Sejarah Seni Pertunjukkan Islam Indonesia

Share the knowledge!
Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Pin on Pinterest0Email this to someoneShare on Tumblr0Share on Reddit0

a-tari-piring-heri..bac..edit

Seni pertunjukkan atau performance art merupakan segala ungkapan seni yang substansi dasarnya adalah yang dipergelarkan langsung di hadapan penonton. Hal ini sudah jelas, ketika ada sebuah pertunjukkan tentu ada penonton yang menyaksikan pertunjukkan yang sedang berlangsung. Seni pertunjukkan tidak hanya melibatkan aksi individu atau kelompok di tempat dan waktu tertentu. Selain itu, adapula unsur-unsur yang terdapat pada seni pertunjukkan, diantaranya ruang dan waktu, tubuh si seniman, serta hubungan seniman dengan penonton. Semua unsur tersebut sudah pasti kita jumpai dalam setiap pertunjukkan. Pertunjukkan seni biasanya tidak hanya sebatas berkenaan dengan unsur-unsur keindahan saja, tetapi juga memuat fungsi-fungsi tertentu seperti fungsi ritual, pendidikan, hiburan, dan bahkan bisa dijadikan sarana dalam melakukan kritik sosial.

Sejarah seni pertunjukkan juga mengalami perkembangan, mulai dari seni pertunjukkan klasik-tradisional, modern, dan kontemporer. Namun, pada pembahasan kali ini akan dibahas berkaitan dengan seni pertunjukkan klasik-tradisional yang lebih menekankan pada kekayaan seni pertunjukan Islam Indonesia pada masa klasik. Agar mudah topik kali ini mudah dipahami, maka akan diuraikan terlebih dahulu maksud dari seni pertunjukan klasiktradisional. Kata klasik, dapat diartikan sebagai sesuatu yang mempunyai nilai atau mutu yang diakui dan menjadi tolok ukur kesempurnaan yg tinggi, abadi, kekal, langgeng. Sedangkan tradisional, dapat diartikan sebagai sikap dan cara berpikir serta bertindak yang selalu berpegang teguh pada norma dan adat kebiasaan yang ada secara turun-temurun. Jadi, secara sederhana seni pertunjukan klasik- tradisional adalah sebuah tradisi yang ada dalam masyarakat yang didalamnya dipercaya mempunyai nilai yang tinggi dan dipegang teguh oleh masyarakat tertentu.

Adapun relasi antara seni pertunjukkan Indonesia dengan Islam sebagai berikut:

1). Bentuk-bentuk seni yang sudah ada sebelum diperkenalkan Islam, kemudian berubah dengan adanya pengaruh Islam. Jadi, ketika Islam masuk, segala bentuk seni yang ada dalam masyarakat mendapat pengaruh dari Islam.

2). Seni baru yang ketika diperkenalkan ke Indonesia sudah bermuatan Islam.

3). Beberapa karya kontemporer yang tidak terikat secara ketat dengan tradisi tertentu, tetapi kesan Islam tampil jelas.

Seni Pertunjukkan Islam Indonesia yang masuk dalam kategori seni pertunjukkan klasik-tradisional terbagi menjadi dua, yaitu tari dan teater. Untuk tari sendiri diantaranya ada tari piring, zapin, saman dan seudati. Untuk teater ialah wayang.

SENI PERTUNJUKKAN TARI

Tari Pirieng di Ateh Kaco
-Sumatera Barat-

Tari Pirieng di Ateh Kaco/tari piring di atas kaca merupakan sebuah seni tari yang berasal dari Sumatera Barat. Tarian ini mengalami perkembangan, sebelum Islam masuk ke Sumatera Barat, tarian ini dipertunjukkan sebagai ekspresi masyarakat sebagai bentuk ucapan rasa syukur kepada dewa-dewa setelah mendapatkan panen yang berlimpah.

tari piringtraditionaldance_jabarguide_piring_ervannanggalo

Namun, setelah Islam masuk ke Sumatera Barat, ritual yang sudah ada perlahan mulai mengalami pergesaran. Tarian tersebut hanya dipertunjukkan untuk para raja dan saat ada pertemuan dalam rangka menyambut tamu. Pada masa kini, tarian tersebut tidak lagi dipertunjukkan dihadapan raja, tetapi juga dapat disaksikan oleh khalayak ramai, bahkan digunakan pula sebagai sarana hiburan masyarakat pada acara tertentu, misalnya acara perkawinan. Tarian ini biasanya diiringi musik dari rebana, gong, talempong, rabab, dan saluang.

Tari Zapin

-Melayu-

zapin

            Tari Zapin merupan sebuah tarian yang berkembang dikalangan suku Melayu. Pada awalnya dibawa dari Yaman oleh pedagang Arab yang kemudian berkembang di sekitar Johor, Riau, Singapura, dan Brunei. Tarian ini pertama kali diperkenalkan di Indonesia di wilayah Riau dan dikenal oleh masyarakat sekitar pesisir di Kalimantan. Sejak awal tarian zapin dipertunjukkan sebagai hiburan di Istana. Tari Zapin diiringi musik petik gambus, rebana, gendang, dll. Syair-syair yang dilantunkan mengandung syiar Islam/dakwah. Pada masa sekarang, tari zapin dipertunjukkan pada acara-acara tertentu seperti pernikahan, khitanan dan hari raya Islam.

Tari Saman

-Aceh-

            Tari Saman diciptakan oleh ulama Gayo bernama Syekh Saman. Pada awalnya dikenal sebagai sebuah permainan rakyat dan dikenal dengan nama Pok Ane. Namun, pada perkembangan selanjutnya menjadi sebuah tarian yang cukup familiar dikenal, tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga diluar negeri. Pada zaman dulu tari saman hanya dibawakan oleh laki-laki yang jumlahnya ganjil.

saman

Pada masa kini tarian saman tidak hanya dibawakan oleh laki-laki saja, tetapi juga dibawakan perempuan dan tidak dibatasi umur bahkan banyak anak-anak sejak dini sudah diajarkan tari saman. Tari saman digunakan sebagai sarana dakwah yang mana syair-syairnya berisi syair-syair pujian kepada Allah dikombinasi tepukan tangan dan dada para penari. Biasanya tari saman dipertunjukkan pada saat perayaan acara adat, maulid nabi, dan acara-acara tertentu.     

Tari Seudati

-Desa Gigieng-

Tari seudati berasal dari Desa Gigieng, kecamatan Simpang, kabupaten Pidei. Kata Seudati berasal dari kata seurasi artinya harmonis atau kompak. Selain itu, kata seudati juga memiliki makna syahadati atau syahadatain “Kesaksian” atau “pengakuan”. Awalnya tarian ini dikenal sebagai tarian pesisir (ratoh) yang dimainkan untuk mengawali permainan sambung ayam atau pada saat musim panen tiba pada malam bulan purnama.

seudati

Tari Seudati mempunyai peran penting dalam media dakwah melalui syair-syair dan pantun berisi pujian kepada Allah. Hal yang paling menarik dari tari ini adalah tidak ada musik pengiring, yang ada hanyalah suara hentakan kaki, pukulan telapak tangan di dada dan pinggul serta suara petikan jemari dari para penari. Biasanya tari seudati ditarikan oleh 8 orang laki-laki sebagai penari utama.

SENI PERTUNJUKAN TEATER

Wayang Kulit

-Jawa-

            Asal usul dari pergelaran wayang lahir di Jawa, seiring dengan datangnya agama Hindu ke Indonesia. Ada di Indonesia pada masa pemerintahan Prabu Airlangga (Raja Kahuripan). Kata wayang berasal dari kata wewayangan yang mengandung arti bayangan. Pada masa Hindu, cerita wayang biasanya menceritakan tentang Ramayana dan Mahabarata. Sedangkan pada masa Islam, tradisi yang ada pada masa hindu dilanjutkan oleh para wali songo dan dikemas dan disesuaikan dengan Islam serta dijadikan sarana untuk dakwah Islam.

shadow-puppet-02

            Adapun upaya para wali songo menyesuaikan wayang dengan Islam sebagai berikut:

Akulturasi Wayang

Kalimat Syahadat -> Dipersonifikasi tokoh Puntadewa sebagai saudara tua dari Pandawa.

Shalat lima waktu -> Tokoh Bima: dikenal penegak Pandawa.

Zakat -> Arjuna; nama dari kata “jun” artinya “jiwa yg jernih”.

Puasa Ramadhan dan Haji -> Nakula-Sadewa: tampil pada saat tertentu saja.

Salah satu wali yang memiliki kontribusi besar dalam pewayangan adalah Sunan Kalijaga. Ia berjasa dalam menambahkan peralatan yang dipakai pewayangan, seperti kelir, blancong, dan memakai pohon pisang dan menambahkan laras pelog. Ciri Khas wayang kulit ditelusuri dari penggunaan bahasa dan peralatannya seperti wayang, kelir, blencong, kepyak, dalang, dan lain-lain.

Dari uraikan singkat diatas dapat disimpulkan bahwa: Seni pertunjukkan di Indonesia sudah ada sejak masa lampau, khususnya seni pertunjukkan Islam di Indonesia. Mempelajari seni pertunjukkan memberikan gambaran bahwa seni di Indonesia cukup beragam, mengingat masyarakat Indonesia cukup plural. Setiap seni pada masyarakat lokal tertentu ada dan berkembang berbeda-beda sesuai dengan pola pikir dan pengaruh apa yang muncul disuatu wilayah. Yang jelas, segala bentuk seni pertunjukkan yang diterangkan diatas mampu bertahan dan masih dapat kita nikmati sampai saat ini. Semoga segala bentuk seni apapun di Indonesia senantiasa di jaga dan di lestarikan.

NOTE: Seni tidak hanya terkait dengan keindahan semata, tetapi juga berbicara tentang nilai lokal masyarakat yang dijunjung tinggi. Perkembangan seni mencerminkan setiap masa dalam masyarakat.

~TETAP BERKARYA dan BERBAGI ILMU~

SUMBER:

Sujarno. Seni Pertunjukan Tradisional Nilai, Fungsi dan Tantangannya. Yogyakarta: kementrian kebudayaan dan pariwisata. 2003.

Berbagai sumber.

Jangan lupa kritik dan sarannya guys!!! Thanks

Share the knowledge!
Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Pin on Pinterest0Email this to someoneShare on Tumblr0Share on Reddit0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *