Bangsa Mongol

Bangsa Mongol mulai muncul dalam panggung sejarah pada abad ke-12 M. Pada masa itu mereka mulai melakukan ekspansi di bawah kepemimpinan Jenghis Khan. Mereka dikenal sebagai bangsa nomad yang haus akan pertumpahan darah. Salah satu bukti kebrutalan Mongol adalah ketika mereka membumihanguskan kota Baghdad, yang saat itu menjadi pusat peradaban dunia.

Meskipun demikian mereka sama dengan bangsa lainnya, yang mempunyai keunikan sejarah tersendiri. Sebelum kemunculan Jenghis Khan, Mongol adalah bangsa nomad yang terpecah-pecah. Mereka hidup dengan mengandalkan hewan ternak, akan tetapi jika musim panas berkepanjangan tiba, mereka tidak segan untuk menjarah dan menduduki wilayah lain agar dapat bertahan hidup.

Selain terkenal dengan sifat keras mereka, bangsa ini mempunyai sisi unik di bidang toleransi beragama di daerah yang mereka duduki.

Mereka tidak peduli dengan agama apapun yang dianut oleh masyarakat setempat, karena mereka hanya membutuhkan wilayah dan penduduk tersebut. Akan tetapi mereka juga merupakan bangsa yang mengenal keesaan Tuhan.

Asal-usul Bangsa Mongol

bangsa mongol
Wilayah bangsa Mongol. Wikipedia

Bangsa Mongol adalah masyarakat nomad yang berasal dari pegunungan Mongolia dan mendiami wilayah hutan Siberia dan Mongolia Luar di antara Gurun Gobi dan Danau Baikal. Menurut Ibnu al-Athir, bangsa Mongol adalah orang-orang nomad yang nenek moyang mereka berasal dari bangsa Hun.

Di Asia Tengah mereka dikenal sebagai bangsa Tartar. Meskipun demikian, beberapa pakar sejarah  menyatakan bahwa Mongol dan Tartar pada awalnya adalah bangsa yang berbeda, tetapi hidup di masa yang sama sehingga mereka saling bersaing. Seiring dengan perkembangan zaman, dua bangsa ini melebur menjadi satu dengan nama Mongol.

Dari pendapat tersebut Mongol dan Tartar tidak lah sama, akan tetapi mempunyai satu hubungan. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa bangsa Mongol belum tentu orang Tartar, sedangkan orang Tartar pasti bangsa Mongol.

Bangsa Mongol bukan dari ras yang sama dengan bangsa Cina. Mereka keturunan dari Tungusi Stok asli, dengan campuran kuat darah Persia dan Turki, sebuah ras yang kini disebut Ural-Altik. Secara geo-politik, bangsa Mongol terbagi dalam lima suku besar, yakni:

  1. Suku Naiman, yang mendiami sebelah barat lereng Gunung Altai, di antara Sungai Irtysh, dan Sungai Orkhan.
  2. Suku Kerait, yang berdiam di sebelh selatan Sungai Orkhan.
  3. Suku Merakit, yang menempati wilayah sebelah utara dari tempat tinggal Suku Kerait.
  4. Suku Tartar, mereka tinggal di barat daya danau Baikal hingga Sungai Kerulan.
  5. Suku Bergqin Mongolia, mereka tinggal di sekitar Sungai Tula, Arnon, dan Kerulan. Dari suku ini lah Jenghis Khan berasaa.

Selain lima suku besar tersebut, masih terdapat beberapa suku kecil yang termasuk bagian dari Bangsa Mongol, di antaranya:  Suku Turki, Suku Kyrgyz, Suku oghuz, Suku Karluk, dan Suku Khitai.

Kehidupan Keras Bangsa Mongol

bangsa mongol
Ilustrasi Bangsa Mongol

Orang Mongol seperti bangsa nomad lainnya, hidup dalam pengembaraan dan tinggal di gubug perkemahan. Tempat tinggal mereka berpindah-pindah menyesuaikan dengan musim. Untuk musim dingin, mereka biasanya tinggal di daerah bukit di bawah pegunungan, agar mereka memperoleh kehangatan. Sementara untuk musim panas, mereka biasanya tinggal di bagian atas gunung selama 2-3 bulan, agar mereka mendapatkan air yang cukup dan udara sejuk.

Wilayah Mongol yang jauh dari laut dan di sisi lain juga cukup tinggi, membuat daerah itu memiliki iklim ekstrem. Suhu panas tertinggi wilayah itu berada di kisaran 38 derajat celcius, sedangkan suhu terendah dapat mencapai minus 42 derajat celcius.

Di wilayah ekstrem tersebut, mereka bertahan hidup dengan berburu binatang, menggembala domba, dan memakai kulit binatang untuk menghangatkan tubuh mereka. Mereka sangat mengandalkan kehidupan beternaknya, sehingga mereka akan berpindah tempat jika air atau rumput di wilayah tersebut mulai sedikit persediannya.

Bangsa Mongol memakan semua jenis daging hewan, baik itu daging kuda, anjing, serigala, musang, tikus, atau daging hewan lainnya. Porsi makan mereka tidak lah banyak, terutama ketika musim dingin tiba, karena pada musim itu cuaca sangat dingin hingga mereka kesulitan mencari makanan..

Mereka juga punya cara unik untukmenjaga daging agar tetap awet dan tahan lama, yaitu jika ada hewan mati, mereka akan memotong dagingnya tipis-tipis dan menjemurnya di luar rumah, metode ini dilakukan agar daging menjadi kering namun tidak mengeluarkan bau busuk.

Hujan dan daging sangat lah penting bagi bangsa Mongol, jika hujan tidak kunjung turun, atau ternak mereka diserang penyakit maka mereka akan kehilangan sumber utama kehidupan mereka. Satu-satunya cara untuk bertahan hidup adalah dengan mencuri atau merampok orang-orang di daerah pertanian yang berdekatan dengan mereka. Itu lah yang menyebabkan terjadinya peperangan, pendudukan, atau pun perampokan oleh mereka.

Kehidupan Sosial-Budaya Bangsa Mongol

Kehidupan sosial bangsa Mongol terbagi dalam kasta-kasta. Terdapat tiga kasta yang memisahkan mereka; kasta pertama adalah kasta kaum paling terhormat. Mereka yang termasuk dalam kasta ini menyandang gelar Bahadir (pemberani), gelar Tuban (terhormat), atau Stassen (bijaksana).

Sementara yang kedua adalah kasta nokor (kaum merdeka). Orang-orang yang termasuk di dalam kasta ini bertugas menyusun strategi dan mengatur pasukan di Mogolia.[1] Selanjutnya kasta ketiga adalah kasta kaum awam dan budak belia.

Setiap kelompk atau keturunan bangsa Mongol mempunyai pemimpin. Gelar Khan akan diberikan bagi mereka yang menjadi kaisar, atau hanya gelar Baki untuk pemimpin yang lebih rendah. Gelar Baki banyak melekat pada para pemimpin kaum Tartar hutan.

Suku-suku kecil biasanya memilih dipimpin oleh suku yang lebih besar. Hal itu dikarenakan mereka tidak mampu untuk mempertahankan wilayah mereka sendiri, seperti yang terjadi pada suku Jalaer yang dipimpin oleh kakek moyang Jenghis Khan.

Kehidupan yang dijalani suku-suku tersebut sangat berpengaruh pada kehidupan sosial dan ekonomi mereka. Iklim kontinental yang ekstrem juga mempengaruhi kehidupan. Seperti yang dipaparkan sebelumnya,mereka selalu mengejar padang rumput, agar mereka dapa menggembalakan hewan ternak mereka. Hingga akhirnya mereka berada di titik jenuh yang luar biasa.

Keseharian yang dilakukan terus menerus itu membentuk fisik, kesabaran, dan keterampilan untuk bertahan hidup bangsa Mongol, sehingga tidak mengherankan jika bangsa Mongol dapat menjelma sebagai bangsa yang siap berperang kapan saja. Oleh karena itu, ketika Jenghis Khan muncul dengan kemampuannya mempersatukan suku-suku itu di bawah peraturannya, ia mampu merubah bangsa nomad itu menjadi barisan pasukan yang kuat dan tidak terkalahkan.

Agama Bangsa Mongol

Agama resmi bangsa Mongol adalah Shamanisme, agama ini menjadikan objek alam sebagai sesembahan, terutama matahari. Arnold Toynbe mengatakan, meskipun pada awalnya bangsa Mongol mengakui adanya Tuhan, dalam perkembangannya mereka tidak melakukan penyembahan kepada-Nya, mereka justru menyembah Tuhan yang mereka pahat sendiri. Sebagaimana mereka juga menyembah arwah nenek moyang mereka yang dipercaya memiliki pengaruh besar atas kehidupan generasi penerus.

 Ibnu Katsir mengatakan bahwa bangsa Mongol bersujud ketika matahari terbit, namun mereka tidak mengharamkan apa pun. Mereka memakan hewan apapun yang bisa ditemukan, baik masih hidup atay sudah mati.

Penyelewengan terhadap agama bangsa Mongol, membuat Jenghis Khan memerintah bangsa Ughur untuk menulis segala peraturan dengan penambahan yang diyakininya bermanfaat bagi bangsa tersebut. Di dalam undang-undang Jenghis Khan, yang bernama El-Yasa terdapat beberapa peraturan ketat yang berkaitan dengan kehidupan orang Mongol.

Peraturan tersebut sedikit mirip dengan aturan agama-agama yang masih ada hingga saat ini di antaranya: Barang siapa berzina maka harus dikukum mati, baik yang sudah menikah atau belum.  Begitu juga yang melakukan perbuatan homoseksual harus dihukum mati. Barangsiapa yang sengaja berbohong, juga harus dihukum mati. Barangsiapa yang melakukan praktik sihir juga harus dihukum mati. Barangsiapa yang kencing di air yang diam juga harus dihukum mati dll.

Selain berbagai peraturan kehidupan yang mirip ajaran agama lain, bangsa Mongol juga mempercayai keesaan Allah. Dalam sebuah percakapan yang dilakukan salah satu kaisar Mongol, Mongke Khan (1251-1250) dengan Rubruck, ia berkata “Kami bangsa Mongol meyakini bahwa di sana memang ada satu Tuhan, untuk-Nya kami hidup dan untuk-Nya kami mati, kami juga punya hati yang berdegup cinta kepada-Nya, tapi Tuhan menciptakan tangan ini dengan berbagai jari yang berbeda, maka begitu pula Ia memberikan kepada manusia berbagai cara untuk menyembahNya. Kalian, orang Kristen diberikan Kitab Suci dari Tuhan, namun kalian tidak dapat menjaganya. Sementara kami, kami hanya melakukan apa yang diperintahkan kepada kami dan hidup secara damai.”

Meskipun demikian, pemimpin Bangsa Mongol tidak mengajarkan pengikutnya menahan ajaran agama lain untuk tidak mengikutinya. Hal itu membuat agama mereka mudah luntur di hadapan agama lain dan berpindah keyakinan, seperti orang Mongol di Cina yang memeluk agama Buddha, Mongol di Rusia yang memeluk agama Kristen, dan Mongol di wilayah muslim yang memeluk Islam.

BIBLIOGRAFI

Karim, M. Abdul. 2014. Bulan Sabit di Gurun Gobi: Sejarah Dinasi Mngol-Islam di Asia Tengah. Yogyakarta: Suka Press.

Morgan, David. 1986. The Mongols. Cambridge: Blackwell.

Shallabi, Ali Muhammad Ash. 2015. Bangkit dan Runtuhnya Bangsa Mongol. Terj. Dody Irawan. Jakarta: Pustaka al-Kautsar.

Toynbee, Arnold. 2007. Sejarah Umat Manusia. Terj. Agung Prihantoro. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

[1] Pada masa Jenghis Khan, terdapat satu kasta lain yang secara khusus membidangi peperangan, yakni kasta kaum prajurit.

5 Comments

  1. Mau bertanya, jadi dari beberapa paragraf terakhir saya menyimpulkan bahwa bangsa mongol juga memiliki kepercyaan dan paham terhadap islam, namun (mungkin) mereka belum mengetahui cara dan tatakrama yg benar dalam islam,. Apakah kesimpulan saya ini benar, mohon jawabannya☺

    • Dalam artikel tersebut dijelaskan mengenai agama Samanisme bangsa Mongol, bukan Mongol yang menganut agama Islam. Namun, dalam praktek keagamaan bangsa Mongol memang banyak kesamaanya dalam Islam seperti melarang praktek zina atau pun menyembah satu Tuhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *