-bagian atau unit-unis spesialis. Terdapat bagian spesialis penyakit dalam; spesialis bedah dan operasi; spesialis kulit; spesialis mata; spesialis penyakit jiwa; spesialis tulang; dan lain sebagainya.

Rumah sakit bukan sekedar tempat pengobatan, tetapi pada perkembangannya juga membuka fakultas-fakultas kedokteran dengan kualitas terbaik untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Seorang dokter spesialis pada pagi hari biasanya mengunjungi pasien-pasien. Dalam hal ini ia disertai oleh para dokter muda yang sedang belajar praktik.

Sang dokter spesialis mengajari mereka, mendata pemeriksaan-pemeriksaannya, dan membuat resep. Sementara para dokter muda itu memperhatikan dengan seksama dan mempelajarinya. Setelah itu sang profesor pindah ke ruang aula besar di depan para mahasiswa. Ia membacakan buku-buku kedokteran, menjelaskan kepada mereka, dan menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar perkuliahan. Bahkan, ia menyelenggarakan ujian untuk setiap materi kuliah sesuai dengan kurikulum yang telah ditetapkan. Setelah mereka lulus ujian, ia memberi ijazah kepada mereka atas spesialisasi yang mereka pelajari.

Tidak mengherankan muncul beberapa dokter muslim yang namanya terkenal hingga saat ini. Di antaranya adalah Abu Bakr Muhammad ibn Zakariyya al-Razi (Rhazez, 865-924 M). Dapat dikatakan ia merupakan dokter muslim terbesar dan serta penulis yang produktif.

Ketika ia mencari tempat baru untuk membangun rumah sakit besar di Baghdad, tempat ia kemudian menjabat sebagai kepala dokter, diriwayatkan bahwa ia menggantung sekerat daging di tempat-tempat yang berbeda untuk melihat tempat mana yang paling sedikit menyebabkan pembusukan. Ia juga dipandang sebagai penemu prinsip seton dalam operasi. Fihrist menyebutkan 113 buku tebal dan 28 judul buku tipis karya al-Razi, 12 di antaranya membahas ilmu kimia. Salah satu karya utammanya dalam bidang kimia adalah Kitab al-Asrar.

Rumah sakit-rumah sakit Islam juga memiiliki perpustakaan besar yang memuat buku-buku yang berkaitan dengan kedokteran, obat-obatan, ilmu bedah, fungsi anggota tubuh, di samping ilmu-ilmu fikih yang berkakitan dengan kedokteran. Sebagai contoh perpustakaan rumah sakit Ibnu Thulun di Kairo yang memuat lebih dari seratus ribu buku.

Rumah sakit juga memiliki lahan tanah yang luas untuk ditanami dengan berbagai macam obat-obatan untuk menyuplai kebutuhan obat-obatan rumah sakit.

Ada pun langkah-langkah yang diambil rumah sakit untuk menghindari penularan penyakit sangat unik. Ketika pasien masuk ke rumah sakit, maka mereka wajib menyerahkan pakaian yang dikenakannya saat masuk. Kemudian, ia diberi pakaian baru secara gratis, tindakan ini dilakukan untuk mencegah penularan penyakit melalui pakaian yang dipakainya ketika sakit.

Selanjutnya, pasien masuk ke ruang khusus untuk jenis penyakitnya. Ia tidak diperboiehkan masuk ke ruang lain iuntuk mencegah penularan penyakit. Pasien tidur di ranjang yang tersendiri dan disediakan selimut dan obat-obatan yang khusus untuknya.

Kemajuan rumah sakit Islam ini dapat dibandingkan dengan rumah sakit yang didirikan di Prancis jauh berabad-abad setelah rumah sakit Islam. Di rumah sakit Prancis ini para pasien ditempatkan di satu ruang tanpa memandang jenis penyakit mereka. Bahkan, satu ranjang dbuat untuk tiga atau empat pasien. Kondisi diperparah ketika pasien penyakit cacat ditempatkan di samping pasien patah tulang atau perempuan yang melahirkan.

Para dokter dan perawat tidak mampu masuk ke dalam ruang kecuali memakai penutup hidung untuk melindungi dari bau menusuk di dalam ruangan. Bau tidak tersebut biasanya juga berasal dari pasien yang telah meninggal yang seringkali baru dipindahkan setelah lebih dari 24 jam.

Dari pemaparan di atas dapat kita gambarkan kemajuan ilmu kedokteran dunia Islam, sebuah pencapaian dan sumbangan yang luar biasa bagi dunia kesehatan.

BIBLIOGRAFI

Hitti, K. Philip. 2006. History of The Arabs. Jakarta: Serambi.

Jaudah, Muhammad Gharib. 2007. 147 Ilmuwan Terkemuka dalam Sejarah Islam. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar

Raghib as-Sirjani. 2015. Sumbangan Peradaban Islam pada Dunia. Jakarta: Al-Kautsar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *