Dinasti Fatimiyah (909-1171)

dinasti fatimiyah
Wilayah Dinasti Fatimiyah

Dinasti Fatimiyah merupakan salah satu dinasti Syi’ah yang muncul pada periode klasik Islam. Meskipun bukan dinasti Syi’ah yang pertama (dinasti Syi’ah yang pertama adalah Idrisyyah), dinasti ini merupakan salah satu kekhalifahan Syi’ah yang paling berhasil dan bertahan lama. Dinasti Fatimiyah yang mengaku sebagai keturunan Ali ini, dalam perkembangannya berhasil menaklukkan banyak wilayah-wilayah Afrika Utara. Bahkan penaklukkan dinasti ini sampai ke pulau Sisilia. Sehingga pada kesempatan kali ini kita akan menggali sejarah dinasti Fatimiyah lebih dalam lagi, untuk menambah wawasan sejarah tentang dinasti-dinasti Islam.

Awal Pendirian Dinasti Fatimiyah

Pada saat khalifah Abbasiyah menguasai Baghdad, pengikut Ali yaitu golongan Syi’ah mengalami penganiayaan, karena mereka dianggap sebagai ancaman terhadap kekhalifahan. Salah satu sekte Syi’ah yang menjadi incaran adalah Ismailiyah. Aliran Isma’iliyah, merupakan aliran yang percaya Isma’il ibn jafar dari Imam Ja’far merupakan imam ketujuh dari Syi’ah dan dikatakan sebagai mahdi yang tersembunyi. Aliran Ismailiyah merupakan kelompok agama yang paling berhasil menggunakan perangkat-perangkat propaganda politik agama dengan cara halus dan efektif.

Ajaran Syi’ah Ismailiyah dikenal dengan Batiniyah. Menurut ajaran Batiniyah, al-Qur’an harus ditafsirkan secara alegoris dan kebenaran agama bisa didapatkan melalui penelusuran makna batin yang ditutupi oleh bentuk luar. Bungkus luar dimaksudkan untuk menjaga kebenarannya dari orang yang tidak layak mendapatkannya.

Salah satu tokoh gerakan Ismailiyah pada waktu itu adalah Imam al-Husain al-Mastoor. Setelah lari dari kejaran khalifah Abbasiyah, dia memutuskan kembali ke Syria. Di Syria dia mencoba mendirikan fondasi kekhalifahan, namun usaha tersebut ditumpas oleh khalifah Abbas dan memaksanya untuk bersembunyi kembali. Belajar dari kegagalan tersebut, dia mengirim dua pendakwah besar Syi’ah yaitu Abul Qasim dan Abu ‘Abdullah Al-Husain Al-Syi’ah ke Yaman dan Afrika Utara, masing-masing, untuk membangun fondasi Kekhalifahan Fatimiyah.

Pada akhirnya pilihan pengikut Ismailiyah jatuh pada Afrika Utara, karena letaknya yang jauh dari pengawan pusat kekuasaan di Baghdad. Namun, pada tahun 873, sebelum berhasil mendirikan kekhalifahan, Imam al-Husain meninggal setelah kelahiran anaknya, Abu Muhammad Abdallah al-Mahdi Billah (Ubaydillah).

Di Afrika Utara, usaha propaganda yang dilakukan oleh Abu Abdullah sendiri perlahan-lahan membuahkan hasil. Dengan menyamar sebagai pedagang ia mulai menghimpun pengikut, yang didominasi oleh orang berber. Perasaan dendam orang-orang barbar terhadap gubernur setempat, akibat pajak yang sangat tinggi membantu Abu Abdullah untuk menguatkan fondasi kekhalifahan.

Dengan semakin besarnya dukungan terhadap gerakan Ismailiyah dan dibarengi dengan kemunduran penguasa setempat, membuat kesempatan untuk mendirikan kekhalifahan semakin terbuka. Pasukan yang dipimpin oleh Abdullah, telah dapat menumpas pasukan Aghlabite (Aglabiyyah), memperluaas kekuasaanya, hampir ke seluruh Afrika Utara dan akhirnya meproklamirkan bahwa Ubaydillah al-Mahdi sebagai penguasa dinasti Fatimiyah yang pertama, pada tahun 909 M.

Perkembangan Dinasti  Fatimiyah

Dalam membahas perkembangan dinasti Fatimiyah, penulis akan mencoba membahasnya berdasarkan periode kekhalifahan. Periode kekhalifahan dinasti Fatimiyah dimulai oleh Ubaydillah al-Mahdi hingga khalifah Mustanshir. Alasan mengapa menetapkan khalifah Mustanshir sebagai akhir dari pembahasan point ini adalah karena setelah masa Mustanshir, dinasti Fatimiyah memasuki fase kemunduran.

Ubaydillah al-Mahdi (909-924)

Setelah berhasil menguasai daerah Afrika Utara, Abu Abdullah mengirim utusan kepada al Mahdi di Salanya untuk datang ke Afrika. Ketika meninggalkan Salanya, Ubaydillah membawa kekayaan yang sangat banyak. Ketika telah memasuki Afrika Utara, dia memerintahkan khotib-khotib untuk menghapus nama khalifah Abbasiyah dari khotbah Jum’at, tetapi tidak ada nama lain yang disisipkan di dalamnya.

Percetakan mata uang baru dipersiapkan, tetapi tidak memperlihatkan nama seorang pemimpin di dalamnya. hanya terdapat inkripsi di kedua sisi mata uang yang berbunyi: “Bukti dari Allah sudah datang” dan “musuh-musuh Allah sudah dicerai-beraikan. Selain di mata uang, senjata juga diberik inkripsi yang berbunyi “senjata-senjata di jalan Allah”.

Ketika menginjakkan kaki di Afrika Utara, al-Mahdi bertekat mendominasi laut tengah. Mereka sangat berminat untuk mendirikan pelabuhan-pelabuhan. Mulai dari situ mereka menemukan kota al-Mahdiyyah, yang mereka gunakan sebagai pangkalan angkatan laut tengah dan pusat pemerintahan. Mereka juga tertarik untuk mengepung pangkalan-pangkalan angkatan laut lain untuk menetapkan kemasyuran mereka di atas lautan. Puncaknya mereka merebut pulau Sisilia dari khalifah Abbasiyah.

Pada tahun 913 M, al-Mahdi sudah mengumpulkan pasukan yang terdiri dari orang-orang Afrika di bawah pimpinan anaknya. Pasukan tersebut kemudian bergerak meenuju Mesir dan dalam perjalanannya berhasil merampas Barqa, memasuki Iskandaria, dan berjalan menuju daerah rendah Mesir. Namun, pasukan tersebut dapat dipukul mundur oleh utusan Khalifah Abbas, Mu’nis. Pasukan Fatimiyah pun mundur ke daerah Maghrib/Maroko.

Pada tahun 919 M, pasukan besar Fatimiyah di bawah pimpinan al-Qa’im bergerak kembali menuju Mesir dan berusaha merebut daerah tersebut. Tapi usaha tersebut kembali menemui kegagalan, lagi-lagi pasukan Fatimiyah dikalahkan oleh pasukan yang dipimpin oleh Mu’nis, banyak kapal-kapal Fatimiyah dibakar, dan sebagian besar pasukannya terbunuh dan diambil sebagai tawanan. Berkat kemenangannya ini Mu’nis mendapat julukan al-Mudhaffar (pemenang), dari khalifah Abbasiyah.

Al-Qa’im (924-945)

Setelah gagal menguasai Mesir ketika memimpin pasukan besar Fatimiyah, al-Qa’im kembali berusaha lagi untuk menguasai Mesir. Usaha ini merupakan usaha ketiga kalinya, yang dilakukan pada 933-936 M. Namun, lagi-lagi usaha tersebut gagal, pasukan Fatimiyah gagal menaklukkan Mesir yang pada saat itu dipimpin oleh gubernur al-Ikhsihid.

Fatimiyah sangat tertarik menguasai Mesir karena alasan-alasan politik dan ekonomi. Mereka mempunyai tujuan untuk mendirikan negara besar laut tengah dan merencanakan untuk membuatSisilia sebagai pangkalan angkatan laut utama, sebagai pertahanan serangan-serangan dari Byzantium di pantai-pantai Afrika.

Setelah kegagalan ketiga tersebut, selama sisa kepemimpinan al-Qa’im, tidak ada usaha lagi usaha untuk menaklukkan Mesir. Hal tersebut karena keadaan dalam negeri sedang tidak kondusif, yang dipicu oleh pemberontakan yang diciptakan oleh beberapa orang Khawarij. Pemberontakan Khawarij tersebut dipimpin oleh Abu Yasid, dengan pasukannya yang telah tersebar ke seluruh daerah Fatimiyah, membuat pemberontakan ini sangat mengancam khalifah.

Khalifah Fatimiyah, Qa’im menulis surat kepad pemimpin Sanhaja, meminta bantuan untuk memadamkan pemberontakan di ibu kota. Namun, usaha al-Qa’im untuk memadamkan pemberontakan diperberat, dengan ikut campurnya Abdurrahmand III dari dinasti Umayyah di Cordova, yang memihak Abu Yazid. Abdurrahman III mempunyai tujuan untuk mendapatkan daerah barat laut lagi. Agar bisa mencapai tujuannya, Abdurrahman III bergabung dengan raja Italia Hugues de Provence, dan membuat perjanjian yang sama dengan kaisar Byzantium, yang ingin merebut Sisilia dari tangan al-Qa’im.

Namun, dinasti Fatimiyah perlahan-lahan mampu membalikkan keadaan. Abu Yasid banyak ditinggalkan pasukannya, pasukan tersebut ada yang bergabung dengan pasuka Qa’im dan ada juga yang pergi ke Qayrawan. Hal ini menyebabkan Khawarij hanya bergantung kepada suku Zenatah. Khalifah Qo’im meninggal pada 945 M. Kematiannya ditutupi oleh anaknya, Manshur. Hal ini dilakukan agar tidak mempengaruhi semangat pasukannya.

Al-Manshur (946-953)

Al-Manshur merupakan sosok yang energik dan pemberani. Awal kepemimpinan al-Manshur ditandai dengan keberhasilannya melenyapkan pemberontakan Abu Yasid. Dengan bantuan angkatan perang suku Sanhaja, pasukan Fatimiyah berhasil mengalahkan pasukan Khawarij. Abu Yasid yang melarikan diri ke padang pasir berhasil ditangkap, dan dibawa ke al-Mahdiyya, namun sebelum sampai di Mahdiyya, Abu Yasid telah meninggal akibat luka-lukanya.

Pada masa al-Manshur, kebijakan lebih banyak difokuskan untuk membangun kembali pemerintahan yang sempat lumpuh akibat pemberontakan Khawarij. Dia mencoba melakukan konsolidasi daerah-daerah Afrika Utara untuk mengembalikan keagungan kekhalifahan Fatimiyah. Al-Manshur sangat memperhatikan pelabuhan-pelabuhan yang mempunyai peran vital bagi pemerintahan Fatimiyah, dia menunjuk Hasan al-Kalbi sebagai gubernur Sisilia, pulau yang dia gunakan sebagai pangkalan angkatan bersenjata.

Mu’izz (953-975)

Khalifah Fatimiyah keempat, Mu’izz, dikenal sebagai sosok pemimpin yang cakap dan sangat mencintai kebudayaan. Dia menguasai beberapa bahasa asing, termasuk bahasa Italia dan bahasa Slave. Selama pemerintahannya, seluruh suku Barbar yang sempat menolak mengakui kekuasaan khalifah Fatimiyah sebelumnya, kembali menyatakan hormat kepadanya.

Tingkah laku yang sopan terhadap bermacam-macam suku, membuatnya menjadi sosok pemimpin yang disegani. Pemimpin Idrisiyyah, yang telah menyisipkan nama khalifah Umayyah Cordova agar terhindar dari ancaman dinasti Umayyah, dilepaskan dan kembali tunduk pada kekhalifahan Fatimiyah. Kekuasaan Fatimiyah pada masa Mu’izz tersebar ke seluruh Afrika dari perbatasan sebalah Barat Tripoli di Timur sampai pelabuhan Atlantik di Barat.

Dinasti Fatimiyah pada masa Mu’izz memfokuskan paskan perangnya untuk menghadapi Mesir, dan menghilangkan kekuasaan spiritual Abbasiyah di Mesir dan Syria. Jika dia berhasil menguasai Mesir, maka Fatimiyah akan mampu memperluas pemerintahan mereka ke Hijaz dan Syria. Pada tahun 976 M, Khalifah Fatimiyah mulai mempersiapkan pasukan untuk menyerang Mesir.

Untuk urusan dalam dia memperbaiki infrastruktur jalan, menggali sumur-sumur sepanjang jalan, dan mendirikan rumah-rumah secara berselang-selang. Pada waktu yang bersamaan dia mengumpulkan modal untuk bekal peperangan. Selain itu dia juga memberikan uang kepada pimpinan-pimpinan suku Kutamah, sebagai bekal untuk memperlengkapi suku mereka dengan persenjataan.

Situasi Mesir sendiri pada saat itu sedang tidak kondusif, pasca  meninggalnya gubernur mereka. Mu’izz dengan jeli dapat melihat kesempatan ini, dan dimanfaatkannya untuk memulai serbuan ke Mesir. Pada tahun 969 M, pemimpin pasukan Fatimiyah yang berasal dari Sisilia, Jawhar, berangkat ke Mesir dengan memimpin 100.000 pasukan.

Dalam perjalanan penaklukan tersebut, Iskandaria menyerah dengan damai. Jawhar dapat memimpin pasukannya untuk tetap fokus kepada tujuan utama mereka, yaitu menaklukkan Mesir. Pasukan Fatimiyah dapat dikatakan tidak mendapatkan perlawanan berarti dari mayoritas orang-orang Mesir. Puncaknya, Fustat, ibu kota Mesir saat itu menyerah tanpa syarat.

Pasca penaklukkan, Orang-orang Mesir tidak keberatan pemindahan kesetiaan mereka dari khalifah Abbasiyah ke keluarrga Ali, karena mereka tahu pemindahan kekuasaan tidak akan termasuk dalam perubahan kondisi politik mereka. Salah satu keuntungan yang didapat Fatimiyah setelah penaklukkan, mereka dapat mendirikan garrison militer untuk mengakomodasi pasukan dan pengikut mereka.

Selanjutnya masjid-masjid diperbaiki, masjid dibutuhkan untuk beribadah dan tempat berdiskusi masalah-masalah politik dan sosial. Ketika berhasil menundukkan Mesir, Jawhar meletakkan dasar pendirian ibu kota baru Fatimiyah, di Qahirah (Cairo). Ibu kota tersebut kemudian dibentengi dengan dinding batu. Di sebelah utara Istana Khalifah terdapat masjid agung Azhar yang didirikan setelah pendirian ibu kota baru. Masjid ini mulai resmi digunakan pada 972 M.

dinasti Fatimiyah
Masjid Azhar

Jawhar merupakan panglima yang bijaksana dan cerdas. Setelah berhasil mendapatkan kepercayaan rakyat Mesir. Dia kembali memperluas pengaruh dinasti Fatimiyah hingga ke Syria dan Hijaz (Mekkah). Jawhar pun merasa sudah waktunya khalifah Mu’izz untuk berkuasa di Mesir. Akhirnya Mu’iz berangkat Mesir, dengan membawa sejumlah besar uang dan peti mayat tiga orang khalifah sebelumnya.

Sesampainya di Cairo, dia memberi nama kota tersebut al-Mu’izziyyah. Dia juga menawarkan posisi di kabinetnya kepada menteri-menteri Mesir yang dulu. Setelah Fatimiyah berhasil mendirikan kekuasaan mereka di Cairo. Cairo menjadi pusat dari seluruh ajaran-ajaran sekte mereka yang tersebar luas. Mu’izz tidak lama memerintah di Mesir, karena pada tahun 975 dia meninggal dunia.

Aziz (975-996)

Seletah Mu’izz wafat, posisi khalifah digantikan oleh anaknya, Aziz. Sama seperti ayahnya, Aziz merupakan pribadi yang bijaksana dan mencintai kebudayaan. Dia mendirikan bangunan-bangunan yang mencerminkan kebuyaan, diantaranya: Hakim istana emas, masjid agung Qarafa, istana Ainshams, dan istana sungai.

Aziz dikenal sebagai pribadi uang dermawan dan siap untuk mengampuni para musuhnya. Salah satu contohnya adalah sikapnya terhadap Alpatakin, seorang Turki yang ia kalahkan di Syria. Meskipun, Alpatakin adalah budak berlian, Aziz memperlakukan Alpatakin dengan sangat manusiawi, bahkan dia memberikan baju kehormatan, dan mengizinkan Alpatakin masuk ke istana sebagai tamu kehormatan.

Aziz juga menyukai orang Kristen dan Yahudi, bahkan dia mempunyai istri Kristen. Dari sikapnya tersebut gereja koptik dapat berkembang. Aziz juga mengangkat Isa ibn Nestorius, seorang Kristen alam kementrian, dan menunjuk, Menasseh seorang Yahudi sebagai gubernur Syria. Pada Aziz, masjid Azhar mengalami perubahan dasar dan berkembang menjadi sebuah universitas. Pada tahun 988, Aziz menggunakan waktu dan tenaganya untuk memajukan ilmu pengetahuan yang berpusat di Azhar. Aziz meninggal pada tahun 996.

Hakim (996-1021)

Pasca meninggalnya Aziz, Hakim diproklamirkan menjadi khalifah pengganti disaat usianya baru 7 tahun. Sehingga jalannya pemerintahan dipegang oleh Ibnu Ammar dari suku Kitamaah di Maroko. Dalam memerintah Ibnu Amar memperlihatkan primordialisme kesukuannya, hal ini menyebabkan kemarahan orang-orang Turki. Akibatnya muncul konflik antara orang-orang Maroko dan Turki, konflik ini berakhir setelah Barjawan diangkat kedudukannya sebagai menteri.

Setelah Hakim tumbuh dewasa, dia menjalankan kekuasaan dengan tangan besi. Dalam usianya yang muda muncul sikap fanatisme yang berkembang secara berlebihan. Dia sangat aktif dalam memajukkan pengajaran-pengajaran Fatimiyah, namun sikap ini dibarengi dengan kekejaman dia terhadap agama non-Islam.

Kebijakan pertama Hakim, muncul pada tahun 1000, ketika dia melarang siapa saja untuk memanggilnya dengan sebutuan “pemimpin kita” atau “bangsawan kita”, dan mewajibkan mereka menggunakan panggilan Amirul mu’minin. Dia mempunyai kebiasaan unik, yaitu suka bepergian pada malam hari untuk memantau kota Cairo. Akibat dari kebiasaan unik pemimpin mereka, aktivitas Cairo tetap hidup pada malam hari.

Hakim mendirikan suatu akademi yang sejajar dengan suatu lembaga Cordova, dan Baghdad. Akademi ini dinamakan Darhikmah, dari akademi ini banyak menelurkan ulama-ulama. Sebuah perpustakan bernama Dar al-Ulum juga didirikan berdampingan dengan akademi ini, buku-buku perpustakaan ini mayoritas berasal dari Istana.

Pada tahun 1005, jiwa Hakim menjadi tidak stabil. Setelah menghadapi berbagai pemberontakan, Hakim berubah menjadi sosok yang kejam. Perubahan sikap hakim ini, membuat Sitt al-Mulk merencakan kematian Hakim pada 1020 M.

Zahir (1021-1036)

Pasca Hakim meninggal, kekhalifahan Fatimiyah digantikan oleh anaknya, Zahir. Pada masa awal pemerintahannya, Sitt al-Mulk mengatur jalannya pemerintahan selama empat tahun. Baru setelahh Sitt al-Mulk meninggal, Zahir mulai memegang kepemimpinan secara utuh. Dia merupakan pribadi yang bijaksana dan sederhana.

Dia mengahapuskan peraturan-peraturan yang dibuat oleh ayahnya. Pemerintahan dinasti Fatimiyah perlahan-lahan mulai bangkit kembali karena tindakannya yang adil untuk rakyatnya. Zahir mengeluarkan kebijakan melarang menyembelih sapi-sapi, kecuali pada masa idul adha, karena sapi dianggap dapat membantu menyuburkan tanah. Zahir meninggal pada tahun 1035 M.

Mustansir (1036-1094)

Ketika Zahir meninggal dunia, anaknya yang baru berusia tujuh tahun diproklamirkan sebagai khalifah. Pemerintahan Mustansir adalah yang paling lama jika dibandingkan dengan khalifah lainnya, ia memerintah selama 60 tahun. Selama pemerintahannya Mesir dapat mencapai ketenangan.

Dalam memerintah, Muntasir mengangkat menteri zaman pemerintahan ayahnya, Jarja’i Masa. Jarja’i Masa menjadi menteri hingga ia meninggal pada tahun 1094. Kekuasaan Mustansir pada awalnya berkembang ke seluruh Afrika dan Syria. Meskipun demikian, benih-benih kemunduran sudah muali terlihat, dan masa Mustansir merupakan masa perkembangan terakhir dinasti Fatimiyah sebelum memasuki fase kemunduran.

Kemunduran dan Runtuhnya Dinasti Fatimiyah

Sebelum Khalifah Fatimiyah, Muntasir meningga lpada 1094 M. Dia berpikir untuk memproklamirkan anaknya yang lebih tua, Nizar sebagai penggantinya. Namun menterinya, Afdal putra Badr al-Jamali, menunda proklamasi ini. pemimpin hakim dan pejabat tinggi lainnya, dan beberapa anggota keluarga Fatimiyah mengikuti anjuran tersebut.

Bersamaan dengan itu, Nizar pergi ke Iskandaria. Di sana dia menerima bantuan militer dari gubernur setempat, di sana dia menghimpun pasukan dan memutuskan memulai penyerangan untuk merebut gelar khalifah. Tetapi dia dikalahkan oleh Musta’li dan dibunuh. Ketika khalifah Mustansir meninggal dunia, dan anaknya, Musta’li diproklamirkan menjadi khalifah penggantinya.

Akibat konflik ini, gerakan Ismailiyah terpecah menjadi dua. Satu pengikut Nizar, yang lebih ekstrem dalam bergerak yang nantinya berkembang menjadi Hassassin, satunya lagi menjadi Musta’li yang lebih moderat. Meskipun Musta’li masih dapat mempertahankan kekhalifahan, tapi dengan adanya perpecahan ini melemahkan basis spiritual Ismailiyah.

Propagandis Fatimiyah dari Persia, Hasan Sabbah kemudian menyebarkan propaganda bahwa Nizar telah meninggal, dan  posisi pemimpin muslim pun diambil oleh Musta’li. Musta’li merupakan pemimpin yang lemah, sama seperti ayahnya. Pemerintahan pada masa itu mutlak dikuasai oleh Afdal.

Pasca Musta’li meninggal, posisinya digantikan oleh Amir. Pada masanya kekuasaan masih dipegang oleh Afdal, yang lebih condong menyukai aliran Sunni. Afdal pun mulai menghapuskan hari-hari besar Syi’ah. Pada Periode kemunduran ini diwarnai oleh perebutan kekuasaan antara khalifah dan menterinya. Hal ini semakin melemahkan kedudukan pemerintahan Fatimiyah.

Kondisi internal Fatimiyah yang kacau tersebut, dimanfaatkan oleh Nur al-Din raja Syria untuk masuk ke Mesir. Campur tangan Nur al-Din dan orang-orang Salib dalam permasalahan Mesir, menjadi salah satu faktor utama keruntuhan dinasti ini. Nur al-Din merupakan seorang Sunni yang bersemangat menyerukan kembali nama khalifah Abbasiyah di Mesir. Akibat serangan-serangan mereka, mempercepat keruntuhan dinasti Fatimiyah. Sallahuddin diproyeksikan untuk menggantikan pamannya (Nur al-Din) setelah meninggal, diberikan tugas untuk menguasai Mesir. Sallahuddin segera memperkokoh kekuasaannya di Mesir.

Khalifah terakhir Fatimiyah, Adid, pada waktu itu sedang menderita sakit. Sallahuddin mengumpulkan orang-orang yang mempunyai kedudukan tinggi, untuk membicarakan perubahan nama khalifah Fatimiyah dala khutbah Jum’at digantikan dengan nama khalifah Abbasiyah. Meskipun sempat timbul keragu-raguan, pada saat sholat Jum’at khotib yang menyebutkan nama al-Mustadi, Khalifah Abbasiyah, tidak mendapatkan protes. Maka mulai saat itu, Sallahuddin memberikan perintah untuk membacakan nama khalifah Abbasiyah pada hari Jum’at.

Pada 10 Muharram 1171 M, Adid meninggal dunia ditengah-tengah ketidak tahuannya akan apa yang terjadi. Kematian Adid menandai runtuhnya kekhalifahan Fatimiyah, sebuah kekhalifahan Syi’ah yang membawa perubahan besar di Mesir.

BIBLIOGRAFI

Bosworth, C. E. 1993. Dinasti-Dinasti Islam. Bandung: Mizan.

Hamka. 1975. Sejarah Umat Islam II. Jakarta: Bulan Bintang.

Hitti, Philip. K. 2006. History of The Arabs. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta.

Ibrahim Hasan, Hasan. 1989. Sejarah dan Kebudayaan Islam. Yogyakarta: Kota Kembang.

Lapidus, Ira. M. 2000. Sejarah Ummat Islam Bagian Satu & Dua. Jakarta: RajaGrafindo Persada

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *