Kerajaan Patani Abad XIV-XVIII

Kerajaan  Patani atau Kesultanan Patani Darussalam merupakan kerajaan Islam yang terbentuk pada abad ke 14 M. Sebelumnya kerajaan ini bernama Langkasuka. Pada awalnya Langkasuka adalah kerajaan Hindu, namun pada masa kejayaan Sriwijaya wilayah ini berubah coraknya menjadi Buddha.

Kerajaan Langkasuka berada di pedalaman, sehingga menyulitkan perdagangan dan perniagaan. Oleh sebab itu, Phya Tuk Naqpa atau Sultan Ismail Syah memindahkan ibukota Kerajaan Langkasuka ke pesisir pada abad ke-14 M. Ia adalah Raja yang pertama kali memeluk Islam dan orang yang membuka negeri Patani.

Kerajaan Patani bertambah maju perniagaannya dikarenakan memiliki letak yang strategis dan memiliki alam yang sangat mendukung, pelabuhannya membuat kapal-kapal yang datang terlindungi dari ombak dan angin. Kerajaan Patani mencapai puncak kegemilangannya saat dipimpin oleh raja-raja perempuan, salah satunya adalah Raja Ungu (1624-1635).

Letak Geografis Patani

kerajaan patani
Letak Kerajaan Patani

Patani terletak di Thailand Selatan dan secara geografis cukup strategis. Kantong-kantong muslim berada di kawasan Thailand terdapat di provinsi Patani, Yala, Satun, Narathiwat dan Songkhla. Di provinsi-provinsi tersebut rata-rata dihuni sekitar 70-80% Muslim. Selain itu, muslim juga tersebar di beberapa wilayah seperti Pattalung, Krabi dan Nakorn Srithamarrat.

Islam masuk ke Patani diperkirakan sekitar abad ke 10-11 M dibawa oleh pedagang-pedagang Arab seperti dari Yaman, yang sejak zaman Nabi Muhammad telah menjadi tempat persinggahan dagang. Mereka diberi gelar ”Khaek” oleh penduduk Asli Thailand yang berarti pendatang atau orang yang datang menumpang. Sementara itu, proses konversi agama penduduk Patani berlangsung sejak abad 12-15 M.

Menurut Hikayat Patani, Syeikh Said (berasal dari Pasai) yang mengislamkan raja Patani juga ditugaskan untuk mengajarkan Islam di sana. Kedatangan Islam membawa banyak perubahan dalam aspek pemikiran, kebudayaan bahasa, pendidikan, dan politik. Meskipun demikian, kegiatan lain yang berbau bid’ah dan kufarat masih dilakukan, sehingga budaya Sinkretisme masih melekat kuat.

Setelah berkembangnya Islam di Patani maka Pelabuhan Patani mampu menarik perhatian saudagar-saudagar dari timur seperti Jepang, China, Siam dan kepulauan Melayu. Pelabuhan Patani semakin maju setelah pada tahun 1511, Malaka jatuh ke tangan Portugis. Sejak itu para pedagang dari Eropa mendatangi Asia Tenggara terutama kepulauan Melayu termasuk Patani. Kondisi ini turut merangsang pertumbuhan ekonomi penduduk Patani.

Pada tahun 1516, Patani menerima kunjungan kapal perniagaan Portugis yang pertama kali dengan seizin sultan, hal ini menandai awal perniagaan bangsa Eropa di Patani

Puncak Kejayaan Kerajaan Patani

Kerajaan Patani mencapai puncak kejayaan saat dipimpin oleh Raja-raja Perempuan, bermula dari Raja Hijau (1584-1616 M), Raja Biru (1616-1624 M.), Raja Ungu  (1624-1635 M) dan Raja Kuning (1635-1688 M). Pada awalnya Patani dipimpin oleh seorang raja pria, namun terjadiperistiwa pembunuhan yang melibatkan anggota pewaris tahta kerajaan Patani. Saat itu, raja Patani tidak meninggalkan keturunan laki-laki, maka akhirnya perempuan dipilih menjadi raja.

Masa pemerintahan raja perempuan tidak dapat dipandang sebelah mata, terutama dalam bidang ekonomi dan politik. Hal ini berkat hubungan perdagangan dengan Portugis, Siam dan Jepang.

 Pada masa Pemerintahan raja perempuan, Patani mulai bekerja sama dengan Belanda, Inggris dan Jepang (pada pemerintahan Raja Hijau hubungan diplomatik diresmikan).

Pada tahun 1624, Raja Ungu naik tahta menggantikan Raja Hijau. Raja Ungu sebelumnya merupakan Permaisuri Pahang, tetapi kembali ke Patani setelah suaminya meninggal.

Ia dianggap sebagai raja perempuan Patani yang paling handal dan ambisius. Masa pemerintahannya tidak lama. Dalam masa pemerintahannya, Patani mengalami sebuah pertempuran besar dengan Siam pada tahun 1632-1634.

Namun, pertahanan kota Patani saat diperintah oleh Raja Ungu sangat unggul karena dibuat benteng di sekelilingnya, sehingga berhasil mempertahankan kedaulatannya.

Baca juga: Menelusuri Jejak Kesultanan Sulu

Kebesaran Raja Ungu juga tidak dapat terlepas dari pengalamannya yang pernah hidup bersama sultan Pahang. Usia Raja Ungu saat memerintah Patani tidak muda. Hal tersebut menandakan bahwa ia sudah matang dalam menjalankan roda pemerintahan di Patani. Di bawah pemerintahannya, Patani mengalami kemajuan di berbagai bidang.

Kondisi itu bertahan hingga masa pemerintahan Raja Kuning, sehingga dalam waktu yang relatif singkat mampu menjelma sebagai kekuatan perdagangan yang disegani di daerah Semenanjung Melayu. Selain Johor, tidak ada negeri lain di belahan Timur Semenanjung Melayu yang memiliki kemakmuran layaknya Patani.

Keruntuhan Kerajaan Patani

Kerajaan Patani memasuki fase keruntuhannya pada akhir abad ke-17. Saat itu Raja Kuning yang telah berusia lanjut memilih mundur dari pemerintahan dan berlindung di Kota Jimbal, yang saat itu dipimpin oleh Sakti I Indera atau Long Betong seorang Raja Patani Lentang.

Di Kota tersebut Raja Kuning menghembuskan nafas terakhir, sekaligus menandai berakhirnya keturunan Sari Wangsa dari pendiri Patani, Phaya Tu Nakpa.

Setelah kematian Ratu Kuning, pemerintahan Patani kemudian diteruskan oleh keturunan dari Raja-raja Kelantan, sekaligus menandai dimulainya kepemimpinan Dinasti Kelantan.

Pada masa awal tiga Raja Kelantan—Raja Bakar, Raja Mas Kelantang, dan Sultan Muhammad—kondisi Patani relatif aman, karena Kerajaan Siam Thai sedang disibukan oleh serangan  Burma pada 1767-1776 M. Akan tetapi , kerajaan mengalami kemunduran di bidang perdangangan karena hanya didominasi oleh pedagang dari Asia.

Setelah periode perang antara Burma dan Siam berakhir, Raja Muda Siam mengutus utusan ke Patani. Namun, Sultan Muhammad telah memutuskan untuk menolak segala usaha yang dilakukan oleh Siam.

Penolakan itu memancing peperangan langsung antara kedua kerajaan, namun karena persiapan kurang matang dan persenjataan yang kurang baik, maka Patani pun berhasil dikalahkan pada 1789. Setelah itu, Undang-Undang Kesultanan diganti dengan perundang-undangan Siam dan diangkat pula seorang sultan bernama Tengku Lamidin menggantikkan Sultan Muhammad.

Meskipun telah menjadi Raja Patani, tetapi Sultan Lamidin tetap memiliki rasa nasionalisme terhadap tanah kelahirannya. Oleh karena itu, ia mengirimkan utusan kepada Raja Annam (Vietnam) untuk bekerjasama  melawan Siam.

Sayangnya, surat yang seharusnya dikirimkan kepada Raja Annam, justru diberikan kepada Raja Siam. Tentu saja hal ini memicu kemarahan Raja Siam. Akhirnya pada 1791, Kerajaan Siam menyerang kembali Kerajaan Patani dan memilih Datuk Pangkalan sebagai pemimpin Patani.

Akan tetapi, Datuk Pangkalan juga pemberontakan. Namun, perlawanan Datuk Pangkalan berhasil dipatahkan, sekaligus menandai berakhirnya kepemimpiinan bangsa Melayu atas Patani.

Untuk mencegah pemberontakan, Kerajaan Siam akhirnya menempatkan orang Siam bernama Nai Khuan Sai sebagai pemimpin Patani. Tidak hanya itu, pada perkembangan selanjutnya Patani dipecah menjadi enam wilayah yang masing-masing memiliki pemimpin. Ini adalah salah satu usaha Siam untuk memecah persatuan Patani.

Sejak jatuhnya Kerajaan Patani, pemerintah Siam menerapkan beberapa kebijakan yang merugikan muslim Patani. Pada dasarnya kebijakan-kebijakan itu bertujuan untuk menggantikan identitas kultural dan agama orang melayu Patani dengan identitas kultural Siam yang berlandaskan Budhisme.

BIBLIOGRAFI

Teeuw, A. dan D.K. Wyatt. Hikayat Patani : The Story Of Patani. Leiden: The Hague – Martinus Nijhof, 1970 M.

Pitsuwan, Surin. Islam di Muangthai: Nasionalisme Melayu Masyarakat Patani. Jakarta: LP3ES, 1989 M..

Kettani, M. Ali. Minoritas Muslim Di Dunia Dewasa Ini. Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2006 M..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *