Perjuangan Umat Islam Masa Pendudukan Jepang

 

melawan jepang

Jepang menjajah Indonesia dalam kurun waktu yang singkat dibandingkan dengan Belanda. Jepang hanya menjajah selama kurang lebih 3,5 tahun, terhitung dari tahun 1942-1945. Belanda menyerahkan kekuasaan kepada Jepang setelah melalui proses yang cukup panjang. Pasukan Jepang memiliki sebuah cita-cita untuk membentuk imperium di Asia. Oleh karena itu, Jepang banyak melakukan intervensi ke berbagai wilayah. Pada tanggal 8 Desember 1941 Jepang mulai melakukan penyerbuan ke Asia Tenggara dan membom Pearl Harbour yang merupakan pangkalan terbesar Angkatan Laut Amerika di Pasifik. Penyerangan yang dilakukan Jepang, menyulut kemarahan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Tjarda Van Starkenborgh Stachouwer. Perang antara Belanda dan Jepang pun dimulai.

Jepang mulai menyerang Indonesia dan berusaha untuk menguasai wilayah yang ada, seperti di Kalimantan dan Jawa. Perang antara Belanda dan Jepang berakhir dengan kesepakatan kedua belah pihak. Pihak Angkatan Perang Hindia Belanda melakukan kapitulasi[1] kepada Jepang. Sehingga berakhirlah pemerintahan Belanda dan digantikkan oleh kekuasaan Jepang. [2]

Ketika Jepang berhasil menduduki Indonesia, Jepang mempunyai kebijakan yang berbeda dari Belanda. Khususnya kebijakan Jepang untuk mengakomodasi dua kekuatan besar yang ada di Indonesia pada waktu itu, yaitu kaum Islam dan nasionalis sekuler. Jepang memahami bahwa Indonesia mayoritas beragama Islam, jadi ketika Jepang berhasil mengakomodasi kekuatan tersebut, maka akan mudah untuk melakukan kerja sama dengan para ulama yang memang memiliki pengaruh yang besar dikalangan masyarakat.

Jepang banyak membentuk organisasi-organisasi dan membiarkan MIAI terus hidup. Umat Islam diperlakukan dengan layak dan diberi kebebasan menjalankan ibadah. Organisasi-organisasi yang ada kemudian berubah haluan dan melawan Jepang, khususnya umat Islam. Umat Islam senantiasa ikut serta dalam usaha-usaha kemerdekaan Indonesia.

Masa Pendudukan Jepang di Indonesia

Jepang masuk ke Indonesia pada tahun 1942. Jepang masuk ke Indonesia dengan propaganda “Jepang Pemimpin Asia, Jepang saudara tua bangsa Indonesia”.[3] Serangan Jepang ke Pangkalan Angkatan Laut Amerika Serikat di Pearl Harbour memicu perang antara Belanda dan Jepang. Sebelumnya, Jepang telah menyerbu Cina dan Indocina. Selanjutnya ke Muangtai, Burma, Malaya, Filipina, dan Hindia Belanda (Indonesia). Jepang pun memperoleh kekuasaan di Indonesia setelah berhasil melawan Belanda.[4]

Pearl harbourPemboman di Pearl Harbour

Jepang memperoleh keberhasilan dalam menaklukan wilayah yang ada di Indonesia. Pertama-tama, Jepang menduduki Tarakan, selanjutnya menguasai Balikpapan, Pontianak, Banjarmasin, Palermbang, Batavia (Jakarta), Bogor, Subang, dan Kalijati. Setelah berkuasa, Jepang membentuk pemerintahan militer Jepang di Indonesia yang terbagi atas tiga wilayah kekuasaan:[5]

  1. Tentara XVI (Angkatan Darat) memerintah atas wilayah Jawa dan Madura yang berpusat di Jakarta.
  2. Tentara XXV (Angkatan Darat) memerintah atas wilayah Sumatra yang berpusat di Bukit Tinggi
  3. Armada Selatan II (Angkatan Laut) memerintah atas wilayah Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua berpusat di Makassar.

Jepang melakukan pendekatan-pendekatan kepada kaum Islam dan nasionalis sekuler. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk menarik perhatian dan dukungan. Sebelumnya, tepatnya pada bulan September 1939, Jepang juga melakukan aktivitas untuk menarik simpati bangsa-bangsa yang beragama Islam. Hal ini dibuktikan dengan diselenggarakannya pertemuan organisasi-organisasi Islam di Tokyo. Aktivitas tersebut merupakan pameran Islam yang diadakan di Tokyo dan Osaka pada tanggal 5-29 Nopember 1939.[6]

Jepang membentuk lembaga-lembaga baru bagi golongan nasionalis sekuler dan Islam sebagai berikut:[7]

  1. Gerakan 3 A, dalam gerakan inilah Jepang memperkenalkan semboyan Nippon Cahaya Asia, Nippon Pelindung Asia, dan Nippon Pemimpin Asia. Gerakan ini berdiri Mei 1942, dipimpin oleh Hihosyi Syimizu (propagandis Jepang) dan Mr. Samsudin (Indonesia). Gerakan ini juga membentuk Pemuda Asia Raya yang dipimpin oleh Sukarjo Wiryopranoto dengan menerbitkan surat kabar Asia Raya.
  2. Pusat Tenaga Rakyat (Putera), setelah gerakan 3 A dinilai kurang efektif, maka pada bulan Maret 1943 berdirilah Putera. Gerakan ini dipimpin oleh empat orang yang biasa dikenal dengan Empat Serangkai, yaitu Ir. Soekarno, Moh. Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan K.H.Mas Mansur. Putera bertujuan untuk memusatkan segala potensi masyarakat Indonesia untuk membantu Jepang dlam Perang Asia Pasifik.
  3. Badan Pertimbangan Pusat (Cuo Sangi In), dibentuk pada tanggal 1 Agustus 1943 yang mempunyai anggota 43 orang dan diketuai oleh Soekarno. memiliki tugas untuk memberi usul kepada pemerintah dan menjawab persoalan mengenai politik, serta memberikan saran mengenai  tindakan yang sebaiknya dilakukan pemerintahan Jepang.
  4. Himpunan Kebaktian Jawa (Jawa Hokokai), merupakan organisasi yang dibentuk pada tanggal 1 Januari 1944 untuk menggantikan Putera karena dianggap memberikan banyak manfaat untuk Indonesia. Jawa Hokokai dibentuk untuk menghimpun kekuatan rakyat dan digalang kebaktiannya.
  5. Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI), merupakan organisasi resmi umat Islam yang diakui dan ada sejak masa penjajahan Belanda, tetapi Jepang mengubah asas dan tujuannya. Bahkan dalam asas dan tujuannya ditambah dengan kalimat “turut bekerja dengan sekuat tenaga dalam pekerjaan membangun masyarakat baru, untuk mencapai kemakmuran bersama di lingkungan Asia Raya di bawah pimpinan Dai Nippon”.

     

Pada 4 September 1942 MIAI bergerak, tetapi tidak memenuhi harapan Jepang. Hal ini dikarenakan, MIAI berusaha menolak Rancangan Undang-Undang Kolonial Belanda yang dalam beberapa hal bertentangan dengan hukum Islam serta menolak kolonialisme. Jepang khawatir semangat kolonialisme ini akan tumbuh. Disamping itu, MIAI memperkuat persaudaraan dengan Muslim luar negeri. Dikhawatirkan ide Pan-Islam akan terus berkembang dan mengancam ide Pan-Asia.

MIAI berhenti sejenak dan kembali bergerak dengan program-program baru demi tercapainya tujuan sosio-religius. Perincian program ini yaitu:

  1. Menyelamatkan dan memelihara kehormatan dan kejayaan Islam dan ummatnya di dunia ini.
  2. Membangun sebuah masyarakat baru di kalangan Muslim yang mampu memelihara perdamaian dan memperhatikan kesejahteraan rakyat.
  3. Meningkatkan semua masalah penting kaum Muslimin tentang perkawinan, waris, masjid, waqaf, zakat, pendidikan dan pengajaran, penyiaran dan dakwah, kesejahteraan (fakir miskin), dan haji.
  4. Membantu Jepang dan bekerja sama untuk Asia Ray

Dalam pelaksanaannya, MIAI menjalankan tiga proyek, yaitu:

  1. Membangun sebuah masjid agung di Jakarta.
  2. Mendirikan sebuah universitas Islam.
  3. Membentuk Baitul Mal Pusat.

Baitul Mal yang melibatkan para ulama dikhawatirkan Jepang diniatkan untuk mencari ridha Allah semata, bukan demi membantu kepentingan Jepang. Dengan begitu, akan memotong hubungan antara MIAI dengan Shumubu[8]. Pada tanggal 1 April, di setiap karesidenan di Jawa telah dibuka kantornya dengan nama Shumuka[9]. Kepalanya adalah ulama terkemuka di setiap wilayah karesidenan.

 Pada tanggal 1 Oktober 1943, Kolonel Horie digantikan oleh Husein Djajadiningrat. Ketika Husein tidak bisa bekerja dengan baik, maka digantikan oleh K.H Hasyim Asy’ari. Selain sebagai ketua Shumubu, ia juga sebagai ketua Lembaga Majelis Syuro Muslimin Indonesia, atau dikenal dengan Masyumi yang disahkan pada 22 Nopember 1943. Wakilnya, K.H Chasbullah dari NU dan K.H Mas Mansur dari Muhammadiyah. [10]

Adapun dampak dari pendudukan Jepang di Indonesia dalam berbagai aspek kehidupan sebagai berikut:[11]

  1. Kehidupan politik, dari awal pemerintahan Jepang, Jepang telah melarang bangsa Indonesia untuk berserikat dan berkumpul. Jadi, Jepang membubarkan organisasi-organisasi bentukkan Hindia Belanda, kecuali MIAI. Para tokoh pergerakan bangsa Indonesia memiliki sikap yang kooperatif. Sehingga mereka banyak menduduki jabatan pada organisasi bentukan Jepang, seperti Gerakan 3 A, Putera, dan Cuo Sangi In. Namun, organisasi bentukkan Jepang dimanfaatkan tokoh bangsa untuk menggalang kekuatan melawan Jepang.
  2. Kehidupan ekonomi, Jepang selalu berupaya untuk mengeksploitasi sumber-sumber bahan mentah untuk industri perang. Jepang pun mempunyai dua tahap:
  3. Tahap penguasaan, menguasai seluruh kekayaan alam termasuk kekayaan milik pemerintah Hindia Belanda.
  4. Tahap penyusunan kembali struktur ekonomi wilayah untuk memenuhi kebutuhan perang. Sehingga pola ekonomi perang disetiap wilayah harus melaksanakan autarki. Pada tahun 1944, kebutuhan pangan meningkat, sehinnga Jepang membuat kebijakan untuk rakyat dengan menyerahkan hasil panen ke pemerintah. Dari hasil panen, rakyat hanya boleh memiliki 40%, 30% kepada pemerintah, dan 30% diserahkan kelumbung untuk persediaan bibit. Hal ini menimbulkan kesengsaraan rakyat, romusa membuat rakyat kurang makan, kurang gizi, kelaparan pun terjadi dimana-mana, bahkan angka kematian meningkat.
  5. Mobilitas sosial, Jepang memanfaatkan tenaga manusia untuk romusa untuk kepentingan sarana dan prasarana Jepang. Mereka bekerja tanpa upah. Jepang menyebut romusa dengan sebutan prajurit ekonomi atau pahlawan bekerja.
  6. Birokrasi, pada pertengahan tahun 1943, Jepang terdesak dalam perang pasifik, sehingga Jepang pun memberi kesempatan kepada bangsa Indonesia untuk ikut ambil bagian dalam pemerintahan. Sehingga banyak orang Indonesia yang menduduki jabatan tinggi.
  7. Militer, terdapat kesatuan pertahanan semimiliter: Seinendan, Keibodan, Fujinkai, dan Jibakutai. Sedangkan kesatuan pertahanan militer: Heiho dan Peta.
  8. Pendidikan, pendidikan tidak mendapatkan perhatian khusus, bahkan mengalami penurunan. Penggunaan Bahasa Indonesia hanya sebagai bahasa pengantar. Sedangkan bahasa Jepang merupakan mata pelajaran wajib.

Pandangan dan Politik Jepang terhadap umat Islam Indonesia

Islam mendapatkan perhatian yang khusus pada masa pendudukan Jepang. Hal ini dapat dilihat ketika Jepang melakukan pendekatan-pendekatan khusus. Pada tahun 1943, tepatnya tujuh bulan pertama, Jepang sibuk untuk memobilisasikan Islam Indonesia pada tingkat rakyat pedesaan. Jepang memperlakukan para kiai yang ada di desa dengan sopan, karena Jepang sadar betul betapa besarnya pengaruh para kiai. Jepang berhasil mendamaikan antara kaum bertahan (ulama yang berpegang teguh pada madzhab) dengan kaum maju (ulama yang menolak taqlid), antara ulama dependen (penghulu) dengan ulama independen (kiai). Elite Islam diberikan bagian yang tentu lebih besar daripada masa Hindia Belanda dalam urusan politik-administratif yang baru, khususnya di Shumubu dan di Shumuka. [12]

Di beberapa wilayah di Indonesia, ulama menduduki posisi keagamaan, sosial dan juga politik. Salah satunya di Minangkabau, yang mana posisi Tuanku lebih tinggi daripada kaum adat. Posisi dan peranan ulama pedesaan di Indonesia yang lebih besar dari penguasa yang hanya berlandaskan nasionalisme sehingga Jepang berusaha menarik para ulama ke pihak mereka. Sebelum pendaratan Jepang ke Indonesia, Jepang melakukan penyiaran yang isinya menyatakan bahwa mereka akan datang untuk membebaskan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda dan akan menghormati serta menjunjung tinggi Islam. Di Aceh, Jepang disambut dengan baik oleh PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh) yang telah melakukan sabotase untuk memberi jalan bagi tentara Jepang yang lewat. Untuk meyakinkan umat Islam di Indonesia, Jepang mengambil tindakan keras terhadap gereja. Sekolah-sekolah dan rumah sakit yang dikelola oleh Belanda di tutup atau diletakkan dibawah pemerintahan Belanda.

Berkaitan dengan upaya politik Jepang terhadap umat Islam di Indonesia, Jepang hendak menjadikan Indonesia seperti Mansyuria, Korea dan Formosa (sekarang Taiwan) sebelum Perang Dunia Kedua. Jepang berusaha me-niponisani Indonesia dengan cara membuat Jepang dominan dalam bidang politik, ekonomi, dan kebudayaan. Kebudayaan Indonesia digantikan dengan kebudayaan Jepang. Hal ini dapat kita lihat dalam contoh berikut:

  1. Kaum Muslimin termasuk para ulama dipaksa untuk berseikeirei , yakni membungkukkan diri ke arah matahari terbit, setiap pagi. Dalam setiap pertemuan harus dibuka dengan seikeirei . Setiap kali nama Tenno disebut, harus dengan seikeirei. Heiha disebut harus dengan Setiap penutupan sesuatu pertemuan harus mengucapkan Banzai Dai Nippon dan Allahu Akbar tiga kali.
  2. Membersihkan pengaruh kebudayaan Barat dan Arab dan diganti dengan kebudayaan Jepang. Yakni menjadikan bahasa Jepang sebagai bahasa resmi. Di setiap Koran harian Asia Raya disediakan kolom khusus untuk memuat pelajaran bahasa Jepang. Dalam setiap buku-buku teks harus menggunakan istilah resmi bahasa Jepang. Bahasa Jepang menjadi matapelajaran pokok.
  3. Jepang tidak mengizinkan dibuka kembali sekolah-sekolah yang menggunakan bahasa Arab. Bahasa Arab tidak boleh diajarkan di pesantren. Aksara Arab yang sudah menjadi huruf Melayu pun dilarang diajarkan. Menggunakan buku dalam bahasa Arab harus seizin Shumubu. Al Qur’an dan Hadis tidak boleh dipelajari dalam bahasa Arab, tapi harus diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia atau bahasa daerah, agar bisa dipahami. Jepang mengatakan bahwa mereka akan membantu rakyat bila akan naik haji. [13]
  4. Jepang mendirikan organisasi Seinendan (Korps Pemuda). Setiap pemuda dibiasakan dengan tradisi dan kebudayaan Jepang.
  5. Jepang menyelenggarakan penataran-penataran yang dikenal dengan nama Latihan Kiai. Setiap angkatan memakan waktu selama 30 hari. Dalam penataran ini setiap ulama diindoktrinasi dengan ide-ide dan propaganda Jepang dan mereka harus mendapat dosis yang cukup untuk memperoleh “jiwa baru”. Jepang mengharapkan semua kyai akan mendapatkan latihan. Antara Juli 1943 sampai Mei 1945, penataran berlangsung selama 17 kali di Jakarta. setiap angkatan dihadiri oleh 60 orang ulama dari 20 karisidenan di Jawa. Syarat sebagai peserta adalah

a). mempunyai pengaruh yang luas, b).berpengetahuan luas, c). berposisi social yang baik, d). berkarakter tidak tercela. Kiai diwajibkan untuk berseikeirei, mereka juga tidak boleh berhubungan dengan publik selama mengikuti penataran. Mereka harus hidup dalam suasana, kebiasaan dan ideologi Jepang. Menurut Clifford Geertz (1960) beberapa orang ulama yang berusia muda dikrim ke Bragang untuk diajarkan bagaimana supaya berani mati seperti pasukan Kamikase yang berjuang demi kejayaan Dai Nippon dan Tenno Heika.

  1. Menghapuskan ide Pan-Islam diganti dengan Pan-Asia yang Jepang sebagai saudara tua, menjadi pemimpinnya. Hakkoichiu, organisasi Jepang sudah cukup untuk menyamakan cita-cita Islam dengan bangsa Indonesia. Haji Abdul Muniam Inada, kepala Shumubu menerangkan, “ Semangat Dai Nippon dan Islam adalah sangat dekat antara satu dengan yang lain, tidak ada satu zarrah identitas pun yang menunjukkan yang satu lebih unggul daripada yang lain.” [14]

Perjuangan Umat Islam Pada Masa Pendudukan Jepang

Kerja paksa pada jaman Jepang dinamakan Romusha. Banyak rakyat dipekerjakan secara paksa demi kepentingan perang Jepang. Selain itu, ada pula yang samapi dikirim jauh, dan hanya beberapa orang saja yang kembali. Gadis-gadis Indonesia dikerahkan hanya untuk menghibur tentara Jepang. Pada awalnya, mereka diberi embel-embel akan diberi pendidikan yang layak, tapi semua itu palsu. [15]

Untuk melepaskan diri dari cengkraman Jepang, maka berbagai upaya perlawanan pun dilakukan, baik melalui perjuangan di bawah tanah maupun perjuangan bersenjata. Perjuangan bawah tanah terdiri dari para pegawai yang diam-diam menghimpun kerkuatan untuk mempersatukan rakyat berjuang mencapai kemerdekaan. Perjuangan bawah tanah dilakukan di berbagai daerah, salah satunya adalah di Jakarta:[16]

  1. Kelompok Sukarni, merupakan gerakan yang menghimpun orang-orang yang berjiwa revolusioner, mempunyai cita-cita kemerdekaan, dan berani membungkam kebohongan yang dilakukan Jepang. Kelompok ini mendirikan sebuah asrama politik dengan nama Angkatan Baru Indonesia. Hal ini dilakukan agar gerakannya tidak diketahui. Di dalam asrama tersebut terdapat tokoh-tokoh pergerakan nasional, seperti Ir.Soekarno, Drs. Moh. Hatta, Mr. Ahmad Subarjo, dan Mr.Sunaryo.
  2. Kelompok Ahmad Subarjo, kelompok ini menghimpun tokoh-tokoh bangsa Indonesia yang bekerja dalam Angkatan Laut Jepang. Sehingga berhasil mendirikan Asrama Indonesia Merdeka. Di dalam asrama tersebut ditanamkan pelajaran untuk dapat memimpin bangsa sekaligus menanamkan semangat nasionalisme kepada para pemuda Indonesia.
  3. Kelompok Sutan Syahrir, kelompok ini berjuang dengan menghimpun mantan teman-teman sekolah dan rekan seorganisasi pada zaman Hindia Belanda. Syahrir memberikan pelajaran di Asrama Indonesia Merdeka.bersama Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, Ahmad Subarjo, dan Iwa Kusuma Sumantri.
  4. Kelompok Pemuda, kelompok ini banyak diperhatikan oleh Jepang untuk menjalankan kepentingan Jepang. Pemerintah Jepang memberikan kursus-kursus dan lembaga-lembaga pendidikan. Tetapi, kelompok ini tidak mudah terpropaganda oleh Jepang. Sehingga muncullah dua kelompok pemuda yang aktif berjuang yang terhimpun dalam Ika Gaigakhu (Sekolah Tinggi Kedokteran) dan Badan Permusyawaratan/Perwakilan Pelajar Indonesia (BAPEPPI).

Perlakuan Jepang yang semakin menyengsarakan rakyat membuat mereka melakukan perlawanan dan menentang Jepang, bahkan dengan perlawanan bersenjata. Perlawanan tersebut juga terjadi di berbagai daerah:

  1. Di Aceh, perlawanan terjadi di daerah Cot Plieng pada bulan Nopember 1942 yang dipimpin oleh Tengku Abdul Jalil. Tetapi, perlawanan ini tidak berhasil, Abdul Jalil pun tewas karena ditembak Jepang. Kemudian pada bulan Nopember tahun 1944, prajurit-prajurit dari Giyugun yang dipimpin oleh Teuku Hamid melakukan perlawanan. Untuk menghadapi perlawanan ini, Jepang menyandera seluruh anggota keluarga para pejuang, sehingga mau tidak mau Teuku Hamid harus menyerah dan membubarkan pasukan.
  2. Di Jawa Barat, perlawanan terjadi pada bulan Februari 1944 di daerah Sukamanah yang dipimpin oleh K.H. Zainal Mustafa. Perlawanan ini dilakukan karena Jepang sudah sangat keterlaluan dan membebani rakyat dengan setoran dan kerja paksanya. Semangat Jihad yang diluncurkan adalah untuk memerangi orang kafir Jepang. Ketika Jepang menghadirkan Kempeitei yang berasal dari orang-orang Indonesia sendiri, K.H Zainal Mustafa dan murid-muridnya tidak mau berperang, dan justru malah ditembak lebih dulu. Pertarungan yang sangat singkat ini yaitu 90 menit menyebabkan K.H Zainal Mustafa di hukum mati.
  3. Di Blitar, perlawanan terjadi pada tanggal 14 Februari 1945 yang dipimpin oleh Supriyadi. Ia adalah seorang Komandan Pleton I kompi III dari Batalion II Pasukan Peta di Blitar. Perlawanan di Blitar merupakan perlawanan terbesar pada masa pendudukan Jepang.

Jepang terdesak dalam perang pasifik, sehingga menjanjikan kemerdekaan dalam waktu dekat, maka dibentuklah BPUPKI yang dilantik 28 Mei 1945. BPUPKI memiliki arti penting karena untuk pertama kalinya dalam sejarah, para pemimpin Indonesia berkumpul dalam suatu wadah membicarakan persiapan kemerdekaan bangsa. Dalam BPUPKI terdapat dua ideologi yang berbeda antara Islam dan nasionalis sekuler.

Sidang BPUPKI
Sidang BPUPKI

Pada 9 Agustus dibentuklah PPKI. Pada tanggal 15 Agustus 1945 Jepang menyerah tanpa syarat dan kosong kekuasaan, hal ini dimanfaatkan pemimpin bangsa untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Pada tanggal 17 Agustus 1945 setelah proklamasi kemerdekaan datanglah utusan dari Indonesia Timur, ada yang mengatakan seorang opsir Kaigun (Angkatan Laut) datang menemui bung Hatta, menyampaikan bahwa wakil-wakil dari agama Protestan dan agama Katolik dalam daerah yang dikuasai angkatan laut Jepang merasa keberatan dengan adanya sila pertama yang berbunyi ”Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”.

ppki
Sidang PPKI

Usulan yang diterima bung Hatta kemudian disampaikan dalam sidang PPKI, bung hatta juga menemui beberapa pemimpin Islam untuk membicarakan hal tersebut, yaitu Ki Bagus Hadikusumo, Kasman Singodimejo, dan Teuku Muhammad Hasan.

Akhirnya golongan Islam menerima perubahan Piagam Jakarta , keputusan yang diambil oleh beberapa pemimpin Islam dalam waktu yang sangat singkat itu , sungguh mencerminkan sikap kenegarawaan dan komitmen terhadap persatuan dan kesatuan bangsa yang tiada bandingnya dalam sejarah Republik Indonesia. Adapun alasan golongan Islam adalah:

  1. Karena dalam sila “Ketuhanan Yang Maha Esa”, menurut interpretasi golongan Islam adalah nama lain dari tauhid dalam Islam. Sebab hanya Islamlah yang mengenal “Keesaan Tuhan” (tauhid).
  2. Suhu politik sehari setelah setelah proklamasi,terutama di Jakarta sangat tinggi. Mereka tidak bermaksud untuk menciptakan suasana ketidaktentraman lagi hanya karena perdebatan-perdebatan yang berkepanjangan, padahal negara yang baru lahir butuh konstitusi.
  3. Golongan Islam berharap bahwa enam bulan setelah proklamasi akan diadakan pemilihan umum, di mana mereka akan ikut serta. Kalangan Islam pada saat itu sangat optimis akan memenangkannya mengingat jumlah penduduk Indonesia mayoritas beragama Islam.

DAFTAR PUSTAKA

Benda. Harry J. Bulan Sabit dan Matahari Terbit, terj Daniel Dhakidae. Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya, 1958.

Kaelan. Pendidikan Pancasila. Yogyakarta: Paradigma Offset, 2010.

Listiyani, Dwi Ari. Sejarah. Jakarta: Pusat Perbukuan , Departemen Pendidikan Nasional, 2009.

Notosusanto, Marwati Djoened & Nugroho. Sejarah Nasional Indonesia VI. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan: Balai Pustaka, 1984.

Shiddiqi, Nourouzzaman. Menguak Sejarah Muslim Suatu Kritik Metodologis. Jakarta: PT Djaya Pirusa, 1984.

Suryanegra, Ahmad Mansur. Menemukan Sejarah Wacana Pergerakan Islam di Indonesia. Bandung: Mizan, 1995.

[1]Kapitulasi adalah penyerahan kekuasaan sebagai akibat kekalahan dalam peperangan kepada pihak yang menang.

[2]Marwati Djoened & Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia VI (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan: Balai Pustaka, 1984), hlm. 1-5.

[3]Kaelan, Pendidikan Pancasila (Yogyakarta: Paradigma Offset, 2010), hlm. 35.

[4]Dwi Ari Listiyani, Sejarah (Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, 2009), hlm. 174.

[5]Ibid, 174-175.

[6]Harry J. Benda, Bulan Sabit dan Matahari Terbit, terj Daniel Dhakidae (Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya, 1958), hlm. 134.

[7] Dwi Ari, Sejarah, hlm. 176.

[8]Shumubu adalah Departemen Agama pusat buatan Jepang. Dibentuk pada bulan Maret, yang mana tugasnya dibebankan pada tiga orang haji Jepang, yaitu: Haji Abdul Muniam Inada, Haji Abdul Hamid Ono dan Haji Muhammad Saleh Suzuki. Mereka didaratkan ke Indonesia dipimpin oleh Kolonel Horie, seorang Jepang non Muslim.

[9] Shumuka adalah Departemen Agama di tingkat karesidenan.

[10] Nourouzzaman Shiddiqi, Menguak Sejarah Muslim Suatu Kritik Metodologis (Jakarta: PT Djaya Pirusa, 1984), hal. 111-119.

[11] Dwi Ari, Sejarah,, 179-183.

[12] Nourouzzaman Shiddiqi, Menguak Sejarah Muslim Suatu Kritik Metodologis, hlm. 94-95

[13] Ahmad Mansur Suryanegra, Menemukan Sejarah Wacana Pergerakan Islam di Indonesia (Bandung: Mizan, 1995), hal. 258.

[14] Nourouzzaman Shiddiqi, Menguak Sejarah Muslim Suatu Kritik Metodologis, hal. 91-111

[15] Ibid, hal. 124.

[16]Dwi Ari, Sejarah,hlm. 176-179.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *