Turunnya Wahyu Pertama Al-Qur’an

Share the knowledge!
Share on Facebook40Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Pin on Pinterest0Email this to someoneShare on Tumblr0Share on Reddit0

turunnya wahyu al-Qur'an
al-Qur’an

Bulan Ramadhan merupakan bulan penuh rahmat bagi seluruh umat Islam. Bulan Ramadhan, menawarkan pahala yang melimpah bagi individu yang rajin menjalankan ibadah wajib, dan sunnah. Selain itu, pada bulan ini berbagai peristiwa-peristiwa penting bagi sejarah umat Islam terjadi. Salah satu peristiwa tersebut adalah turunnya wahyu pertama al-Qur’an, yang juga menandai dimulainya periode kenabian. Peristiwa tersebut merupakan salah satu peristiwa paling penting dalam perjalanan sejarah Umat Islam hingga dewasa ini, oleh karena itu pada pembahasan kali ini akan dipaparkan lebih lanjut mengenai sejarah turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad.

Aktivitas Rasul Menjelang Turunnya Wahyu

Ketika usia Muhammad bin Abdullah telah mendekati 40 tahun, beliau banyak menghabiskan hari-harinya untuk mengasingkan diri. Aktivitas tersebut mulai beliau kerjakan setelah melalui perenungan yang lama. Dengan membawa roti dari gandum dan air, beliau pergi ke Gua Hira’ di Jabal Nur, yang berjarak kurang lebih 2 mil dari kota Mekkah, suatu gua yang tidak terlalu besar, dengan panjang 4 hasta, dan lebar 1,75 hasta dengan ukuran zira’ al-Hadid (hasta ukuran besi).

Keluarga Rasul terkadang menyertainya ke sana. Selama  bulan Ramadhan, beliau di gua ini, dan tidak lupa memberikan makanan kepada setiap orang miskin di sekitar sana. Selama bulan tersebut beliau menghabiskan waktunya untuk beribadah, memikirkan keagungan alam di sekitarnya, dan kekuatan tidak terhingga di balik alam. Beliau tidak pernah merasa puas melihat keyakinan umatnya yang penuh denan kemusyrikan, dan segala persepsi mereka yang tidak pernah lepas dari mitos. Sementara itu, di hadapan beliau juga tidak ada jalan yang jelas, dan mempunyai batasan-batasan tersentu yang bisa menghantarkannya kepada keridhaan, dan kepuasan hati.

Pilihan Nabi Muhammad untuk mengasingkan diri termasuk dari ketentuan Allah kepadanya, sebagai langkah untuk menerima tugas besar yang sedang menantinya. Ruh manusia yang realitas kehidupannya akan disusupi suatu pengaruh, dan di bawa ke arah lain, maka ruh itu harus dibuat kosong, dan mengasingkan diri untuk beberapa saat, menjauh dari berbagai kesibukan duniawi, dan dinamika kehidupan yang membuatnya sibuk pada urusan kehidupan.

Begitulah Allah SWT mengatur, dan mempersiapkan kehidupan Rasulullah untuk mengemban amanat yang besar, mengubah wajah dunia, dan meluruskan garis sejarah. Allah telah mengatur pengasingan ini selama 3 tahun sebelum membebani Muhammad dengan risalah. Rasul biasanya pergi untuk mengasingkan diri selama jangka waktu sebulan sebelum kembali lagi ke rumahnya, dan begitu seterusnya hingga wahyu Al-Qur’an turun.

Nubuwah, dan Turunnya Wahyu Al-Qur’an

Ketika Muhammad genap empat puluh tahun, tanda-tanda nubuwah (kenabian) sudah tampak. Diantaranya, adanya batu di Mekkah yang mengucapkan salam kepadanya, dan terjadinya ru’ya shadiqah (mimpi yang benar) berupa fajar subuh yang menyingsing. Hal ini berlangsung hingga enam bulan, dan ru’ya shadiqah tersebut merupakan bagian dari empat puluh enam tanda kenabian.

Memasuki tahun ketiga dari pengasingan Muhammad di Gua Hira’, tepatnya di bulan Ramadhan, Alllah memberikan rahmatNya kepada penduduk bumi dengan memberikan kemuliaan kepada Muhammad, berupa pengangkatan sebagai Nabi, dan menurunkan Jibril kepadanya dengan membawa beberapa ayat Al-Qur’an. Peristiwa pengangkatan, dan turunnya wahyu tersebut terjadi pada hari Senin, tanggal malam ke-21 bulan Ramadhan[1] (penjelasan mengapa malam ke-21 dapat dibaca di bawah), dan bertepatan dengan tanggal 10 Agustus tahun 610 M. Tepatnya ketika Rasul berusia 40 tahun 6 bulan 12 hari menurut penanggalan Qamariyah, dan sekitar 39 tahun 3 bulan 20 hari menurut penanggalan Syamsiyah.

Mengenai peristiwa turunnya wahyu tersebut, istri Rasulullah, Aisyah menuturkan kisahnya sebagai berikut, “Wahyu yang mula pertama dialami oleh Rasulullah Saw adalah berupa ru’yah shalihah dalam tidur, dan mimpi itu hanya berbentuk fajar subuh yang menyingsing, kemudian beliau lebih menyenangi penyendirian, dan melakukannya di Gua Hira’, beribadah di dalamnya beberapa malam sebelum dia kembali ke rumah keluarganya.”

Dalam melakukan itu, beliau mengambil bekal kemudian kembali ke Khadijah mengambil perbekalan yang sama hingga datang kebenaran kepadanya: yaitu saat beliau berda di gua Hira’ tesebut, seorang malaikat datang menghampiri sembari berkata, “bacalah!” Aku (Rasulullah) menjawab, “Aku tidak bisa membaca!” Rasul menuturkan, “Kemudian dia memegang, dan merengkuhku hingga aku kehabisan tenaga, lalu setelah itu melepaskanku sembari berkata, “bacalah!” Aku tetap menjawab, “Aku tidak bisa membaca!”

Dia memegangku dan merangkulku hingga aku merasa sesak. Kemudian melepaskanku, seraya berkata lagi, “Bacalah!” aku menjawab “Aku tidak bisa membaca.”

Dia memegangiku, dan merangkulku hingga ketiga kalinya hingga aku merasa sesak, kemudian melepaskanku, lalu berkata:

Al-Alaq: 1-5

ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي خَلَقَ ١  خَلَقَ ٱلۡإِنسَٰنَ مِنۡ عَلَقٍ ٢  ٱقۡرَأۡ وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ ٣  ٱلَّذِي عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ ٤ عَلَّمَ ٱلۡإِنسَٰنَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ ٥

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya

Rasulullah kemudian pulang membawa wahyu dengan hati yang penuh ketakutan, dan menemui Khadijah binti Khuwailid sembari berkata, “Selimutilah aku, selimutilah aku!” maka beliau diselimuti hingga badan beliau tidak lagi menggigil ketakutan layaknya terkena demam.

“Apa yang terjadi padaku?” beliau bertanya kepada Khadijah. Beliau kemudian memberitahukan apa yang baru saja terjadi. Beliau berkata, “Aku takut akan terjadi sesuatu pada diriku.”

Khadijah berkata, “Tidak demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selamanya, karena engkau suka menyambung tali persaudaraan, membantu meringankan beban orang lain, memberi makan orang yang miskin, menjamu tamu, dan menolong orang yang menegakkan kebenaran.”

Selanjutnya Khadijah membawa Rasul pergi menemui Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul Uzza, anak paman Khadijah. Waraqah adalah seorang Nasrani sema Jahiliyah. Dia menulis buku dalam bahasa Ibrani, dan juga menulis Injil bahasa Ibraniseperti yang dikehendaki. Pada saat Khadijah membawa Rasul dia sudah tua, dan buta.

Khadijah berkata kepada Waraqah, “Wahai putra pamanku, dengarkanlah kisah dari anak saudaramu.”

Waraqah bertanya kepada beliau, “Apa yang pernah engkau lihat, wahai putra saudaraku?” Rasulullah kemudian menceritakan apa saja yang pernah dilihatnya.

Akhirnya Waraqah berkata, dia itu adalah An-Namus (Jibril) yang diutus Allah kepada Musa. Andaikan saja aku masih muda pada masa itu. Andaikan saja aku masih hidup ketika kaummu mengusirmu.”

Rasul bertanya, “Benarkah mereka akan mengusirku?”

“Benar, tidak seorang pun yang membawa seperti yang engkau bawa melainkan akan dimusuhi. Andaikan aku masih hidup pada masamu nanti, tentu akan membantumu dengan sungguh-sungguh.” Tidak lama kemudian Waraqah wafat dan wahyu pun tidak turun dalam beberapa waktu.

Wahyu Terputus untuk Sementara

Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad dari Ibnu Abbas yang intinya menyatakan bahwa setelah turunnya  wahyu pertama, wahyu sempat terputus selama beberapa hari. Pada masa-masa terputusnya wahyu itu, Rasulullah hanya diam dalam keadaan termenung sedih. Kegelisahan melingkupi diri beliau. Dalam kitab At-Tabir, Imam al-Bukhari meriwayatkan naskah sebagai berikut:

“Menurut berita yang sampai kepada kami, wahyu berhenti turun hingga membuat nabi sedih, dan berkali-kali berlari ke gunung, dan ingin menjatuhkan diri dari jurang, namun setiap beliau mencapi puncak gunung untuk mencampakkan dirinya, malaikat Jibril menampakkan wujudnya sembari berkata, “Wahai Muhammad, sesungguhnya engkau benar-benar utusan Allah!”. Motivasi ini dapat menenangkan, dan memantapkan kembali jiwa beliau. Lalu pulanglah beliau ke rumah, namun ketika wahyu tidak kunjung turun, beliau pun mengulai tindakan sebagaimana sebelumnya, dan ketika dia mencapai puncak gunung, malaikat Jibril menampakkan wujudnya dan berkata kepadanya seperti sebelumnya.”

Jibril Turun Membawa Wahyu untuk Kedua Kalinya

Ibnu Hajar menuturkan, “Selama wahyu terputus untuk beberapa hari lamanya, beliau ingin ketakutan, dan kedukaannya segera sirna, dan kembali seperti sebelumnya. Ketika bayang-bayang kebingungan mulai surut, dan beliau kembali menunggu-nunggu turunnya wahyu, Allah memuliakan beliau dengan wahyu untuk kedua kalinya.”

Imam Bukhari meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah, bahwa dia pernah mendengar Rasulullah menuturkan masa turunnya wahyu. Beliau bersabda, “Tatkala aku sedang berjalan tiba-tiba aku mendengar sebuah suara yang berasal dari langit. Aku mendongakkan pandangan ke arah langit, dan bumi. Aku mendekatinya hingga tiba-tiba aku terjerembab di atas tanah. Kemudian aku menemui keluargaku dan kukatakan, Selimutilah Aku, Selimutilah aku!. Lalu Allah Ta’ala menurunkan surat Al-Muddatstsir Ayat 1-5” yang berbunyi

يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡمُدَّثِّرُ ١  قُمۡ فَأَنذِرۡ ٢  وَرَبَّكَ فَكَبِّرۡ ٣  وَثِيَابَكَ فَطَهِّرۡ ٤  وَٱلرُّجۡزَ فَٱهۡجُرۡ ٥

Hai orang yang berselimut. Bangunlah, lalu berilah peringatan. dan Tuhanmu agungkanlah. dan pakaianmu bersihkanlah dan perbuatan dosa tinggalkanlah.

 Setelah turunnya ayat-ayat di atas, maka wahyu datang secara berturut-turut dan dalam bentuk suara-suara yang berbeda, dan kadang-kadang muncul seperti gema lonceng. Tetapi pada periode akhir kenabiannya, wahyu turun dalam satu suara, yaitu suara malaikat Jibril.

Mengenai proses turunnya wahyu  ini Aisyah meriwayatkan bahwa Al-Harits ibn Hisyam pernah bertanya kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, bagiamana sampainya wahyu kepada anda?” Rasul menjawab “kadang-kadang wahyu diturunkan kepadaku seperti bunyi lonceng, dan inilah yang aku rasakan paling berat, kemudian bunyi lonceng tersebut menghilang setelah aku menghafal wahyu yang diturunkan itu. Kadang-kadang malaikat mendatangiku dengan wujud seorang laki-laki, lalu dia menyampaikan wahyu kepadaku, kemudian aku menghafal apa yang disampaikannya.”

Setelah mendapat perintah, dan tugas baru yang harus dia laksanakan sebagai seorang utusan Allah, Nabi Muhammad kemudian menemui dan berbaur di tengah masyarakatnya untuk mengajar, berdakwah, dan menyampaiakan risalah barunya.  Pada masa ini Nabi banyak mendapat makian dan hinaan dari masyarakat Quraisy, hingga menyebabkan berdakwah secara sembunyi-sembunyi.

Karakteristik Wahyu di Tahun-Tahun Awal Kenabian

Singkat, tegas, ekspresif, dan mengesankan merupakan karakteristik wayu yang paling awal, yaitu surat-surat al-Makiyah. Pada tahun-tahun awal ini, kandungan dari wahyu yang turun adalah mengenai keagungan Allah, yang pada hari pengadilan akhir (kiamat) akan menimbang setiap perbuatan manusia. Wahyu-wahyu yang pertama menekankan kekhawatiran perihal hari kiamat, anjuran bersikap saleh, dan penuh kebajikan, dan peringatan atas kelalaian terhadap tugas, dan kewajiban, beserta kelalaian terhadap hari pembalasan.

Lawan dari pengabdian diri kepada Allah, dan kekhawatiran akan ancaman di hari akhir adalah sikap sombong, membanggakan kekuasaan manusia, dan pengrusakan terhadap segala sesuatu di dunia. Hal ini merupakan ciri dari masyarakat Mekkah zaman jahiliyah, yang serakah, dan bersikap acuh terhadap nasib fakir miskin, acuh akan sikap kedermawanan, dan acuh terhadap kesejahteraan kelompok masyarakat lemah.

[1] Sebenarnya terdapat banyak perbedaan pendapat mengenai penentuan hari turunnya wahyu. Ada yang berpendapat pada hari ke-7, ada yang berpendapat pada hari ke-17, dan ada yang berpendapat pada hari ke-17. Tetapi saya lebih setuju pada analisa bahwa malam ke-21 Ramadhan. Sebab, mayoritas pakar biografi sepakat bahwa Muhammad diangkat sebagai rasul pada hari Senin. Hal ini diperkuat riwayat dari Abu Qatadah, bahwa Rasul pernah ditanya mengenai tentang puasa hari Senin. Maka beliau menjawab, “Pada hari inilah aku dilahirkan, dan pada hari ini pula turun wahyu (yang pertama) kepadaku.” Dalam lafal lain disebutkan, “itulah hari aku dilahirkan, dan pada hari itu pula aku diutus sebagai rasul atau turun kepadaku wahyu.” Lihat Muslim, I/368; Ahmad, 51299; Al-Baihaqi, IV/286-300, dan Al-Hakim, 21602.

Hari Senin pada bulan Ramadhan tahun itu sendiri hanya  jatuh pada tanggal 7, 14, 21, dan 28. Beberapa riwayat yang shahih telah menunjukkan bahwa Lailatul Qadr hanya jatuh pada malam-malam ganjil dari sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Maka, jika kita membandingkan antara firman Allah, “Sesungguhnya kami menurunkannya (al-Qur’an) pada Lailatul Qadr”, dengan riwayat Abu Qatadah, dan tanggal-tanggal jatuhnya hari senin bulan itu maka akan ditemukan bahwa hari diutusnya beliau menjadi Rasul jatuh pada malam tanggal 21 bulan Ramadhan.

BIBLIOGRAFI

Al-Qur’an

Imam Az-Zabidi. 2002. Ringkasan Hadis Shahih Al-Bukhari. Jakarta: Pustaka Amani.

Ira M. Lapidus. 2000. Sejarah Sosial Ummat Islam. Jakarta: RajaGrafindo Persada.

Philip K. Hitti. 2006. History of The Arabs. Jakarta: Serambi.

Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri. 2011. Sirah Nabaiyah: Ar-Rahiq Al-Makhtum. Jakarta: Ummul Qura.

Share the knowledge!
Share on Facebook40Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Pin on Pinterest0Email this to someoneShare on Tumblr0Share on Reddit0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *