Theodor Herzl dan Usaha Pendirian Negara Israel Part 2

Share the knowledge!
Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Pin on Pinterest0Email this to someoneShare on Tumblr0Share on Reddit0

Hallo comrades, melanjutkan pembahasan Theodor Herzl dan Usaha Pendirian Negara Israel Part 1 yang sempat tertunda. Kali ini penulis ingin lebih mengulas lebih dalam mengenai pemikiran Theodor Herzl, terutama dalam pemikirannya menggunakan iklim anti-semit di Eropa sebagai senjata untuk memaksa Yahudi di Eropa supaya mereka mau bermigrasi ke tanah Palestina.

Pemikiran Theodor Herzl

herzl
Theodor Herzl

Theodor Herzl merupakan aktor sekaligus arsitek intelektual atas munculnya ide negara-negara Israel. Pada tahun 1896, Herzl berhasil merumuskan ideologi kebangsaan dan gagasan tentang sebuah negara merdeka bagi seluruh kaum Yahudi yang  tersebar di seluruh penjuru dunia.  Tidak ada yang mengira seorang jurnalis, dapat berubah dengan cepat, menjadi seorang tokoh politik dan propaganda yang mempunyai jaringan dengan berbagai tokoh-tokoh dunia. Beberapa tokoh dunia itu antara lain Menteri Luar Negeri Jerman Von Bulow dan Kaisar Wilhelm II, Menteri Dalam Negeri usia Plehve, Kaisar Nicholas II, dan tentu saja Rothschild Family Presiden Federasi Yahudi Eropa.

Ide pembentukan negara untuk Yahudi ini, sebenarnya muncul ditengah semangat kebangkitan zionisme keagamaan yang diilhami tradisi Yudaisme. Pada batasan tertentu, Herzl  memanipulasi Zionisme keagamaan kepada tujuan-tujuan politik keduniaan. Herzl menolak gagasan dan rumusan Yudaisme sebagai sebuah agama, sebagaimana yang diinginkan Zionisme keagamaan.

Ide Hezl ini kemudian dituangkan dalam sebuah buku berjudul. Der Judenstaat, yang berarti sebuah negara orang Yahudi. Buku ini dalam perkembangannya menjadi pedoman pendirian negara Israel. Namun tidak semua Yahudi mendukung ide Herzl ini. Protes yang ditujukan terhadap Zionisme, sebagai sebuah gerakan politik, telah disuarakan, bukan hanya para rabbi Yudaisme saja, tetapi juga beberapa orang Yahudi yang menjadi tokoh besar dunia: Einstein, Martin Buber, Presiden pertama Universitas Hebrew di Yerusalem, dan Prof. Judah L. Magnes.

Dikutip dari buku The Complete Diaries of Theodor Herzl yang ditulis Herzl sendiri, berbagai metode/strategi yang digunakan Herzl untuk melancarkan rencananya. Untuk menarik perhatian Yahudi yang ada di pedesaan, anda harus mengatakan kepada mereka beberapa cerita dongeng tentang kemungkinan mereka dapat memperoleh emas di sana(tanah negara Israel), ini salah satu metode yang digunakan Herzl agar Yahudi pedesaan mau berpindah tempat.

Di dalam buku tersebut, juga dijelaskan prosedur perencanaan untuk mendirikan suatu negara bagi bangsa Yahudi, yang terbagi menjadi tiga prosedur:

  1. Money Rising (sindycate)
  2. Start of publicity (which will cost nothing, for the anti semite will rejoice, and I shall break down the liberal opposition by threats of competition)
  3. Enrollment of land-seekers

Herzl juga tidak menyukai orang Yahudi yang dibaptis/memeluk agama Kristen, dan berasimilasi. Ia menyebut mereka dengan sebutan pengecut. Dalam tulisannya tersebut, ia mengatakan mereka akan tetap menerima manfaat lebih banyak dari mereka. Dalam menanggapi hal ini Herzl menyebut bahwa kaum mereka (zionis) adalah Yahudi yang beriman. Herzl mempunyai ide untuk menjadikan golongan anti-semits, sebagai teman yang bisa diandalkan untuk mencapai tujuan mereka, ia mengatakan negara anti-semit adalah sekutu mereka.

Hal ini didasari saat Herzl menyebarkan Propaganda pendirian negara Israel, tidak semua Yahudi menyetujui hal tersebut. Mereka yang tidak setuju akan hal itu, beranggapan bahwa pendirian negara Yahudi di Palestina akan mengakibatkan terjadinya pertikaian dengan penduduk asli yang telah mendiami tempat tersebut selama berabad-abad. Disamping itu gerakan Zionisme Herzl akan membangkitkan kecurigaan terhadap orang-orang Yahudi yang saat itu tersebar di seluruh dunia. Mereka akan dituduh mempunyai kesetiaan ganda dan kewarganegaraan yang rangkap.

Perlu diketahui pada saat itu iklim anti-semit di Eropa sedang memanas. Sehingga untuk melancarkan rencananya Herzl menggunakan negara-negara anti semit sebagai sekutu mereka. Strategi dengan menggunakan negara-negara anti semit ini, semata-mata agar Yahudi dapat berimigrasi secara terhormat. Dalam catatan harian Herzl tanggal 12 Juni 1895, mengatakan “It would be an excellent idea to call in respectable, accredited anti-semites as liquidators of property.”

Antisemitic postcard from Germany around 1890
Antisemitic postcard from Germany around 1890

Pada tahun 1905, kota Kishinev berlangsung anarkisme yang mengakibatkan 50 orang Yahudi mati dan 200 orang luka-luka. Anehnya pemerintah Rusia tidak memberikan perlindungan, bahkan sejumlah oknum telah mendalangi peristiwa ini. Dalam ketidakpastian ini, lagi-lagi bangsa Yahudi dipaksa untuk menginggalkan rumah dan harta benda mereka guna mengadakan pengembaraan ke daerah baru. Di antara mereka, ada yang melarikan diri menuju Eropa Barat, Amerika, dan sebagian lainnya memilih pindah ke Palestina. Selama rentang masa antara tahun 1881 hingga 1914 diperkirakan sekitar 2,6 juta orang Yahudi keluar dari daerah kekaisaran Rusia.

Siapa yang menyangka, Herzl termasuk salah seorang propagandis anti semit di benua Eropa. Namun, pandangan Herzl  tidak didasari sikap benci kepada Yahudi, melainkan memanfaatkan anti semit untuk mewujudkan rencananya. Herzl menganggap iklim demokratis dan toleran di Eropa dianggap tidak baik bagi rencana pembentukan negara Israel. Jika kita menggunakan logika, kita dapat memahami pemikiran Herzl ini. Kesejahteraan bangsa Yahudi di Eropa adalah penghalang utama bagi kepindahan maassal mereka kelak ke Palestina. Sehingga ia memutuskan untuk menggunakan gerakan anti–semit, untuk menciptakan keresahan, ketidaknyamanan, dan ketakutan  kaum Yahudi. Sehingga dengan kondisi seperti ini, bangsa Yahudi akan mendukung gerakan Zionisme untuk mendirikan suatu negara di Palestina.

Berikut dukungan Baron Chlomecki, ketua Parlemen Austria kepada Herzl

If your intention and the objective of your propaganda is to foster anti-Semitism, you may reach this objective. I am absolutely convinced that by such propaganda anti-Semitism will grow and that you will bring a bloodbath upon Jewry.

Jika niat anda dan tujuan segala propaganda yang anda lakukan adalah untuk menumbuhkan dan mengembangkan anti semit, maka dapat dicapai sasaran itu. Saya sepenuhnya yakin bahwa melalui segala macam propaganda yang demikian itu anti-semit akan tumbuh dan berkembang dan pada akhirnya anda akan menimbulkan pertumpahan darah pada segala macam  keyahudian.

Kita dapat menelaah bagaimana strategi Herzl menggunakan anti-semit untuk memuluskan tujuannya dapat dikatakan berhasil. Karena setelah iklim anti-semit semakin memanas di Eropa, maka perpindahan Yahudi dari Eropa pun tidak dapat terelakkan. Dengan demikian Yahudi yang pada awalnya menolak gagasan pendirian negara Israel, perlahan-lahan akan mendukungnya. Demikian ulasan bagaimana pemikiran Herzl, dalam memanfaatkan iklim anti-semit di Eropa, sebagai senjata bagi pendirian Negara Israel. Kita akan membahas mengenai konspirasi pendirian negara Israel di pembahasan selanjutnya.

BIBLIOGRAFI

Bakar, Abu. 2008. Berebut Tanah Suci Palestina (Yogyakarta: Insan Madani).

Coleman, John. 2013. Rohschild Dynasti: Mengungkap Garis Keturunan Zionis dan Strategi Nenek Moyang Mereka dalam Mengendalikan Dunia (Jakarta: Change Publication).

Garaudy, Roger. 1988. Zionis Sebuah Gerakan Keagamaan dan Politik (Jakarta: Gema Insani).

Hermawati. 2005. Sejarah Agama dan Bangsa Yahudi (Jakarta: RajaGrafindo Persada).

Herzl, Theodor. 1961. The Complete Diaries of Theodor Herzl (New York: Jewish Agency).

__________. 1988. The Jewish State (New York: Dover Publications)

Khalidi, Whalid. 1991. Before Their Diaspora: A Photographic of Palestians, 1876-1948, (Washington: Institute for Palestine Studies)

Kuncahyono, Trias. 2010. Jerusalem: Kesucian, Konflik, dan Pengadilan Akhir (Jakarta: Gramedia)

M. Lapidus, Ira. 2000. Sejarah Sosial Umat Islam bagian ketiga (Jakarta: RajaGrafindo Persada).

Schoenman, Ralph. 2013. Di Balik Sejarah Zionisme (Yogyakarta: Mata Padi Presindo).

Jurnal

Jeffrey M. Bale, “political Paranoia v. Political Realism: on sitinguishing between bogus conspiracy theories and genuene conspiratorial politics,” Patterns of Prejudice, Vol. 41, No. 1, 2007,

Khan, Mubasshir. 2015. Anti Semitism: a weapon of Zionism dalam Asian Journal of Multidisciplinary Studies,  (online) Vol 3, (www.ajms.co.in diakses 17 Maret 2016).

Share the knowledge!
Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Pin on Pinterest0Email this to someoneShare on Tumblr0Share on Reddit0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *