Sejarah Bangladesh : Sebuah Negara Kecil Penuh Gejolak

Bangladesh merupakan salah satu negara muslim terbesar yang terletak di Asia Selatan. Sebelum merdeka negara ini memiliki perjalanan yang berliku. Mulai dari menjadi satu dengan India di bawah pemerintah kolonial Inggris, hingga menjadi bagian dari Negara Pakistan. Meskipun sebagai salah negara muslim terbesar, negara ini tidak pernah lepas dari bencana dan konflik, sehingga kemiskinan pun tidak terhindarkan.

Letak Geografis Bangladesh

sejarah bangladesh
Wilayah Bangladesh (http://ontheworldmap.com)

Republik Rakyat Bangladesh adalah negara kecil yang memiliki luas 144.000 kilometer persegi, sebuah wilayah yang sedikit lebih kecil dari negara bagian Wisconsin. Negara ini terletak di Teluk Bengal dan hanya berbatasan dengan dua negara, India dan Myanmar.

Secara luar biasa, hampir 150 juta orang – setengah dari populasi Amerika Serikat, atau sekitar lima kali lebih banyak orang yang tinggal di seluruh Kanada – hidup di wilayah kecil ini. Kondisi ini menciptakan kepadatan penduduk tertinggi di dunia, 2.600 orang per mil persegi.

Pemerintah Bangladesh menyadari bahwa penduduknya terlalu tinggi dan telah bekerja untuk mengatasi situasi ini. Dengan tingkat kenaikan populasi alami 2 persen per tahun, situasinya jauh lebih baik daripada di masa lalu. Tiga dekade yang lalu, tingkat kelahiran hampir dua kali lebih tinggi. Pada tahun 1970, rata-rata wanita akan melahirkan sekitar enam anak; sekarang, angka tersebut telah turun menjadi tiga.

Bangladesh juga merupakan negara Islam, dengan populasi Muslim terbesar keempat di dunia. Islam dibawa ke negara itu oleh orang-orang Turki dari Asia Tengah pada abad ke-13. Sejak diperkenalkan beberapa abad yang lalu, Islam terus berkembang. Hingga saat ini, tercatat 83 persen penduduknya beragama Islam. Sementara umat Hindu membentuk 16 persen populasi.

Kondisi alam Bangladesh tidak begitu bersahabat dengan penduduk setempat. Terlebih jika angin muson yang membawa hujan tiba, penduduk Bangladesh sangat rawan terjadi banjir. Kondisi diperparah karena sebagian besar petani dan lainnya tinggal di dataran rendah yang rentan banjir, sehingga dampak muson bisa sangat menghancurkan.

The United Nations Environment Programme (UNEP) memperkirakan bahwa 80 juta orang Bangladesh berada dalam bahaya akibat banjir. Jika iklim bumi terus menghangat dan permukaan air laut naik, kerentanan negara terhadap banjir akan menjadi jauh lebih buruk.

Siklon adalah bahaya alam lain yang dapat berdampak pada tanah dan penduduk Bangladesh. Siklon tropis terbentuk di ujung selatan Teluk Benggala selama musim panas dan kemudian bergerak ke utara menuju pantai Bangladesh. Siklon ini menyebabkan banjir dan gelombang pasang yang sering terjadi yang mempengaruhi dataran rendah.

Habitat manusia juga menimbulkan sejumlah ancaman terhadap lingkungan bangsa ini. Di antaranya adalah polusi air, penggundulan hutan, kekurangan air (selama musim kemarau), degradasi tanah, dan sejumlah masalah tambahan yang disebabkan oleh kelebihan populasi dan kemiskinan.

Bangladesh pada Masa Kolonial

Pada awal abad ke-20,wilayah Bengal merupakan salah satu wilayah Asia Selatan yang masuk dalam kolonialisasi Inggris. Bengal pada tahun 1905 dibagi menjadi dua wilayah; Bengal Barat dan Timur (Bangladesh sekarang ini).

Bengal Barat yang beribukota di Calcutta lebih banyak didominasi oleh orang Hindu. Sementara Bengal Timur yang beribukita di Dhaka lebih didominasi muslim.

Akan tetapi pada tahun 1912, Inggris kembali menyatukan wilayah Bengal akibat desakan dari orang-orang Hindu. Konflik pun tidak dapat dihindarkan dan semakin memuncak ketika wilayah-wilayah muslim di India meminta untuk dipisahkan dari India dan menjadi negara independen. Gagasan itu mendapatkan dukungan kuat dari Liga Muslim India.

Sementara muslim India mulai menyampaikan gagasan pemisahan wilayah, orang-orang Hindu tetap bersikukuh untuk bersatu. Mahatma Gandhi sempat mencoba meredakan ketegangan antara kedua golongan, namun karena perbedaan yang terlampau curam usaha tersebut gagal.

Akhirnya pemerintah Inggris mengeluarkan Undang-Undang Kemerdekaan India pada tanggal 14 Juli 1947. Undang-undang itu memisahkan wilayah kolonial India menjadi dua wilayah independen yaitu India dan Pakistan.

Pakistan merdeka pada tanggal 14 Agustus 1947, dan India merdeka pada tanggal 15 Agustus 1947. Kekacauaan pun tidak dapat dihindarkan.

Setelah kemerdekaan, ketakutan untuk masa depan segera menghantui jutaan umat Hindu yang pindah ke tanah yang kini terpisah dari India. Di sisi lain, jutaan muslim melarikan diri dari rumah mereka di India untuk mencari keamanan di tanah negara baru Pakistan.

Kekerasan, kerusuhan, penganiayaan, genosida, dan penculikan terjadi segera setelah kemerdekaan untuk dua negara baru. Diperkirakan 12 sampai 14 juta orang melarikan diri dari wilayah Pakistan atau India, dan lebih dari setengah juta orang meninggal.

Bergabung dengan Pakistan dan Perjuangan Memperoleh Kemerdekaan

Setelah Pakistan merdeka, wilayah Bengal Timur disebut sebagai Pakistan Timur. Pakistan adalah sebuah negara yang terbagi menjadi dua bagian di sisi berlawanan di benua India. Dua bagian itu terpisah sejauh 1.000 mil (1.600 kilometer).

Ibukota negara berada di Karachi dan sekitar 90 persen kekayaan negara dipusatkan di Pakistan Barat. Sementara itu, 90 persen penduduk negara tinggal di Pakistan Timur yang relatif miskin dan tidak berdaya.

Keputusan politik dan ekonomi yang dibuat oleh pemerintah Muhammad Ali Jinnah secara alamiah lebih menguntungkan Pakistan Barat.

Di antara keduanya juga terdapat perbedaan kebudayaan yang cukup menonjol. Salah satu perbedaan paling menojol adalah bahasa yang digunakan di masing-masing wilayah. Bahasa Urdu disarankan oleh Pakistan Barat untuk dijadikan sebagai bahasa nasional dan bahasa Bengali yang merupakan bahasa dominan Pakistan Timur menjadi bahasa kedua.

Permasalah pun muncul, karena kebanyakan orang di Pakistan Timur tidak bisa mengerti bahasa Urdu. Mereka sangat marah atas keputusan politik yang dibuat pemerintah untuk mengangkat bahasa Urdu sebagai bahasa resmi negara tersebut.

Pada tahun 1952, demonstrasi mahasiswa di Pakistan Timur berakhir dengan kekerasan saat polisi membunuh dua pengunjuk rasa. Dua tahun kemudian, Pakistan Timur berhasil menekan pemerintah Karachi untuk mengakui bahasa Bengali dan bahasa Urdu sebagai bahasa resmi negara tersebut.

Namun, benih pemisahan antara Pakistan Timur dan Barat sudah tertanam dengan kokoh karena masalah bahasa.

Liga Muslim menjadi partai politik setelah Pakistan mengamankan kemerdekaannya. Namun, dalam pemilihan 1954, Pakistan Timur menolak Liga Muslim dan memilih mendukung partai lokal seperti Partai Sosialis Petani dan Pekerja, serta Liga Awami (Liga Rakyat). Partai-partai ini lalu membentuk sebuah koalisi yang bekerja sama untuk menentang dominasi Pakistan Barat.

Isu baru yang semakin memanaskan pemisahan Pakistan Timur dan Barat muncul, setelah bantuan luar negeri yang dikirim ke negara itu kebanyakan diberikan ke Pakistan Barat dan sedikit sekali untuk Pakistan Timur.

Pada tahun 1966, pemimpin Liga Awami, Sheikh Mujibur Rahman (yang biasanya dipanggil Mujib), mengeluarkan enam point program politik dan ekonomi untuk Pakistan Timur. Gagasan utama dalam agendanya adalah untuk meningkatkan otonomi Pakistan Timur.

Sementara itu, Presiden Mohammad Ayub Khan dari Pakistan meresponnya dengan mendorong negara tersebut ke arah yang berlawanan, menuju integrasi Pakistan Timur dan Barat. Mujib ditangkap oleh pemerintah pada tahun 1968.

Akibatnya kekerasan, pemogokan, dan demonstrasi berlanjut. Pada tahun 1969, Ayub mengundurkan diri dan Jenderal Agha Mohammad Yahya Khan mengambil alih kendali pemerintah Pakistan. Ia menerapkan darurat militer untuk memadamkan kekacauan dan kekerasan.

Peristiwa berubah tak terduga pada tanggal 12 November 1970, ketika sebuah topan yang menghancurkan menghantam Pakistan Timur. Seperempat juta orang meninggal. Dua hari setelah topan tersebut, Jenderal Yahya datang dari Karachi untuk melihat situasinya. Ia tampak acuh tak acuh terhadap masalah, sehingga membuat rakyat Pakistan Timur semakin marah.

Keretakan politik terlihat jelas pada pemilihan bulan Desember tahun 1970 dan Pakistan Barat mulai memindahkan lebih banyak tentara ke Timur. Pada masa ini keretakan politik, ekonomi, dan sosial antara Timur dan Barat telah mencapai titik puncak.

Jenderal Yahya telah memutuskan untuk menundukkan Pakistan Timur dengan penggunaan militer. Tindakan keras yang merusak menggunakan militer dimulai pada tanggal 25 Maret 1971.

Keesokan harinya pada 26 Maret 1971, Bangladesh mengumumkan kemerdekaannya dari sebuah radio Stasiun yang disita di Chittagong.

Militer Pakistan terus memaksa Pakistan Timur untuk tunduk pada kekuasaan pemerintah pusat Pakistan. Bahkan mereka telah menyiapkan daftar pemimpin Pakistan Timur yang harus dilenyapkan. Ratusan orang meninggal pada malam pertama pertempuran sengit.

Di sisi lain, masyarakat lokal Pakistan Timur menyadari ini sebagai awal perang untuk pembebasan. Perang tersebut membawa banyak korban di Pakistan Timur. Tidak hanya tanah, infrastruktur, dan alam yang rusak atau hancur, tetapi juga diperkirakan satu juta orang meninggal dalam sembilan bulan pertempuran.

Akibat perang, delapan sampai sepuluh juta pengungsi membanjiri India dari Pakistan Timur. Hal ini mendorong Parlemen India untuk bertindak, mengutuk militer Pakistan dan memberikan dukungan kepada pemberontak di Bangladesh.

Tentara India kemudian mulai menyerang Pakistan Timur pada tanggal 4 Desember 1971 dan mengambil alih kota Dhaka. Hanya dalam 12 hari Angkatan Darat India dengan bantuan pejuang kemerdekaan Bangladesh berhasil memukul mundur pasukan Pakistan di Bangladesh.

Konstitusi Bangladesh diadopsi pada tanggal 4 November 1972. Konstitusi ini mencontoh Konstitusi India dan menciptakan sebuah bentuk pemerintahan parlementer. Mujib menjadi perdana menteri pertama dan Dhaka menjadi ibu kota bagi negara baru yang rapuh.

Gejolak Bangladesh Pasca Kemerdekaan

Setelah perang, kondisi Bangladesh berantakan. Kota-kota hancur, ekonomi hancur, dan penduduk yang dilanda kekacauan akibat kematian, pemerkosaan, kelaparan, dan penjarahan.

Pemerintahan baru menghadapi tugas berat untuk memperoleh kembali otoritas sipil dan menciptakan hukum dan ketertiban. Kelaparan besar pada tahun 1974 membuat situasi ini semakin genting. Pemerintah memperkirakan 26.000 orang meninggal, sementara beberapa sumber internasional mengklaim jumlahnya mendekati 1 juta

sejarah Bangladesh
Sheikh Mujibur Rahman, Perdana Menteri Pertama Bangladesh(Sumber: The Dhaka Post)

Dalam upayanya untuk memecahkan masalah negara dan perlawanan yang ada terhadap pemerintahannya, Perdana Menteri Mujib mengambil kebijakan lebih represif.

Partai politik dihentikan, media diberangus, dan kebebasan pribadi sangat dibatasi. Dia menciptakan sebuah negara satu partai dengan dirinya sendiri sebagai penguasa.

Kebijakan tidak populer ini akhirnya memunculkan usaha-usaha untuk menjatuhkan pemerintahannya. Dalam sebuah kudeta yang dipimpin oleh perwira militer muda, Mujib dan banyak keluarganya dibunuh pada tanggal 15 Agustus 1975. Kudeta ini mengantar periode pemerintahan militer yang berlangsung selama 15 tahun sampai tahun 1990.

sejarah bangladesh
Mayor Jenderal Ziaur Rahman, penggagas reformasi Bangladesh (sumber: http://en.bnpbangladesh.com)

Mayor Jenderal Ziaur Rahman menjabat sebagai pemimpin Bangladesh dari tahun 1975 sampai 1981. Kepemimpinannya berfokus pada pemulihan hukum dan ketertiban ke negara yang kacau. Ia juga mencoba membentuk partai politik dan mengadakan pemilihan umum, kendati demikian ada banyak usaha pembunuhan terhadapnya. Upaya terakhir berhasil. Pada bulan Mei 1981, Rahman terbunuh di Chittagong dalam kudeta yang dipimpin oleh Mayor Jenderal Manzur Ahmed.

Setelah beberapa saat wakil presiden memimpin negara tersebut, Hussain Mohammed Ershad merebut kekuasaan pada tahun 1982. Ia memegang kendali penuh dan mengumumkan darurat militer.

Pemerintahan Irsyad sangat dibenci oleh banyak orang Bangladesh, karena pemerintah sebelumnya telah terpilih dengan reformasi yang ditetapkan oleh Rahman. Sebaliknya, Irsyad adalah seorang diktator militer sejati.

Selama pemerintahannya, ia menjadikan Islam sebagai agama negara dan berjuang untuk mendemokratiskan negara tersebut. Pemerintahannya berakhir ketika tentara menarik dukungan darinya dan mendukung demokratisasi. Dengan rakyat dan militer yang menentangnya, Ershad mengundurkan diri pada bulan Desember 1990

Khaleda Zia (Sumber: https://www.gg2.net)

Pada awal 1991, pemilihan bebas diadakan dan Khaleda Zia dipilih oleh Parlemen untuk menjadi perdana menteri. Zia adalah istri Ziaur Rahman dan tetap sangat populer di negara ini. Ia bertugas sampai 1996 dan melembagakan sejumlah reformasi dalam bidang pendidikan dan membuat negara ini lebih demokratis.

Setelah masa kerjanya berakhr, oposisi Zia, yang dipimpin oleh Sheikh Hasina Wajed, mengambil alih pemerintahan. Dari tahun 1996 sampai 2001, Hasina menjabat sebagai perdana menteri dan bekerja untuk melanjutkan proses tata pemerintahan yang baik di negara ini. Salah satu kontribusinya adalah peningkatan pelayanan kesehatan. Zia kembali sebagai perdana menteri pada tahun 2001.

Sejarah poliyik Bangladesh dapat dikatakan selalu diwarnai dengan gejolak, penindasan militer dan peraturan oleh otoritas yang jauh telah meninggalkan bekas luka di negara tersebut, namun akar demokrasi tumbuh lebih dalam setiap tahunnya. Hingga saat ini semangat kemerdekaan manusia dan pencarian kebebasan tetap terus hidup di tengah situasi yang sulit.

Perkembangan Ekonomi Bangladesh

Perekonomian Bangladesh ditandai oleh kemiskinan yang ekstrem dan diliputi oleh pergolakan politik yang sering terjadi di negara tersebut. Setelah merdeka dari Inggris, diperkirakan 20 juta orang mengungsi, dengan Muslim bergerak dari India dan membanjiri Bangladesh. Migrasi ini menyebabkan negara ini kekurangan perumahan, dukungan medis, dan makanan.

Tapi masalah ini hanyalah permulaan dari masalah ekonomi negara. Banjir, siklon, dan tsunami menyedot sumber daya ekonomi Bangladesh. Kegagalan panen berulang mengakibatkan seringnya kelaparan yang menimpa jutaan orang. Korupsi politik dan pertikaian politik melemahkan kemampuan pemerintah untuk memenuhi potensinya dalam melakukan pembangunan

Pertumbuhan penduduk yang cepat seringkali melampaui keuntungan ekonomi tahunan. Kepadatan penduduk yang tinggi di negara tersebut menghilangkan lahan yang berpotensi produktif dari penggunaan pertanian. Pencemaran lingkungan juga adalah masalah besar dan membutuhkan biaya mahal untuk dipecahkan. Kekuasaan tidak memadai, bahkan negara menjadi salah satu negara dengan penggunaan energi per kapita paling rendah di dunia

Sama seperti negara berkembang lainnya, pertanian adalah pekerjaan utama mayoritas penduduk Bangladesh. Hampir dua pertiga dari angkatan kerja terlibat dalam pertanian. Namun, pertanian hanya menyediakan seperlima dari produk domestik bruto (PDB) negara tersebut.

Pertanian di Bangladesh adalah pekerjaan yang sangat menantang. Sebagian besar petani bekerja di sebidang tanah yang sangat kecil.

sejarah Bangladesh
Pertanian Bangladesh (sumber: wikimedia.org)

Sangat sedikit mesin yang digunakan, karena peralatan mahal dan tenaga kerja manusia murah. Menambahkan mesin pengolah, secara drastis akan meningkatkan pengangguran. Dengan demikian, upaya untuk meningkatkan produksi dengan menggunakan lebih banyak traktor dan mesin lainnya bukan solusi yang diinginkan untuk ekonomi perjuangan negara ini.

Untungnya, Bangladesh diberkati dengan tanah subur. Beras sangat penting sebagai bahan makanan utama bagi orang Bangladesh. Biji-bijian seperti gandum juga menjadi bagian penting untuk makanan. Tanaman utama lainnya termasuk rami (serat), teh, dan tembakau.

Bangladesh dikenal sebagai penghasil jute terkemuka di dunia, yang digunakan untuk membuat benang yang bisa ditenun menjadi kain, karung, karpet, tikar, tali, dan banyak produk lainnya.

Selain pertanian, industri menjadi salah penyumbang besar bagi roda perekonomian. Selama beberapa dekade terakhir, manufaktur telah menunjukkan pertumbuhan yang cukup besar di Bangladesh, karena tenaga kerja sangat murah.

Biaya tenaga kerja rendah memikat banyak produsen asing ke negara tersebut. Sejumlah perusahaan A.S. mempekerjakan penduduk dengan keterampilan rendah di Bangladesh dan tempat lain di Asia selatan dan timur.

Bangladesh juga terhubung dengan ekonomi global melalui perdagangan. Sebenarnya, satu-satunya cara negara maju untuk maju secara ekonomi adalah dengan menerima dan berpartisipasi dalam proses globalisasi. Karena biaya tenaga kerja yang rendah, Bangladesh dapat memproduksi barang-barang manufaktur lebih murah daripada di negara-negara dimana tenaga kerja lebih mahal.

Komoditi utama ekspor Bangladesh adalah pakaian, rami, kulit, dan makanan laut. Sementara mereka mengImpor beberapa barang yang meliputi mesin dan peralatan, bahan kimia, besi dan baja, tekstil, bahan makanan, produk minyak bumi, dan semen. Sayangnya, negara ini masih melakukan impor lebih banyak daripada ekspor dan defisit perdagangan ini menambah hutang dan kemiskinan negara.

Empat puluh satu persen produk negara itu dipasarkan ke negara lain. Pasar utama ekspor Bangladesh adalah negara maju seperti Amerika Serikat (24,2 persen), Jerman (13,2 persen), Inggris (10,6 persen), Prancis (6 persen), dan Italia (4 persen).

Sementara pasar impor berasal dari China (18,7 persen), India (14,7 persen), Kuwait (8 persen), Singapura (6 persen), dan Jepang (4,4 persen).

BIBLIOGRAFI

Ackermann, Marsha E (ed). 2008. Encyclopedia Of World History: The Contemporary World 1950 to the Present. New York: Facts on File.

Bowering, Gerhard. 2013. The Princeton Encyclopedia of Islamic Political Thought. New Jersey: PrincentonUniversity Press.

Phillips, Douglas A. 2007. Bangladesh. New York: Infobase Publishing.

Uddin, Sufia M. 2006. Constructing Bangladesh : religion, ethnicity, and language in an Islamic nation. Chapel Hill: University of North Carolina.

Similar Posts:

Share the Knowledge!

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *