Tokoh Pembaharu di Pakistan

Share the knowledge!
Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Pin on Pinterest0Email this to someoneShare on Tumblr0Share on Reddit0

Pakistan
Pakistan

Pakistan merupakan sebuah negara yang tidak dapat dipisahkan dari India. Mengingat pada awalnya Pakistan merupakan pecahan dari India. Berdirinya Pakistan mengalami dinamika dan masa-masa sulit. Berbicara mengenai berdirinya Pakistan, terdapat dua tokoh yang memiliki peranan besar dalam pembentukan negara Pakistan, yaitu Muhammad Iqbal dan Ali Jinnah. Muhammad Iqbal dikenal sebagai Bapak Pakistan karena ia adalah orang yang pertama kali memiliki ide untuk membentuk negara tersendiri, sedangkan Ali Jinnah yang meneruskan ide dari Muhammad Iqbal dan merealisasikannya.

Lahirnya Pakistan merupakan bentuk usaha dari para tokoh pembaharu muslim tersebut untuk memisahkan diri dari India. Hal ini diungkapkan oleh Muhammad Iqbal bahwa India pada hakekatnya tersusun dari dua bangsa, bangsa Islam dan bangsa Hindu. Umat Islam India harus menuju pada pembentukkan negara tersendiri, terpisah dari negara Hindu di India.[1] Gagasan Muhammad Iqbal tersebut yang diperjuangkan oleh umat Islam yang ada di India.

Upaya umat Islam untuk memperjuangkan cita-citanya ini melalui proses yang panjang. Di India terdapat dua partai politik, yaitu Partai Kongres Nasional yang dipimpin oleh Jawaharlal Nehru dan Liga Muslim India yang dipelopori oleh Muhsinul Mulk. Kedua partai ini memiliki kepentingan yang berbeda. Para pejuang nasionalis muslim menempuh jalan dengan membentuk Liga Muslim sebagai wadah yang menaungi umat Islam India dan menjadi jembatan perjuangan mereka.

Berdirinya Liga Muslim menandai munculnya gerakan nasionalisme yang didalamnya terdapat keinginan untuk membentuk negara Pakistan dan mendapat dukungan dari umat muslim termasuk Ali Jinnah yang memiliki peran yang kuat.

Tokoh-tokoh Pembaharu di Pakistan

  1. Muhammad Iqbal

Muhammad Iqbal

Biografi Muhammad Iqbal

Muhammad Iqbal lahir di Sialkot, sebuah kota tua yang memiliki sejarah di perbatasan Punjab Barat dan Kashmir. Mengenai kapan ia lahir, dari berbagai sumber, ada yang mengatakan tahun 1873, 1876, dan 1877. Ia lahir dari keluarga yang memiliki latar belakang miskin, namun taat beribadah. Ayahnya bernama Syekh Mohammad Noor. Ayahnya adalah seorang sufi. Ibunya bernama Imam bibi. Muhammad Iqbal dapat melanjutkan pendidikan dengan baik karena ia mendapatkan bantuan beasiswa. Sejak kecil ia mendapatkan bimbingan langsung dari sang ayah Syekh Mohammad Noor dan Muhammad Rafiq kakeknya.[2] Muhammad Iqbal dimasukkan di sebuah maktab (surau) untuk belajar al-Qur’an.

Muhammad Iqbal sekolah dasar sampai menengah di Sialkot. Kemudian ia melanjutkan pendidikannya ke Goverment College (Sekolah Tinggi Pemerintahan) di Lahore. Di sekolah tersebut Muhammad Iqbal bertemu dengan Sir Thomas Arnold dan menjadi mahasiswa kesayangannya. Muhammad Iqbal menyelesaikan pendidikannya tahun 1897 dan memperoleh beasiswa serta dua medali emas karena kemampuannya dalam bahasa Inggris dan bahasa Arab. Akhirnya Muhammad Iqbal mendapatkan gelar M.A. dalam filsafat pada tahun 1899.[3]

Setelah menyelesaikan pendidikannya, Muhammad Iqbal bekerja di Goverment College sebagai staf dosen. Ia mulai menulis buku, karya pertamanya berbicara mengenai ekonomi yang ditulis dalam bahasa Urdu. Ia juga tertarik dengan sastra sehingga pada tahun 1901 ia menerbitkan sebuah majalah Urdu Makhzan yang di dalamnya berisi karangan syair-syair Muhammad Iqbal.[4]

Kemudian pada tahun 1905 Muhammad Iqbal melanjutkan pendidikannya ke Inggris dan masuk di Universitas Cambridge dan disana ia mempelajari falsafat. Dua tahun kemudian ia pindah ke Munich di Jerman dan berhasil memperoleh gelar Ph.D. dalam tasawwuf dengan desertasinya yang berjudul The Development of Metaphysics in Persia. Pada tahun 1908 Muhammad Iqbal kembali ke Lahore dan bekerja sebagai pengacara serta menjadi dosen falsafat.[5]

Muhammad Iqbal memiliki ketertarikan pada dunia politik dan pada tahun 1930, ia dipilih menjadi Presiden Liga Muslimin. Ia ikut serta dalam Perundingan Meja Bundar di London sebanyak dua kali. Ia ambil bagian juga dalam Konferensi Islam di Yerussalem. Kemudian pada tahun 1933 ia mendapatkan undangan untuk hadir ke Afghanistan dalam rangka pembentukkan Universitas Kabul. Ia meninggal pada 18 Maret 1938.[6]

Pemikiran Muhammad Iqbal:

Muhammad Iqbal merupakan tokoh pembaharu yang memiliki keunikan tersendiri. Hal ini dikarenakan ia bukan hanya seorang tokoh pembaharu, tetapi juga seorang filosof dan penyair yang hebat. Pembaharuan pemikirannya lebih kepada bidang keagamaan dan politik. Adapun pemikiran Muhammad Iqbal sebagai berikut:[7]

  1. Umat Islam mengalami kemunduran karena kebekuan dalam berpikir.
  2. Hukum Islam tidak statis, melainkan dapat berkembang sesuai dengan perkembangan zaman.
  3. Pengaruh zuhud yang ada dalam tasawuf mengakibatkan keadaan umat tidak terlalu mementingkan soal kemasyarakatan dalam Islam.
  4. Pintu ijtihad belum tertutup.
  5. Islam mengajarkan dinamisme.
  6. Ijtihad memiliki kedudukan yang penting.
  7. Umat Islam hanya boleh mengambil ilmu pengetahuan barat.
  8. Menolak nasionalisme karena didalamnya terdapat benih-benih materialisme dan ateisme.

Ia banyak melakukan gerakan pembaharuan dalam bidang politik. Ia memiliki gagasan untuk membentuk negara Islam. Mengingat di India terdapat dua bangsa yang memiliki keyakinan yang berbeda, yaitu bangsa Islam dan bangsa Hindu. Keinginannya tersebut kemudian disampaikan pada pertemuan rapat tahunan Liga Muslimin di tahun 1930. Gagasannya inilah yang kemudian menjadi sebab ia dijuluki sebagai Bapak Pakistan.

Jalan yang ditempuh Muhammad Iqbal dalam memperjuangkan nasional umat Islam di India agar umat Islam dapat memperoleh masa depan yang lebih baik, tenang dan dapat hidup dengan bebas dari tekanan-tekanan luar.

Pengaruh Pemikiran Muhammad Iqbal:

Muhammad Iqbal merupakan tokoh fenomenal dan banyak memberi warna tersendiri bagi pembaharuan dunia Islam, khususnya India-Pakistan. Pemikirannya dalam bidang keagamaan maupun politik banyak memberikan pengaruh. Pemikirannya dalam bidang agama banyak membuka mata umat Islam di India untuk mengoptimalkan peranan akal sehingga tidak beku. Umat Islam mulai memiliki kesadaran untuk menyesuaikan diri antara ajaran Islam dengan zaman. Islam yang mengajarkan dinamisme, membuat umat Islam di India memiliki kepercayaan diri untuk melakukan perubahan dan gerakan memperjuangkan haknya serta membebaskan diri dari tekanan-tekanan.

Gerakan pembaharuannya dalam bidang politik lebih kepada sikap yang harus ditunjukkan umat Islam terhadap pengaruh Barat. Umat Islam harus mampu memfilter hal-hal positif saja yang dapat diadopsi karena tidak semua hal yang ada pada Barat pantas untuk diambil. Gagasan penting dari Muhammad Iqbal adalah idenya untuk membangun Negara tersendiri bagi Umat Islam. Muhammad Iqbal banyak melakukan usaha mewujudkan cita-citanya dengan bergabung dengan Liga Muslim. Namun, gagasannya belum sempat diwujudkannya.

  1. Ali Jinnah

Ali Jinnah

Biografi Ali Jinnah

Ali Jinnah lahir di Karachi 25 Desember 1876. Ia lahir dari keluarga yang hidup sebagai pedagang. Sejak kecil Ali Jinnah adalah anak yang cerdas. Kemudian atas saran dari teman Ayahnya, Ali Jinnah pun dikirim ke London pada usia enam belas tahun untuk belajar ilmu hukum dan berhasil memperoleh kesarjanaannya pada tahun 1896. Setelah itu, ia kembali ke India dan bekerja sebagai pengacara di Bombay.[8]

Ali Jinnah melewati masa-masa sulit dalam menekuni kariernya dalam bidang hukum. Ternyata Ali Jinnah belum merasa puas dengan pekerjaannya menjadi pengacara walaupun ia dikenal cemerlang dan mendapat kedudukan yang baik. Ia melebarkan sayapnya dan tertarik pada dunia politik. Sehingga pada tahun 1906 ia masuk dalam politik India.

Pandangan politik Ali Jinnah ini banyak mendapat pengaruh dari Gokhale, Dadabhay Nauroji dan Surrender Nath Banerjee. Ia masuk dalam politik dengan bekal yang didapatnya sewaktu kecil. Ia juga sangat peduli dengan kepentingan umat Islam. Ali Jinnah masuk dalam dunia politik tahun 1906 dan menghadiri sidang All India National Congress di Calcutta sebagai sekretaris pribadi Presiden Dadabhay Nauroji. Ia juga terpilih menjadi anggota Dewan Legislatif Kerajaan.[9]

Kemudian ia bergabung dengan Partai Kongres Nasional India karena partai ini memiliki sikap menentang Inggris untuk kepentingan nasional India. Pada waktu itu, Liga Muslim memiliki sikap yang tunduk pada pemerintahan Inggris. Tetapi, pada perkembangannya Liga Muslim merubah sikap dan mulai memiliki gagasan untuk memperjuangkan berdirinya negara tersendiri bagi umat Islam India. Mengetahui hal ini Ali Jinnah pun memutuskan untuk bergabung dengan Liga Muslim.

Ali Jinnah bergabung dengan Liga Muslim pada tahun 1913. Pada tahun 1934, ia diangkat menjadi presiden seumur hidup. Ia banyak menghabiskan waktunya untuk memperkuat Liga Muslim dan berupaya keras untuk mewujudkan perjuangan. Liga Muslim pun berubah menjadi gerakan rakyat yang luar biasa. Liga Muslim banyak melalui masa-masa sulit, tetapi karena kegigihan Ali Jinnah, ide negara Pakistan pun berkembang semakin baik dan akhirnya terwujud. Negara Pakistan pun berdiri pada tanggal 15 Agustus 1947. Keberhasilan Ali Jinnah pun diapresiasi dengan diberi gelar Qaid-i Azam (Pemimpin Besar).[10]

Ketika Pakistan berdiri, Ali Jinnah pun ikut serta dalam membangun Pakistan ke arah lebih baik dan menghadapi setiap proses, baik suka maupun duka. Ali Jinnah tutup usia pada 11 September 1948 karena sakit. Kematiannya cukup menjadi pukulan bagi masyarakat Pakistan, tetapi perjuangannya untuk mendirikan Pakistan akan selalu dikenang, terlebih lagi ketika ia meninggal, Pakistan sudah dalam kondisi mapan.

Pemikiran Ali Jinnah:

Gerakan pembaharuan yang dilakukan Ali Jinnah dalam bidang politik. Adapun pembaharuan pemikiran yang dilakukannya:

  1. Ia berupaya keras untuk meggerakan umat Islam yang ada di India untuk mendirikan negara dan masyarakat Islam modern di India.
  2. Pelopor berdirinya negara Pakistan.

Ali Jinnah benar-benar berupaya keras untuk mewujudkan pemikirannya. Ia bahkan menghabiskan seumur hidupnya demi kepentingan umat Islam di India. Kegigihan dan kharismanya membuahkan hasil usaha yang manis. Jasanya selalu membekas dalam hati masyarakat Pakistan.

Pengaruh Pemikiran Ali Jinnah:

Ali Jinnah adalah tokoh yang menjadi ujung tombak perjuangan umat Islam India dalam mewujudkan berdirinya Pakistan. Ali Jinnah melanjutkan ide para pemikir terdahulu. Dapat dikatakan bahwa Ali Jinnah adalah tokoh penerus perjuangan Muhammad Iqbal. Ali Jinnah memiliki semangat untuk merdeka dan menuntut pembagian India. Ia mengikuti langkah demi langkah dan melalui setiap prosesnya. Terlebih lagi keberhasilannya dalam memperoleh empati dari rakyat menjadi salah satu faktor keberhasilannya.

Baik Muhammad Iqbal maupun Ali Jinnah memiliki peran besar di Pakistan. Gerakan Pakistan yang mereka gagas banyak memberi inspirasi dan sebagai pintu gerbang munculnya gerakan revivalisme agama sesudahnya. Seperti revivalisme agama dari Maulana Muhammad Ilyas dengan gerakan Jamaah Tabligh, Maulana Asyraf Ali Thanavi dengan gerakan sufi reformasi, Maulana Abul al A’la Maududi dengan Jamaat-i Islami, Maulana Muhammad Ali Jauhar dengan gerakan khilafat, dan Allamah Inayatullah al-Masyriqi dengan gerakan Khaksar.[11]

BIBLIOGRAFI

Ali, Mukti. Alam Pikiran Islam Modern di India dan Pakistan. Bandung: Mizan, 1996.

Esposito, John L. Dunia Islam Modern. Bandung: Mizan, 1999.

Nasution, Harun. Pembaharuan dalam Islam: sejarah pemikiran dan gerakan. Jakarta: PT Bulan Bintang, 1991.

Kusdiana, Ajid Thohir dan Ading. Islam di Asia Selatan. Bandung: Humaniora, 2006.

Youlie, Arianti. Biografi Mohammad Iqbal dan Pemikiran-pemikirannya, http://ariantiyoulie.bologspot.com/2013/12/biografi-mohammad iqbal-dan-pemikiran.html, diakses Sabtu 11 April 2014.

[1]Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam:sejarah pemikiran dan gerakan (Jakarta: PT Bulan Bintang, 1991), hlm. 193.

[2]Arianti Youlie, Biografi Mohammad Iqbal dan Pemikiran-pemikirannya, http://ariantiyoulie.bologspot.com/2013/12/biografi-mohammad iqbal-dan-pemikiran.html, diakses Sabtu 11 April 2014.

[3] Mukti Ali, Alam Pikiran Islam Modern di India dan Pakistan (Bandung: Mizan, 1996), hlm.174.

[4] Ibid.

[5] Ibid.

[6] Nasution, Pembaharuan dalam Islam, hlm. 190-191.

[7] Nasution, Pembaharuan dalam Islam, hlm. 191-194.

[8] Ibid, hlm. 195.

[9] Mukti Ali, Alam Pikiran Islam Modern, hlm.190-191.

[10]Ajid Thohir dan Ading Kusdiana, Islam di Asia Selatan (Bandung: Humaniora, 2006), hlm. 181.

[11]John L. Esposito, Dunia Islam Modern, Jilid 4 (Bandung: Mizan, 1999), hlm. 228.

Share the knowledge!
Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Pin on Pinterest0Email this to someoneShare on Tumblr0Share on Reddit0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *