Sejarah Demokrasi

Demokrasi berasal dari bahasa Yunani “demokratia” yang berarti pemerintahan rakyat. Pemerintahan rakyat merupakan sebuah pemerintahan di mana setiap orang memiliki suara tentang apa yang harus dilakukan. Sejarah demokrasi sendiri banyak dipercaya berakar dari Yunani kuno sekitar dua setengah milenium lalu (sekitar abad keenam SM).

Kelahiran Demokrasi

Di Yunani, anggota parlemen Athena bernama Solon (sekitar 630–560 SM) mempresentasikan versi awal demokrasi partisipatif, yang dicampur dengan elemen-elemen keadilan sosial.

Sejarah demokrasi
Solon

Ia bertujuan untuk mengoreksi kontrol pemerintah yang eksklusif dan opresif (menindas). Keinginan itu muncul karena pada masa itu para pemilik tanah kaya menggunakan pengaruh mereka untuk mengeksploitasi krisis ekonomi yang parah. Mereka merampas harta dan kebebasan penduduk miskin.

Solon yang terpilih sebagai hakim kepala pada 594 SM kemudian mulai menentang kaum penguasa. Reformasi yang bertujuan untuk memperbaiki sistem yang cacat dilakukan dengan cara membatasi kekuatan absolut golongan kelas atas.

Dalam prakteknya Solon membatasi pengaruh orang kaya dan memperkenalkan kode hukum yang lebih manusiawi dan seimbang. Ia juga meningkatkan peran Majelis Rakyat dengan menciptakan Boule (dewan multietnis warga negara berpenghasilan menengah), lalu membatasi otoritas Dewan aristokrat Pria Terbaik (Areopagus).

Pada 510 SM, Cleisthenes (sekitar 570–507 SM) melanjutkan reorganisasi konstitusional Solon. Ia menjadikan Majelis Rakyat satu-satunya badan legislatif, meningkatkan pengaruh Boule, merampas kekuasaan efektif Areopagus, dan memastikan partisipasi yang luas dan mendalam dalam kehidupan publik.

Di Athena, pemerintah membiarkan semua lelaki dewasa bebas yang menjadi warga negara memilih, baik kaya atau pun miskin. Sayangnya sistem itu memiliki kekurangan karena tidak mengakomodasi hak perempuan dalam politik.

Pada saat demokrasi mulai berfungsi di Athena, banyak negara kota lainnya memilih untuk menerapkan sistem tersebut di pemerintahan mereka. Akan tetapi kesempatan untuk memilih lebih sedikit daripada yang diberlakukan di Athena.

Sebagian besar negara-kota lainnya hanya mengizinkan warga pria dewasa bebas untuk memilih jika mereka memiliki tanah atau memiliki rumah mereka sendiri (yaitu, orang-orang kaya). Mereka juga tidak membiarkan wanita memilih.

Satu masalah besar bagi demokrasi pada masa kuno adalah kurangnya waktu bagi laki-laki untuk selalu pergi ke tempat pertemuan untuk memilih.

Kebanyakan pria punya pekerjaan, menanam padi, membuat sepatu, berperang atau apa pun. Mereka tidak bisa selalu berdebat dan memilih. Oleh karena itu, akhirnya dipilih beberapa orang yang akan melaksanakan sebagian besar pemungutan suara (model perwakilan) dan sisanya hanya datang ketika ada pemungutan suara yang sangat penting.

Di Athena, orang-orang yang menjadi perwakilan rakyat dipilih melalui jalur undian. Pria yang mendapatkan kemenangan di undian maka ia berhak duduk di Dewan 500. Kemudian ia akan melayani selama setahun di dewan tersebut.

Perkembangan Demokrasi

Berawal dari Yunani Kuno, selanjutnya demokrasi menyebar ke wilayah sekitar Laut Tengah. Akan tetapi demokrasi di kawasan ini hampir musnah oleh Kekaisaran Romawi sekitar 100 SM.

Di sisi lain, tempat-tempat seperti Athena terus menggunakan metode demokratis untuk membuat keputusan sendiri pada masalah-masalah lokal untuk waktu yang lama setelah itu.

Seribu tahun kemudian, pada Abad Pertengahan, beberapa kota di Italia – Siena, Florence, Genoa, Pisa, Venesia – kembali ke pemerintahan demokratis setelah Matilda dari Canossa meninggal. Demokrasi-demokrasi ini semuanya diorganisasikan dengan cara yang sedikit berbeda, tetapi tidak satu pun dari mereka memungkinkan orang miskin, perempuan, atau anak-anak untuk memilih, dan beberapa memiliki sistem undian seperti Athena.

Lebih jauh ke utara di Inggris, beberapa pria mendapat hak untuk memilih pejabat lokal dan perwakilan mereka di Parlemen pada Abad Pertengahan, tetapi raja masih memegang sebagian besar kekuasaan.

Demokrasi Italia ini, juga, akhirnya ditaklukkan oleh Kekaisaran Romawi Suci dan diperintah oleh kaisar Jerman.

Mulai tahun 1600-an, orang mulai berjuang untuk mewujudkan kembali demokrasi. Di Inggris, Cromwell merebut kekuasaan untuk membentuk Parlemen. Di Amerika, Perang Revolusi melahirkan Konstitusi pada 1789. Konstitusi tersebut memungkinkan orang dewasa bebas memilih jika mereka memiliki pertanian atau bisnis mereka sendiri.

Beberapa tahun kemudian, Revolusi Prancis membawa demokrasi ke Prancis (untuk waktu yang singkat).  Pada awal 1900-an, demokrasi masuk ke Spanyol – untuk sementara waktu. Meskipun negara yang menganut demokrasi mulai bermunculan, namun hak perempuan untuk memilih masih sangat dibatasi.

Dewasa ini banyak negara menganut bentuk negara demokrasi. Pada abad ke-20. sebagian besar orang miskin, orang kulit berwarna, dan wanita telah memenangkan hak untuk memilih, meskipun anak-anak dan orang asing masih tidak bisa.

Kendati negara yang menganut demokrasi telah menjamur, namun jumlah kekuasaan yang tersedia bagi para pemilih masih bervariasi dari satu negara ke negara lain dan beberapa negara Timur Tengah seperti Arab Saudi masih belum menerapkan sistem ini.

BIBLIOGRAFI

Bernard Crick. 2002. Democracy: A Very Short Introduction. Oxford: Oxford University Press.

Kurt A. Raaflaub. 2007. Origins of Democracy in Ancient Greece. California: University of California Press.

Mc. Neill, William H. 2010. Berkshire Encylopedia of World History 2nd Edition. Massahusetts: Berkshire Publishing Group.

Similar Posts:

Share the Knowledge!

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *