VOC dan Pasar Modal Pertama di Dunia

Dewasa ini kita diramaikan dengan berita kemunculan banyak investor baru di pasar modal Indonesia. Nampaknya di negeri kita ini, sedang tumbuh minat besar generasi muda untuk terjun ke bursa efek. Pasar modal sudah tidak dianggap sebagai hal yang asing, berkat kemajuan teknologi semua orang kini bisa menjadi investor. Namun sejak kapan pasar modal muncul di dunia? Siapa yang mencetuskan? Beberapa pertanyaan ini munkin ada di benak pembaca. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, di artikel kali ini penulis ingin mengulas kemunculan pasar modal pertama di dunia.

VOC dan Perdagangan di Samudra Hindia

Berbicara mengenai sejarah bursa efek dunia maka sulit untuk tidak memasukkan nama VOC ke dalamnya. Perusahaan dagang yang berdiri pada 1602 ini menguasai perdagangan rempah-rempah di Samudra Hindia dalam waktu lama.

Berkat monopoli perdagangan yang diberikan Pemerintah Belanda kekuatan VOC menjadi begitu kuat. Ditambah, perusahaan itu juga diberi hak untuk membuat perjanjian dengan penguasa lokal, membangun benteng, dan memiliki angkatan bersenjata.

Sepanjang eksistensinya VOC  hampir seperti negara dalam negara. Melalui uang dan pasukan yang dimilikinya VOC mampu membangun koloni sendiri.  Menurut perkiraan, pada tahun 1637, nilai total aset VOC mencapai sekitar $ 7,4 triliun. Jumlah kekayaan ini menjadikannya perusahaan terbesar dan terkaya sepanjang masa.

Menjadi Perusahaan Pertama yang Membuka IPO (Initial public offering)

Bagi Anda yang setiap harinya bergelut di bursa efek mungkin IPO sudah menjadi hal yang tidak asing. IPO merupakan penawaran saham perusahaan kepada publik untuk pertama kalinya.

Sebagai perusahaan saham gabungan, VOC membuka penawaran pertama ke publik pada tahun 1602. IPO dimulai pada 1 April hingga 31 Agustus 1602. Untuk mendata investor yang ingin berinvestasi, VOC membuka enam kamar dagang di beberapa kota: Amsterdam, Enkhuizen, Hoorn, Delft, Rotterdam, dan Middelburg.

Melalui enam kamar dagang semi independen ini dana investor dikumpulkan dan dikelola. Investor hanya dapat memperoleh keuntungan dari kamar dagang yang digunakan saat mendaftar dan tidak mengambil uang dari kamar dagang berbeda.

Dari keenam kamar dagang, kamar dagang di Amsterdam menjadi yang paling banyak menggaet investor. Tercatat 1143 investor berinvestasi selama masa IPO atau setara 57% dari total saham perusahaan.

pasar modal
Amsterdam Exchange.
Sumber: Stadsarchief Amsterdam.

Berkat strategi itu, VOC mampu mengumpulkan modal awal sebesar 6,5 juta gulden atau sekitar $ 416 juta dalam mata uang hari ini.

Modal sebanyak itu didapatkan dari para investor VOC yang sejak awal antusias menanamkan modalnya. Minimum investasi saat itu adalah 3.000 gulden atau apabila dihitung berdasarkan inflasi setara dengan $ 195.000, dengan biaya transaksi sebesar f2,80.

Besarnya modal VOC juga diamini oleh Sejarawan Prancis, Fernand Braudel dalam karyanya Civilization and Capitalism mengatakan “Ketika kita membicarakan VOC berarti kita membicarakan  dari awal jumlah uang yang sangat besar”.

Dalam waktu singkat VOC dapat meraup keuntungan dengan cepat, sehingga dapat membagikan dividen yang melimpah bagi para investornya. Pada masa awal dividen yang diberikan mencapai 20-30% dari total keuntungan perusahaan. Permintaan dividen yang tinggi dari investor disebabkan karena pada masa awal perdagangan VOC seringkali diganggu oleh bajak laut, sehingga kapal yang bisa kembali ke Belanda pun tidak banyak.

Seiring berjalannya waktu dan berkurangnya resiko rata-rata dividen yang diberikan pun mulai dikurangi menjadi 5-7% dari keuntungan perusahaan. Terkadang bentuk dividen yang dibagikan juga tidak selalu dalam bentuk uang, seringkali dikombinasikan dengan hasil bumi, cengkeh, rempah-rempah atau obligasi.

Keuntungan VOC mayoritas didapat dari perdagangan rempah-rempahnya. Pulau-pulau di Samudra Hindia terutama Indonesia menjadi tujuan pelayaran VOC, karena terkenal sebagai penghasil rempah-rempah dalam jumlah banyak dan murah.

Meskipun di Indonesia rempah-rempah murah, namun di Eropa pada abad ke-16, rempah-rempah merupakan komoditas yang sangat berharga. Sekantong kecil bumbu rempah dapat digunakan untuk membeli kawanan sapi atau domba. Karena itulah VOC sangat berambisi wilayah tersebut.

Model perdagangan VOC pada awalnya pun begitu sederhana. Membawa armada kapal ke Asia, membeli rempah-rempah, berlayar kembali dan menjual rempah-rempah dengan keuntungan setinggi mungkin.

VOC sangat berambisi memperluas jaringan perdagangannya. Selain rempah-rempah, perusahaan itu juga memperdagangkan produk lain seperti anggur, kapas, sutra, opium, gula, dan teh.

Untuk menyukseskan ambisi besar tersebut, tentu VOC juga membutuhkan keamanan dalam perdagangannya. Karena itu, sejak awal pelayarannya kapal-kapal VOC telah dilengkapi persenjataan yang digunakan untuk menghadapi bajak laut atau pesaingnya seperti armada Spanyol.

Inovasi di Pasar Modal dan Bearish Pertama

Untuk melancarkan perdagangan sahamnya, VOC juga mendirikan Pasar Modal  Amsterdam. Bursa efek ini dikenal sebagai pasar modal modern pertama yang memperdagangkan saham dan obligasi.

Seiring dengan perkembangan VOC, dilakukan pula  transformasi dan inovasi pada Amsterdam Stock Exchange, seperti kontrak berjangka, opsi, short selling, bahkan bear raid pertama.

Perdagangan saham VOC sedikit berbeda dengan perdagangan saham dewasa ini. Tidak ada denominasi standar untuk satu saham VOC, jadi trader harus selalu menyebutkan nilai nominal saham yang mereka perdagangkan.

pasar modal
Suasan pasar modal Amsterdam.
Sumber: Amsterdams Historisch Museum.

Isaac le Maire menjadi pemegang saham terbesar VOC pada tahun-tahun awal pendiriannya. Sebagai pemegang saham terbesar ia menjadi orang pertama yang melakukan bearish pada pasar modal.  Ia menjual saham VOC dalam jumlah banyak sehingga menyebabkan harga turun untuk selanjutnya dibeli kembali dengan harga lebih murah.

Tindakannya ini memicu munculnya peraturan pemerintah pertama tentang pasar saham pada 1621. Peraturan tersebut berisi larangan menjual saham dalam waktu pendek. Namun peraturan itu nampaknya tidak begitu efektif, mengingat harus disahkan berulang kali pada tahun 1623, 1624, 1630, dan 1632.

Kemunduran VOC

Zaman Keemasan VOC mulai menunjukkan kemunduran memasuki tahun 1670, saat itu persaingan dagang semakin meningkat dengan hadirnya French East India Company (Perusahaan Hindia Timur Prancis) dan Perusahaan Hindia Timur Denmark.

Di sisi lain, rempah-rempah dan komoditas lain dari Karibia dan Amerika Selatan mulai membanjiri pasar Eropa. Kondisi diperparah oleh konflik jangka panjang dengan Inggris masih mengganggu operasi VOC di wilayah Asia.

Sejak saat itu, VOC beralih dari perdagangan komoditas bernilai tinggi dan volume rendah seperti rempah-rempah menjadi produk bernilai rendah dan bervolume tinggi yang kurang menguntungkan, seperti teh, kopi, tekstil, dan gula.

Perubahan orientasi perdagangan ini dilakukan agar operasi perusahaan tetap dapat berjalan. Meskipun demikian hutang VOC semakin membengkak karena dividen tinggi yang diminta para investor dan beban perang di Hindia-Belanda yang sangat mahal.

Perusahaan semakin sulit bangkit setelah para karyawan bergaji rendah VOC mulai mencari cara lain (korupsi) untuk memperoleh pendapatan tambahan. Seiring berjalannya waktu korupsi pun semakin meningkat hingga akhirnya melumpuhkan perusahaan.

Lonceng kematian VOC berbunyi pada pada 1780, ditandai dengan  Perang Inggris-Belanda Keempat. Konflik tersebut menjadi bencana besar bagi VOC, setidaknya separuh dari armadanya hancur.

Terlepas dari inovasi yang dibawa perusahaan ke dunia kapitalis, perusahaan tidak dapat mempertahankan eksistensinya. Alih-alih menerbitkan saham baru dan meningkatkan modal, VOC justru memilih mengandalkan reinvestasi.

Dividen tinggi menghalangi proyek reinvestasi, sehingga perusahaan harus mengumpulkan lebih banyak hutang. Karena lumpuh karena hutang, VOC  akhirnya dinasionalisasi pada tahun 1796 sekaligus mengakhiri kisahnya sebagai perusahaan saham gabungan paling inovatif sepanjang masa.

Daftar Pustaka

Braudel, Fernand.  Civilization and Capitalism, 15th–18th Century. London: Williams Coliins Sons & Co, 1984.

Israel, Jonathan Irvine. The Dutch Republic: Its Rise, Greatness, and Fall 1477–1806. Oxford: Oxford University Press, 1995.

Gelderblom, Oscar, and Joost Jonker. “Completing a Financial Revolution: The Finance of the Dutch East India Trade and the Rise of the Amsterdam Capital Market, 1595-1612.” The Journal of Economic History, vol. 64, no. 3, 2004, pp. 641–672.

Petram, Lodewijk, dan   Lynne Richards. The World’s First Stock Exchange. Columbia University Press, 2014.

Similar Posts:

2 thoughts on “VOC dan Pasar Modal Pertama di Dunia”

  1. Assalamualaikum. Terima kasih atas artikel-artikelnya yang sangat bermanfaat. Tolong, buat artikel yang membahas mengenai peradaban Mesir Kuno.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *