Dinasti Tughluq di Gujarat (1320-1394)

Dinasti Tughluq
Wilayah Dinasti Tughluq

Sejarah berdirinya Dinasti Tughluq

Dinasti Tughluq adalah dinasti yang berdiri di atas sisa keruntuhan Dinasti Khalji yang mana selepas Alauddin Khalji, para penggantinya sangat lemah. Pemimpin yang terakhir yaitu Khusru khan dibunuh oleh Ghazi Malik at-Tughluq, Gubernur Punjab kemudian Ghazi naik tahta dengan gelar Ghiyatsuddin Tughuq. Pada periode dinasti ini, dipimpin oleh empat Sultan. Dari setiap Sultan yang menjabat memiliki catatan sejarah, tantangan dan permasalahan yang berbeda- beda. Pemerintahan yang berlangsung singkat tidak lebih dari satu abad ini akhirnya berakhir karena serangan dari Timurlank.

  1. Ghiyatsuddin Tughluq (1320-1325)

Dinasti Tughluq
Ghiyatsuddin Tughluq

Tahun 1320 M, berdirilah Dinasti Tughluq pemerintahan ini berdiri di tangan Ghazi Malik at-Tughluq yang pada masa pemerintahan Khalji ia menjabat sebagai Gubernur di Punjab.  ketika berhasil membunuh Sultan Khalji yang terakhir yaitu Khusru, ia diberi galar Ghiyatsuddin Tughluq. Sultan pertama dari Dinasti Tughluq ini berasal dari Turki. Dahulunya ia adalah pemimpin pasukan yang banyak memperoleh kemenangan atas Mongolia sehingga diberi julukan al-Ghazi. Ghiyatsuddin memulihkan dan memperbaiki prestis moral kesultanan pada saat itu. Beberapa wilayah yang dikuasai adalah Warrangal dan Bangla, setelah kembali dari Bangla. Ia meninggal pada tahun 1325 M, setelah itu digantikan oleh anaknya yaitu Juna Khan.

  1. Muhammad bin Tughluq (1325-1351)

Dinasti Tughluq
Muhammad bin Tughluq

Atas kematian Ghiyatsuddin Tughluq, anaknya, yaitu Juna Khan, dengan gelar Muhammad bin Tughluq, naik tahta pada tahun 1325 M. pada tahun kedua kenaikan tahtanya, dia harus menghadapi pemberontakan saudara sepupunya, Baharuddin dan Gubernur Multan. Keduanya dikalahkan dan dibunuh. Kesusahannya bertambah ketika tentara Mongol di bawah pimpinan Tarmashrim menyerbu India dan sampai daerah pinggiran Delhi. Bahaya itu dapat di hindarkan denga cara menyuap musuh. Imperium yag diwarisi oleh Muhammad dari ayahnya itu merupakan yang terbesar yang diperintah oleh raja India dengan berhasil. Pemerintahannya merupakan masa yang paling menentukan di dalam sejarah Abad pertengahan India. Ia bisa dikelompokkan ke dalam dua bagian: a. (1325-1335 M) dan b. (1335-1351 M). bagian pertama relatif makmur dan damai, sedangkan bagian kedua memunculkan meningkatnya kerusuhan-kerusuhan yang mencapai puncaknya dalam pemberontakan dan kehancuran.

Sebagai pemimpin umat islam dengan kebijakan sebagai seorang sultan yaitu, menduduki jabatan-jabatan militer, tugas-tugas administratif pemerintahan, juga berusaha mengintegrasikan sejumlah panglima dari orang Turki, mengangkat hakim-hakim agama dan menerapkan pajak serta menciptakan abwab (biaya) tambahan kepada setiap warga non muslim.

Muhammad ibn Tughluq menerapkan sebuah kebijakan pro-Sunni. Ia mempertegas mandatnya sebagai seorang pejuang Muslim dengan mempertahankan India dari serangan Mongol. Ia memperlihatkan keterikatannya secara formal terhadap Syariah, mengakui kekhilafahan Abbasiyah di Kairo sebagai pemimpin umat Muslim. Muhammad ibn Tughluq secara umum sangat menghormati kepada ulama. Rezimnya merupakan rezim Muslim pertama yang mengintegrasikan sejumlah panglima perang Turki, kalangan feodal Hindu, dan ulama Muslim di dalam elite politik.

Pemerintahan yang dipegang Muhammad ibn Tughluq tidak bisa bertahan lama karena memiliki ide-ide yang jauh kedepan dari zamannya dan mengabaikan semua kebijakan yang telah ditatanya, sehingga perekonomian negara tidak stabil, terjadi kelaparan berkepanjangan dan pemberontakan yang beruntun.

  1. Firuz Shah Tughlaq (1351-1388 M)

Dinasti Tughluq
Firuz Shah Tughlaq

Kematian Muhammad bin Tughluq, terjadi dalam keadaan yang benar-benar tidak menguntungkan dan anarki yang terjadi di dalam tentara, yang tanpa pemimpin dan terancam bahaya, segera terjadi. Sebelumnya Sultan telah menunjuk Firuz sebagai ahli warisnya yang sah. Selain itu, para bangsawan mendesak Firuz untuk naik tahta dan menyelamatkan tentara yang kehilangan semangat itu dari kehancuran. Firuz menerima tahta dengan sangat enggan.

Firuz sangat berbeda dengan saudara sepupunya. Ia adalah orang yang cinta kedamaian dan tidak memiliki sifat-sifat prajurit. Ia juga tidak memiliki ambisi, keberanian, dan semangat berperang yang merupakan syarat untuk berhasil pada zaman itu.

Sultan baru ini tetap menjalankan aksi militer dengan tujuan untuk memulihkan kehilangan kendali provinsi-provinsi di bawah keseultanan Delhi. Sayangnya, Fairuz kurang terampil dalam bidang militer dan tidak tegas sebagai seorang komandan besar. Dua kali invasinya ke Bengal hampir tidak mendapatkan apapun. Selanjutnya Fairuz Shah abstain dari perjalanan militer.

  1. Mahmud Shah (1394)

Pada tahun 1398 M Sultan dari Samarkhand yaitu Timurlank menyerang Delhi. Kondisi kerajaan makin memburuk. Setelah Timur tinggalkan di India, Mahmud Shah naik tahta. Namun ia tidak cakap. Setelah Mahmud wafat, 1413 M, wakil Timur, penguasa Multan, Khizir Khan mengalahkan sultan terakhir dari dinasti ini, maka berdirilah Dinasti sayyid.

  1. Kebijakan politik serta perkembangan Dinasti Tughluq
NO NAMA PERIODE URAIAN
1 Ghiyatsuddin Tughluq (1320-1325 M) · Mendirikan Tughluqabad, sekitar 8 km sebelah timur Kila Ray Phitora yang kemudian dijadikannya sebagai pusat pemerintahan tahun 1320 M. di tengah Tughluqabad didirikan Istana, Masjid, Perumahan, Perkotaan dan jalan-jalan yang dikelilingi oleh benteng yang kuat.
2 Muhammad ibn Tughlaq (1325-1351 M) ·Mengangkat hakim-hakim agama

·Penerapan pajak terhadap non-Muslim

·Mengangkat warga non-Muslim dalam tugas kemiliteran dan tugas administratif pemerintahan dan mengizinkan pembangunan kuil-kuil Hindu

·terkenal dengan gagasan lima butir yang terpuji, namun semuanya gagal.

1. proyek pemindahan ibukota dari Delhi ke Deongir

2.ekspedisi ke Khurasan

3.udaha penakhlukkan Qarachil, sebuah tempat di utara India (kaki gunung Himalaya)

4.mencetak mata uang

5.penambahan pajak di Doab daerah subur di Allahbad

 

3 Firuz Shah Tughlaq (1351-1388 M)

 

· mendirikan kota Jaunpur, untuk mengenang sepupunya (Muhammad ibn Tughluq)
4 Mahmud Shah

 

(1394 M)

Jatuhnya Dinasti Tughluq

            Setelah kematian Firuz Tughluq, sejumlah pangeran yang lemah menduduki tahta Delhi, dan cerita tentang pemerintahan mereka merupakan catatan tentang persengkokolan dan pemberontakan. Dinasti Tughluq yang terakhir, Mahmud, menjadi raja pada tahun 1394 M. pemerintahannya merupakan pemerintahan yang menyedihkan. Empat provinsi yaitu, Malwa, Gujarat, Khandes dan Jaunpur menjadi merdeka. Bencana kelaparan yang berlangsung selam dua belas tahun melemahkan Deccan, dan yang tak kalah pentingnya, di dalam masa pemerintahannya, Timur yang dahsyat menyerbu India.

Kesimpulan

Dinasti Tughluq (atau Tughlaq), yang berhasil memperluas kekuasaan Delhi hingga meliputi sebagian India selatan. Akan tetapi, pada masa Dinasti Tughluq pula, Kesultanan Delhi mulai mengalami kemunduran. Ini dimulai pada 1325 M ketika Muhammad bin Tughluq naik tahta. Muhammad bin Tughluq adalah raja yang kurang konsisten terhadap kebijakan yang telah ia buat akhibatnya, Kesultanan Delhi mulai melemah. Pada masa tersebut terjadi banyak pemberontakan dan perang saudara, dan pada 1351 M, India selatan berhasil memerdekakan diri sebagai sebuah negara Hindu. Dekkan, atau India tengah, juga memisahkan diri dari Delhi dan menjadi sebuah negara Islam merdeka. Pada akhirnya, pada 1398 M, Delhi ditaklukan dan dihancurkan oleh pemimpin Mongol, Timur Lenk, yang mendirikan Kekaisaran Timuriyah. Semenjak itu, Keksultanan Delhi menjadi negara bawahan Kekaisaran Timuriyah.

DAFTAR PUSTAKA

Usairy, Ahmad. Sejarah Islam Sejak Zaman Nabi Hingga Abad XX. Jakarta: Akbar Media, 2013.

 Mahmudunnasir, Syed. Islam Konsepsi dan Sejarahnya. Bandung: Remaja Rosdakarya, 1988.

Choiriyah, Laili. Kebijakan Pemerintahan Sultan Muhammad bin Tughluq di India (1325-1351), Skripsi S1, Sejarah dan Kebudayaan Islam, UIN Sunan Kalijaga, 2004.

lapidus, Ira m. Sejarah Sosial Ummat Islam, Bagian Kesatu Dan Dua. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1999.

 Yatim, Badri. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: PT. Grafindo Persada, 2014

Karim, Abdul. Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam. Yogyakarta: Bagaskara Yogyakarta, 2014.

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *