Suku Aztek di Meksiko

Share the knowledge!
Share on Facebook9Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Pin on Pinterest0Email this to someoneShare on Tumblr0Share on Reddit0

Hampir secara serempak di abad ke-15 M, masyarakat Amerika-Latin dan Andea masing-masing bersatu secara politik dalam suatu kerajaan yang meliputi sebagian besar wilayah tersebut. Dalam setiap wilayah, pendirian kerajaan dilakukan oleh komunitas baru, yang dari sini komunitas baru ini meluaskan dominion politiknya. Salah satu komunitas baru ini adalah Suku Aztek.

Suku Aztek dikenal memiliki peradaban tinggi, dengan pulau-pulau apung buatan untuk menyokong pertanian mereka. Selain memiliki pertanian maju, orang-orang Aztek juga dikenal melalui tradisi upacara pengorbanan manusia mereka yang kejam.

Kemunculan Suku Aztek

Orang-orang Aztek pada awalnya merupakan gerombolan pengembara barbar penyelundup yang memasuki Distrik Telaga (sebuah wilayah pengungsian pascaruntuhnya Kerajaan Toltec pada abad ke-12). Di wilayah ini mereka menerima pengaruh budaya dari pengungsi lain, di antara seni perang dan ritual pengorbanan manusia.

Pada seperempat akhir abad keempatbelas, mereka mulai bermukim di beberapa pulau yang tidak berpenghuni di teluk barat laut Danau Texcoco, Meksiko. Oleh orang-orang Aztek lingkungan baru yang tidak ramah ini dirubah menjadi wilayah yang layak dihuni dengan memangkas berlapis-lapis tumbuh-tumbuhan rimbun dan menjadikan lingkungan baru ini dapat diakses. Sampah-sampah tumbuhan tersebut lalu dirubah menjadi pulau-pulau apung buatan untuk bercocok tanam.

Dengan kemauan kuat, orang-orang Aztek menjadi perencana kota dan agrikulturalis yang terampil. Selanjutnya, mereka juga menjadi pedagang jarak jauh, yang menggabungkan perdagangan dengan karya-cerdas militer.

Orang-orang Aztek menempuh jalan menuju kekuasaan militer dan politik melalui pengabdian selaku tentara bayaran bagi penguasan kerajaan Tepanec. Pada tahun 1428, orang-orang Aztek dari Tenochtitlan, salah satu dari dua kota Aztek, merampas kerajaan Tepanec di distrik-telaga yang turut mereka bangun sebagai tentara bayaran.

Tokoh pergerakan bangsa Aztek adalah Tlacaelel, yang bertahan hidup sebagai penasihat politik bagi tiga penguasa Tenochtitlan berturut-turut. Tlacaelel memulai pergerakan dengan mencaplok dan menggabungkan kota kembar Aztek Tenochtitlan, dan tetangga dekat utara, Tlatecoli. Ia juga bersekutu dengan negara-kota lokal lainnya yang terletak di sekitar Danau Texcoco, yakni negara Acolhua Texcoco, dan Tlacopan. Pemusatan kekuasaan di bawah pemerintahan Tenochtitlan ini memungkinkan bangsa Aztek untuk membangun kekaisaran di dataran Meksiko pada 1428 M dengan kaisar pertamanya, Itzcoatl (1427-1440).

Di bawah pimpinan kaisar kedua, Moctezuma I (1440-1469), Aztek dijadikan sebuah unit politik dan budaya yang kuat dengan Tenochtitlan sebagai ibu kotanya.  Aztek mencapai puncak kejayaannya pada  pemerintahan Ahuitzotl (sekitar 1486-1502), yang melipatgandakan wilayah kekuasaan Aztek. Pada masa tersebut wilayah Aztek membentang melintasi Amerika Latin, dari pesisir ke pesisir, mencakup ujung Atlantik dan juga ujung Pasifik.

suku aztek
Wilayah Aztek

Kerajaan Aztek tidak dapat dipungkiri mempunyai wilayah yang luas, tetapi wilayah yang luas itu tidak lah komprehensif. Orang-orang yang jatuh di bawah dominasi Aztek mendapati kerasnya kehidupan. Para warga sebagian tertekan lantaran penempatan garnisun permanen di wilayah mereka. Di bawah paksaan, mereka terpaksa membayar upeti tinggi, termasuk anak laki-laki dan perempuan untuk pengorbanan di samping bahan makanan, tekstil, batu, dan logam berharga.

Kehidupan Suku Aztek

Untuk wilayah Amerika Latin saat itu, bangsa Aztek dapat dikatakan mempunyai peradaban yang tinggi. Penduduk Aztek memenuhi kebutuhan pangan mereka, dengan mengandalkan tanaman pangan yang dibudidayakan di sejumlah Chinampas(pulau buatan). Pulau-pulau apung tersebut dibangun di Danua Texcoco.

suku aztek
Ilustrasi pulau apung suku Aztek

Pasokan pangan itu juga disokong hasil pertanian dari tanah taklukan suku Aztek, yang menghasilkan jagung, kacang buncis, kakao, bahan katun, serta hasil tambang seperti emas, perak, dan batu nefrit.

Orang Aztek berdangan mengelilingi Meksiko hingga wilayah yang kini menjadi Amerika Serikat, dan ke selatan menuju Kolombia. Mereka menjual barang-barang bernilai tinggi yang dibuat oleh para pengrajin seperti pakaian, perhiasan, perabot rumah tangga, dan peralatan upacara. Para pedagang membeli batu pirus dari orang Indian Pueblo di utara. Dari selatan didatangkan bulu unggas berwarna cerah yang digunakan untuk membuat mantel, kipas, hiasan kepala, dan hiasan perisai.

Masyarakat Aztek tersusun secara militeristik. Semua pria muda harus berdinas dalam ketentaraan semenjak usia 17 hingga 22 tahun. Beberapa di antara mereka berdinas lebih lama, apabila ia memang memiliki kemampuan.

Orang-orang Aztek mengambil alih sistem kalender Amerika Latin dengan akurat, dan mereka mengkombinasikan agama leluhur mereka dengan agama pemukim terdahulu, sehingga tercipta suatu panteisme dan ritual rumit seperti Hindu.

Mereka juga membuat naskah yang tersusun dari piktogram-piktogram dan fonem-fonem permainan kata, yang lebih praktis daripada piktograf-piktograf tradisional Amerikan Latin, dan mereka menghasilkan beberapa karya puisi yang sangat introspektif.

Tradisi Pengorbanan Manusia

Berbicara mengenai bangsa Aztek, maka tidak dapat dilepaskan dari tradisi pengorbanan manusia yang mereka lakukan. Bahkan, kemajuan peradaban suku Aztek seakan tersaingi oleh tradisi pengorbanan manusia tersebut. Pengorbanan manusia dilakukan oleh orang-orang Aztek dengan berbagai  metode mengerikan seperti mencungkil jantung para korban hidup-hidup.

suku aztek
upacara pengorbanan manusia

Untuk memenuhi tradisi kepercayaan mereka, orang-orang Aztek berperang untuk menawan sejumlah besar tawanan perang untuk dikorbankan. Salah satu tugas tentara Aztek adalah menangkap sebanyak mungkin tawanan. Para tawanan kemudian dijadikan korban di Tenochtitlan.

suku aztek
Kuil Piramida Aztek

Upaca pengorbanan dilakukan di kuil piramida raksasa yang berada di teangah kota itu. Pengorbanan darah keagaman ini menjadi ritual penting bagi orang Aztek. Korban-korban dipersembahkan untuk banyak dewa mereka. Semua dewa diyakini membutuhkan banyak darah manusia, terutama dewa perang, Huitzilopochtli.

Akan tetapi, agresi bersenjata dan pengorbanan darah ini berangsur mendorong para tetangga Aztek bergerak melakukan perlawanan, yang menyebabkan runtuhnya peradaban Aztek di Meksiko. Keruntuhan peradaban Aztek akan kita bahas pada artikel selanjutnya.

BIBLIOGRAFI

Gifford, Clive. 2009. Ensiklopedia Sejarah dan Budaya. Terj. Nino Oktorino. Jakarta: Lentera Abadi.

Montefiore, Simon Sebag. 2008. Tokoh Kontroversial Dunia. Jakarta: Erlangga.

Toynbe, Arnold. 2007. Sejarah Umat Manusia. Terj. Agung Prihantoro. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Share the knowledge!
Share on Facebook9Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Pin on Pinterest0Email this to someoneShare on Tumblr0Share on Reddit0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *