World History

Sejarah Kopi

Share the knowledge!
Share on Facebook5Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Pin on Pinterest0Email this to someoneShare on Tumblr0Share on Reddit0

Sejarah kopi memiliki cerita panjang, dan berkaitan dengan berbagai masa. Saat kopi menyebar dari asalnya Afrika ke Timur Tengah, kemudian ke Eropa dan belahan dunia lainnya, kopi beralih dari minuman beberapa orang ke produk konsumsi massal. Sepanjang sejarahnya yang kaya dan beragam, kopi dikaitkan dengan doa, kemewahan, kolonialisme, dan perbudakan. Hal ini telah merangsang semua perilaku dan cara percakapan, memberi energi pada angkatan kerja, dan mempengaruhi banyak aspek kehidupan manusia.

Perjalanan tak langsung kopi – dari Afrika sampai Timur Tengah, melintasi Samudera Hindia sampai Eropa, kemudian ke Amerika Latin dan Amerika Serikat, dan akhir-akhir ini sampai ke Australia dan Asia timur – mencerminkan kegunaannya yang berbeda sepanjang sejarah oleh masyarakat yang jauh dan berbeda.

Kopi pertama kali dikonsumsi oleh pemburu dan pejuang; lalu menjadi suatu kemewahan bagi aristokrat, yang kemudian menjadi tumpuan borjuis, dan akhirnya sebagai sebuah kebutuhan bagi banyak pecinta kafein pada akhir abad ke-20.

Produksi, pemasaran, dan konsumsi kopi telah terlibat secara intim dalam penciptaan dunia modern, baik dan buruk. Kopi telah membantu mendorong ekspansi ekonomi dunia modern dan telah membantu memberi energi pada angkatan kerja industri. Ini juga memperpanjang penggunaan budak sementara melakukan industrialisasi produksi pangan dan memperkaya kerajaan kolonial sambil meningkatkan kesadaran akan praktik perdagangan yang adil.

Asal-usul Kopi

sejarah kopiSampai saat ini asal usul istilah kopi diperdebatkan, sebagian besar ilmuwan setuju bahwa hal itu mungkin berasal dari kata Arab qahwah.  Kopi muncul secara alami di berbagai belahan Afrika. Coffea arabica, jenis yang paling umum dan berharga, menyebar dari Harrar (Ethiopia), di mana kacang-kacangan dipanen dari pohon liar. Di sana kadang-kadang disajikan sebagai minuman perhotelan yang dipenuhi garam, mentega, dan rempah-rempah, atau digunakan sebagai pil energi untuk para pemburu, yang memasukkannya ke bola lemak untuk bekal perjalanan mereka.

Kemunculan pertama kali kopi dalam sejarah masih diperdebatkan. Beberapa ilmuwan menunjukkan bagian-bagian yang patut dipertanyakan dalam Odyssey dan Alkitab sebagai bukti tentang sejarah kuno kopi. Sementara yang lainnya mengutip referensi dalam literatur Arab dari sekitar tahun 800 Masehi. Sejauh menyangkut sejarah dunia, kita dapat dengan aman meletakkan awal dari kopi sebagai komoditas pada akhir abad ke-20, berawal dari Yaman, bukan di Ethiopia.

Sekte Islam Tarekat Shadhili, yang berbasis di Yaman, umumnya diterima sebagai kelompok yang mempopulerkan minuman yang terbuat dari biji kopi panggang dan biji arabika dicampur dengan air panas. Mereka tentu saja tidak bertekad untuk merangsang perdagangan dunia. Sebaliknya, mereka berusaha memperbaiki dunia material untuk mencapai pemenuhan spiritual. Kafein dalam kopi berfungsi untuk membuat mereka tetap terjaga dalam ibadah religius mereka, yang mereka lakukan di malam hari. Tapi sebagai orang duniawi dengan pekerjaan sehari-hari, mereka juga menyebarkan popularitas minuman di dunia sekuler.

Pada pertengahan abad kelima belas, kopi begitu dikaitkan dengan Islam sehingga orang-orang Kristen Koptik di Ethiopia melarangnya. Kendati demikian, tetap saja muslim menemukan kopi  dan banyak kedai kopi yang muncul untuk menyajikannya  sangat menarik perhatian. Kondisi ini sangat cocok diamati pada bulan ramadhan, bulan di mana muslim wajib berpuasa di siang hari. Pada bulan ini kopi dan kedai kopi menciptakan aktivitas publik pada malam hari.

Popularitas kopi semakin menyebar, setelah umat Muslim yang berziarah ke Mekah untuk  ibadah haji. Mereka pada umumnya memperoleh kebiasaan meminum kopi dan menyebarkannya ke timur seperti Indonesia dan India, barat ke Afrika barat, dan utara ke Istanbul dan Balkan.

Meskipun pasar kopi ini terus berkembang, sampai akhir tahun 1600-an hampir semua kopi dalam perdagangan dunia tumbuh di kebun-kebun kecil beririgasi yang menebang lereng bukit curam di Yaman. Produksi kecil (12.000 sampai 15.000 metrik ton per tahun) dan harga tinggi, diperparah dengan pajak Utsmaniyah dan biaya pengangkutan karavan unta atau kapal. Kondisi ini tentu saja menyulitkan perkembangan kopi sebagai produk konsumtif.

Penyebaran ke Eropa

Walaupun harga kopi saat itu tinggi, kebiasaan minum kopi tetap menyebar. Menjelang pertengahan tahun 1500-an, pusat budaya kopi adalah Istanbul, Kairo, dan Damaskus. Pria dari berbagai kalangan menikmati minuman dan kafe, yang merupakan pusat kehidupan artistik, intelektual, politis, dan merkantilis (wanita hanya minum kopi di rumah atau di tempat mandi khusus).

Sementara itu, Orang-orang Kristen Eropa mengadopsi kebiasaan minum kopi pada awalnya karena dikaitkan dengan kemegahan dan kekayaan orang-orang Turki Utsmani, yang kerajaannya berada pada puncaknya pada abad keenam belas dan ketujuhbelas.

Kopi di Eropa disajikan di dalam cangkir porselen,yang  baru tiba dari China, dan di piring perak buatan Meksiko, dibumbui dengan gula dari Karibia (muslim menggunakan kapulaga daripada gula) dan dipadukan dengan tembakau dari Amerika. Alhasil, kopi menjadi simbol perbedaan bagi para penguasa ekonomi dunia yang sedang naik daun.

Coffea arabica menjadi minuman kelas menengah di Inggris, di mana seorang pedagang Yunani mungkin yang pertama membuka kedai kopi di Oxford dan kemudian di London pada pertengahan 1600-an. Orang-orang Inggris asli menjadi konsumen kopi Eropa terkemuka sampai teh membayangi di tahun 1700-an.

Negara lain Eropa Utara juga mengadopsi kebiasaan minum kopi, dan Amsterdam menjadi pasar kopi utama. Hal ini menyebabkan Belanda berusaha mengendalikan produksi dan juga perdagangan. Mulai pada tahun 1690-an, posisi kepemimpinan Yaman dalam produksi kopi secara bertahap lepas saat Belanda mentransplantasikan kopi ke koloni mereka di Jawa, Indonesia.

Di saat yang bersamaan, orang Prancis mulai menanam kopi di pulau Réunion Samudera Hindia dan Inggris di Sri Lanka. Abad kedelapan belas dan kesembilan belas menjadi saksi kolonialisme kopi. Hampir semua kopi ditanam di koloni Belanda, Prancis, dan Inggris di luar negeri, dengan koloni Prancis, Saint Domingue (hari ini Haiti), menjadi penghasil kopi terbesar di dunia, mengekspor sekitar 40.000 metrik ton pada tahun 1789.

Kontrol perdagangan Eropa menyebabkan intensifikasi penggunaan budak Afrika untuk menumbuhkan hasil pertanian. Meskipun perbudakan telah dikenal di Ethiopia dan Yaman, produsen kopi tampaknya didominasi oleh petani. Di Jawa, dan kemudian di Sri Lanka, petani dan pekerja sering dipaksa menjadi petani kopi. Di Réunion dan kemudian Amerika, yang telah mengimpor jutaan budak Afrika untuk menanam gula, kopi menjadi sangat terhubung dengan perbudakan manusia.

Pada abad kesembilan belas, muncul transformasi besar lain dari pasar kopi dunia saat dua pemain baru memasuki arena persaingan: Brasil (negara penghasil kopi) dan Amerika Serikat (negara yang mengkonsumsi kopi). Brasil beralih ke produksi kopi setelah pemberontakan budak di Saint Domingue hampir mengakhiri produksi kopi di pulau itu. Ketika harga dunia melonjak, Brasil, yang merdeka pada tahun 1822, menjadi produsen kopi utama di dunia pada tahun 1850an. Lahannya yang subur dan impor lebih dari satu juta budak Afrika (perbudakan tidak dihapuskan di Brasil sampai tahun 1888) memungkinkan orang Brazil menurunkan biaya produksi dan mengurangi harga kopi dunia.

Menjelang akhir abad kesembilan belas, kopi menjadi minuman massal yang tersedia bagi berbagai kelas pekerja di negara-negara pembeli kopi dan penghasil kopi. Trend ini terutama terlihat di pasar kopi terbesar di dunia, Amerika Serikat.

Sebagai koloni peminum teh di bawah Inggris, Amerika Serikat beralih ke kopi di bawah pengaruh harga rendah kopi Brasil dan imigrasi jutaan orang Eropa, yang dengannya kopi menjadi simbol status baru. Konsumsi per kapita tumbuh pada abad kesembilan belas dari di bawah satu pound pada tahun 1800 sampai tiga belas pounds pada tahun 1900. Impor kopi dunia meningkat lima belas kali lipat selama abad kesembilan belas dengan Amerika Serikat bertanggung jawab atas hampir setengah dari ekspansi konsumsi. Dari segi nilai perdagangan internasional, kopi membuntuti biji-bijian dan gula sebagai komoditas dunia pada tahun 1900.

Trend Kopi Pada Abad ke-20 dan 21

Kultivar kopi arabica, yang selama ini merupakan satu-satunya sumber ekonomi kopi dunia sejak awal, bergabung dengan kopi robusta pada akhir abad kesembilan belas. Kopi robusta berasal dari Afrika khatulistiwa, robusta matang lebih cepat (Arabica membutuhkan waktu dua tahun setelah ditanam, sementara robusta hanya dua tahun) dan yang lebih penting, tahan terhadap hama daun, hemileia vasatrix, yang menghancurkan perkebunan kopi di Jawa, Sri Lanka, dan Filipina pada dekade terakhir abad kesembilan belas.

Bersamaan dengan populernya kopi instan, beberapa koloni di Afrika meningkatkan pertumbuhan pohon robusta secara dramatis. Kehadiran robusta mengizinkan negara-negara tersebut untuk kembali menanam kopi dan mendorong perubahan dramatis ekonomi kopi dunia pada abad ke-20. Akhir abad ke-20, munculvarian baru arabika dan robusta yang lebih pendek, lebih tahan terhadap penyakit dan sinar matahari langsung, dan dengan hasil panen yang lebih tinggi.

Mereka menghasilkan pertanian yang lebih intensif, dengan enam sampai enam kali lebih banyak per hektar dan investasi lebih besar pada pupuk, pestisida, dan peralatan pengolahan pada petak monokultur yang lebih kecil.

Sisi pengolahan dan pemasaran juga mencerminkan ketergantungan yang lebih besar pada modal. Pada tahun 1900, kacang (mentah dan tidak berlekuk) yang dijual sesuai dengan pelabuhan asalnya terdiri dari sebagian besar kopi yang diperdagangkan.

Importir menjualnya kepada pedagang grosir, yang memanggang dan mengolah kopi atau menjual kopi kepada konsumen, biasanya ibu rumah tangga, yang melakukan pemanggangan terakhir, penggilingan, dan memasak di rumah.

Kopi lalu secara bertahap dikemas, pada masa ini industri panggang dan merek dagang kopi mulai mengambil alih pasar. Kondisi ini memungkinkan perusahaan lokal untuk menjadi regional. Setelah Perang Dunia II, penemuan mesin espresso modern, kopi tanpa kafein dan kopi instan, meningkatkan pangsa pasar dan harga eceran akhir.

Pada dekade terakhir abad ke-20, merger dan pengambilalihan memungkinkan beberapa perusahaan diversifikasi raksasa mendominasi produksi kopi di berbagai bagian dunia. Investasi besar dalam periklanan dan kekuatan pasar memungkinkan konsentrasi industri kopi terus berlanjut.

Kondisi ini terus bertahan hingga saat ini, dengan keberadaan merk-merk besar perusahaan kopi Barat yang memonopoli pemasaran kopi dunia.  Ironisnya, kopi, yang berasal dari Afrika dan mendapat popularitas di Timur Tengah lima ratus tahun yang lalu, sekarang terlihat di Asia timur sebagai simbol modernitas Barat.

BIBLIOGRAFI

Pndergrast, Mark. 2010. Uncommon Grounds: The History of Coffee and How it Transformed our World. New York: Basic Books.

Mc. Neill William H. 2010. Berkshire Encylopedia of World History 2nd Edition. Massahusetts: Berkshire Publishing Group.

Share the knowledge!
Share on Facebook5Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Pin on Pinterest0Email this to someoneShare on Tumblr0Share on Reddit0

No Comments Found

Leave a Reply