Kemunduran dan Keruntuhan Dinasti Umayyah (743-750 M)

Periode Kemunduran dan Keruntuhan Dinasti Umayyah dimulai pasca berakhirnya masa pemerintahan Hisyam ibn Abdul Malik (724-743). Oleh para pakar sejarah Arab, Hisyam dipandang sebagai negarawan ketiga dalam Dinasti Umayyah setelah Muawiyah dan Abdul Malik.

Dengan kematian Hisyam pada 743 M, rezim Umayyah memasuki fase kemuduran. Empat penggantunya, kecuali Marwan II yang menjadi khalifah terakhir, terbukti tidak cakap, atau bisa dikatakan tidak bermoral dan rusak.

Bahkan, beberapa khalifah sebelum Hisyam pun, yang dimulai oleh Yazid I, lebih suka berburu, pesta minum, tenggelam dalam alunan musik dan puisi, daripada membaca al-Quran atau mengurus persoalan negara. Berikut ini faktor-faktor yang menyebabkan kemunduran Dinasti Umayyah, hingga pada akhirnya meruntuhkan imperium tersebut.

Rusaknya Moral para Khalifah Dinasti Umayyah

Pasca-wafatnya Hisyam, praktik-praktik menyimpang di lingkungan istana bertambah parah. Kejayaan yang diraih pada masa sebelumnya, menyebabkan para khalifah gemar berfoya-foya dengan kemewahan. Lebih parah lagi perilaku menyimpang itu sudah menjadi fenomena umum.

Bahkan keluarga khalifah sudah tidak lagi berdarah Arab murni. Yazid III (744) adalah khalifah pertama yang lahir dari seorang budak. Dua khalifah penerusnya juga lahir dari seorang mantan budak yang dimerdekakan.

Perilaku buruk kelas penguasa hanyalah gambaran kecil dari kebobrokan moral yang bersifat umum. Rusaknya peradaban, terutama menyangkut minuman keras, perempuan dan nyanyian telah menjadi virus di masyarakat dan mulai menggerogoti pemuda Arab.

Kekacauan Suksesi Kepemimpinan

keruntuhan dinasti umayyah
Silsilah Khalifah Umayyah

Keadaan itu semakin kacau ketika mereka dihadapkan pada suksesi kepemimpinan. Tidak adanya aturan yang pasti dan tegas tentang peralihan kekuasaan secara turun-temurun menimbulkan gangguan yang serius di tingkat negara.

Muawiyah I memang telah mengantisipasi masalah itu dengan menunjuk putranya sebagai pengganti dirinya, tetapi prinsip senioritas kesukuan Arab klasik dalam persoalan kepemimpinan menjadi penghalang tebesar. Jadi, pengakuan masyarakat menjadi satu-satunya cara yang pasti menuju puncak kekuasaan.

Di antara 14 khalifah Umayyah, hanya empat khalifah-Muawiyah I, Yazid I, Marwan I dan Abdul Malik- yang berhasil mewariskan kekuasaan kepada anak-anaknya.

Persoalan menjadi semakin rumit dengan munculnya tradisi baru yang diperkenalkan oleh pendiri keluarga Marwan yang menunjuk anaknya Abdul Malik sebagai penggantinya, kemudian diikuti oleh anaknya yang lain Abdul Aziz.

Ketika berkuasa, Abdul Malik ikut melakukan tradisi sebelumnya. Ia mengalihkan kekuasaan dari saudaranya, Abdul Aziz, kepada anaknya sendiri al-Walid, sambil menempatkan anaknya yang lain, Sulayman pada urutan kedua pewaris kekuasaan.

Pada gilirannya, al-Walid juga tidak berhasil menggulingkan saudaranya, Sulayman ibn Abdul Malik, untuk menempatkan anaknya sebagai khalifah.

Semua manuver tersebut tentu sangat tidak kondusif bagi stabilitas dan kelangsungan pemerintahan.

Melemahnya Kekuatan Militer Suriah

keruntuhan dinasti umayyah
Wilayah Umayyah

Faktor lain yang menyebabkan kemunduran Dinasti Umayyah adalah faktor kepayahan atau keletihan militer pemerintahan dari kalangan penduduk Suriah.

Beberapa khalifah Umayyah masa belakangan berusaha meningkatkan peranan militer Suriah untuk menguasai kelompok Arab lainnya dan memperkuat pasukan tempur pada beberapa wilayah perbatasan imperium dengan tentara-tentara yang cakap dan profesional. Pusat-pusat militer mengirimkan tentara Suriah untuk menghadapi  perlawanan-perlawanan dari daerah yang diduduki.

Pasukan Turki mendesak Bangsa Arab keluar dari Transoxiana. Khazars, masyarakatNomadik yang tinggal di Caucasus, mengalahkan pasukan Arab di Ardabil, menyerbu Armenia dan menguasai wilayah-wilayah sampai sejauh Mosul pada 740.

Pada tahun 740, Yunani, dengan gemilang mengalahkan serbuan pasukan Arab di Acrazas, Anatolia dan berhasil menghancurkan sebagian besar militer Suriah.

Pasukan penyerbu Arab dan Berber dikalahkan di Prancis Tengah pada 732 M, dan pemberontakan Berber atas nama Khawarij berlangsung di Afrika Utara menghancurkan sebuah pasukan militer Suriah yang teridiri dari 27.000 orang. Sisa dari pasukan ini melarikan diri ke Spanyol dan kelak akan membantu Abdurrahman mendirikan Emirat Umayyah di Andalusia.

Sejumlah kekalahan ini mengakhiri fase imperial dari Dinasti Umayyah dan meninggalkan militer Suriah dalam keadaan sekarat dengan hanya beberapa ribu pasukan yang tersisa. Setelah satu abad memperkokoh negara dengan kekuatan militer, dinasti ini sekarang dalam keadaan tanpa basis militer yang mendukung efektivitas pemerintahan usat. Dengan kata lain peluang untuk menggulingkan pemerintahan Umayyah melalui jalan militer terbuka lebar.

Perpecahan  di Masyarakat

Kelemahan klasik dan khas dari kehidupan sosial orang Arab yang selalu menekankan individualisme, semangat kesukuan dan pertikaian kembali menampakkan wujudnya pada masa kemunduran Dinasti Umayyah.  Ikatan persaudaraan berdasarkan iman yang pada awalnya dibangun oleh Islam, secara berangsur mulai longgar.

Sepanjang eksistensinya, Dinasti Umayyah tidak lepas dari persaingan antara suku-suku Arab Utara diwakili oleh Suku Qays dan suku-suku Arab Selatan diwakili Suku Kalb. Sejak awal pendirian dinasti, dua suku itu terus bertarung memperebutkan hegemoni kekuasaan.

Persaingan mencapai puncaknya pada masa kemuduran, sehingga pada periode ini para khalifah lebih merupakan pemimpin kelompok tertentu, bukan pemegang kedaulatan atas sebuah kerajaan yang utuh.

Di setiap tempat, di ibu kota dan berbagai provinsi, pertikaian turun temurun antara dua kelompok yang saling bersebrangan ini semakin mengkristal. Akibatnya ekspansi muslim pun menjadi melambat hingga akhirnya berhenti.

Potensi perpecahan antara suku etnis dan kelompok politik yang tumbuh semakin kuat menjadi sebab utama terjadinya gejolak politik dan kekacauan yang mengganggu stabilitas negara.

Kemunculan Kelompok-Kelompok Pemberontak

Selain perpecahan antar suku dan konflik di antara anggota keluarga kerajaan, faktor lain yang menjadi sebab utama jatuhnya kekhalifahan Umayyah adalah munculnya berbagai kelompok yang memberontak dan merongrong kekuasaan mereka.

Kelompok Syiah, yang tidak pernah menyetujui pemerintahan Dinasti Umayyah dan tidak pernah memaafkan kesalahan mereka terhadap Ali dan Husain, kini semakin aktif dibanding masa-masa sebelumnya.

Pengabdian dan ketaatan mereka terhadap keturuan Ahlu Bait berhasil menarik simpati publik. Di sekeliling mereka berkumpul orang-orang yang merasa tidak puas, baik dari sisi politik, ekonomi, ataupun sosial, terhadap pemerintahan Dinasti Umayyah.

Di Irak, yang mayoritas penduduknya menganut paham Syiah, pada awalnya melakukan oposisi karena tidak diberi kebebasan, kini mulai berubah menjadi sentimen keagamaan.

Sementara itu, di kalangan Sunni sekalipun, mereka ikut mengecam para khalifah karena teralu mementingkan kehidupan duniawi, serta mengabaikan hukum al-Quran dan Hadis. Mereka selalu berisaga penuh untuk menjatuhkan sanksi keagamaan terhadap segala bentuk penentangan yang mungkin muncul.

Revolusi Abbasiyah dan Keruntuhan Dinasti Umayyah

Selain kedua  kelompok di atas, kekuatan destruktif lainnya mulai bergerak aktif untuk meyerang Dinasti Umayyah. Keluarga Abbas, para keturunan paman Nabi, al-Abbas ibn Abdul Muthalib ibn Hasyim, mulai menegaskan tuntutan mereka untuk menduduki pemerintahan.

Dengan cerdik, mereka bergabung dengan pendukung Ali. Mereka menggunakan ikatan sebagai keluarga Hasyim untuk menggalang persekutuan.

Bani Abbas memanfaatkan kekecewaan publik dan menampilkan diri sebagai pembela sejati agama Islam. Pada perkembangannya para keturunan Abbas segera menjelma sebagai pemimpin gerakan anti Umayyah.

Sebagai markas dan pusat propaganda, mereka memilih sebuah desa kecil di sebelah selatan Laut Mati, al-Mumaymah. Tempat ini terliaht seperti tempat terpencil dan jauh dari keramaian dunia, tetapi kenyataannya mreupakan daerah strategis yang berdekatan dengan jalur perdagangan dan persimpangan rute jamaah haji. Di tempat inilah berdiri panggung sejarah pertama dan paling nyata dari gerakan propaganda politik.

Di satu sisi, pemerintahan Umayyah yang Arab-sentris memunculkan kekecewaan dari beberapa kelompok masyarakat yang merasa dianaktirikan oleh penguasa. Orang Islam non-Arab pada umumnya, dan khususnya muslim Persia, memilki alasan kuat untuk kecewa.

Selain karena tidak memperoleh kesetaraan ekonomi dan sosial yang sama dengan muslim Arab, mereka secara umum diposisikan sebagai kalangan mawalli (muslim non-Arab), dan tidak selalu bebas dari kewajiban membayar pajak kepala yang biasa dikenakan terhadap non-muslim.

Permasalahan lain yang semakin menegaskan kekecewaan mereka adalah kesadaran bahwa mereka memiliki budaya yang lebih tinggi dan lebih tua, kenyataan yang bahkan diakui oleh Arab sendiri.

Di tengah-tengah massa yang kecewa itulah aliansi Syiah-Abbas menemukan lahan yang subur untuk melakukan propaganda.

Dari Irak yang selalu menjadi pendukung setia kelompok Ali, doktrin Syiah menyebar ke Persia dan menancapkan akarnya khususnya di provinsi timur laut, Khurasan.

Di Persia, jalan telah terbuka dengan adanya pertikaian antara Azd dan Mudhar yang melekat dalam ingatan orang Arab. Pertikaian tersebut semakin memuluskan jalan masuk propaganda Syiah-Abbas.

Keruntuhan Dinasti Umayyah semakin dekat ketika terbentuk aliansi antara kekuatan Syiah, Khurasan, dan Abbasiyah yang dimanfaatkan oleh kelompok terakhir untuk kepentingan mereka sendiri. Koalisi ini dipimpin oleh Abu al-Abbas, cicit al-Abbas, paman Nabi. Di bawah kepemimpinannya, Islam revolusioner bangkit menentang tatanan yang telah ada dengan menwarkan gagasan teokrasi dan janji untuk kembali kepada tatanan ortodoksi.

Pada 9 Juni 747 M, pemberontakan dimulai ketika seorang pendukung Abbasiyah, Abu Muslim, seorang mantan budak Persia, mengibarkan bendera hitam. Bendera itu pada awalnya merupakan warna bendera perang Rasulullah, tapi kini menjadi lambang Abbasiyah.

Dengan memimpin suku Azd (Yaman), Abu Muslim memasuki kota Marw, tapi masyoritas pengikutnya adalah petani Iran dan kelompok mawalli, bukan orang Arab.

Dihadapkan dengan serangan itu, Nashr ibn Sayyar, gubernur Umayyah di Khurasan, segera meminta bantuan kepada Marwan II. Namun, meskipun Marwan II lebih unggul dalam kemampuan dan semangat dibanding para pendahulunya di era kemunduruan, ia tetap tidak bisa memberkan bantuan kepada gubernurnya itu. Dikarenakan ia sendiri sedang sibuk menghadapi pemberontakan di sekitar ibu kota kerajaan yang tersebar dari Palestina hingga Hims.

Marwan II yang didukung oleh suku Qays, melakukan kesalahan besar dengan memindahkan bukan saja kediamannya, tetapi juga birokrasi negara ke Harran di Mesopotamia. Pemindahan pusat birokrasi ini justru menjauhkannya dari orang-orang Suriah selaku pendukung utamanya yang akhirnya justru mulai memberontak.

Selain golongan-golongan yang telah disebutkan di atas, orang Khawarij di Irak-yang selalu menjadi lawan mematikan bagi pihak penguasa-kini juga mulai memberontak.

Di Spanyol, pertikaian turun-temurun telah merobek provinsi Islam paling barat itu.

Selama tiga tahun, Marwan II yang saat itu berusia sekitar 60 tahun, memimpin pertempuran melawan para pemberontak Suriah dan Khawarij, serta membuktikan dirinya sebagai jenderal yang cakap. Sebagai pemimpin militer, dalam pertempuran itu ia mengubar formasi baris (shuhuf), yang merupakan formasi perang pasukan Nabi, menjadi sistem legiun (Karadis) unit-unit kecil yang lebih padu dan memiliki mobilitas tinggi.

Meskipun secara strategi perang unggul, keadaan sudah terlampau parah untuk diperbaiki. Pengaruh Dinasti Umayyah dengan cepat mulai terbenam seiring bertambah panasnya pemberontakan.

Satu demi satu kota-kota penting Umayyah jatuh, dimulai dari ibukota Khurasan, Marw, diikuti kemudian pada 749 dengan jatuhnya Kufah yang menyerah kepada pemberontak tanpa perlawanan berarti.

Pada hari Kamis 30 Oktober 749, pengakuan publik diberikan di masjid kepada Abu al-Abbas sebagai khalifah. Dengan demikian, khalifah Abbasiyah eprtama telah diangkat.

Di berbagai tempat, pasukan berbendera putih Dinasti Umayyah dikalahkan oleh pasukan berbendera hitam  Abbbasiyah dan sekutu-sekutunya.

Sementara itu, Marwan memberikan perlawanan akhir yang sia-sia. Dengan pasukan sekitar 12.000 orang, ia bergerak dari Harran. Pada Janurari 750, di sisi kiri Sungai Zab  besar, Marwan dihadapkan dengan pasukan lawan yang dipimpin oleh Abdullah ibn Ali, paman dari khalifah Abbasiyah yang baru diangkat.

Namun, keinginan dan semangat untuk menang sudah tidak lagi dimiliki oleh pasukan Suriah, sehingga kekalahan mereka bisa dipastikan.

Setelah pertempuran di Zab, jalan masuk ke Suriah terbuka lebar bagi pasukan Abbasiyah. Satu demi satu, kota-kota besarnya membuka pintu mereka untuk Abdullah dan pasukan Khurasannya. Hanya kota Damaskus yang harus dikepung, namun setelah beberapa hari, kota besar itu menyerah pada 26 April 750.

Dari Palestina, Abdullah mengirimkan pasukan untuk mengejar khalifah yang melarikan diri. Marwan akhirnya ditangkap dan dibunuh pada 5 Agustus 750 di luar sebuah gereja yang menjadi tempat perlingdungannya di Bushir, Mesir dan di tempat itulah ia kemudian dimakamkan. Menurut Mas’udi, kepala dan simbol kekhalifahannya kemudian diserahkan kepada Abu al-Abbas.

Orang-orang  Abbasiyah kini berencana memusnahkan keluarga Dinasti Umayyah. Bahkan, jenderal mereka, Abdullah, tidak ragu-ragu menghabisi orang-orang yang dekat dengan keluarga istana.

Pada 25 Juni 750, ia mengundang 80 orang di antara mereka sebuah undangan makan di Abu Futhrus, sebuah kuil kuno di Sungai Awja dekat Jaffa, kemudian menghabisi mereka ketika jamuan makan sedang berlangsung.

Setelah menutup jasad-jasad yang sudah meninggal dan sekarat, ia dan para komandannya melanjutkan jamuan makan itu, sambil diiringi rintihan manusia yang sedang meregang nyawa.

Tidak berhenti disitu, para agen dan mata-mata disebar ke seluruh dunia Islam untuk memburu dan mebunuh keturunan keluarga Umayyah yang melarikan diri, yang beberapa di antara mereka  bahkan bersembunyi di bawah tanah.

Salah satu pelarian paling dramatis adalah pelarian Abdurrahman ibn Muawiyah ibn Hisyam ke Spanyol, tempat dibangunnya Dinasti Umayyah baru di Andaluisia.

Bahkan jasad yang sudah tidak bernyawa sekalipun tidak luput dari kemarahan dan pembalasan dendam orang Abbasiyah. Jasad para khalifah di Damaskus, Qinnasrin dan tempat-tempat lainnya digali dari kuburnya , lalu dirusak oleh Abdullah

Jasad Sulayman di Dabik juga digali kembali, demikian pula jasad Hisyam di Rushafah-yang diawetkan-dibakar menjadi abu setelah sebelumnya dicambuk sebanyak 80 kali. Hanya makam Umar ibn Abdul Aziz yang tidak mengalami nasib serupa.

Dengan jatuhnya Dinasti Umayyah, kejayaan dan hegemoni Suriah berakhir. Orang Suriah sudah jauh terlambat untuk menyadari bahwa pusat pengaruh Islam telah lepas dari tangan mereka dan berpindah ke timur. Meskipun mereka sudah berupaya melakukan perlawanan militer untuk meraih kembali kekuasaan, semua upaya mereka sia-sia.

Akhirnya, mereka hanya bisa mengharapkan kedatangan Sufyani, semacam juru selamat yang ditunggu-tunggu untuk membawa mereka keluar dari kekangan orang Irak yang menindas mereka.

Namun, kejatuhan Dinasti Umayyah mengandung arti lebih dari itu. Periode Arab murni dalam sejarah Islam telah berakhir dan era kerajaan Arab murni kini sedang bergerak cepat menuju akhir.

Dinasti Abbasiyah yang menyebut diri mereka sebagai daulah, menandai sebuah era baru dan memang benar-benar menjadi era baru. Orang Irak telah terbebas dari kendali orang Suriah, dendam Syiah dianggap telah terbalaskan, dan para mawali juga telah terbebas.

https://wawasansejarah.com/kejayaan-dinasti-umayyah-di-damaskus/

Kufah di perbatasan Suriah-Irak kemudian dijadikan sebagai ibukota pemerintahan yang baru. Orang Khurasan menjadi pasukan pengawal khalifah dan orang Persia menduduki posisi-posisi penting dalam pemerintahan.

Sejak saat itu, aristokrasi Arab murni telah tergantikan dengan hirarki pejabat yang diambil dari beragam bangsa di dalam wilayah kekuasaan khalifah. Muslim Arab dan para pemeluk Islam baru mulai melakukan koalisi dan saling melindungi. Arabisme memang telah runtuh namun kekuasaan Islam terus berlanjut dan memasuki babak ketiga dalam sejarahnya.

BIBLIOGRAFI

As-Suyuthi, Imam. 2015. Tarikh Khulafa’. Terj. Samson Rahman. Jakarta: Pustaka al-Kautsar.

Bauer, Susan Wise. 2016. Sejarah Dunia Abad Pertengahan: Dari Pertobatan Konstantinus Sampai Perang Salib Pertama. Terj. Aloysius Prasetya. Jakarta: Elex Media Komputindo.

Bosworth, C. E. 1993. Dinasti-Dinasti Islam. Terj. Ilyas Hasan. Bandung: Mizan.

Hamka. 2016. Sejarah Umat Islam. Jakarta: Gema Insani.

Hitti, Phillip K. 2006. History of The Arabs. Terj. Cecep Lukman Yasin dan Dedi Slamet Riyadi. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta.

Karim, M. Abdul. 2014. Bulan Sabit di Gurun Gobi. Yogyakarta: Suka Press.

Lapidus, Ira M. 2000. Sejarah Sosial Ummat Islam Bagian I dan II. Terj. Ghufron A. Mas’adi. Jakarta: RajaGrafindo Persada

3 Comments

  1. Pasca-wafatnya Hisyam, praktik-praktik menyimpang di lingkungan istana bertambah parah. Kejayaan yang diraih pada masa sebelumnya, menyebabkan para khalifah gemar berfoya-foya dengan kemewahan. Lebih parah lagi perilaku menyimpang itu sudah menjadi fenomena umum.Keadaan itu semakin kacau ketika mereka dihadapkan pada suksesi kepemimpinan. Tidak adanya aturan yang pasti dan tegas tentang peralihan kekuasaan secara turun-temurun menimbulkan gangguan yang serius di tingkat negara.Semua manuver tersebut tentu sangat tidak kondusif bagi stabilitas dan kelangsungan pemerintahan.Faktor lain yang menyebabkan kemunduran Dinasti Umayyah adalah faktor kepayahan atau keletihan militer pemerintahan dari kalangan penduduk Suriah.Sejumlah kekalahan ini mengakhiri fase imperial dari Dinasti Umayyah dan meninggalkan militer Suriah dalam keadaan sekarat dengan hanya beberapa ribu pasukan yang tersisa. Jasad Sulayman di Dabik juga digali kembali, demikian pula jasad Hisyam di Rushafah-yang diawetkan-dibakar menjadi abu setelah sebelumnya dicambuk sebanyak 80 kali. Hanya makam Umar ibn Abdul Aziz yang tidak mengalami nasib serupa.Sejak saat itu, aristokrasi Arab murni telah tergantikan dengan hirarki pejabat yang diambil dari beragam bangsa di dalam wilayah kekuasaan khalifah. Muslim Arab dan para pemeluk Islam baru mulai melakukan koalisi dan saling melindungi. Arabisme memang telah runtuh namun kekuasaan Islam terus berlanjut dan memasuki babak ketiga dalam sejarahnya.

  2. Umayyah berakhir pada masa pemerintahan Hisyam ibn Abdul Malik (724-743). Oleh para pakar sejarah Arab, Hisyam dipandang sebagai negarawan ketiga dalam Dinasti Umayyah setelah Muawiyah dan Abdul Malik.

    Dengan kematian Hisyam pada 743 M, rezim Umayyah memasuki fase kemuduran. Empat penggantunya, kecuali Marwan II yang menjadi khalifah terakhir, terbukti tidak cakap, atau bisa dikatakan tidak bermoral dan rusak.

    Bahkan, beberapa khalifah sebelum Hisyam pun, yang dimulai oleh Yazid I, lebih suka berburu, pesta minum, tenggelam dalam alunan musik dan puisi, daripada membaca al-Quran atau mengurus persoalan negara. Berikut ini faktor-faktor yang menyebabkan kemunduran Dinasti Umayyah, hingga pada akhirnya meruntuhkan imperium tersebut.

    Rusaknya Moral para Khalifah Dinasti Umayyah
    Pasca-wafatnya Hisyam, praktik-praktik menyimpang di lingkungan istana bertambah parah. Kejayaan yang diraih pada masa sebelumnya, menyebabkan para khalifah gemar berfoya-foya dengan kemewahan. Lebih parah lagi perilaku menyimpang itu sudah menjadi fenomena umum.

    Bahkan keluarga khalifah sudah tidak lagi berdarah Arab murni. Yazid III (744) adalah khalifah pertama yang lahir dari seorang budak. Dua khalifah penerusnya juga lahir dari seorang mantan budak yang dimerdekakan.

    Perilaku buruk kelas penguasa hanyalah gambaran kecil dari kebobrokan moral yang bersifat umum. Rusaknya peradaban, terutama menyangkut minuman keras, perempuan dan nyanyian telah menjadi virus di masyarakat dan mulai menggerogoti pemuda Arab.

    Kekacauan Suksesi Kepemimpinan
    Muawiyah I memang telah mengantisipasi masalah itu dengan menunjuk putranya sebagai pengganti dirinya, tetapi prinsip senioritas kesukuan Arab klasik dalam persoalan kepemimpinan menjadi penghalang tebesar. Jadi, pengakuan masyarakat menjadi satu-satunya cara yang pasti menuju puncak kekuasaan.

    Di antara 14 khalifah Umayyah, hanya empat khalifah-Muawiyah I, Yazid I, Marwan I dan Abdul Malik- yang berhasil mewariskan kekuasaan kepada anak-anaknya.

    Persoalan menjadi semakin rumit dengan munculnya tradisi baru yang diperkenalkan oleh pendiri keluarga Marwan yang menunjuk anaknya Abdul Malik sebagai penggantinya, kemudian diikuti oleh anaknya yang lain Abdul Aziz.

    Ketika berkuasa, Abdul Malik ikut melakukan tradisi sebelumnya. Ia mengalihkan kekuasaan dari saudaranya, Abdul Aziz, kepada anaknya sendiri al-Walid, sambil menempatkan anaknya yang lain, Sulayman pada urutan kedua pewaris kekuasaan.

    Pada gilirannya, al-Walid juga tidak berhasil menggulingkan saudaranya, Sulayman ibn Abdul Malik, untuk menempatkan anaknya sebagai khalifah.

    Revolusi Abbasiyah dan Keruntuhan Dinasti Umayyah
    Selain kedua kelompok di atas, kekuatan destruktif lainnya mulai bergerak aktif untuk meyerang Dinasti Umayyah. Keluarga Abbas, para keturunan paman Nabi, al-Abbas ibn Abdul Muthalib ibn Hasyim, mulai menegaskan tuntutan mereka untuk menduduki pemerintahan.

    Dengan cerdik, mereka bergabung dengan pendukung Ali. Mereka menggunakan ikatan sebagai keluarga Hasyim untuk menggalang persekutuan.

    Bani Abbas memanfaatkan kekecewaan publik dan menampilkan diri sebagai pembela sejati agama Islam. Pada perkembangannya para keturunan Abbas segera menjelma sebagai pemimpin gerakan anti Umayyah.

    Sebagai markas dan pusat propaganda, mereka memilih sebuah desa kecil di sebelah selatan Laut Mati, al-Mumaymah. Tempat ini terliaht seperti tempat terpencil dan jauh dari keramaian dunia, tetapi kenyataannya mreupakan daerah strategis yang berdekatan dengan jalur perdagangan dan persimpangan rute jamaah haji. Di tempat inilah berdiri panggung sejarah pertama dan paling nyata dari gerakan propaganda politik.

    Di satu sisi, pemerintahan Umayyah yang Arab-sentris memunculkan kekecewaan dari beberapa kelompok masyarakat yang merasa dianaktirikan oleh penguasa. Orang Islam non-Arab pada umumnya, dan khususnya muslim Persia, memilki alasan kuat untuk kecewa.

    Selain karena tidak memperoleh kesetaraan ekonomi dan sosial yang sama dengan muslim Arab, mereka secara umum diposisikan sebagai kalangan mawalli (muslim non-Arab), dan tidak selalu bebas dari kewajiban membayar pajak kepala yang biasa dikenakan terhadap non-muslim.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *