Sejarah Agama Buddha

Share the knowledge!
Share on Facebook27Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Pin on Pinterest1Email this to someoneShare on Tumblr0Share on Reddit0

Agama Buddha merupakan salah satu agama yang muncul dan berkembang pesat di daratan India. Agama ini mulai muncul pada abad ke-6 SM. Sebagai agama yang muncul pada masa itu, secara historis agama tersebut masih mempunyai kaitan erat dengan agama pendahulunya, yaitu agama Hindu. Pembawa ajaran agama ini adalah Sindharta Buddha Gautama, yang sebelum memperoleh pencerahan merupakan seorang pangeran kerajaan Maghada dan pemeluk agama Hindu.

Pedoman dan hukum-hukum yang diajarkan oleh Sindharta mempunyai tujuan akhir untuk melepaskan nafsu dan penderitaan dalam hidup manusia sehingga dapat mencapai nirvana. Sebagai agama, ajaran Buddha tidak bertitik tolak kepada Tuhan dan hubungan-Nya dengan alam semesta dan seluruh isinya. Agama Buddha justru bertitik tolak kepada keadaan yang dihadapi manusia dalam kehidupannya sehari-hari, khususnya tentang tata susila manusia agar terbebas dari lingkaran sukkha yang selalu mengiringi hidupnya.

Kelahiran Siddharta “Buddha” Gautama

Siddharta Gautama lahir sekitar tahun 560 S.M di gana-sangha (persekutuan mandiri) India Utara, dengan ibukotanya Kapilawastu. Ia merupakan pangeran dari kerajaan tersebut. Sebuah riwayat menceritakan kelahirannya yang menyatakan bahwa Maya, ibunya, sebelum mengandung Siddharta memimpikan seekor gajah putih masuk ke dalam rahimnya.

agama buddha
Ratu Maya bermimpi menjelang kehamilannya

Setelah mimpi aneh tersebut, raja menanyakan makna mimpi itu kepada 44 orang brahmana termahsyur di negerinya. Para Brahmana menyimpulkan bahwa raja akan segera memiliki keturunan. Peristiwa aneh kemudian terjadi di saat proses mengandung, meskipun telah mengandung lebih dari sembilan bulan, anak tersebut tidak kunjung lahir.

Baru ketika memasuki bulan ke-10 usia kandungan, anak tersebut lahir. Tujuh hari kemudian, ibu dari Siddharta Gautama meninggal. Siddharta kemudian diasuh dan dibesarkan oleh bibinya. Meskipun dibesarkan oleh bibinya, Sidharta telah menunjukkan kecerdasan di atas rata-rata. Bahkan ia sudah bisa menulis sebelum diajarkan oleh gurunya.

Menurut riwayat hidupnya Siddharta Gautama pada awalnya merupakan pemeluk agama Hindu, mengikuti orang tuanya. Untuk mencegah pengaruh kehidupan masyarakat yang mungkin dapat melemahkan keimanannya, maka ia tidak diizinkan melihat dunia luar istana.

Siddharta memperoleh pendidikan yang sangat isolatif dari masyarakat luar. Untuk menyenangkan dan mencegah munculnya keinginan melihat dunia luar, keluarganya memberikan kehidupan serba mewah kepadanya. Tetapi layaknya manusia pada umumnya, Siddharta mengalami kebosanan dan ketidakpuasan dengan kehidupan monoton yang dijalaninya.

Keluar dari Kehidupan Istana

agama buddha
Siddharta Gautama

Pangeran muda ini menikah dengan wanita bernama Gopa. Dari hasil pernikahan ini ia memperoleh anak, yang ia namakan Rahula. Rahula memiliki arti belenggu, pemberian ini mencerminkan kehidupannya yang terbelenggu layaknya terpenjara di istana.

Ketika Siddharta memasuki usia 29 tahun, ia beberapa kali berhasil keluar istana dan melihat kehidupan luar istana. Di luar istana ia mendapatkan 4 pengalaman yang memperkuat keinginannya untuk keluar dari istana semakin kuat:

  1. Ia melihat seorang laki-laki tua yang lemah dan menyaksikan betapa usia tua menghancurkan ingatan, keindahan, dan keperkasaan. Ia tidak pernah bertemu dengan orang tua sebelumnya.
  2. Ia melihat orang cacat yang tersiksa kesakitan, ia merasa kaget melihat penderitaan sedemikian rupa. Ia tidak pernah mengalami penderitaan seperti itu.
  3. Ia melihat orang sedang menangis dalam duka dan prosesi pemakaman. Perasaannya sangat terganggu oleh suasana penderitaan karena kematian. Ia tidak pernah melihat peristiwa kematian sebelumnya.
  4. Ia melihat seorang suci sedang mengembara, dengan rasa puas dan gembira, berjalan berkeliling dengan mangkok drema di tangannya. Ia tiba-tiba mengerti bahwa semua kesenangan hidup tidak berarti.

Proses Memperoleh Pencerahan

Empat pengalaman yang Siddharta alami, semakin memperkuat keinginannya untuk mencari pengetahuan akan kebenaran. Akhirnya pada tengah malam ia meninggalkan istana bersama istrinya, Gopa dan anaknya, Rahula.

Dalam proses mencari kebenaran, Siddharta berguru pada banyak pendeta Hindu yang sedang bertapa di hutan selama beberapa tahun, pertama ia berlatih meditasi, lalu hidup sangat miskin bersama lima temannya. Akan tetapi segala pelajaran yang mereka berikan belum mampu memuaskannya.

Siddharta kemudian pergi ke suatu tempat yang kemudian dikenal dengan nama Bodhgaya. Di sana ia bermeditasi selama beberapa tahun untuk mencari ilham sejati yang dapat memberikan tuntunan hidup. Ketika ia duduk menyendiri di bawah pohon bodhi untuk bermeditasi, saat itu lah hal yang ia nantikan terjadi. Ia memperoleh pengetahuan tentang kebenaran yang sejati.

agama buddha
Siddharta Buddha Gautama memperoleh pencerahan

Tiga malam berikutnya ia pergi melalui tiga tahap pencerahan, melawan godaan Mara, roh jahat. Pada malam pertama, seluruh kehidupan pertamanya lewat di depan matanya. Malam kedua, ia melihat lingkaran kelahiran, kehidupan, dan kematian beserta hukum yang menguasainya. Malam ketiga, ia mengerti tentang “Empat Kebenaran Mulia”: keseluruhan penderitaan, asal-usul penderitaan, penyembuhan penderitaan, dan jalan menemukan penyembuhan itu.

Ia kemudian sadar bahwa semua manusia mengalami penderitaan, akar penderitaan berasal dari keinginan kuat dan jika keinginan kuat itu berhenti, maka penderitaan pun berhenti. Sejak peristiwa itu ia memakai gelar Buddha, yang artinya telah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran yang sejati.

Selanjutnya, Siddharta dipanggil sampai tiga kali oleh Dewa Tertinggi, Brahma, untuk membantu orang lain menerima pencerahan. Panggilan untuk menyebarkan ajaran ini ia jalankan selama 44 tahun, dan pengikut pertamanya adalah kelima temannya yang dulu hidup bersama dalam kemiskinan.

Setelah melakukan penyebaran ajaran Buddha selama 44 tahun, Siddharta Buddha Gautama meninggal pada tahun 483 SM di Kusinagara. Tidak ada pengikutnya yang dapat menggantikannya, karena kedudukan Buddha bukan kedudukan yang dapat dicapai orang dalam waktu satu generasi saja.

Kepercayaan dan Ajaran Agama Buddha

Setelah Siddharta Buddha Gautama memperoleh pencerahan, ia memutuskan membatalkan kepergiannya ke nirvana agar dapat mengajarkan visinya kepada orang lain. Visi ini ia ajarkan dalam Empat Kebenaran Mulia atau disebut Catur Arya Sentani, dan Delapan Jalan Luhur atau disebut Astha Arya Margha.

Empat kebenaran luhur atau Catur Arya Sentani terdiri dari:

  1. Dukha, artinya penderitaan, maksudnya bahwa hidup di dunia adalah penderitaan. Sepanjang hidupnya manusia mengalami penderitaan, ajaran Buddha ditunjukan untuk membantu manusia mengerti makna penderitaan dan mengatasinya.
  2. Samudaya, artinya sebab penderitaan. Penyebab penderitaan adalah keinginan manusia yang kuat akan hidup, kesenangan, dan harta.
  3. Nirodha, artinya pemadaman. Pemadaman di sini maksudnya adalah menghilangkan penderitaan itu dengan jalan menyingkirkan keinginan kuat.
  4. Margha, jalan untuk menghilangkan keinginan kuat nafsu duniawi. Jalan yang dimaksudkan adalah jalan tengah antara aksese dan hedonisme, satu-satunya jalan untuk menghilangkan keinginan kuat itu.

Untuk menghilangkan keinginan kuat kehidupan duniawi, manusia harus menempuh delapan jalan tengah atau disebut Astha Arya Margha, yaitu:

  1. Mengerti empat kebenaran mulia dengan benar.
  2. Berpikir benar, yang membawa kepada sifat mencintai semua bentuk kehidupan, bahkan juga kepada kehidupan yang tingkatannya paling rendah sekalipun.
  3. Berbicara dengan benar, dengan tujuan yang mulia.
  4. Bertingkah laku dengan benar, menyangkut tindakan yang bermoral, penuh perhatian kepada sesama, dan melakukan kebaikan terhadap semua makhluk hidup.
  5. Mata pencaharian yang benar, maksudnya adalah supaya umat Buddha tidak mencari pencaharian dari hal-hal yang mengakibatkan kekerasan.
  6. Usaha yang benar untuk mengusir semua pikiran jahat.
  7. Perhatian yang benar menyangkut kesadaran terhadap kebutuhan orang lain.
  8. Konsentrasi yang benar dalam melakukan meditasi, sehingga ketenangan batin seseorang dapat tercipta.

Selama hidupnya, Siddharta “Buddha” Gautama tidak mengerjakan cara-cara menyembah kepada Tuhan maupun konsepi ketuhanan. Walaupun dalam wejangan-wejangannya kadang menyebut tuhan, tetapi ia lebih banyak menekankan tentang ajaran hidup suci, seingga banyak ahli menyebut agama Buddha sebagai ajaran moral.

Tidak disinggungnya konsep ketuhanan dalam agama Buddha tercermin dalam credo/syahadat agama Buddha atau disebut Triratna, yang berbunyi:

Budham Saranam gacchami : Aku berlindung kepada Buddha.

Dharman Saranam gacchami : Aku berlindung kepada Dharma (hukum-hukum agama).

Sangham Saranam gacchami : Aku berlingung kepada Sangha (orde pendeta).

Dalam susunan kalimat kesaksian tersebut tidak disebut nama tuhan, hanya ada penyerahan diri kepada Budha, Dharma, dan kepada Sangha.

Sementara untuk menegakkan Dharma, maka pengikut-pengikut Buddha pada umumnya wajib menjauhi larangan-larangan sebagai berikut:

  1. Dilarang melakukan pembunuhan terhadap semua makhluk.
  2. Dilarang melakukan pencurian, perampokan, penyerobotan, dan sebagainya.
  3. Dilarang melakukan perbuatan cabut, misalnya berzina.
  4. Dilarang berbuat dusta/menipu.
  5. Dilarang minum minuman keras.

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, Ajaran Buddha Gautama merupakan reformasi terhadap ajaran para Brahman. Ia sendiri dulunya berasal dari golongan Ksatria, sehingga tidak mengherankan jika banyak orang dari kasta tersebut yang menjadi pengikutnya.

Reformasi yang diadakan oleh Buddha Gautama antara lain:

  1. Meniadakan sistem kasta menurut agama Hindu.
  2. Meniadakan penyembahan kepada banyak dewa.
  3. Memberikan pengertian baru kepada hukum karma dan samsara/reinkarnasi.

Menurut Buddha Gautama, jika manusia mampu melaksanakan hidup suci dengan melenyapkan keinginan kuat nafsu kehidupan, maka setelah ia melalui serangkaian reinkarnasi pada akhirnya ia akan mencapai nirwana. Orang yang telah mencapai nirwana disebut Arahat. Dalam rangkaian reinkarnasi itu orang dapat menjelma menjadi manusia kembali, binatang atau dewa.

Aliran-Aliran Agama Budha

Beberapa abad setelah Buddha meninggal, Buddha Theravada dan Mahayana lahir sebagai dua aliran utama dalam pengajaran Budha. Buddha Theravada adalah jalan keselamatan yang biasanya diikuti oleh para rahib, sedangkan Buddha Mahayana adalah kelompok yang paling bear di antara dua kelompok aliran itu dengan lebih dari 300 juta pengikut di seluruh dunia.

Terdapat perbedaan yang mendasar di dua aliran ini, karena saat Buddha Gautama meninggal ajaran Buddha waktu itu belum dicatat atau dibukukan, maka ajaran yang diajarkan kepada murid-muridnya hanya tersimpan dalam ingatan mereka. Maka timbul perbedaan perubahan dan perbedaan penafsiran di antara dua aliran ini.

  1. Buddha Theravada

Buddha Theravada atau Hinayana merupakan aliran ortodoks dalam agama Buddha, yaitu aliran yang mempertahankan keaslian ajaran agama Buddha. Aliran ini dapat ditemuai di Sri Lankka, Myanmar, Thailand, dan beberapa tempat di Asia Tenggara. Theravada artinya jalan bagi kaum tua-tua, sementara Hinayana berarti kendaraan kecil. Ajarannya didasarkan pada kitab yang disebut Pali Canon, yang dipercayai pemeluk sekte ini sebagai catatan paling akurat tetang apa yang dikatakan dan dilakukan oleh Buddha.

Salah satu esensi pokok dari kitab itu adalah menekankan bahwa Buddha hanyalah seorang manusia, seseorang yang telah mencapai pencerahan, dan bahwa pencerahan dapat dicapai dengan mengikuti teladan dan ajarannya.

Tujuan tertinggi dari aliran ini adalah menjadi Arahat yaitu orang yang benar-benar telah lenyap nafsu dan keinginannya serta ketidaktahuannya, sehingga ia dapat mencapi Nirwana dan terbebas dari rangkaian samsara (reinkarnasi). Aliran ini menitik beratkan pada kelepasan individual, artinya tiap orang berusaha melepaskan dirinya masing-masing dari penderitaan hidup.

Dalam sekte Theravada terdapat dua golongan umat. Golongan pertama adalah para rahib Buddha, atau biasa yang disebut biksu. Mereka bergantung pada kaum awam Buddha untuk makanan dan pakaian mereka. Para biksu bebas dari tugas rumah tangga sehingga mereka mempunyai kesempatan yang baik untuk mencapai nirvana. Di antara para biksu itu, para rahib hutan lah yang paling dekat pada pencerahan karena meditasi mereka yang sangat ketat.

Sementara golongan kedua adalah pemilik rumah tangga. Golongan ini akan menerima kemurahan kelahiran kembali pada masa yang akan datang dengan cara memberikan makanan, pakaian, dan uang kepada para rahib.

  1. Buddha Mahayana

Mahayana yang artinya kendaraan besar adalah aliran yang mengadakan pembaharuan terhadap ajaran Buddha yang asli. Penganut aliran ini banyak dijumpai di negara-negara India, Nepal, Tibet, Mongolia, Tiongkok, Korea, Jepang, dan India. Tokoh terkemuka yang dianggap sebagai reformer oleh penganut aliran ini adalah Acvagosha. Ciri khas dari aliran ini adalah adanya upacara penyembahan kepada Tuhan dalam agama Buddha.

Jika meneliti lebih dalam konsepsi ketuhanan menurut aliran Mahayana, sebenarnya hampir menyerupai paham kedewataan dalam agama Hindu. Dengan demikian terdapat keterkaitan historis bahwa kepercayaan India lama itu masih tampak pengaruhnya di kepercayaan agama Buddha, khususnya Mahayana.

Dalam konsepsi ketuhanan aliran Mahayana masih tampak adanya pengaruh dari aliran Bhakti dan Tantra. Yaitu aliran yang merupakan perpaduan sinkretis dari berbagai macam kepercayaan, termasuk kepercayaan primitif di India.

Menurut Teologi Mahayana, yang disebut Buddha itu bukan hanya Buddha Gautama saja, melainkan terdapat 4 orang lagi yang disebut Buddha sebagai guru dunia, yaitu: Kakusandha, Konagammana, dan Kassapa yang telah datang sebelum Buddha Gautama, dan setelah Buddha Gautama kelak akan datang seorang lagi manusia Buddha yang bernama Maitreya.

Susunan wujud tingkat tinggi sampai wujud tingkat terendah menurut aliran Mahayana dapat dilihat di tabel berikut:

Tingkat Wujud Tingkat Alam
Adhi Buddha Maha Para Nirwana
Dhyani Buddha Para Nirwana
Dhayani Boddhisatwa Dewacan Arupa Dewacan Rupa Dewacan
Manusia Buddha

Manusia Binatang

Rupa
Arta

Asuraka

Kamaloka

Adhi Buddha adalah Buddha asli yang tidak lain adalah Tuhan Yang Maha Esa. Adhi Buddha ini bersemayam di dalam Maha Para Nirwana. Pada tingkat bawahnya terdapat Dhyani Buddha, yang merupakan pancaran dari Adhi Buddha. Dhyani Buddha mempunyai kedudukan sebagai dewa tertinggi yang bersemayam di surga Sukhawati.

Menurut kepercayaan aliran Mahayana, tujuan tertinggi bukan lah menjadi Arahat layaknya aliran Theravada, melainkan menjadi Boddhisatwa. Cita-cita pengikut aliran Mahayana bukan lah kelepasan individual, tetapi kelepasan bersama-sama orang banyak sehingga aliran itu diberi nama kendaraan besar, karena mempunyai jangkauan untuk menyelamatkan lebih banyak umat manusia.

Perbedaan Mendasar Aliran Theravada dan Mahayana

No. Theravada Mahayana
1. Manusia sebagai pribadi. Manusia terlibat dengan sesamanya.
2. Manusia sendirian dalam alam semesta (emansipasi dengan upaya sendiri). Manusia tidak sendiran (penyelamatan melalui rahmat).
3. Kebajikan utama: kearifan. Kebajikan utama: Karunia, belas kasih..
4. Agama sebagai jabatan seumur hidup (khususnya bagi para rahib). Agama itu penting bagi hidup di dunia (tidak terbatas di rahib).
5. Tujuan akhir: Arahat. Tujuan akhir : Boddhisatwa.

Kitab Suci Agama Buddha

Ajaran tertulis Buddha dibagi menjadi dua bagian, yaitu tulisan yang menurut tradisi berasal langsung dari Buddha sendiri, dan tulisan yang berasal dari sarjana dan orang-orang suci. Baik Buddha Theravada atau pun Buddha Mahayana memiliki kitab yang berbeda.

Kitab Suci Theravada

Selama berabad-abad ajaran Buddha pada awal masa lalu tetap dijaga keberadaaanya dan dituturkan kembali kapada umat Buddha oleh Sangha (komunitas para rahib yang didirikan Buddha). Pada abad pertama SM, ajaran ini ditulis dalam bahasa Pali di atas manuskrip daun palma di Sri Langka.

agama buddha
Pali Canon

Buddha sendiri berbahasa dengan menggunakan dialek Pali. Kitab suci ini kemudian dikenal dengan nama Pali Canon. Kitab suci ini pada perkembangannya dibagi menjadi tiga bagian yang dikenal dengn Tripitaka (tiga bakul).

  1. Vinaya Pitaka, berbicara mengenai
  2. Sutta Pitaka, terdiri dari bermacam-macam ceramah yang diberikan oleh Buddha.
  3. Abhimdhamma Pitaka, berisi analisis ajaran Buddha.

Kitab Suci Mahayana

Kitab Suci Mahayana pada awalnya ditulis dalam bahasa Sanskerta (bahasa India pertama). Kebanyakan isinya dapat dijumpai dalam Pali Canon tetapi dengan penambahan kitab-kitab lainnya. Ada pun kitab-kitab tambahan ini dipercayai sebagai “sabda Buddha”. Salah satu yang paling terkenal adalah Vimalakirti Sutra, yang berisi tentang seseorang yang berumah tangga tetapi hidupnya lebih suci daripada semua Boddhisatwa.

Ibadat Agama Buddha

Buddha merupakan seorang guru dunia dan bukan dewa. Ibadat umat Buddha di biara, kuil atau di rumah, meliputi penghormatan di depan patung Buddha dan memanjatkan doa-doa suci. Biara atau vihara, merupakan pusat peribadatan umat Buddha. Meskipun demikian prosesi ibadat juga dapat dilaksanakan di kuil dan di tempat pemujaan di rumah-rumah umat Buddha.

Biara Sebagai Pusat Ibadat Umat Buddha

agama buddha
Biara

Biara merupakan tempat untuk kegiatan spiritual di samping sebagai tempat belajar. Di tempat ini para rahib Buddha menjalani hidup berdevosi dan bermeditasi. Mereka mengajarkan Dharma “hukum universal”, yaitu ajaran-ajaran Buddha kepada manusia dan berusaha mendapatkan kebutuhan spiritual mereka. Para rahib juga dibutuhkan oleh umat untuk berbagai upacara yang menyangkut kehidupan antara lain, upacara kelahiran, upacara perkawinan, dan kematian.

Rahib Buddha hidup sesuai dengan pedoman yang terdapat dalam Pali Canon. Mereka juga juga mematuhi lima aturan tambahan khusus untuk para rahib, yakni:

  1. Tidak diperkenankan bergabung dengan berbagai bentuk hiburan, termasuk menyanyi dan menari.
  2. Mereka tidak diperkenankan tidur di atas tempat tidur yang mewah.
  3. Mereka tidak diperkenankan makan di luar jam makan biara.
  4. Mereka tidak diperkenankan menggunakan wewangian.
  5. Mereka tidak diperkenankan menerima pemberian berupa emas dan perak.

 

Bentuk Ibadat

Tubuh, bahasa, dan pikiran merupakan unsur integral dalam ibadat umat Buddha maka meditasi yang hening, ajaran, pemberian persembahan, dan puji-pujian dilakukan. Sebelum memasuki ruang pemujaan yang terdapat patung Buddha di dalmnya, para peserta ibadat menanggalkan alas kaki mereka. Lalu mereka mengatur tanggannya sebelum bersujud dengan posisi berlutut (untuk aliran Theravada), sementara untuk Mahayana dalam posisi berdiri.

Terdapat tiga persembahan pokok yang dapat dipersembahkan selama proses ibadat, yaitu:

  1. Persembahan bunga sebagai peringatan akan kehidupan yang tidak kekal.
  2. Persembahan lilin untuk mengusir kegelapan.
  3. Persembahan dupa sebagai peringatan akan keabadian harumnya ajaran Buddha.

Buddha Mahayana mempersembahkan tujuh macam persembahan kepada Buddha, yang sering dilambangkan oleh tujuh mangkok air yang dapat digunakan untuk minum, mandi, atau membasuh kaki.

Setelah persembahan dilakukan di tiga tempat perlindungan (Buddha, Dharma, dan Sangha) dan lima aturan didaraskan. Selanjutnya beberapa mantra diucapkan lalu dilanjutkan prosesi meditasi, biasanya juga ada pengajaran sebelum ibadat selesai.

BIBLIOGRAFI

Arifin, H. M. 1997. Menguak Misteri Ajaran Agama-Agama Besar. Jakarta: Golden Terayon Press.

Keene, Michael. 2006. Agama-Agama Dunia. Yogyakarta: Kanisius.

Manaf, Mujahid Abdul. 1994. Sejarah Agama-Agama. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Sutrisno, Mudji (ed). 1993. Buddhisme : Pengaruhnya dalam Abad Modern. Yogyakarta: Kanisius.

Swarnasanti, E. 2007. Riwayat Hidup Buddha Gautama. Bandung: Pustaka Karaniya.

Share the knowledge!
Share on Facebook27Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Pin on Pinterest1Email this to someoneShare on Tumblr0Share on Reddit0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *