Sejarah Libya Modern Abad XIX-XX

Share the knowledge!
Share on Facebook1Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Pin on Pinterest0Email this to someoneShare on Tumblr0Share on Reddit0

sejarah libya
Bendera Libya

Libya merupakan negara yang terletak di wilayah padang pasir Afrika Utara, ketika membahas sejarah Libya modern maka tidak dapat dipisahkan dari kiprah Muammar Qadhafi sebagai pemimpin. Kamis 10 Oktober 2011, menjadi akhir dari perjalanan Muammar Qadhafi  dalam memimpin Libya selama  42 tahun. Pria yang dikenal dengan ide-ide visionernya ini meninggal dalam baku tembak antara pendukung Qadhafi melawan tentara oposisi yang didukung oleh NATO. Dalam perjalanan kariernya sebagai pemimpin Libya, dia menjadi pemimpin yang paling lantang dalam menentang kebijakan politik Timur Tengah,  Amerika Serikat, dan Israel.

Tercatat presiden Amerika Ronald Reagan, Bush, dan Perdana Menteri Israel, Simon Peres, menjadi pemimpin-pemimpin dunia yang sempat bermusuhan dengan Qhadafi. Mereka menuduh Qhadafi sebagai dalang atas kejadian-kejadian terorisme di dunia. Di balik berbagai kontroversi yang menyertai perjalanan hidupnya, kita tidak dapat menafikan Muammar Qhadafi merupakan salah satu pemimpin muslim yang visioner dengan berbagai kebijakan-kebijakannya, dan tokoh utama revolusi Libya yang meruntuhkan rezim lemah raja Idris. Untuk itu, pembahasan kali ini akan dipaparkan lebih jauh mengenai sejarah Libya periode modern, beserta kebijakan-kebijakan Muammar Qhadafi pasca revolusi al-Fatih.

Kondisi Sosial-Ekonomi  Libya Sebelum Revolusi 1969

Libya merupakan salah satu negara Afrika Utara yang sempat mengalami penderitaan akibat cengkraman imperialisme Barat. Sebelum mecapai kemerdekaan pada 24 Desember 1951, Libya mengalami beberapa kali hidup di bawah negara penjajah. Selama tiga dekade, Libya mengalami penjajahan di bawah Italia, dan hampir satu dekade administrasi Libya di bawah pemerintahan Prancis, dan Inggris.

Semenjak kongres tahun 1878, Italia mengklaim Tripolitania sebagai bagian dari wilayah imperial mereka, dan mereka berusaha memperkuat kehadiran perekonomian mereka di provinsi ini. ketegangan diplomatik Prancis-Jerman memberikan kesempatan bagi Italia untuk melakukan invasi di Libya pada tahun 1911. Italia menduduki beberapa kota, dan memaksa Utsmani agar mengakhir pemerintahan mereka terhadap Tripolitania, dan Cyrenaica, namun Sanusiyah yang mengklaim sebagai pewaris otoritas Utsmani di Libya. Sehingga sempat terjadi konfrontasi antara pasukan Italia, dan pengikut Sanusiyah.

Baru setelah perang dunia I Italia dapat mengalahkan oposisi lokal di Tripolitania, Italia benar-benar bisa menguasai keseluruhan wilayah Libya setelah peperangan sengit melawan masyarakat badui di Cyrenaica antara tahun 1923 sampai 1932. Pasukan Italia merampas sebagian pertanahan mereka, dan menjajah negeri tersebut. Para pemuka Sanusiyah dipaksa keluar, dan menjalani pengasingan, dan ketika mereka meraih kembali sebuah otoritas spiritual, mereka diwajibkan mengakui pemerintahan Italia. Pada tahun 1934, Italia memutuskan menyatukan Cyrenaica, dan Tripolitania menjadi Libya modern.

Pasca kekalahan Italia dalam Perang Dunia II, Libya jatuh di bawah kekuasaan Inggris, dan Prancis. Pada saat itu Libya dibagi ke dalam tiga federasi, dengan tiga pemerintahan provinsi, dengan luas wilayah 1.768.00 kilometer persegi, dan populasi 2,5 juta jiwa. Tiga provinsi tersebut adalah Cyrenaica, di bagian timur dengan ibu kotanya Benghazi, Tripoli di barat, dan Fezzan di selatan. Provinsi-provinsi tersebut dibagi berdasarkan suku-suku yang berpengaruh, dan regional penduduk. Meskipun begitu kekuasaan administrasi sekutu tidak bertahan lama, karena Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) memutuskan menjadikan Libya sebagai sebuah negera merdeka pada 1951.

sejarah libya
Tripoli tahun 1951

Keadaan Libya pada tahun 1951 sangat miskin, dan mengenaskan. Sembilan puluh persen wilayah Libya merupakan padang pasir. Selain didominasi padang pasir, di wilayah itu juga sulit sekali menemukan sumber air, sehingga sistem irigasi sulit dilaksanakan. Libya merupakan negara yang uderdevoloped akibat praktik imperialisme negara-negara Barat, dan mempunyai tingkat ketergantungan yang tinggi kepada bantuan Barat, khususnya Amerika Serikat, dan Inggris, yang menempatkan barak militer di sana. Seorang pemimpin tarekat Sanusiyah, Muhammad Idris (cucu dari pendiri tarekat Sanusiyah), mejadi raja dan memerintah negeri atas legitimasi keagamaan keluarganya, dan atas dasar pengabdiannya dalam perjuangan melawan pemerintah asing.

sejarah libya
Raja Idris

Raja Idris menjalankan pemerintahan yang tidak efektif, bahkan ceroboh. Selama berkuasa selama 17 tahun, rezimnya hanya dihiasi oleh instabilitas sosial, konflik kesukuan, dan persaingan politik.  Pemerintahan Raja Idris tidak mencerminkan suatu kerajaan Islam, ciri Islam hanya tercermin dapada posisi raja Idris yang juga selaku pemimpin Tarekat Sanusiyah. Bahkan hukum yang berlaku di Libya saat itu, berdasarkan hukum Prancis, dan Italia. Kabinet raja Idris adalah kabinet bongkar pasang, setidaknya dia mengganti kabinetnya sebanyak tujuh kali. Sebab yang memicu terjadinya ketidakstabilan tersebut adalah persaingan antara kabinet dengan eksekutif.

Dalam aspek kebijakan, Raja Idris lebih mengutamakan kepentingan keluarganya, dan wibawa kelompok keagamaan serta kepentingan basis kekuasaannya di Cyrenaica dibandingkan pembelaannya terhadap rakyat banyak. Tetapi terdapat pula keberhasilan pada masanya, yaitu  penemuan sumber minyak bumi pada tahun 1959, dan mempersatukan tiga federasi provinsi ke dalam negara kesatuan Libya pada tahun 1963.

Raja Idris merupakan pemimpin yang tunduk pada kekuatan asing, raja Idris tidak mendukung perjuangan Arab secara langsung, bahkan ia lebih akrab dengan Barat, terutama Inggris dan Amerika. Dia melakukan hal itu karena ketakutannya akan imbas dari gerakan revolusi, dan pemikiran radikal yang terjadi pada revolusi Mesir 1952, akan terjadi juga di Libya.

Sebelum revolusi 1969, masyarakat Libya merupakan suku-suku yang berwawasan sempit. Oleh karena itu, semua bentuk partisipasi publik tidak berdasarkan kepentingan rakyat banyak, tetapi berdasar pada kepentingan pribadi, kelompok, keluarga atau suku. Keadaan yang demikian diperparah dengan buruknya sistem kerajaan raja Idris, yang erat dengan praktik nepotisme, penyimpangan administrasi, dan penyelewengan fiskal.

Dalam bidang pendidikan, pola yang diterapkan hanya bersifat tradisional, di mana yang diajarkan hanya ilmu-ilmu keagamaan. Pedekatan pendidikan yang tradisonal ini menghambat proses modernisasi, dan kemajuan di Libya. Kurangnya perhatian terhadap pendidikan modern, dilatar belakangi oleh kesetiaan, dan rasa hutang budi Raja Idris terhadap tarekat-tarekat keagamaan. Bobroknya pemerintahan Raja Idris, menjadi pemicu gerakan muda nasionalis-radikal dan kelompok socialis-minded untuk begerak.

Kemunculan Muammar Qadhafi

sejarah libya
Muammar Qadhafi

Muammar Qadhafi lahir pada tahun 1942 di sebuah pemukiman Badui, di padang pasir sebelah selatan Sirte, Libya Utara. Dia berasal dari keluarga suku Berber yang miskin dan taat agama, ayahnya bernama Mohammed Abdul Salam bin Hamed bin Mohammed Al-Qadhafi dan ibunya bernama Aissha al-Qadhafi. Padang pasir telah membentuk karakter keras, bebas, dan tidak kenal kompromi  Muammar Qadhafi.

Sejak masa kecil, dia keliatan berbeda dari anak-anak pada umurnya. Dia sangat serius, agak pendiam, roman mukanya keras dengan hanya menampilkan sedikit senyum. Qadhafi kecil jarang bermain dengan teman-teman sebayanya, dia lebih sering menghabiskan waktunya untuk melamun memikirkan berbagai hal.

Ayah Qadhafi adalah orang miskin yang hidup di tenda padang pasir. Orang tua Qadhafi menghabiskan masa hidupnya di tempat itu, bahkan setelah terjadinya revolusi al-Fatih, di mana pemerintah menyediakan rumah bagi semua penduduk negeri. Setelah revolusi pun Qadhafi masih sering mengunjungi tenda di padang pasir untuk mengenang tanah kelahirannya. Ayahnya menuturkan, bahwa Qadhafi sering kembali ke tenda dan tidur di kasurnya yang telah lapuk.

Meskipun buta huruf, dan tidak mendapatkan pendidikan yang layak, ayah Qadhafi berkeinginan agar Qadhafi mendapatkan pendidikan khusus. Oleh karena itu, ayahnya mendatangkan guru agama dari kota untuk mengajar membaca Qur’an kepada Qadhafi yang saat itu berumur 7 tahun. Ketika berumur  9 tahun, Qadhafi dikirim untuk belajar di sekolah dasar Sirte, sekitar 30 kilometer dari tendanya. Dia sering tidur di masjid, karena tidak mendapat bekal yang cukup. Berkat kecerdasannya Qadhafi dapat menyelesaikan pendidikan sekolah dasar hanya dalam waktu empat tahun, dari enam tahun biasanya.

Ketika menginjak umur 14 tahun, keluarga Qadhafi pinda ke Sabha, sebuah kota di provinsi Fezzan. Tujuannya agar Qadhafi dapat melanjutkan ke jenjang sekolah menengah. Qadhafi sering mendengar cerita dari ayahnya, bagimana perjuangan kakeknya dalam perang melawan pasukan  Italia. Dari cerita tersebut, Qadhafi sadar bahwa sebab kesengsaraan rakyat Libya adalah karena penjajahan yang dilakukan bangsa asing.

Qadhafi muda sangat terinspirasi  oleh keberhasilan revolusi Gamal Abdul Naser di Mesir tahun 1952, dan perjuangan Aljazair melawan penjajah Prancis. Peristiwa-peristiwa itu kemudian menjadikan pemikiran Qadhafi mengenai politik, dan revolusi semakin tajam. Di bangku sekolah menengah, dia dikagumi teman-temannya karena kemahirannya mengenai masalah politik, dan pidatonya. Namun, pada tahun ketiga di Sabha dia diusir dari sekolah, karena dianggap sebagai orang yang berbahaya, dan agitator politik. Memang pada saat di Sabha, Qadhafi telah membentuk sebuah kelompok diskusi kecil, di mana dia menyampaikan ide-ide politiknya kepada teman-temannya. Salah satu di antara temannya adalah Abdul Al-Salam Al-Jalloud, teman setia Qadhafi hingga Qadhafi menjabat sebagai pemimpin Libya.

Pada tahun 1961, Qadhafi pindah ke Misrata, sebuah kota dekat Tripoli, di sana dia dapat menyelesaikan sekolah menengahnya dua tahun kemudian. Di Misrata, Qadhafi membentuk gerakan politik rakyat yang terdiri dari berbagai golongan pekerja. Pada saat yang sama, Qadhafi menyadari bahwa hanya ada satu cara untuk membebaskan rakyat dari bentuk eksploitasi eksternal, dan korupsi internal, yakni sebuah revolusi untuk melengserkan rezim raja Idris, dan mengorganisasi ulang pemerintahan dengan prinsip-prinsip keadilan, persamaan, dan pemerataan kesejahteraan.

Untuk mewujudkan cita-citanya, langkah Qadhafi  selanjutnya adalah menyarankan kepada rekan-rekan dekatnya yang terpelajar untuk memasuki militer, dengan tujuan membentuk suatu kelompok kecil dengan korps yang dipimpin oleh beberapa perwira (Unionist Free Officers/UFO). Kelompok ini berpegang teguh pad persatuan Arab, dan pembebasan bangsa Libya, dan seluruh bangsa Arab dari pengaruh Barat.

Muammar Qadhafi memasuki militer pada tahun 1963 di Benghazi, kariernya pun melejit dengan cepat. Dia tidak melupakan tujuan revolusinya, di sana dia membentuk gerakan dari perwira-perwira tersebut beberapa tahun kemudian.  Gerakan revolusioner pertama dimulai di Sabha di antara para pelajar. Qadhafi menganggap Islam sebagai sebuah peradaban yang sempurna, nyawa dari kepercayaan terhadap Tuhan yang satu. Apabila Naseer merupakan model dalam cita-cita revolusinya, maka kejayaan Islam pada masa lalu adalah tujuan dan kepercayaannya.

Revolusi Al-Fatih 1969

Seperti yang telah dipaparkan di atas, kebobrokan rezim raja Idris merupakan pemicu dari meletusnya revolusi Libya. Kekuasaan raja Idris yang semakin mutlak, ditambah dengan semakin merajalelanya korupsi di lingkungan istana, telah membangkitkan ketidakpuasan di kalangan rakyat Libya. Pada awalnya Raja Idris berhasil menghasil mengeliminasi hampir keseluruhan bentuk oposisi. Tetapi, sekelompok perwira muda (UFO)di bawah kempemimpinan kolonel Qadhafi (bekas ajudan istana) berhasil mengatisipasi keadaan.

Sebagaimana pemerintahan korup lainnya, Raja Idris sangat takut terhadap rakyatnya sendiri. Oleh karena itu, ia menggunakan kekuatan senjata, bahkan dengan bantuan tentara Inggris, dan Amerika untuk melindungi kekuasaannya. Tentara Amerika ditempatkan di pinggrian Tripoli, Wheelus merupakan base camp terbesar di luar Amerika. Sementara itu  pasukan Inggris di tempatkan di sebagian besar daerah Tubruq. Menurut Qhadafi, kehadiran pasukan asing di negaranya merupakan sumber penyakit. Untuk itu salah satu tujuan dari revolusi adalah membebaskan Libya dari pengaruh asing.

Bersamaan dengan semakin meluasnya ketidakpuasan terhadap sistem monarki Raja Idris, kelompok Qadhafi akhirnya melancarkan kudeta tidak berdarah pada 1 September 1969, di saat Raja Idris sedang berada di luar negeri. Qadhafi dan kawan-kawannya segera membentuk Dewan Komando Revolusi (DKR) yang beranggotakan 12 perwira muda, dengan dia sendiri sebagai sekjennya. UUD dihapuskan, pemerintah, dan parlemen dibubarkan.

Bentuk kerajaan diganti menjadi bentuk republik, dengan nama Republik Arab Libya. DKR mengambil alih semua jabatan eksekutif, dan legislatif, sekaligus menunjuk Dr. Mahmud Sliman Al-Maghrebi yang berasal dari luar DKR, sebagai perdana menteri yang baru. Januari 1970, Qadhafi mengambil alih jabatan sebagai perdana menteri, setelah sebelumnya terjadi perebutan kekuasaan yang didalangi menteri pertahanan, dan menteri dalam negeri pada bulan Desember 1969.

Bagi rakyat Libya, hari pertama kemenangan revolusi, bukan hanya sebagai hari nasional yang istimewa, tetapi sebagai babak baru sejarah mereka. Sebagaimana ekspresi mereka yang tertuang pada slogan: Al-Fatih abadan (Al-Fatih untuk selamanya).

Perombakan di Libya Pasca Revolusi

Setelah memegang kekuasaan, Qadhafi bersama rekan-rekannya di DKR melancarkan perombakan di segala sektor. Perombakan tersebut disesuaikan dengan semboyan mereka: “Kemerdekaan, Sosialisme, dan Persatuan”. Beberapa kebijakan yang dijalankan Qadhafi pada masa awal kekuasaannya antara lain: menghentikan pemeliharaan istana-istana raja, pemakaian kalender Arab, dan Islam dalam komunikasi-komunikasi umum, pengangkatan seorang Mufti Agung, larangan peredaran, dan penggunaan alkohol, serta penutupan bar, dan club malam.

Pada tahun 1970, Qadhafi mengusir tentara Inggris, dan Amerika dari pangkalan Tobruk, El-Adem, dan Wheelus. Tindakan Qadhafi tersebut menjadi awal ketegangan hubungan Libya, dan Amerika. Sebagai negara adikuasa, Amerika merasa tersinggung dengan tindakan Qadhafi. Beberapa peristiwa kemudian memperburuk hubungan kedua negara ini antara lain: penghentian bantuan militer Amerika kepada Libya, perjanjian persahabatan Libya dan Uni Soviet (1973), klaim Qadhafi atas perairan Teluk Sidra (1973), penyerangan terhadap kedutaan besar Amerika di Tripoli (1979), pengusiran diplomat Libya dari Washington (Mei 1981), pelanggaran penggunaan paspor palsu AS untuk pejalanan ke Libya (Desember 1981), dan tuduhan Reagan bahwa Qadhafi berada di belakang “serangan kebar” yang dilakukan gerilyawan Palestina di Roma, dan Wina (28 Desember 1985).

Daftar di atas masih dapat diperpanjang, karena belum termasuk saling maki antara pemimpin kedua negara ini, yang tak terhitung jumlahnya. Reagan, miasalnya, menjuluki Qadhafi sebagai barbar, teroris, anjing gila dari Timur Tengah, dan sebagainya. Sebaliknya, Qadhafi menjuluki Reagan sebagai koboi tua yang pikun, si pembunuh anak-anak Libya, dll.

 Perombakan lain yang dilakukan oleh Muammar Qadhafi, diantaranya: pengusiran 25.000 pemukim Yahudi, dan Italia. Dalam upaya menciptakan persatuan Arab, Qadhafi membuat federasi dengan Mesir, Sudan, dan Suriah (1969-1970). Perbaikan lain yang dilakuan Qadhafi adalah di bidang persenjataan. Awal 1974 dengan bantuan Uni Soviet, pemerintah Qadhafi mulai memodernisasi angkatan bersenjatanya.

Dalam struktur pemerintahan terjadi perombakan besar-besaran antara lain: lembaga-lembaga politik modern seperti parlemen, partai politik, presiden, dan sebagainya dihapuskan. Sebagai gantinya dibentuk lah Komite Revolusi, Kongres Rakyat, dan Kongres Umum Rakyat. Komite Revolusi mempunyai fungsi rekruitmen politik, Kongres Rakyat berfungsi sebagai parlemen lokal, dan Kongres Umum Rakyat sebagai parlemen nasional. Posisi Qadhafi sendiri menjabat sebagai Sekjen Kongres Umum Rakyat, dan tetap sebagai kepalan negara, dan biasanya disebut sebagai pemimpin atau saudara kolonel.

Di bidang ekonomi, dan sosial budaya, perombakan yang dilakukan Qadhafi antara lain: membatasi perdagangan bebas, dengan melakukan nasionalisasi beberapa perusahaan minyak asing seperti Shell, Esso, dan ENI, serta meningkatkan campur tangan pemerintah di sektor ekonomi. Di bidang pendidikan, Qadhafi menyesuaikan kurikulum sekolah, dan universitas dengan Teori Universal Ketiga. Buku Hijau dijadikan bacaan wajib bagi seluruh pelajar Libya.

Selama berkuasa Qadhafi telah berhasil membangun lebih dari 200.000 rumah rakyat, menanam 400 juta pohon, dan meningkatkan pendapat perkapita dari 1.700$ menjadi 10.000$. pembangunan ekonomi Libya tergantung pada melimpahnya produksti minyak. Libya termasuk salah satu produsen minyak terbesar di dunia. Meskipun begitu, sejak awal 1980-an produksi minya Libya mulai menurun, dari 1,7 juta barel/hari pada 1980, menjadi 650.000 barel/hari pada tahun 1981. Bahkan pada tahun 1986, produksi minyak Libya diperkirakan hanya 500ribu/hari.

Melihat prospek yang begitu cerah, Qadhafi berusaha meningkatkan sektor pertanian yang sebelumnya menjadi komoditi utama sebelum sumber minyak ditemukan. Untuk mengatasi masalah kekurangan air, pemerintah Qadhafi membangun sungai buatan. Proyek sungai buatan ini dinamakan The Great Man Made River. Proyek yang berada di Gurun Sahara,  Libya Selatan ini merupakan proyek saluran irigasi terbesar yang ada di muka bumi, dan diperkirakan menelan biaya 25 milyar US$.

The Green Book (Buku Hijau): Visi Muammar Qadhafi

Pada tahun 1974, Qadhafi mulai mengeluarkan gagasannya yang dikenal sebagai “Teori Universal Ketiga”. Menurut Qadhafi, teorinya tersebut merupakan pemecahan final terhadap perjuangan umat manusia selama berabad-abad untuk mencapai kemerdekaan politik, ekonomi, dan sosial. Serta merupakan falsafah alternatif bagi komunisme Marxis, dan kapitalisme Barat.Teori Universal Ketiga sebenarnya merupakan penjabaran dari ideologi “Kemerdekaan, Sosialisme, dan Persatuan” dimuat dalam dalam tiga seri buku hijau.

sejarah libya
The Green Book versi bahasa Inggris

Buku Hijau seri pertama diterbitkan tahun 1975, berjudul  The Solution for The Problem of Democracy: The Soverignity of the People (pemecahan masalah demokrasi: kekuasaan rakyat). Isinya menguraikan aspek-aspek politik teori ketiga. Buku pertama ini terdiri atas 48 halaman. Seri kedua The Green Book, berjudul: The Solution of the Problem of the Economy, Socialism (Pemecahan Masalah Ekonomi: Sosialisme, diterbitkan tahun 1977. Buku jilid kedua ini berisi gagasan bahwa indvidu harus dibebaskan dengan memenuhu kebutuhan-kebutuhannya, dan melarang mereka menguasai sesuatu yang menjadi kebutuhan orang lain. Dalam buku ini Qadhafi juga mempunyai pandangan bahwa buruh gajian merupakan bentuk perbudakan modern,oleh karenanya harus diganti dengan wiraswasta.

Seri ketiga dari The Green Book berjudul The Social Foundations of the Third Universal Theory (Dasar-Dasar Sosial Teori Universal Ketiga), terbit tahun 1979. Seri terakhir dari The Green Book ini menguraikan aspek-aspek sosial Teori Universal Ketiga. Dalam seri ketiga ini, Qadhafi menamakan sosialismenya sebagai “sosialisme ilmiah yang Islamis”, yaitu sosialisme yang didasarkan pada keimanan, kepercayaan, dan warisan rakyat Libya.

Dengan munculnya The Green Book, Qadhafi mengemukakan bahwa al-Qur’an dan Buku Hijau adalah basis bagi masyarakat Libya. Al-Qur’an mengatur hukum-hukum yang berkaitan dengan aspek-aspek keagamaan, sementara Buku Hijau, mengatur urusan politik, dan masyarakat. Jadi pemerintahan Qadhafi tidak murni menggunakan hukum Syari’at, justru Buku Hijau menempati peranan tradisional dari Syari’at.

Penentang-Penentang Kebijakan Muammar Qadhafi di Libya

Revolusi, dan pembangunan yang dijalankan Qadhafi, tidak selalu menyenangkan semua pihak. Tercatat mulai dari kalangan Libya, hingga pemimpin negara lain banyak yang tidak menyukai revolusi yang dilakukan Qadhafi. Di kalangan masyarakat Libya, terdapat sembilan kelompok ant-Qadhafi, yang berpangkalan di luar negeri. Dari kesembilan kelompok tersebut, Front Nasional bagi Pembebasan Libbya, merupakan kelompok dengan jumlah anggota tersebsar, serta mendapat dukungan kuat dari luar negeri. Kelompok ini nantinya akan berperan besar, dalam pelengseran Muammar Qadhafi pada tahun 2011.

Para penentang Qadhafi tidak hanya terdiri atas orang-orang Libya. sejumlah pemimpin dari beberapa negara tidak jarang melontarkan kecaman pedas terhadap kebijakan Qadhafi. Seperti yang sudah disinggung di atas, presiden Ronald Reagan menjadi pemimpin negara lain yang paling sering terlibat perseteruan dengan Qadhafi.

Tidak hanya Reagan, pemimpin Arab sempat dibuat marah oleh pernyataan Qadhafi yang mengesampingkan Sunnah sebagai salah satu sumber utama hukum Islam, alasannya karena sunnah banyak yang  tidak otentik. Tahun 1978, Qadhafi merubah penanggalan Hijriah, yang harusnya dimulai sejak hijrahnya Nabi Muhammad, menjadi disarkan pada wafatnya Nabi. Dengan alasan meninggalnya Nabi menandakan wahyu ilahi.

Bulan Oktober 1980, penguasa Arab Saudi menuduh Qadhafi sebagai musuh Islam. karena setelah Arab Saudi menerima pesawat berdar AWACS dari AS, Qadhafi mengatakan bahwa Arab Saudi, dan tempat-tempat suci di dalamnya berdala di bawah pendudukan Amerika.  Tidak kalah keras, presiden Mesir, Anwar Sadat mengecap Qadhafi sebagai penjahat kriminal, seratus persen sakit, dan kesurupan setan. Kecamantersebut dilatarbelakangi karena Qadhafi didakwa mengirimkan agen-agennya ke Mesir, dan Sudan untuk menggerakkan subversi (gerakan untuk menjatuhkan kekuasaan yang sah).

Muammar Qadhafi memang dikenal aktif membantu pemberontak, atau gerakan pembebasan. Selama berkuasa, dia telah membantu kaum pemberontak, atau gerakan pembebasan di sekitar 45 negara, termasuk pembangkang di tubuh Gerakan Pembebasan Palestina (PLO), Pasukan IRA, militan muslim Filipina, hingga orang-orang Islam kulit hitam di Chicago. Awal 1981, Qadhafi menyusupkan 150 sukarelawan Libya ke Lebanon untuk membantuk gerilyawan Palestina.

Akibat berbagai tindakan Qadhafi dalam membantu gerakan pembebasan, AS pernah berusaha menghalangi usaha Qadhafi tersebut dengan cara melakukan embargo ekonomi, dan memutuskan hubungan diplomatik dengan Libya. Reagan mengatakan negaranya tidak ingin lagi berhubungan dengan teroris. Reagan memandang, Libya bersama Iran, Suriah, dan Nikaragua sebagai dalang di balik peristiwa terorisme internasional. Qadhafi dengan lantang balik menuduh Amerika Serikat, dan Israel lah terori yang sesungguhnya.

Puncak ketegangan antara Libya, dan Amerika Serikat abad ke-20, pada tahun 1986. Saat itu Ronald Reagan telah muak dengan tindakan Qadhafi, dalam mengirimkan agen-agennya ke seluruh dunia. Dengan alasan terorisme yang menewaskan sejumlah marinir AS di sebuah bar Jerman, pada tanggal 15 April 1986, Amerika Serikat yang juga didukung Inggris mengirimkan pesawat jet F-111 untuk membombardir Libya, dalam operasi yang dinamakan Operation El-Dorado Canyon. Penyerangan di Tripoli, dan Benghazi itu menyebabkan beberapa korban jiwa termasuk anak angkat Qadhafi, namun Muammar Qadhafi berhasil selamat.

Setelah Reagan selesai menjabat, penggantinya Bush. Sr masih tidak tenang dengan keberadaan Muammar Qadhafi. Libya nampaknya merupakan pekerjaan rumah yang dilimpahkan Reagan pada Bush. Bush berusaha mendesak PBB untuk mengeluarkan DK yang menekan Qaddafi. Dengan bermodalkan data-data subjektif, Bush menuduh Libya bertanggung jawab atas meledaknya dua pesawat sipil. Yaitu Boeing 747 yang meledak di atas Lockerbie, Skotlandia (21 Desember 1988), dan pesawat UTA milik Prancis yang meledak di atas Nigeria (1981). Atas bukti-bukti yang subjektif tersebut, PBB mengeluarkan resolusi No. 731, yang menuntut agar Qadhafi menyerahkan enam warga Libya yang didakwa melakukan aksi peledakan pesawat tersebut.

Qadhafi menolak menyerahkan warganya kepada sekutu. Akibatnya sejak 15 April 1992, Dewan Keamanan PBB atas tekanan sekutu memberlakukan embargo udara, dan senjata terhadap Libya. Kasus Libya membuktikan bahwa untuk kesekian kalinya trio AS-Inggris-Prancis berhasil menekan PBB untuk memojokkan negara lemah yang membangkang.

Demikianlah sekelumit sejarah perjalanan Libya Modern. Negara yang awalnya merupakan negara yang terbelakang ketika pemerintahan dipegang oleh raja Idris, kemudian berubah menjadi negara yang mengancam hegemoni Barat di Timur Tengah di bawah pimpinan Muammar Qadhafi.

BIBLIOGRAFI

Esposito, John L. 1990. Islam and Politics, terj. Joesoef Sou’yh. Jakarta: Bulan Bintang.

Lapidus, Ira M. 2000. Sejarah Sosial Ummat Islam Bagian Ketiga. Jakarta: RajaGrafindo Persada.

Mintarja, Endang. 2006. Politik Berbasis Agama: Perlawanan Muammar Qadhafi terhadap Kapitalisme. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sihbudi, Riza M. 1993. Islam, Dunia Arab, Irab: Bara Timur Tengah. Bandng: Mizan.

Sihbudi, Riza M. 1993. Timur Tengah, Dunia Islam, dan Hegemoni Amerika. Jakarta: Pustaka Hidayah.

Share the knowledge!
Share on Facebook1Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Pin on Pinterest0Email this to someoneShare on Tumblr0Share on Reddit0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *