Sejarah Minoritas Muslim di Ethiopia

Share the knowledge!
Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Pin on Pinterest0Email this to someoneShare on Tumblr0Share on Reddit0

Afrika adalah benua terbesar ketiga di dunia setelah Asia dan Amerika, dan kedua terbanyak penduduknya  setelah Asia. Dengan luas wilayah 30.224.050 km², Afrika meliputi 20,3% dari seluruh total daratan Bumi. Dengan ± 1.097.100 penduduk di 54 Negara benua ini merupakan tempat bagi sepertujuh populasi dunia. Seperti Asia, Afrika merupakan daerah yang memiliki  populasi muslim besar. Dalam keanggotaan di Organisasi Kerjasama Islam yang terdiri dari 57 negara, terdapat 27 negara Afrika.

Dari total penduduk Afrika tersebut sekitar 581 juta penduduk merupakan muslim.[1] Meskipun demikian, terdapat beberapa negara yang Islam menjadi minoritas agama di negara tersebut. Salah satunya adalah Ethiopia. Minoritas muslim di Afrika terjadi melalui dua cara : tanah muslim yang telah ditaklukan oleh kekuatan penjajah sehingga terjadi pengurangan populasi penduduk muslim, dan migrasi Muslim ke daerah-daerah yang kepadatan penduduk muslimnya rendah.

muslim di ethiopia
Bendera Ethiopia

Proses minoritas ini memunculkan dinamika umat Islam di Afrika. Setelah kemerdekaan negara-negara Afrika, muslim sering merasa dalam keadaan terbelakang  sehingga mereka tidak dapat bersaing dengan lulusan sekolah-sekolah Kristen. Selain itu pemerintahan negara minoritas juga banyak melakukan intimidasi terhadap umat Islam, sehingga menyulitkan muslim untuk berkembang.

Gambaran Umum Ethiopia
muslim di ethiopia

  • Gambaran umum Ethiopia
  • Nama : Negara Republik Federal Demokrasi Ethiopia
  • Bahasa resmi : Amharik
  • Ibukota adalah Addis Ababa.
  • Perkiraan populasi 2015 menurut Central Statistical Agency ± 90,076,012 jiwa[2]
  • Ethiopia terbagi menjadi 14 provinsi.
  • Terdapat 80 etnis dan yang terbesar adalah Oromo (34,4%) dan Amhara (27%).

      Kawasan Ethiopia, merupakan salah satu tempat peradaban paling awal di dunia. Pemerintahan Ethiopia pertama kali dibentuk sekitar tahun 980 SM. Negara ini tidak pernah dijajah selama masa perebutan Afrika dan terus merdeka hingga tahun 1936 saat pasukan Italia menguasai negara tersebut. Pasukan-pasukan Britania Raya dan Ethiopia mengalahkan tentara Italia dan Ethiopia  memperoleh kembali kedaulatannya setelah menandatangi perjanjian Britania-Ethiopia pada Desember 1944.

Kondisi geografis Ethiopia sendiri merupakan dataran gersang di dataran rendahnya, dan memiliki iklim sedang di dataran tingginya. Kondisi geografis Ethiopia yang ekstrim telah mengisolasi banyak oramg dam seringkali malah melestarikan cara hidup dan bahasa kuno mereka. Terdapat 80 etnis di Ethiopia, tiga kelompok etnis utama di Ethiopia, yakni etnis Oromo, Amhara, dan Tigray. Ketiga etnis ini menyumbang jumlah prosentase terbesar dalam populasi penduduk Ethiopia.

Kebanyakan orang Ethiopia tinggal di wilayah pedesaan dan mencari nafkah sebagai petani atau penggembala ternak. Karena kesulitan ekonomi, hanya sedikit orang mampu membeli sapi. Sehingga untuk membajak sawah, mereka menggunakan tenaga mereka sendiri dibantu anak-anak.[3]

Perkembangan dan proses minoritas Islam di Ethiopia

Islam datang ke Ethiopia atau Habasyah (Abyssinia) sejak 615 M tepatnya di kota axum, mereka adalah umat Islam yang hijrah yang dipimpin oleh sepupu nabi, Ja’far bin Abi Thalib. Pengungsi Muslim dari Mekkah ini ini diterima oleh raja Negus/Najasy. Raja memperlakukan Muslim dengan baik, melindungi mereka dan akhirnya ia sendiri memeluk Islam.[4]

Selama masa Bani Umayah, muslim menduduki kepulauan Dahlak dan pelabuhan Musawwa. Dari pangkalan ini Islam kemudian didakwahkan ke pedalaman benua. Pada abad ke 12 seluruh pantai Eritrea telah diIslamkan. Pada tahun 283 H, suatu negara Islam didirikan di Shoa Timur (wilayah Addis-abada saat ini) di bawah dinasti Makhzumi.

Pada abad enam belas Islam bangkit kembali di Ethiopia, di bawah pimpinan Ahmad ibn Ibrahim Al-Ghazi (1506-1543) yang berhasil menyatukan semua negara Muslim Ethiopia. Pada tahun 1531, Muslim menduduki Dawaro dan Shoa, dan pada 1533, Amhara dan Lasta, serta negara Krsiten Abyssinia dihapus. Sejak itu Ethiopia dibuat stabil dengan menjadi dua negara, sebuah negara Muslim di selatan dengan ibukota Harrar dan sebuah negara Kristen yang lebih kecil di Utara.

Abad sembilan belas, pertumbuhan ambisi kolonial di Afrika mendorong kebangkitan negara Kristen Ethiopia, dengan menggunakan harta rampasan dan memulai kebijakan ekspansionis melawan negara Muslim dengan semangat perang salib. Pada tahun 1831 Teodros menduduki tahta Ethiopia dengan program penyatuan kembali orang-orang Kristen, menaklukkan Yerusalem, Makkah, dan Madinah, menghapuskan Islam, dan menciptakan kedamaian di Ethiopia. Orang-orang Islam dibantai secara kejam di Wollo pada 1855, dan orang-orang Mesir dikalahkan di Eritrea.[5]

Malapetaka terakhir terhadap negara Islam Ethiopia terjadi ketika ibukotanya harrar diduduki pada 1887. Oleh orang-orang Kristen. Negara Islam dihapuskan, masjid agung di ibukota diubah menjadi gereja, dan tetap seperti itu sampai sekarang.[6] Praktis penduduk muslim diperbudak, berbagai peristiwa ini menyebabkan berkurangnya populasi muslim di Ethiopia secara drastis.

Dinamika Muslim di Ethiopia

Sejak abad ke-19 di bawah kekuasaan Ethiopia (Kristen) pihak Muslim dikeluarkan dari beberapa jabatan publik, meskipun konstitusi tahun 1931 mengukuhkan persamaan hak dan mengizinkan pihak Muslim memiliki tanah, menduduki beberapa posisi pemerintahan, dan sejumlah festival keagamaan Muslim diakui secara resmi. Namun kenyataannya kebijakan yang merugikan umat Islam lebih banyak ketimbang kebijakan yang pro Islam.

Demografi di Ethiopia dari data Population Census Commission tahun 2007, menyebutkan bahwa dari total penduduk Ethiopia, Jumlah Muslim adalah 33,9% (25 juta), Kristen 62,7% (46 juta), agama tradisional 2,6% (1,9 juta) , & lain 0,63%. Muslim menjadi mayoritas di daerah Somali, Affar, Argobba, Hareri, dan Oromia.[7]

Mayoritas Muslim Ethiopia bermadzhab Syafi’i. Sebagaimana di negara-negara tetangganya Sudan dan Somalia, tarekat mempunyai peran penting dalam perkembangan Islam di Ethiopia. Terdapat sekitar 82 masjid, 3 diantaranya dibangun sejak abad 10, dan juga terdapat 102 tempat suci. Selain itu pertumbuhan penduduk muslim diproyeksikan mengalami peningkatan setiap tahunnya, bisa dilihat di tabel Pew Research Center di bawah ini :

muslim di ethiopia

Dapat dilihat dari tabel proyeksi tersebut Muslim akan mengalami peningkatan sebesar 5% pada tahun 2050, salah satu faktor yang menyebabkan hal ini terjadi adalah rata-rata pertumbuhan penduduk Muslim yang mencapai 2,5% per tahun. Kemungkinan hal ini juga akan terjadi di Ethiopia.

Namun disamping pertumbuhan penduduk yang terus meningkat, Muslim Ethiopia juga mengalami berbagai masalah layaknya minoritas di negara lain, masalah itu antara lain : Banyak pemimpin agama ditahan oleh pemerintah, Pembatasan penggunaan bahasa  Arab, Sekolah-sekolah Islam diawasi  dengan ketat, Masjid-masjid dicurigai sebagai sumber munculnya radikalisme, Pemimpin-pemimpin agama dianiaya, dan Perizinan pendirian bangunan umat Islam  dipersulit.[8]

Disamping penindasan yang dilakukan terhadap umat Islam, pemerintah memunculkan isu radikalisme yang semakin memojokkan muslim Ethiopia. Pemerintah Ethiopia mengklaim bahwa “radikalisasi” berkembang di Ethiopia. Masjid-masjid dianggap sebagai  pusat menyerukan gerakan jihad. Sehingga Pemerintah memperketat pengawasan di masjid-masjid Ethiopia. Kementerian federal menuduh pendemo yang menentang kebijakan mereka di masjid-masjid ini sebagai “ekstrimis”, yang terlibat dalam kekerasan dan bekerjasama dengan al-Qaeda untuk menghasut jihad. Munculnya isu radikalime di Ethiopia pada dasarnya merupakan usaha pemerintah untuk mencoba mendominasi pengaruh masjid untuk mendapatkan kontrol politik yang lebih luas di negara itu.[9]

Simpulan

Kawasan Ethiopia, merupakan salah satu tempat peradaban paling awal di dunia. Pemerintahan Ethiopia pertama kali dibentuk sekitar tahun 980 SM. Kondisi geografis Ethiopia sendiri merupakan dataran gersang di dataran rendahnya, dan memiliki iklim sedang di dataran tingginya. Kondisi geografis Ethiopia yang ekstrim telah mengisolasi banyak orang dan seringkali malah melestarikan cara hidup dan bahasa kuno mereka.

Islam datang ke Ethiopia atau Habasyah (Abyssinia) sejak 615 M tepatnya di kota axum, mereka adalah umat Islam yang hijrah yang dipimpin oleh sepupu nabi, Ja’far bin Abi Thalib. Pada abad ke 16, muslim sempat menguasai seluruh daratan Ethiopia, namun pada abad ke 19 umat Kristen bangkit dan merebut daerah Ethiopia, hal ini pula yang menyebabkan Islam minoritas di Ethiopia.

Dalam praktek kehidupan sehari-hari saat ini, pemerintah banyak ikut campur dalam peribadahan umat Islam. Pemerintah banyak mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang berdampak negatif terhadap umat Islam. Untuk semakin memojokkan umat Islam pemerintah menghembuskan isu radikalisme.

[1] www.muslimpopulation.com/africa/ diakses pada 2 Januari 2016 pukul 14:00 WIB

[2] Central Statistical Agency, Population and Housing Census of Ethiopia. Diakses pada 26 september 2015 pukul 21.30 WIB.

[3] Ali Kettani, Minoritas Muslim di Dunia Dewasa ini, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005)., hlm. 243

[4] Ira M Lapidus, Sejarah Sosial Umat Islam : Bagian Ketiga, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000)., hlm. 484

[5] Ali Kettani, op. cit., hlm. 244

[6] Population Census Commission, The 2007 Population and Housing Census of Ethiopia.pdf diakses pada 2 Januari 2016 pukul 17:15 WIB

[7] Ali Kettani, Minoritas Muslim di Dunia Dewasa ini., hlm. 245

Share the knowledge!
Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Pin on Pinterest0Email this to someoneShare on Tumblr0Share on Reddit0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *