Sejarah Freemasonry di Indonesia – Part 2

Share the knowledge!
Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Pin on Pinterest0Email this to someoneShare on Tumblr0Share on Reddit0

simbol Freemasonry
simbol Freemasonry

Mohon maaf atas keterlambatan release artikel sejarah freemasonry di Indonesia part 2. Melanjutkan pembahasan yang telah diulas sebelumnya, jika di pembahasan sebelumnya telah dibahas bagaimana masuknya freemasonry di Indonesia dan perkembangan awalnya, kali ini saya akan membahas tentang pola propaganda freemasonry, tokoh-tokoh bumiputera yang bergabung dalam organisasi tersebut, dan Freemasonry tahun 1930-1959.

Pola Propaganda Freemasonry

Saya akan Sedikit menjelaskan pola propaganda Freemasonry. Seperti yang sudah disebutkan dalam artikel Illuminati and Knights Templar, Freemasonry merupakan organisasi yang dipergunakan Illuminati, untuk merekrut agen-agen yang dapat dipergunakan untuk menyukseskan tujuan mereka. Namun secret society tetaplah secret society, mereka akan menyamarkan kegiatan mereka sebenarnya dengan kegiatan yang dipandang postive oleh publik.

Jika anggota Freemason ingin memasukkan seseorang ke dalam kelompok tersebut, maka mereka harus dapat memberikan suatu gambaran baik dengan mengatakan, bahwa perkumpulan ini merupakan suatu organisasi sosial yang bertujuan untuk meningkatkan kemajuan. Para anggotanya hidup dalam persaudaraan yang dipenuhi dengan kecintaan dan persamaan. Tanah air seorang Freemason adalah seluruh dunia ini. Perlakuan semacam ini hanya berlaku untuk kepentingan syi’ar rahasia dan keakraban yang berlaku pada anggota.[1]

Pola seperti juga berlaku pada kegiatan Freemasonry di Hindia Belanda, sejak awal munculnya Freemasonry di Hindia Belanda, organisasi ini dikenal sebagai organisasi amal, pada beberapa puluh tahun terkahir abad ke- 19 berubah bentuknya menjadi bantuan kemanusiaan. Sumbangan keungangan pertama Freemasonry ditujukan terhadap Intituut vor Onderwijs aan Doven en Blinden (institut pendidikan untuk orang tuli dan buta) yang didirikan pada 1843 oleh Freemason Amsterdam.Sumbangan yang diberikan oleh loji-loji Freemasonry di Indonesia, terhadap orang-orang Indo-Eropa dapat dibagi ke dalam tiga bidang, yaitu : bidang perpustakaan, pendidikan, dan pemberian pinjaman.

Keanggotaan Freemasonry

Tidak dapat setiap orang dapat diterima sebagai anggota perkumpulan rahasia ini, terdapat persyaratan tertentu dalam penerimaan anggota. Syaratnya adalah yang bersangkutan memiliki profesi tertentu dan mempunyai prasaranan cukup untuk dapat hidup di suatu lingkungan yang luas, memiliki pengetahuan yang mumpuni, dan mempunyai garis keturunan terhormat.

Setiap calon anggota Freemason menerima suatu diploma keanggotaan. Diploma ini diberikan sesudah dilakukakn upacara penobatan dalam suatu resepsi. Dalam resepsi ini terdapat sumpah khusus dalam keanggotaan tingkat dasar Freemasonry. Sumpah khusus ini berupa janji setia dan menjaga kerahasiaan organisasi. [2]

Tokoh-tokoh Indonesia di Freemasonry.

Meskipun unsur Belanda dalam perkumpulan rahasia ini selalu dominan,pada abad ke-20, orang-orang bumiputera yang bergabung ke dalam Freemason berangsur-angsur bertambah. Sebagai akibatnya tepat sebelum pendudukan Jepang terdapat ±50 orang yang tergabung dalam perkumpulan. Meskipun demikian, jumlah orang Indonesia yang tergabung dalam organisasi hanya sekitar 4%, dari keseluruhan anggota, jadi dapat dikatakan orang-orang Belanda masih mendominasi keanggotaan organisasi.

Raden Saleh (1810-1880) seorang pelukis Jawa yang sangat terkenal dimasanya, dikenal sebagai orang Indonesia pertama yang bergabung ke dalam perkumpulan. Ia dilantik pada tahun 1836, sebagai anggota Freemason. Namun pelantikan tersebut tidak tidak berlangsung di loji Hindia-Belanda, melainkan di Den Haag, dimana ia menetap pada waktu itu. Di Den Haag ia tergabung dalam loji “Endracht Maakt Macht”. Begitu kembali ke Jawa, Saleh kemudian bergabung ke dalam loji “De Ster in het Oosten”.

Orang Indonesia kedua yang bergabung ke dalam Freemasonry adalah Abdul Rachman, seorang buyut dari Sultan Pontianak. Ia menjadi anggota loji Surabaya “De Vriendschap” pada 1844, dan Gedenkboek tahun 1917 memberitahukan ia merupakan anggota muslim pertama dari organisasi. Bupati Surabaya R.A Pandji Tjokronegoro, juga terdaftar sebagai loji “De Vriendschap” pada tahun 1908.

Selain “De Vriendschap” terdapat loji lain yang mempunyai beberapa anggota orang Indonesia, yaitu loji Mataram. Loji mataram sendiri didirikan pada tahun 1870 di pusat kebudayaan Jawa, yaitu Yogyakarta. Loji ini didirikan 30 anggota Freemasonry, yang seluruhnya adalah orang Belanda. Gedung loji Mataram terletek di jalan Malioboro (pada zaman Rafles dirubah namanya menjadi duke of Marlborough, St.). Gedung in disewakan kepada para anggota masonik oleh Hamengku Buwono VI, untuk kebaikannya suhu agung Netherland waktu itu, Pangeran Frederik, menyampaikan ucapan terima kasih terhadap sultan melalui surat pribadi.

Setelah sultan meninggal pada tahun 1877, pengganti-penggantinya tetap menghormati keputusan tersebut, sehingga gedung tersebut tetap menjadi perkumpulan Freemason hingga masa pendudukan Jepang. Dari loji Mataram ini dikenal beberapa tokoh Indonesia yang bergabung ke dalam perkumpulan. Salah satunya adalah Pangeran Notodirojo, ia adalah salah satu pendiri Budi Utomo, dan tergabung dalam keanggotaan loji Mataram, selain itu juga terdapat beberapa bangsawan yang tergabung dalam loji tersebut. [3]

Kemudian tokoh bumiputera yang dikenal sebagai orang Indonesia pertama yang memimpin loji Freemasonry, ia adalah Soemitro Kolopaking. Soemitro lahir di Banyumas pada tanggal 14 Juni 1887, pada tahun 1922 ia masuk loji Sint Jiant di Bandung, ini mengawali kiprahnya dalam organisasi Freemasonry Indonesia. Kemudian setelah kemerdekaan ia ikut mendirikan loji Purwa Daksina di Jakarta, loji Pamitraan di Surabaya, Loji Bhakti di Semarang, dan Loji Dharma di Bandung. Puncaknya pada tahun 1955 ia ditahbiskan oleh loji Agung Indonesia sebagai suhu agung pertama Indonesia.

Pelantikan Soemitro
Pelantikan Soemitro

Freemasonry di Indonesia 1930-1959

Keanggotaan Freemasonry telah tumbuh dengan pesat, pada abad 19 akhir hingga 20 awal. Akan tetapi, trend pertumbuhan positif tersebut tidak berlangsung selamanya, karena setelah tahun 1930 hingga 1959 keanggotaan Freemasonry justru mengalami penurunan secara berangsur-angsur. Setelah empat loji baru  didirikan pada awal tahun 1930an, loji-loji di Hindia Timur seluruhnya mencapai 25 buah. Ini merupakan jumlah terbesar yang pernah dicapai. Setelah perang, di Jakarta masih didirikan lagi loji “De Witte Roos”, yang berdiri sampai tahun 1959. Awalnya pendirian loji-loji baru ini sedikit mengimbangi penurunan keanggotaan, namun oleh karena tindakan pihak penguasa yang pada waktu itu diambil alih Jepang, perkembangan tersebut tidak dapat dilanjutkan.

Kegiatan Freemasonry sempat lumpuh akibat perang melawan bumiputera dan hubungan tegang dengan Freemasonry di Belanda. Setelah pendudukan Jepang organisasi ini mulai mencoba bangkit denga susah payah. Ternyata pengambil alihan kekuasaan oleh Jepang berdampak luar biasa bagi keanggotaan Freemasonry, bahkan pada periode 1940 hingga 1946 sempat terjadi kekosongan data anggota, baru pada 1947 data tersebut muncul kembali. Namun setelah itu catatan jumlah keanggotaan dicatat hanya tiap tiga tahun sekali. Untuk lebih detailnya mari kita lihat tabel data berikut ini :

TABEL

Dari tabel di atas, dapat dijelaskan bahwa penurunan jumlah anggota terjadi sejak 1930 dengan berangsur-berangsur. Setelah pendudukan Jepang, terjadi sedikit penambahan yang kemudian disusul oleh suatu kemerosotan yang tajam. Penurunan ini tidak bias dijelaskan secara demografis, apakah berkurangnya jumlah anggota secara drastis ini berjalan pararel dengan  berkurangnya penduduk Belanda akibat perpindahan kekuasaan.

Eksistensi Freemasonry ternyata masih hidup di kota-kota besar, meskipun dengan keanggotaan yang sangat sedikit. Berikut data keanggotaan loji-loji yang berada di tiap kotaTABEL 2

Demikian artikel Freemasonry Indonesia part 2, tunggu kelanjutan pembahasan akhir eksistensi dari Freemasonry di Indonesia pada artikel selanjutnya.

Referensi :

Muhammad Fahim Amin, Rahasia Gerakan Freemasonry dan Rotary Club

Stevens, Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda, dan Indonesia 1746-1792

[1] Muhammad Fahim Amin, Rahasia Gerakan Freemasonry dan Rotary Club, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 1993)., hlm. 27.

[2] Ibid., hlm. 24.

[3] TH. Stevens, Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda, dan Indonesia 1746-1792 (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2004)., hlm. 305

Share the knowledge!
Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Pin on Pinterest0Email this to someoneShare on Tumblr0Share on Reddit0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *