Nasib Kuli Perempuan di Perkebunan Deli

Nasib kuli perempuan tidak kalah menyedihkan dibanding kuli perkebunan lain. Mereka datang ke Deli dengan harapan mendapatkan upah yang layak. Namun nyatanya, tenaga mereka justru dieksploitasi habis-habisan sebagai tenaga murah dan pemuas nafsu pekerja pria.

Bayaran yang sedikit memaksa mereka tidak memiliki pilihan lain untuk bertahan hidup. Selama bertahun-tahun mereka akhirnya terpaksa hidup di lingkaran neraka perkebunan.

Kuli Perempuan Jawa

Migrasi para pekerja perempuan ke Perkebunan Deli tidak bisa dilepaskan dari kondisi ekonomi yang sulit di Jawa pada abad ke-20. Pada masa itu, merantau, bahkan hingga ke luar pulau, bukanlah hal yang umum. Achmad Djajadiningrat, Bupati Batavia, mencatat bahwa perempuan yang sudah menikah biasanya tidak diharapkan untuk bekerja, kecuali ada tekanan ekonomi yang kuat.  

Kuli Perempuan
Kuli Perempuan di Perkebunan Deli. Collectie Wereldculturen.nl

Sebagian besar dari para perempuan ini pergi ke Deli dengan harapan mendapatkan pekerjaan di bagian penyortiran hasil perkebunan. Namun, ketika mereka tiba di Deli, kenyataannya sangat jauh dari harapan.

Saat awal pembukaan lahan perkebunan, hanya sedikit perempuan yang bersedia bekerja sebagai kuli, dan semuanya berasal dari Jawa. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, jumlah kuli perempuan meningkat menjadi sekitar 10-12% dari total 55.000 pekerja pada abad ke-20..

Proporsi yang tidak seimbang ini membuat pekerja perempuan dianggap sebagai sumber daya yang langka. Mereka juga sering menjadi sumber konflik antara pekerja Tionghoa dan Jawa.

Para kuli perempuan yang datang ke Deli pada umumnya masih sangat muda dan berasal dari Jawa. Sayangnya, banyak dari mereka dipaksa untuk terlibat dalam prostitusi.

Kuli Berusia Belia
Kuli perempuan pada umumnya masih berusia sangat muda. KITLV 178982

Situasi di Deli membuat mereka memiliki sedikit pilihan. Pelayanan seksual dan tugas-tugas rumah tangga untuk para pekerja dan manajer laki-laki sering kali menjadi kewajiban daripada pilihan. Bayaran yang hanya setengah dari bayaran pekerja laki-laki membuat mereka terjebak dalam kondisi ini, karena harus memenuhi kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan lainnya.

Munculnya Kritik terhadap Praktik Prostitusi di Perkebunan

Pada awal abad ke-20, fenomena prostitusi yang meningkat dan penyebaran penyakit kelamin di kalangan pekerja perkebunan menjadi sasaran kritik yang tajam.

Van den Brand (1904), dalam kunjungannya ke beberapa perkebunan di Pantai Timur Sumatra, menyaksikan langsung kehidupan para perempuan muda di perkebunan. Mereka bekerja keras, tetapi pendapatan mereka tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. Selain itu, karena kurangnya tempat tinggal, mereka terpaksa harus berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain antara para pekerja pria setiap malam.

Sementara itu, van Kol (1903 juga mengeluarkan kritik serius terhadap situasi ini, terutama terkait kasus merebaknya penyakit sifilis di kalangan pekerja perkebunan. Saat mengunjungi rumah sakit di Deli, ia menyaksikan apa yang disebutnya sebagai “korban tragis dari sistem kolonial”.

Van Kol melihat perempuan Tionghoa, Jawa, Jepang, dan Indo yang menderita penyakit kelamin. Di salah satu bangsal, ia melihat penderita sifilis terbaring bersama penderita malaria yang sekarat, penderita beri-beri yang membengkak, dan penderita kusta. Bahkan, ada seorang gadis Jawa yang masih sangat muda, terbaring dengan tubuh yang penuh luka akibat sifilis.

Ironisnya, banyak dari kuli perempuan ini juga hamil akibat hubungan mereka. Akibatnya, sering terjadi penelantaran anak di perkebunan.

Medium sized JPEG 82 1
Anak-anak kuli perkebunan. KITLV 178981

Di tengah munculnya kritik terhadap praktik prostitusi di perkebunan, para pekebun tidak bergeming sedikit pun. Bagi mereka para kuli perempuan pada dasarnya adalah “pelacur”, yang menghabiskan “penghasilan tambahan” mereka untuk membeli perhiasan murahan.

Beberapa pejabat kolonial mencoba menghubungkan fenomena ini dengan upah rendah yang diberikan kepada kuli perempuan, tetapi sebagian lainnya menyalahkan “kebobrokan moral” para pekerja perempuan.

Pada akhir tahun 1917, Komisi Buruh berusaha untuk mengesahkan peraturan yang memberikan opsi kepada buruh perempuan yang hamil, yaitu untuk tetap bekerja atau kembali ke Jawa. Namun, usaha ini mendapat protes dari para pengusaha perkebunan. Mereka mengklaim bahwa perempuan Jawa tidak memiliki naluri orangtua yang kuat, yang dapat berujung pada penelantaran anak-anak jika perempuan-perempuan ini kembali ke Jawa.

Bagi pengusaha perkebunan, kuli perempuan bukan hanya dianggap sebagai pekerja murah, tetapi juga sebagai daya tarik untuk menarik pekerja pria agar mau bekerja di perkebunan. Prostitusi bahkan dianggap sebagai kejahatan ringan jika dibandingkan dengan membiarkan hubungan sesama jenis berkembang di kalangan kuli.

Namun, pengusaha perkebunan menolak untuk bertanggung jawab atas masalah yang muncul akibat praktik ini, seperti kasus penyakit kelamin dan kehamilan di luar nikah. Mereka menganggap bahwa biaya yang terlibat untuk mengatasi masalah ini terlalu besar bagi perusahaan.

Meskipun ada tekanan untuk menghentikan rekrutmen kuli perempuan, pengusaha perkebunan tetap bersikeras mempertahankannya. Ini disebabkan oleh pandangan bahwa praktik prostitusi di perkebunan telah menjadi bagian dari norma yang mapan dalam industri tersebut.

Perkawinan Kontrak

Selain prostitusi, perkawinan kontrak juga menjadi ciri hubungan di perkebunan era kolonial. Untuk memahami sistem ini, novel-novel karya Madelon Székely-Lulofs dapat memberikan gambaran yang cukup jelas.

Novel-novel ini menggambarkan hirarki ras dan senioritas yang kaku di perkebunan. Mereka yang lebih senior biasanya memiliki hak untuk memilih perempuan yang akan menjadi “istri kontrak” selama mereka bekerja di sana. Orang Eropa, tentu saja, memiliki hak istimewa untuk memilih lebih dulu.

Menurut van den Brand, seorang administrator bahkan memiliki sebuah ruangan kecil di kantornya yang didekorasi dengan sofa, meja, cermin, dan peralatan mencuci. Ruangan ini digunakan untuk menyeleksi perempuan yang baru tiba di perkebunan.

kuli perempuan
Para pekerja perempuan tengah bekerja. KITLV 78330

Dalam novel “Koelie” (1932), digambarkan seorang perempuan yang memberontak terhadap sistem di perkebunan. Ia mendapat teguran dari seorang mandor karena hubungannya dengan para pekerja Cina, meskipun ia telah melakukan “kawin kontrak” dengan seorang kuli yang lebih tua. Namun, ia merespons teguran tersebut dengan tegas:

“Aku tidak merasa malu. Mereka yang menjualku kepada orang lain yang seharusnya merasa malu, bukan? Aku dijual seperti barang dagangan. Parman bukanlah suamiku. Aku tinggal bersamanya karena terpaksa, karena aku hanya dianggap sebagai kuli kontrak. Jika ia merasa malu, itu bukan urusanku. Jadi, aku memilih menjadi ‘pelacur’ orang Cina! Jika aku suka, aku bisa pindah ke barak Cina. Di mana lagi aku bisa mendapatkan uang? Dengan bekerja di ladang? Kau pasti sedang bercanda!
Székely-Lulofs, 1932: 100.
Tweet

Dalam keseharian pekerja perkebunan Deli, perkelahian untuk memperebutkan perempuan bukanlah hal yang jarang terjadi. Perkelahian ini tidak hanya terbatas pada konflik antar golongan, tetapi juga melibatkan pertentangan rasial. Celakanya, konfrontasi semacam ini sering kali berujung pada kematian. Bahkan, staf Eropa yang bekerja di perkebunan juga sering menjadi target kemarahan para “suami” yang cemburu ketika istri mereka dipanggil ke rumah manajer dan tidak kembali tepat waktu.

Sistem “kawin kontrak kuli” cenderung bersifat sementara, dan jarang sekali ada yang bertahan dalam hubungan ini dalam jangka waktu yang lama. Konsep kehidupan keluarga dengan ikatan yang kuat dan langgeng sulit ditemukan dalam sistem ini. Rotasi yang terus-menerus antar divisi perkebunan membuat terciptanya kehidupan keluarga yang stabil semakin tidak mungkin.

Baca juga: Nestapa di Perkebunan Deli

Dampaknya adalah banyak perempuan, baik yang sudah menikah maupun yang belum menikah, terjebak dalam prostitusi atau dipekerjakan untuk memasak bagi pekerja yang belum menikah atau bahkan menjadi pelayan bagi staf Eropa. Meskipun begitu, banyak perempuan yang tidak tahan dengan sistem ini dan memilih untuk melarikan diri atau kembali ke Jawa ketika kontrak mereka berakhir. Mereka yang bertahan sebagai penyortir sering kali mengalami pelecehan dari rekan-rekan prianya.

Bibilografi

Breman, J. (1987). Koelies, planters en koloniale politiek (Vol. 123). Brill.

­­­­­­­­­­­________. (2023). Coolie labour and colonial capitalism in Asia. Journal of Agrarian Change23(2), 233-246.

Lamb, N. (2014). A Time of Normalcy: Javanese ‘Coolies’ Remember the Colonial Estate. Bijdragen tot de taal-, land-en volkenkunde/Journal of the Humanities and Social Sciences of Southeast Asia170(4), 530-556.

Locher-Scholten, E. (1992). Female labour in twentieth century java: European notions-Indonesian practice. In Indonesian women in focus (pp. 77-103). Brill.

Stenberg, J., & Minasny, B. (2022). Coolie Legend on the Deli Plantation: Tale, Text, and Temple of the Five Ancestors. Bijdragen tot de taal-, land-en volkenkunde/Journal of the Humanities and Social Sciences of Southeast Asia178(2-3), 159-191.

Stoler, A. L. (1995). Capitalism and confrontation in Sumatra’s plantation belt, 1870-1979. University of Michigan Press. Van Klaveren, M. (1997). Death among coolies: Mortality of Chinese and Javanese labourers on Sumatra in the early years of recruitment, 1882–1909. Itinerario21(1), 111-124.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *