Pembantaian Massal di Mandor, Kalimantan Barat (1943-1944 M.)

Pembantaian Massal di Mandor merupakan salah satu peristiwa kelam yang sulit dilupakan oleh masyarakat Kalimantan Barat. Pembantaian itu dilakukan terhadap kaum intelektual Indonesia dan tokoh-tokoh masyarakat yang dianggap menentang kebijakan tentara pendudukan Jepang. Diperkirakan lebih dari 1.500 orang tewas dibunuh oleh tentara Jepang.

Kedatangan Pasukan Jepang di Kalimantan Barat

pembantaian massal di mandor
Illustrasi Kedatangan Pasukan Jepang

Pada tanggal 22 Januari 1942, bala tentara Jepang mendarat di Pemangkat, Muara Sungai Kapuas, Singkawang, dan Ketapang. Tentara itu kemudian merebut Pontianak pada 2 Februari 1942.

Kedatangan tenrara Jepang tidak mendapat perlawanan berarti dari tentara Belanda, yang segera melarikan diri begitu pasukan musuh datang. Oleh karena itu Jepang dapat menguasai seluruh Kalimantan Barat dengan relatif mudah.

Pemerintahan Kalimantan Barat awalnya dipegang oleh Rykugun (Angkatan Darat Jepang), kemudian sejak 15 Juli 1942 berada di bawah Kaigun (Angkatan Laut Jepang).

Dimulainya Pembantaian Massal di Mandor

Penangkapan pimpinan Indonesia yang dianggap menentang kebijakan Jepang dimulai pada 14 April 1943, sedangkan penangkapan besar-besaran dilakukan mulai tanggal 24 Mei 1944. Sementara proses eksekusi para tawanan dilaksanakan pada 28 Juni 1944.

Di antara yang menjadi korban kebiadaban tentara Jepang adalah elite masyarakat Kalimantan Barat. Sultan Pontianak Syarif Muhammad Alkadrie beserta seluruh kerabat di lingkungan istana yang berjumlah 60 orang serta beberapa orang di luar lingkungan istana ditangkap dan dibawa menggunakan truk yang ditutupi kain terpal.

Mereka dibawa ke tempat yang kemudian dikenal sebagai salah satu ladang pembantaian di Kalimantan Barat, sebuah tempat yang didirikan oleh Tentara Jepang di kawasan hutan pinus dekat Desa Kopyang, Kecamatan Mandor, Kabupaten Landak. Tempat itu berjarak sekitar 88 kilometer dari Kota Pontianak.

Tindakan yang dilakukan Jepang ini dapat dikatakan meniru pola pembantaian Holocaust Jerman di Eropa. Nazi Jerman mendirikan kamp-kamp konsentrasi di Polandia, sebagai tempat penampungan tawanannya untuk kemudian dibunuh.

Tidak ada satu pun keluarga sultan yang kembali, sehingga diperkirakan mereka semua telah dibunuh oleh Tentara Jepang.

Selain keluarga Sultan Pontianak, terdapat juga pemimpin atau orang penting daerah lain yang dieksekusi. Di antaranya Panembahan Muhammad Thaufiek Akkamuddin (Raja Mempawah), Panembahan Gusti Muhammad Saunan (Raja Sukadana), Ade Mohammad Arief (Panembahan Kerajaan Sanggau Kapuas), dan Syarief Saleh Alidrus (Panembahan Kerajaan Kubu). Mereka termasuk di antara sepuluh Panembahan dan dua sultan yang tewas dibantai Jepang, yang sebagian besar dilakukan di ladang pembantaian Kecamatan Mandor.

pembantaian massal di Mandor
Monumen Mandor

Tentara Jepang tidak hanya mengangkap dan membunuh raja-raja penentang mereka, tetapi juga para intelektual dan tokoh masyarakat yang diniai tidak mendukung pendudukan Jepang. Di antara tokoh yang menjadi korban adalah dr. Sunaryo Martowardoyo (Kepala Rumah Sakit Jiwa Pontianak), pasangan suami istri dr. Rubini (Kepala Rumah Sakit Umum Pontianak), dr. Luhema (dokter Rumah Sakit Sambas), drh. Bagindo Nazaruddin Pontianak, R. Mohammad Jusuf Prabukusuma (Ketua Parindra Sambas), dan masih banyak lainnya.

Para guru pun tidak luput dari penangkapan dan pembunuhan, seperti Ya’ Abdullah yang ditangkap tentara Jepang di ruang kelas saat sedang mengajar.

Tidak dapat dipastikan jumlah kaum intelektual, penguasa, pengusaha, politisi, dan sebagainya yang menjadi korban kebiadaban Tentara Jepang di Mandor antara periode 14 April 1943-24 Mei 1944. Jumlahnya bervariasi antara 1.534 orang hingga 1838 orang.

Akan tetapi penduduk Kalimantan Barat yang terbunuh selama masa pendudukan Jepang dari tahun 1942-1945 diperkirakan berjumlah 21.037 jiwa. Keterangan itu disampaikan oleh Kyotoda Takabashi, salah seorang mantan tentara pendudukan Jepang yang pernah bertugas di Pontianak. Ia mengadakan kunjungan bersama rombongan bekas tentara Jepang ke Pontianak pada 22 Maret 1977.

Saat sidang Mahkamah Militer Tentara Sekutu pada bulan Oktober-November 1945, Yamammoto, Komandang Kempetai di Pontianak mengakui bahwa target jumlah pimpinan masyarakat setempat yang akan dibunuh adalah 50.000 orang.

Demikianlah kisah tragis pembantaian ala Holocaust di tanah Kalimantan Barat.

BIBLIOGRAFI

Hutagalung, Batar R. 2010. Serangan Umum 1 Maret 1949. Yogyakarta: LKIS.

Poesponegoro, Marwati Djoened. 1984. Sejarah nasional Indonesia VI. Jakarta: Balai Pustaka.

Ricklefs. 1991. Sejarah Indonesia Modern. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Similar Posts:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *