Sejarah Pemikiran Islam al-Farabi

Share the knowledge!
Share on Facebook1Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Pin on Pinterest0Email this to someoneShare on Tumblr0Share on Reddit0

Filsafat Yunani banyak memberikan inspirasi kepada umat Islam untuk mempelajari dan menggali lebih jauh mengenai pemikiran dan juga ilmu pengetahuannya. Terlebih lagi, pada perkembangannya, Islam memiliki banyak persoalan-persoalan yang memerlukan pemikiran untuk dapat menyelesaikannya. Hal ini tentu memerlukan peran akal yang optimal sehingga muncullah filsafat Islam. Filsafat Islam sendiri banyak melahirkan para filsuf muslim, salah satunya adalah Al-Farabi.

Ia banyak menguasai berbagai disiplin ilmu pengetahuan dan menguasai beberapa bahasa. Ia memilih hidup sederhana, dan dikenal sebagai pribadi yang zuhud serta suka berbagi dengan sesama. Al-Farabi banyak melahirkan karya-karya, bahkan untuk dapat memperluas pemikirannya dilakukan penerjemahan terhadap kitab-kitabnya ke dalam bahasa Latin, Inggris, Almania, bahasa Arab, dan Perancis.[1

Biografi Al-Farabi

Al-Farabi merupakan julukan bagi Abu Nasr Ibnu Muhammad ibnu Tarkhan ibnu Auzalagh. Al-Farabi dilahirkan di sebuah desa bernama Wasij yang merupakan distrik dari kota Farab. Saat ini kota Farab dikenal dengan nama kota Atrar/Transoxiana tahun 257 H/870 M.[2] Al-Farabi oleh orang-orang latin abad tengah dijuluki dengan Abu Nashr (Abunaser), sedangkan julukan Al-Farabi diambil dari nama kota Farab, tempat ia dilahirkan.[3] Ayahnya adalah seorang jenderal berkebangsaan Persia dan ibunya berkebangsaan Turki.[4]

al-Farabi

Sejak dini, Al-Farabi dikenal sebagai anak yang suka belajar dan juga rajin serta ia memiliki kemampuan untuk menguasai berbagai bahasa, antara lain bahasa Iran, Turkestan, dan Kurdistan.[5] Bahkan menurut Munawir Sjadzali, Al-Farabi dapat berbicara dalam tujuh puluh macam bahasa; tetapi yang ia kuasai dengan aktif, hanya empat bahasa: Arab, Persia, Turki, dan Kurdi.[6]

Di usia muda, Al-Farabi hijrah ke Baghdad yang pada waktu itu merupakan pusat ilmu pengetahuan. Di Baghdad ia belajar kepada Abu Bakar Al-Saraj untuk mempelajari kaidah bahasa Arab, dan kepada Abu Bisyr Mattius ibnu Yunus (seorang kristen) untuk belajar logika dan filsafat.[7] Selanjutnya ia hijrah ke Harran yang merupakan pusat kebudayaan Yunani di Asia Kecil dan belajar kepada Yuhanna ibnu Jailan. Kemudian, ia kembali ke Baghdad untuk memperdalam filsafat.

Al-Farabi mendapat predikat Guru Kedua, karena ialah orang pertama yang memasukkan ilmu logika ke dalam kebudayaan Arab.[8] Selanjutnya ia pindah ke Damaskus, di sana ia berkenalan dengan Saif Ad-Daulah Al-Hamdani, Sultan Dinasti Hamdan di Alleppo. Akhirnya Al-Farabi diberi kedudukan menjadi ulama istana. Ia hidup sederhana dan mengguinakan gajinya untuk beramal dan dibagikan kepada fakir miskin di Alleppo dan Damaskus.[9] Al-Farabi wafat pada usia 80 tahun di Alleppo tahun 950 M.[10]

Karya-karya Al-Farabi

Al-Farabi merupakan filsuf Islam terbesar, ia memiliki keahlian di berbagai bidang, di antaranya adalah ilmu bahasa, matematika, kimia, astronomi, kemiliteran, musik, ilmu alam, ketuhanan, fiqh, dan manthiq. Tetapi, sayangnya tidak banyak karya dari Al-Farabi yang diketahui, karena karyanya berupa risalah yang merupakan karangan pendek dan tidak banyak yang berupa buku besar yang pembahasannya mendalam, kebanyakan karyanya telah hilang. Adapun judul dari karya-karyanya sebagai berikut:[11]

  1. Al-Jam’u baina Ra’yay Al-Hakimain Aflathun wa Aristhu;
  2. Tahqiq Ghardh Aristhu fi Kitab ma Ba’da Ath-Thabi’ah;
  3. Syarah Risalah Zainun Al-Kabir Al-Yunani;
  4. At-Ta’liqat;
  5. Risalah fima Yajibu Ma’rifat Qabla Ta’allumi al-Falsafah;
  6. Kitab Tahshil As-Sa’adah;
  7. Risalah fi Itsbat Al-Mufaraqah;
  8. ‘Uyun Al-Masa‘il;
  9. Ara’ Ahl Al-Madinah Al-Fadhilah;
  10. Ihsa Al-Ulum wa At-Ta’rif bi Aghradita;
  11. Maqalat fi Ma’ani Al-Aql;
  12. Fushul Al-Hukm;
  13. Risalat Al-Aql;
  14. As-Siyasah Al-Madaniyah;
  15. Al-Masa’il Al-Falsafiyah wa Al-Ajwibah Anha.

Ciri khas dari karya-karya Al-Farabi adalah memberi ulasan dan juga penjelasan terhadap karya dari Aristoteles, Iskandar Al Fraudismy dan Plotinus. Karya nyata dari Al-Farabi sebagai berikut:[12]

  1. Al jami’u Baina Ra’yai Al Hakimain Afalatoni Al Hahiy wa Aristho-thails (pertemuan/penggabungan pendapat antara Plato dan Aristoteles);
  2. Tahsilu as Sa’adah (mencari kebahagiaan);
  3. As Suyasatu Al Madinah (politik pemerintah);
  4. Fususu Al Taram (hakikat kebenaran);
  5. Arro’u Ahli Al Madinati Al Fadilah (pemikiran-pemikiran utama pemerintah);
  6. As Syisyah (ilmu politik);
  7. Ihsho’u Al Ulum (kumpulan berbagai ilmu), dll.

PEMIKIRAN AL-FARABI

Hasil Pemikiran Al-Farabi

Filsafat Al-Farabi memiliki corak dan tujuan yang berbeda dari filsafat lainnya karena ia mengambil ajaran-ajaran para filosof terdahulu, membangun kembali dalam bentuk yang sesuai dengan lingkup kebudayaan, dan menyusunnya dengan sistematis dan selaras. Namun, sebagian filsafat Al-Farabi ini dianggap keliru sehingga ditolak oleh ilmu pengetahuan modern.[13] Akan tetapi, Al-Farabi tetap memiliki peranan yang penting dan pengaruh yang besar di bidang pemikiran masa-masa sesudahnya. Berikut ini adalah beberapa pemikiran filsafat Al-Farabi:

  1. Filsafat

Al-Farabi mengartikan filsafat sebagai Al Ilmu bilmaujudaat bima Hiya Al Maujudaat yang artinya adalah suatu ilmu yang menyelidiki hakikat sebenarnya dari segala yang ada ini. Ia berhasil meletakkan dasar-dasar filsafat ke dalam Islam. ia juga mengatakan bahwa tidak ada pertentangan antara filsafat Plato dan Aristoteles.[14] Al-Farabi mempunyai dasar berfilsafat dengan memperdalam ilmu dengan segala yang maujud hingga membawa pengenalan Allah sebagai penciptanya.[15]

  1. Falsafat Emanasi/Pancaran

Al-Farabi mencoba menjelaskan bagaimana yang banyak bisa timbul dari Yang Satu dengan filsafat emanasi ini. Tuhan bersifat Maha-Satu, tidak berubah, jauh dari materi, jauh dari arti banyak, Maha-Sempurna dan tidak butuh pada apapun. Menurut al-Farabi, alam ini terjadi karena emanasi Tuhan.[16] Ia berpendapat bahwa dari Yang Esa-lah memancar yang lain, berkat kebaikan dan pengetahuan sendiri-Nya.[17] Tuhan sebagai akal, berfikir tentang diri-Nya, dan dari pemikiran ini, menjadi timbul wujud yang lain. Tuhan merupakan wujud pertama, dan dengan pemikiran itu timbul wujud kedua yang juga mempunyai substansi. Ia disebut akal pertama yang tidak bersifat materi. Wujud kedua ini berpikir tentang wujud yang pertama dan dari pemikiran ini timbullah wujud ketiga. Wujud ketiga memikirkan dirinya sendiri disebut akal kedua.

Wujud kedua atau akal pertama itu juga berpikir tentang dirinya dan dari situ timbullah Langit Pertama.

Wujud III/akal kedua memikirkan Tuhan sehingga timbul Wujud ke IV, dan memikirkan dirinya sendiri sehingga timbul Bintang-bintang.

Wujud IV/akal Ketiga memikirkan Tuhan sehingga timbul Wujud V, dan memikirkan diri sendiri sehingga timbul Saturnus.

Wujud V/Akal Keempat memikirkan Tuhan sehingga timbul Wjud VI, dan memikirkan dirinya sehingga timbul Jupiter.

Wujud VI/Akal Kelima—— Tuhan=Wujud VII/Akal Keenam.

——- dirinya= Mars.

Wujud VII/Akal Keenam—— Tuhan= Wujud VIII/Akal Ketujuh.

——- dirinya= Matahari.

Wujud VIII/Akal Ketujuh—— Tuhan= Wujud IX/Akal Kedelapan.

——- dirinya= Venus.

Wujud IX/Akal Kedelapan——Tuhan= Wujud X/Akal Kesembilan.

——- dirinya= Merkurius.

Wujud X/Akal Kesembilan—— Tuhan= Wujud XI/ Akal Kesepuluh.

——– dirinya= Bulan.

Pada pemikiran Wujud XI/Akal Kesepuluh, berhentilah timbulnya akal-akal. Tetapi dari Akal Kesepuluh muncullah bumi serta roh-roh dan materi pertama yang menjadi dasar dari keempat unsur yaitu api, udara, air, dan tanah.[18]

Wujud-wujud dan akal-akal ini merupakan susunan yang hierarkis. Wujud pertama dalam hierarki yaitu yang paling tinggi, kemudian ruh-ruh lingkungan dan lingkungan itu sendiri. Susunan terakhir yaitu bumi dan dunia materi yang berada pada urutan keempat. Menurut orang Yunani Kuno bahwa segala yang bercorak langit adalah suci dan segala yang bercorak bumi tidak suci. Ajaran Islam menerangkan bahwa langit merupakan sumber wahyu dan tujuan akhir mi’raj. Di sini Al-Farabi menyesuaikan antara ajaran agama dan filsafat. Dalam hal ini al-Farabi mengambil teori astronomi dari Yunani, yaitu Ptolomeus yang berpendapat bahwa kosmos terdiri dari Sembilan lingkungan yang kesemuanya bergerak mengelilingi bumi.[19]

  1. Falsafat Kenabian

Akal yang sepuluh itu dapat disamakan dengan para malaikat dalam ajaran Islam. Para filosof dapat mengetahui hakekat-hakekat karena dapat berkomunikasi dengan akal Kesepuluh. Nabi atau Rasul pun dapat menerima wahyu karena mempunyai kesanggupan untuk berkomunikasi dengan Akal Kesepuluh. Akan tetapi kedudukan Nabi atau Rasul lebih tinggi dari para filosof.

Para filosof dapat berkomunikasi dengan Akal Kesepuluh karena usahanya sendiri yaitu dengan latihan dan kontemplasi, sedangkan Nabi atau Rasul adalah orang pilihan, sehingga mereka dapat berkomunikasi dengan Akal Kesepuluh bukan atas usaha sendiri tetapi atas pemberian dari Tuhan. Para filosof mengadakan komunikasi dengan Akal Kesepuluh melalui akal, yaitu akal mustafad, sedangkan Nabi atau Rasul bukan dengan akal, tetapi dengan daya pengetahuan yang disebut imajinasi. Tingkat imajinasi yang diberikan kepada Nabi atau Rasul sangat kuat sehingga dapat berhubungan dengan Akal Kesepuluh tanpa latihan yang harus dijalani para filosof. Falsafat ini dimajukan Al-Farabi untuk menentang aliran yang tidak percaya kepada Nabi/Rasul (wahyu) seperti yang dibawa oleh al-Razi dan lain-lain di zaman itu.[20] Teori tentang kenabian ini dapat dianggap sebagai usaha al-Farabi dalam merujukkan agama dengan filsafat.

  1. Teori Politik

Falsafat Kenabian berhubungan erat dengan teori politik Al-Farabi. Ia telah menulis beberapa risalah tentang politik, yang paling terkenal adalah Ara’ Ahl al-Madinah al-Fadilah (Kota Model). Di dalam risalah tersebut ia menggambarkan Kota sebagai suatu keseluruhan dari bagian-bagian yang terpadu, serupa dengan organisme tubuh; bila ada bagian yang sakit, maka yang lain akan bereaksi dan menjaganya.[21]

Dalam kota, masing-masing anggota harus diberikan pekerjaan yang sepadan dengan kesanggupannya. Pekerjaan yang terpenting dalam masyarakat adalah pekerjaan sebagai kepala masyarakat, sehingga seorang kepala masyarakat harus bertubuh sehat dan kuat, pintar, cinta pada ilmu pengetahuan dan keadilan karena kepala lah yang menjadi sumber keharmonisan masyarakat. Sebaik-baik kepala adalah Nabi/Rasul, karena seorang Nabi/Rasul tentu mengadakan peraturan-peraturan yang baik dan berfaedah bagi masyarakat sehingga masyarakat menjadi makmur dan baik. Tugas kepala Negara tidak hanya mengatur Negara, tetapi juga mendidik manusia mempunyai akhlak yang baik.

Selain al-Madinah al-Fadilah juga ada al-Madinah al-Jahilah, yaitu masyarakat yang anggota-anggotanya bertujuan hanya mencari kesenangan jasmani. Kemudian ada al-Madinah al-Fasiqah yaitu masyarakat yang anggota-anggotanya mempunyai pengetahuan yang sama dengan anggota al-Madinah al-Fadilah akan tetapi kelakuan mereka sama dengan anggota al-Madinah al-Jahilah.

Jiwa yang kekal adalah jiwa fadilah (mungkin tinggal di madinah al-Fadilah) yaitu jiwa-jiwa yang berbuat baik, jiwa-jiwa yang dapat melepaskan diri dari ikatan jamsmani, oleh karena itu tidak hancur dengan hancurnya badan. Adapun jiwa Jahilah adalah jiwa yang tidak mencapai kesempurnaan, (mungkin yang hidup di madinah al-Jahilah), jiwa yang belum dapat meepaskan diri dari ikatan materi dan akan hancur dengan hancurnya badan. Jiwa Fasiqah adalah jiwa yang tahu pada kesenangan tapi menolaknya (mungkin yang hidup dalam Madinah al-Fasiqah), tidak akan hancur dan akan kekal, akan tetapi kekal dalam kesengsaraan. Adapun surga dan Negara menurut Al-Farabi adalah soal spiritual.

DAFTAR PUSTAKA

 Mustofa. Filsafat Islam. Bandung: CV PUSTAKA SETIA, 2004.

Nasution, Hasyimsah. Filsafat Islam. Jakarta: Gaya Media Pratama, 2002.

Nasution, Harun. Falsafat dan Mistisme dalam Islam. Jakarta: PT Bulan Bintang, 1995.

Poerwantana dkk, Seluk-beluk Filsafat Islam. Bandung: Rosdakarya, 1988.

Sjadzali, Munawir. Islam dan Tata Negara; ajaran, sejarah dan pemikiran. Jakarta: UI Press,       1993.

Supriyadi, Dedi. Pengantar Filsafat Islam (Konsep, filsuf, dan Ajarannya). Bandung: CV PUSTAKA SETIA, 2013.

Syarif. Para Filosof Muslim. Bandung: Mizan. 1985.

Zar, Sirajuddin. Filsafat Islam: Filosof dan Filsafatnya. Jakarta: Rajawali Pers, 2012.

[1] Mustofa, Filsafat Islam (Bandung: CV PUSTAKA SETIA, 2004), cet. ke-1, hlm.128.

[2] Dedi Supriyadi, Pengantar Filsafat Islam: Konsep, filsuf, dan Ajarannya (Bandung: CV PUSTAKA SETIA, 2013), hlm. 80.

[3]Poerwantana dkk, Seluk-beluk Filsafat Islam (Bandung: Rosdakarya, 1988), cet. ke-1, hlm. 133.

[4]Hasyimsah Nasution, Filsafat Islam (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2002), cet. ke-3, hlm. 32.

[5] Ibid.

[6] Munawir Sjadzali, Islam dan Tata Negara; ajaran, sejarah dan pemikiran (Jakarta: UI Press, 1993), cet. ke-5, hlm. 49.

[7] Sirajuddin Zar, Filsafat Islam: Filosof dan Filsafatnya (Jakarta: Rajawali Pers, 2012), cet. ke-5, hlm. 66.

[8] Mustofa, Filsafat Islam, hlm. 126.

[9]Dedi, Pengantar Filsafat, hlm. 81.

[10]Harun Nasution, Falsafat dan Mistisme dalam Islam (Jakarta: PT Bulan Bintang, 1995), cet.ke-9. hlm. 26.

[11]Dedi, Pengantar Filsafat, hlm. 83-84.

[12]Mustofa, Filsafat Islam, hlm. 127-128.

[13] M. M. Syarif, Para Filosof Muslim (Bandung: Mizan, 1985), cet. ke-1, hlm. 61.

[14] Ibid.

[15]Mustofa, Filsafat Islam, hlm. 130.

[16] Nasution, Falsafat, hlm. 27.

[17] Syarif, Para Filosof, hlm. 66.

[18] Nasution, Falsafat, hlm. 28.

[19] Syarif, Para Filosof, hlm. 67.

[20] Nasution, Falsafat, hlm. 31.

[21] Syarif, Para Filosof, hlm. 73.

[22] Nasution, Falsafat, hlm. 33.

Share the knowledge!
Share on Facebook1Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Pin on Pinterest0Email this to someoneShare on Tumblr0Share on Reddit0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *