Konfrontasi Gerakan Wahhabi dan Turki Utsmani Abad XVIII-XIX

Memasuki abad ke-18 muncul seorang tokoh pembaharu Islam yang berasal dari ‘Uyaniyah. Pendakwah baru ini bernama Muhammad ibn Abdul Wahhab. Melalui dakwahnya dia ingin memperbaiki kemurnian tauhid umat Islam, yang telah rusak akibat ajaran-ajaran Tarekat. Pada perkembangannya pengikut Muhammad Abdul Wahhab ini menamakan diri sebagai gerakan Wahhabi. Gerakan ini banyak menaklukkan daerah-daerah di Jazirah Arab yang waktu itu berada di bawah kekuasaan Turki Utsmani. Akibatnya, konfrontasi antara keduanya tidak dapat dihindarkan. Pada pembahasan kali ini tidak hanya dibahas mengenai jalannya konflik tersebut, tapi kita juga akan membahas mengenai sejarah awal gerakan Wahhabi.

Mengenal Muhammad ibn Abdul Wahhab

konfrontasi gerakan Wahhabi dan Turki Utsmani
Muhammad ibn Abdul Wahhab

Muhammad ibn Abdul Wahhab ibn Sulaiman ibn Ali ibn Muhammad ibn Ahmad ibn Rasyid At-Tamimi lahir pada tahun 1115 H/ 1703 M di sebuah tempat bernama ‘Uyaniyah, Najd yang berjarak 70 kilometer dari Riyadh, dan meninggal pada 22 Juni 1792 di Dir’iyah.  Sejak kecil dia sangat mencintai ilmu pengetahuan. Hal tersebut terlihat dari semangat belajarnya, dia hafal Al-Qur’an, belajar fikih Hanbali, tafsir, dan hadits. Dia banyak mempelajari  dan mengagumi buku-buku yang ditulis Ibnu Taimiyah dalam bidang fikih, akidah, dan logika. Selain itu, dia mendapat pengaruh dari buku-buku Ibnu Qayyim, Ibnu ‘Urwah al-Hanbali, dan lainnya. Maka jadilah dia seorang yang menganut paham salafi.

Abdul Wahhab memulai menuntut ilmu di Makkah dan Madinah, setelah menyelesaikan pelajarannya dia pergi merantau ke Basrah dan tinggal di kota ini selama empat tahun. Selanjutnya dia pindah ke Baghdad dan di sini dia memasuki hidup perkawinan dengan wanita kaya, meskipun demikian dia menghadapi tantangan keras dan fitnah ketika dia menyatakan pandangannya di sana. Lima tahun kemudian, setelah istrinya meninggal dia pindah ke Kurdistan, dari Kurdistan dia pindah ke Hamdan dan selanjutnya ke Isfahan. Di kota Isfahan dia sempat mempelajari filsafat dan tasawuf. Setelah bertahun-tahun merantau dia akhirnya kembali ke tempat kelahirannya di Najd, Arabia.

Pemikiran Muhammad ibn Abdul Wahhab

Latar belakang Pemikiran Muhammad ibn Abdul Wahhab berbeda dengan pembaharuan pemikiran yang muncul di imperium Utsmani dan Mughal. Jika pemikiran yang muncul di dua imperium tersebut lebih karena reaksi terhadap suasana politik, maka pemikiran Muhammad Abdul Wahhab muncul sebagai reaksi terhadap rusaknya paham tauhid di kalangan umat Islam. Kerusakan paham Tauhid ini disebabkan  ajaran-ajaran tarekat yang semenjak abad ke-13 menyebar luas di dunia Islam.

Ketika Muhammad ibn Abdul Wahhab merantau, di setiap wilayah-wilayah Islam yang dikunjunginya dia mendapati kuburan-kuburan syekh tarekat yang bertebaran di kota-kota tersebut. Tiap kota, bahkan kampung-kampung mempunyai kuburan syekh dan wali masing-masing. Pada masa itu banyak umat Islam yang beribadah haji bukan ke Haramain melainkan ke kuburan-kuburan tersebut, dan meminta tolong kepada para syekh dan wali yang dikuburkan di dalamnya, untuk mencari solusi dari masalah hidup mereka. Bermacam-macam permohonan dipanjatkan kepada kuburan syekh atau wali tersebut, karena mereka memandang syekh dan wali yang telah meninggal itu yang berkuasa untuk menyelesaikan seluruh persoalan mereka yang mereka hadapi.

Karena pengaruh tarekat ini, permohonan dan doa tidak langsung dipanjatkan kepada Allah, melainkan melalui syafa’at syekh dan wali tarekat, yang dipandang dapat mendekatkan mereka kepada Allah sehingga dapat memperoleh rahmatNya. Muhammad Abdul Wahhab juga melihat rusaknya kemurnian tauhid bukan hanya disebabkan ajaran tarekat, dia melihat paham Animisme masih berperan besar dalam kultur masyarakat muslim. Ketika dalam perjalannya dia mendapati orang berziarah ke sebatang pohon kurma, karena orang tersebut meyakini pohon tersebut mempunyai kekuatan gaib. Di tempat lain dia melihat batu besar yang dipuja-puja layaknya Tuhan.

Keyakinan seperti inilah yang menurut Muhammad Abdul Wahhab merupakan perbuatan syirik/meyekutukan Allah. Perbuatan syirik merupakan dosa terbesar dalam ajaran Islam. Ketika dia kembali ke Najd dia mulai mendakwahkan pandangannya mengenai hal tersebut, dikutip dari buku Pembaharuan dalam Islam mengenai beberapa pemikiran Muhammad Abdul Wahhab, antara lain:

  1. Yang boleh dan harus disembah hanyalah Allah, dan orang yang menyembah selain Allah telah menjadi musyrik dan boleh dibunuh.
  2. Kebanyakan orang Islam bukan lagi penganut paham Tauhid yang murni, karena meminta pertolongan bukan lagi dari Allah, tetapi dari syekh atau wali dan dari kekuatan gaib. Orang Islam yang demikian juga telah menjadi musyrik.
  3. Menyebut nama Nabi, syekh, dan malaikat sebagai pengantara dalam doa juga merupakan syirik.
  4. Meminta syafa’at selan kepada Allah adalah perbuatan syirik.
  5. Bernazar kepada selain Allah juga syirik.
  6. Memperoleh pengetahuan selain dari al-Qur,an, hadits, dan qias (analogi) merupakan kekufuran.
  7. Tidak percaya kepada Qada dan Qadar merupakan kekhufuran.
  8. Menafsirkan Al-Qur’an dengan ta’wil (interpretasi bebas) adalah perbuatan kufur.

Semua yang disebutkan diatas menurut Muhammad Abdul Wahhab merupakan bid’ah dan bid’ah adalah kesesatan, dia berpendapat umat Islam harus kembali kepada Islam yang murni. Kepercayaan yang muncul setelah zaman tabi’in, bukanlah ajaran murni dan harus ditinggalkan. Dengan demikian taklid dan patuh kepada pendapat ulama sesudah abad ketiga hijriah tidak dibenarkan. Al-Qur’an dan Hadits merupakan satu-satunya otoritas muslim yang paling valid. Selain itu dia juga berpendapat pintu ijtihad tidak lah tertutup.

Dakwah Muhammad ibn Abdul Wahhab dan Kerjasamanya dengan Muhammad ibn Sa’ud

Ketika Muhammad Abdul Wahhab pulang dari perantauan dan kembali ke ‘Uyaniyah, dia memulai dakwahnya untuk memurnikan kembali tauhid. Dia memperingatkan akab bahaya syirik, macam-macam, dan berbagai bentuknya. Dari dakwahnya tersebut dia sering mendapat ancaman pembunuhan dari para pendukung bid’ah di Huraimala. Di Huraimala kedatangannya mendapat sambutan hangat dari penguasa dan mendukungnya untuk melanjtukan dakwah yang dia tekuni. Namun, dia tidak tinggal lama di Huraimala, karena adanya tekanan dari penguasa al-Ihsa’ terhadap penguasa Huraimala untuk membunuh Muhammad ibn Abdul Wahhab. Karena hal tersebut, Abdul Wahhab memutuskan keluar menuju daerah Dir’iyah.

Sesampainya di Dir’iyah dia mampu bekerjasama dengan Muhammad ibn Sa’ud, yang merupakan pemimpin kecil kawasan Arab Tengah.

konfrontasi gerakan wahhabi dan turki utsmani
Muhammad ibn Saud

Selain menjadi sekutu, Muhammad Sa’ud juga menjadi menantu dari Muhammad Abdul Wahhab. Kerjasama ini mampu mempercepat penyebaran dakwah Muhammad Abdul Wahhab dan perluasan wilayah Muhammad ibn Sa’ud. Muhammad Abdul Wahhab melanjutkan dakwahnya melalui taklim, penulisan brosur, buku-buku kecil juga nasehat-nasehat. Dalam dakwahnya dia mengajak umat Islam untuk menumpas kemungkuran dan menghancurkan kubah-kubah kuburan, serta mencegah semua saran yang mengantarkan pada kemusyrikan. Dia selalu menekankan agar umat Islam melakukan ibadah sepenuhnya hanya kepada Allah Yang Maha Esa.

Dakwah yang dia lakukan berlangsung dengan cara damai, dia terus mengajar siapa saja yang datang menghadiri majlisnya dan senantiasa menerangkan akidah yang dianutnya. Namun, dakwah yang dia jalankan ternyata mendapatkan penerimaan yang sangat keras. Kebeneran diterima dengan pendustaan, sedangkan nasehat ditanggapi dengan konspirasai. Maka, tidak ada cara lain kecuali fase jihad. Moment ini menjadi titik krusial dalam perjalanan Muhammad Wahhabi dan Muhammad Ibn Sa’ud selanjutnya.

Konfrontasi Gerakan Wahhabi dan Turki Utsmani

Muhammad Abdul Wahhab dan Muhammad ibn Sa’ud memulai fase jihad gerakan Wahhabi. Dengan pemelukan Ibn Sa’ud terhadap seruan Wahhabi, Wahhabisme menjadi ideologi agama yang menyatukan kesukuan. Dengan semangat meneladani hidup Nabi Muhammad, Ibn Sa’ud dan penerusnya melancarkan perang melawan suku-suku di sekitarnya. Mereka mulai mengumpulkan kaum Mujahidin dari Dir’iyah keluar batas wilayahnya, dengan tujuan menebarkan dakwah dan pengokohan tiang-tiang agama di Jazirah Arab dan luar Arab. Muhammad Abdul Wahhab mempimpin langsung pengumpulan pasukan ini, mulai tahap persiapan hingga pemberangkatan mereka. Meskipun disibukkan dengan pengumpulam pasukan, dia tetap menjalankan dakwahnya mulai dari mengajar hingga mengantar delegasi.

Para pengikut Muhammad ibn Abdul Wahhab dikenal dengan sebutan gerakan/aliran Wahhabi. Pertempuran antara gerakan Wahhabi dan musuh-musuhnya berlangsung dalam waktu lama. Pada tahun 1773 M, Riyadh berhasil ditaklukkan oleh pangeran Abdul Aziz bin Muhammad ibn Sau’ud. Sementara penguasa lama daerah tersebut yang bernama Daham ibn Dawud melarikan diri. Setelah ditaklukkannya Riyadh, maka wilayah yang tunduk berada di bawah pengaruh gerakan Wahhabi dan keturunan Saud semakin luas.

Setelah Muhammad ibn Abdul Wahhab meninggal pada 22 Juni 1792, perjuangan gerakan Wahhabi tidak lantas berhenti, justru gerakan Wahhabi terus meluaskan pengaruhnya. Pada tahun, 1801 mereka menghancurkan Karbala yang mana daerah tersebut merupakan pusat dari penganut Syi’ah. Kemudian, pada tahun 1803 gerakan Wahhabi mencoba memasuki Mekkah. Dua tahun setelah itu, keturunan Sa’ud berhasil menguasai Mekkah dan Madinah.

konfrontasi gerakan wahhabi dan turki utsmani
Wilayah Saudi 1744-1816

Pengaruh gerakan Salafiyah ini semakin meluas, hingga mereka dapat menguasai kawasan Teluk Arab sepenuhnya. Bahkan, pada tahun 1806 M orang-orang Qawasim yang didukung kekuatan pemerintahan Bani Sa’ud, mampu dan berani melakukan  serangan kepada armada Inggris. Penyerangan ini menyebabkan perairan teluk berada di bawah kekuasaan gerakan Wahhabi. Pemgaruh Wahhabi juga sampai ke wilayah selatan Irak yang sangat berpengaruh di jalan darat yang membentang antara Eropa dan kawasan Timur. Melihat kondisi yang demikian, timbul kecemasan dari bangsa Eropa. Mereka melihat gerakan Wahhabi sebagai ancaman yang nyata bagi kepentingan mereka.

Inggris merasa tidak mungkin melakukan kerjasama dengan gerakan Wahhabi, karena perbedaan asas-asas keagamaan. Maka, untuk menghentikan perkembangan dan bahkan menumpas gerakan Wahhabi, Inggris melakukan konspirasi dengan menghasut Sultan Mahmud II. Mereka mengatakan gerakan Muhammad Ibn Abdul Wahhab bertujuan untuk memerdekan Jazirah Arab dan memisahkan diri dari pemerintahan Utsmani, serta membangun Khilafah Arabiyah. Sultan langsung merespon fitnah tersebut, dengan menuruti saran-saran untuk memberantas gerakan ini sebelum menjadi besar. Meskipun sebenranrnya para pengikut gerakan Wahhabi tidak pernah menuntut khilafah dan tidak pernah menantang bahwa mereka tidak tunduk padanya.

Pemerintahan Utsmani mengeluarkan biaya besar dan mengerahkan banyak prajuritnya hanya untuk menumpas gerakan ini. Maka konfrontasi antara Pemerintah Utsmani dan gerakan Wahhabi dimulai dari titik ini. Sultan mulai menugaskan penyelesaian masalah ini kepada gubernur yang bertentangga dengan Saudi. Langkah ini bertujuan untuk membendung perluasan wiayah Saudi di wilayah Timur dan untuk melemahkan gubernur-gubernur itu. sehingga mengeruk sumber penghasilan mereka hingga tetap menjadi gubernur yang lemah sehingga terus tunduk pada pemerintah Utsmani.

Perintah pertama penyerangan ditunjukkan kepada gubernur Baghdad, karena letaknya yang paling berdekatan dengan Najd. Namun, tentara Baghdad yang terlalu lemah menyebabkan berkali-kali mengalami kekalahan. Untuk membendung serangan di perbatasan Irak, maka pemerintah Utsmani segera meminta gubernur Syam untuk melakukan serangan kepada Saudi. Namun, justru kekalahan lebih menyedihkan dialami oleh gubernur Syam.

Ketika pemerintah Utsmani mulai putus asa, mereka mengalihkan pandangannya ke Mesir. Sebelumnya sultan sempat meminta gubernur baru Mesir Muhammad Ali Pasya untuk menumpas gerakan Wahhabi dan mengembalikan jazirah Arabia ke tangan Turki Utsmani. Namun, permintaan tersebut tidak langsung dipenuhi Muhammad Ali.

Baru pada tahun 1811 M, Muhammad Ali melakukan ekspedisi pertamanya untuk menumpas Wahhabi.  Pada tahun 1812 pasukan Muhammad Ali telah berhasil menguasai Hijaz dengan bantuan Ghalib ibn Musa’id, keberhasilan menguasai Hijaz ini ditanggapi suka cita oleh Sultan, ia langsung mengirimkan selebaran ke Mesir yang dibacakan di masjid yang menyebutkan Haramai telah dikuasai kembali. Hal ini menunjukkan Sultan sudah sangat puas telah berhasil menundukkan Hijaz, namun tidak bagi Muhammad Ali. Dia melanjutkan serangannya menuju Dir’yah pusat dari gerakan Wahhabi, di daerah tersebut pasukan Muhammad Ali yang dipimpin oleh anak pertamanya yang bernama Thusun kalah ketika berhadapan dengan pangeran Abdullah ibn Saud.

Ketika Thusun kalah, maka Muhammad Ali memutuskan langsung keluar menuju Hijaz pada tahun 1813, ketika sampai Hijaz dia justru menangkap Ghalib ibn Musa’id gubernur Mekkah saat itu, dengan tuduhan melakukan konspirasi dengan penguasa Saudi. Dengan demikian penguasa Mekkah sekarang diisi oleh pejabat Muhammad Ali. Pada bulan Januari 1815 M, Muhammad Ali beserta pasukannya memenangkan pertempuran Basal. Kemenangan tersebut membuat Jazirah Arab dikuasai oleh pasukan Muhammad Ali dan Utsmani. sekembalinya Muhammad Ali ke Mesir, Thusun menjadi penguasa Hijaz. Ternyata Ekspansi untuk menumpas gerakan Wahhabi belum berhenti, Thusun bergerak menuju arah utara Najd hingga sampai kota Ras, setelah itu dia menuju Dir’iyah pusat dari gerakan Wahhabi.

Pangeran Abdullah sempat mengajukan perundingan damai, namun usaha tersebut gagal. Kegagalan tersebut membuat Bani Saud kembali untuk berperang. Maka Muhammad Ali mengirimkan kembali ekspedisi militernya yang kedua pada tahun 1816 M, dipimpin oleh anaknya, Ibrahim Pasya. Pasukan Ibrahim Pasya dapat mengepung Dir’iyah pada tahun 1818 M, pengepungan ini berlangsung lama mulai bulan April sampai September 1818 M, dan berakhir dengan menyerahnya pangeran Abdullah ibn Saud. Dari Dir’iyah pangeran Abdullah dikirim ke Istanbul untuk dihukum pancung. Sehingga mengakhiri konflik antara gerakan Wahhabi dan pemerintah Turki Utsmani. Selanjutnya, selama abad ke-19 bani Sa’ud bertahan sebagai sebuah kesultanan kesukuan kecil di wilayah pinggiran Arabia.

BIBLIOGRAFI

Hitti, Philip. K. 2006. History of The Arabs. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta.

Lapidus, Ira. M. 2000. Sejarah Sosial Umat Islam Bagian Ketiga. Jakarta: RajaGrafindo Persada.

Nasution, Harun. 1988. Pembaharuan dalam Islam: Sejarah Pemikiran dan Gerakan. Jakarta: Bulan Bintang.

Shallabi, Ali Muhamad Ash. 2014. Bangkit dan Rybtuhnya Khilafah Utsmaniyah. Jakarta: al Kautsar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *