Sejarah Afghanistan Abad XIX-XX M

Afghanistan flag
Afghanistan flag

Abad ke-20 biasa juga disebut dengan masa modern merupakan suatu masa dimana banyak terjadi usaha-usaha untuk pembaharuan yang biasanya digerakkan oleh seorang tokoh. Usaha pembaharuan ini terjadi hampir di seluruh wilayah Islam, termasuk di salah satu Negara yang ada di Asia Tengah, yakni Afghanistan. Afghanistan merupakan sebuah Negara yang memiliki kekhasan tersendiri dari Negara-negara lain. Diantaranya adalah Afghanistan memiliki banyak etnis (multicultural). Keadaan inilah yang nantinya akan menghantarkan banyaknya terjadi pertikaian di Afghanistan.

Selain itu, keadaan Afghanistan pada masa modern juga memiliki keterkaitan dengan bangsa-bangsa asing, terkhusus Soviet. Sedangkan Inggris mencoba untuk memonopoli Afghanistan. Ketika berbicara mengenai modernism di Negara ini, maka usaha awal modernism dipelopori oleh para pemimpin dari sebuah dinasti yang pernah berkuasa di Afghanistan, yakni Dinasti Durraniyah. Banyak tokoh dari Dinasti ini yang kemudian membuat kebijakan-kebijakan luar biasa. Pada perkembangannya, modernism yang terjadi di Afghanistan juga digerakkan oleh para pelajar yang telah belajar dengan sistem pendidikan ala modern di luar negeri.

Meskipun Afghanistan berhasil dideklarasikan sebagai sebuah Negara Islam, namun sejarah mencatat bahwa Negara ini merupakan salah satu Negara yang pernah dikuasai oleh rezim Komunis yang diciptakan oleh Soviet. Berangkat dari hal tersebut, maka perkembangan modernisme di Afghanistan menjadi menarik untuk dibahas lebih lanjut.

Gambaran umum Afghanistan

political map of Afghanistan

Jumlah penduduk: 28,7 juta jiwa (perkiraan bulan Juli 2003)

Ibu kota: Kabul

Etnis: Pasthun (44%), Tajik (25%), Uzbek (8%), Hazara (10%), lain-lain (13%)

Bahasa: Pastho (35%), Persia Afgani (50%), Turki (11%), dan lain-lain (4%)

Agama: Muslim Sunni (84%), Syi’ah (15%), lain-lain (1%)

Islam masuk ke wilayah Afghanistan dimulai sejak masa khalifah Umar Bin Khattab melalui ekspedisi yang dipimpin oleh Asin Bin Amar at-Tamimy, tepatnya sekitar tahun 637 M. Mulai saat itulah peradaban Islam mulai menyebar dan mengakar di Negara ini. dari masa Anawiyah di Damaskus dan Abbasiyah di Baghdad hingga sampai dipegang oleh dinasti-dinasti kecil, kewilayahan Afghanistan telah mengalami proses akumulasi sejarah yang sangat kompleks, terkhusus dalam bidang kebudayaan dan politik, terutama dalam hal memadukan antar kekuatan Persia dan Turki. Namun pada masa modern, tepatnya sekitar abad ke-19 bangsa asing mulai mencoba untuk mengusai Negara ini. Diantaranya adalah Inggris dan Soviet. Pengaruh dari kedua Negara ini sangat besar terhadap Afghanistan.

Secara geografis, batas-batas wilayah Afghanistan di sebelah Timur dan Selatan terjepit oleh Pakistan, sebelah Barat oleh Iran, sedangkan sebelah Utara oleh Uzbekistan dan Tajikistan. Sebagaimana yang telah disebutkan bahwa Negara ini terkurung oleh daratan yang luas, sehingga tidak memiliki akses laut dan akhirnya menyulitkan mereka dalam hal perdagangan.

Afghanistan pada abad ke-19 menjadi penyanggah antara kekaisaran kolonial Russia dan kerajaan Inggris di India. Afghanistan merupakan sebuah Negara yang mayoritas penduduknya 99% muslim. Afghanistan merupakan sebuah Negara yang terkurung oleh daratan seluas 647.500 klometer persegi, terutama terdiri atas gunung-gunung terjal, lembah dalam, dan dataran tinggi gersang. Afghanistan terletak di jantung Asia, dan merupakan perlintasan penting bagi berbagai bangsa, budaya, dan agama, terkhusus kebudayaan Persia, India, dan Turki.

Penduduk Afghanistan tidak seluruhnya tinggal di Negara ini, melainkan ada juga dari sebahagian penduduknya mengungsi ke Negara-negara lain, seperti Pakistan dan Iran. Namun ketika rezim komunis ciptaan Soviet berhasil diruntuhkan pada April 1992, banyak dari para pengungsi tersebut yang kembali ke daerah-daerah pedesaan dan kota-kota provinsi. Akan tetapi, pertempuran antarfraksi yang berlanjut diantara kelompok Mujahidin Afghan untuk menguasai Kabul, mengakibatkan terjadi lagi pengungsian ribuan juta jiwa, yang sebahagian besar dari mereka mengungsi ke Pakistan.

Masyarakat Afghanistan pada umumnya bertempramen keras dan pemberani karena kondisi lingkungan dan sejarah yang menerpanya. Pertikaian internal sangat sering tejadi karena permasalahan sentiment masing-masing etnis. Contohnya adalah pertikaian yang terjadi antara kelompok bekas pemerintah terdahulu pimpinan Burhanuddin Rabbani dan panglimanya Ahmad Syah Mahmoud, dengan kelompok pemerintahan Taliban. Pemerintahan Rabbani yang dituding kurang militant dalam Islam banyak dikendalikan oleh orang-orang Tadzik, sedangkan Taliban sekarang berasal dari keompok pelajar beretnis Pasthun.

Afghanistan memiliki beragam sumber daya alam, diantaranya adalah gas alam, minyak, batubara, tembaga, sulfur, barit, timah, seng, bijih besi, serta batu-batu mulia. Namun adanya perang antaretnik yang sangat tumbuh subur di Afghanistan, telah menghancurkan perekonomian mereka sehingga menjadikan Negara ini menjadi sebuah Negara mayoritas muslim termiskin di dunia. Selain itu, keterpurukan perekonomian Afghanistan juga diakibatkan oleh politik Negara tetangga, Pakistan dan Iran seringkali mempersulit kenyataan mereka, dan adanya campur tangan dari Negara-negara Barat, seperti Amerika.

Perkembangan modernisme di Afghanistan

Afghanistan Village
Afghanistan Rich House

Afghanistan modern merupakan sisa dari salah satu dinasti muslim besar masa lalu di wilayah itu, yakni Dinasti Durraniyah yang didirikan oleh Ahmad Syah Durrani (memerintah 1747-1772), yang memisahkan diri dari Dinasti Mughal di India. Namun dinasti ini mulai terpecah-pecah pada peralihan abad ke-19 akibat pertumpahan darah dalam memperebutkan suksesi, juga akibat semakin besarnya tekanan-tekana politik dan militer dari luar. Perang saudara yang berlarut-larut mendorong terjadinya pelanggaran batas Afghanistan oleh Inggris dan Russia, yang mengakibatkan dua kali perang Inggris-Afghanistan (1839-1842 dan 1879-1880) dan terlepasnya beberapa wilayah Afghanistan.

Dampak bantuan dan campur tangan asing terjadi segera setelah perang Inggris-Afghanistan II (1879-1880), ketika Inggris mengangkat Amir ‘Abd Al-Rahman Khan (1880-1901), yang merupakan salah satu anggota keluarga Muhammadzai dari Dinasti Durraniyah. Dengan subsidi tahunan dan bantuan teknis Inggris, Amir ‘Abd Al-Rahman “Sang Amir Besi” dapat mengkonsolidasikan kekuasaan atas seluruh negeri.

Tidak seperti pendahulunya, Amir ‘Abd al-Rahman percaya bahwa kekuasaannya sebagai pemberian langsung dari Tuhan, dan bukan dari dukungan rakyat atau kepala-kepala suku. Ia memakai gelar Dhiya’u al-Millati wa al-Din (Cahaya Bangsa dan Agama). Ia mengklaim bahwa tujuan Tuhan memberinya kedudukan “khalifah” kepadanya adalah untuk menjaga Afghanistan dari ancaman agresi asing dan dari gangguan internal. Ia memaksa rakyat Kafiristan sebagai satu-satunya warga non-muslim pribumi yang tersisa di Afghanistan untuk masuk Islam, dan mengganti wilayah mereka dengan “Nuristan” (Negari Cahaya). Ia juga menyatakan jihad melawan Syi’ah.

Sang Amir Besi membenarkan kebijakan-kebijakannya secara sistematis, dengan mendandani monarkinya dengan baju Islam. ia juga mengklaim sebagai satu-satunya penafsir doktrin Islam. Ia dapat dikatakan sebagai pemimpin yang sangat kejam. Ia juga melemahkan peran ulama dan masyayikh (para guru Sufi) yang berpengaruh dalam pengelolaan pendidikan Islam dan masyarakat sipil, dan mengklaim bahwa tugas seperti ini harus ditangani oleh Negara. Pada masa ini ia juga membuat kebijakan yang semakin memperluas jurang antara suku Pastun dengan non Pastun, dan Sunni dengan Syiah. Para petani yang tinggal di luar wilayah Pasthun memikul beban pajak yang berat. Kebijakannya juga menimbulkan keterasingan bagi sebagian besar penduduk pedesaan. Kebijakan ini masih dapat dipertahankan hingga pemerintahan putranya, Amir Habib Allah (memerintah 1901-1919).

Menjelang akhir dari kekuasaan Habib Allah, mulai muncul ideologi-ideologi politik baru, seperti Konstitusionalisme, nasionalisme, sekularisme liberal, reformisme, dan modernism Islam. ideologi-ideologi tersebut mulai bersaing dengan ideologi-ideologi kerajaan. Pada masa raja Amanullah (memerintah 1919-1929), ia memperkenalkan konstitusi Afghanistan yang pertama, tepatnya pada 1923. Dia berupaya mempromosikan gagasan persamaan dan pengembangan ideologi nasional yang didasarkan atas karakter-karakter umum seluruh warga Afghanistan, namun upaya tersebut akhirnya gagal. Kekuasaannya terguncang oleh pemberontakan rakyat bersenjata yang didukung oleh sebagian ulama konservatif dan ruhani, di bawah panji-panji jihad terhadap raja kafir dan ia diasingkan pada tahun 1929.

Tombak pemerintahan kemudian dipegang oleh Muhammad Nadir Syah (memerintah 1929-1933). Ia banyak menghapus kebijakan sebelumnya yang dianggapnya diilhami oleh Barat. Ia meminta Majelis Agung untuk mengesahkan konstitusi baru, pada tahun 1931. Ia juga mendirikan Jam’iyatul ‘Ulama untuk memerintahkan pencetakan al-Quran yang pertama di Negara tersebut, menghapuskan pembatasan peran ulama, serta menegaskan kembali dominasi syariah Madzhab Hanafi di negeri itu. Sedangkan kebijakan sebelumnya yang masih dipertahankan adalah peradilan syariah.

Suku Pasthun yang berada di perbatasan Tenggara dibebaskan dari pajak dan wajib militer. Sedangkan para penguasa Musahiban (memerintah 1929-1978) menerapkan kebijakan yang mendua terhadap Islam, terkhusus dalam pengembangan pendiidkan modern. Sistem pendidikan mempunyai agenda sekuler yang tidak memiliki ideologi politik dan moral yang koheren. Pada tahun antar 1960-an dan 1970-an, ketika terjadi suasan genting dalam pemerintahan, para pemimpin Afghanistan sibuk memperkenalkan pemerintahan model Barat untuk menyenangkan teman-teman asing mereka.

Setelah diberlakukannya konstitusi Liberal pada 1964, muncullah partai-partai Marxis dan Maois. Sebagai responnya, muncul juga gerakan-gerakan Islam., tidak hanya untuk menangkal ancaman potensial komunis, tetapi juga untuk menantang legitimasi monarki Musahiban. Secara khusus, kelangsungan hidup Negara Afghanistan sangat bergantung pada Patroase Soviet. Akibatnya, pemerintahan sangat menentang gerakan Islam. pada Juli 1973, putera mahkota Muhammad Daud melakukan kudeta militer, menghapuskan monarki, dan mengumumkan dirinya sebagai presiden Republik Afghanistan (1973-1978). Namun lima tahun berikutnya ia menjadi korban kudeta dari Partai Demokratis Rakyat Afghanistan.

Gagasan revolusioner Islam di Afghanistan sebenarnya datang dari Mesir melalui para sarjana Afghanistan yang belajar di Al-Azhar Kairo, dan juga dari Syaikh Al-Azhar yang mengajar di Fakultas Syara’iyat (Studi-studi Islam) di Kabul. Gerakan-gerakan politik mereka mula-mula di tingkat fakultas secara rahasia dan di dunia kemahasiswaan secara terbuka, seperti organisasi Nahzhat-i Javanan-I Musulman (Gerakan Pemuda Islam).

Mereka umumnya bergerak di perkotaan. Gerakan ini dipimpin dan diorganisasi oleh generasi muda berpendidikan formal, menggugat legitimasi sistem politik yang ada dan menyerukan reformasi radikal positif yang berhubungan dengan kekuasaan serta menuntut pemerintahan Islam. Gerakan ini akhirnya dapat memaklumkan Afghanistan sebagai Negara Islam pada April 1992.

Gerakan jihad di Afghanistan secara umum dipelopori oleh dua faksi utama gerakan Islami orisinal, yakni Jam’iyat-I Islami (masyarakat Islam) yang dipimpin oleh Burhanuddin Rabbani dan Hizb-I Islami (Partai Islam), yang dipimpin oleh Gulbuddin Hekmatyar. Dampak perbedaan pandangan politik antar Rabbani dan Hekmatyar ini semakin memperkeruh masalah etnis di Afghanistan.

Ada dua perkembangan lain yang juga memainkan peran penting dalam menciptakan dan melanggengkan  perpecahan faksional dalam gerakan jihad Afghanistan, yakni: pertama, pemerintah Pakistan hanya mengakui secara resmi lima organisasi perlawanan lain yang didominasi oleh etnis Pasthun. Kedua, hampir semua kelompok ini bermarkas di Negara tetangga, seperti Pakistan dan Iran, serta bergantung sepenuhnya pada bantuan dana dan persenjataan dari luar, baik dari Muslim maupun non. Muslim.

Bantuan besar juga datang dari Soviet tampaknya dari perspektif warga Afghanistan sendiri, bahwa pemerintah dan Negara sangat bergantung pada: pertama, bagaimana tanggung jawabnya sebagai pembela Islam dan tanah air. Kedua, bagaimana persepsi rakyat tentang kesalehan pribadi penguasa dan pejabat pemerintahan yang sedang berkuasa. Selama kedua-duanya bisa dipenuhi secara baik, maka dukungan pada Negara dan pemerintahan akan tetap berlangsung.

Multi Konflik yang muncul pasca runtuhnya pemerintahan Komunis

Persaingan Jam’iat-e Islami dan Hizb-e Islami.

Keberhasilan menumbangkan pemerintahan boneka Soviet Najibullah di Kabul dan kemenangan Mujahidin, di bawah pimpinan Ahmad Syah Mas’ud, memunculkan euphoria sekaligus kepahitan evolusi sejarah di Afghanistan. Pemerintahan Rabbani yang memegang tampuk kekuasaan setelah kemenangan kaum Mujahidin kesulitan mendapatkan legitimasi politik dikareakan munculnya masalah-masalah yang  kompleks.

Dua kekuatan besar, Jami’at Islami, pimpinan Burhanuddin Rabbani terjebak dalam konflik berdarah dengan Hizb-e Islami pimpinan Hekmatyar untuk mencapai kekuasaan. Hal ini terjadi antara lain karena adanya konflik personal antara para pemimpin maupun perbedaan tradisional etnolinguistik. Jami’at Islami didominasi etnis Tajik yang secara historis hanya berjumlah tiga puluh persen dari seluruh populasi Afghanistan. Sedangkan Hizb-e Islami mayoritas terdiri dari etnis Pustun yang merupakan jumlah terbesar penduduk terbesar dari seluruh populasi Afghanistan, berkisar antara 40-50 persen.

Konflik antara dua golongan ini semakin memanas dikemudian hari. Hekmatyar yang mendapatkan bantuan secara penuh intelegent Pakistan (ISI) terus berusaha merongrong kekuasaan Rabbani. Ia tidak segan melakukan serangan ke kota Kabul dengan menggunakan persentaan roket yang merengut ribuan nyawa rakyat sipil. Tujuannya, melemahkan dominasi Jamiat dengan koalisinya. Ia juga berusaha menciptakan konflik antara Jamiat dan Wahdat. Bahkan setelah Hekmatyar  telah menjadi Perdana Menteri sesuai kesepakatan di Islamabad Maret 1993, dia masih saja berada di luar Kabul. Puncaknya, pada januari 1994 melalui koalisi dengan musuh lamanya Dostum dan Mujjadi, Hekmatyar melancarkan serangan roket ke Kabul secara membabi-buta yang menewaskan 25.000 penduduk kota.

Target operasi Hekmatyar ada tiga. Pertama, membuat Rabbani dan Mas’ud tidak punya kesempatan melakukan konsolidasi kekuatan. Kedua, menegaskan, bahwa pemerintahan Rabbani membangun aliansi serta meminta penduduk Kabul memberikan dukungan lebih lanjut pada pemerintah. Ketiga menjadikan Kabul sebagai kota yang tidak aman bagi perwakilan-perwakilan masyarakat Internasional.

Dengan demikian pemerintah Rabbani akan kesulitan untuk mendapatkan dukungan dari dunia Internasional, dan roda ekonomi pun akan berhenti. Ini membuat kepercayaan terhadap Rabbani menurun, sejauh ini usaha dari Hekmatyar sukses. Namun ternyata usaha-usaha tersebut belum bisa membawa Hekmatyar menaklukan Kabul, malah hubungan dia dengan intelegent Pakistan yang selama ini memasok modal dan persenjataan bagi dia, mulai merenggang. Hal ini mendorong badan Intelegent Pakistan (ISI) mengalihkan dukungan pada kekuatan baru, yaitu milisi Taliban.

Munculnya Taliban

Taliban
Pasukan Taliban

Ketika konflik antara golongan Rabbani dan golongan Hekmatyar masih berkobar. Muncul kekuatan baru  dari wilayah selatan Afganistan, kekuatan baru ini tumbuh dengan cepat, nama kekuatan baru ini adalah “Taliban”. Taliban sendiri berarti penuntut ilmu. Istilah imi berasal dari bahasa Arab yang di-Persiakan (Iran) dalam bentuk jamak. Gerakan ini dipersenjatai dan didanai oleh Pakistan maupun etnis Pustun di perbatasan, yang dengan cepat telah melebihi kekuatan Hekmatyar. Dan ini menjadi musuh baru pemerintahan Rabbani.

Awal mula kemunculan Taliban menurut pejabat resminya adalah dari madrasah-madrasah sederhana di desa Singesar wilayah Maiwand, provinsi Kandahar tempat dimana Mohammad Omar pimpinan, dan beberapa mantan mujahidin belajar. Bersamaan dengan adanya tingkah laku yang kurang simpatik dari mujahidin dengan cara melakukan perampokan di jalan-jalan yang mereka angap sebagai upeti, pemerkosaan yang telah menjadi norma yang sangat menekan, Mohammad Omar bersama tiga puluh kawan seperjuangannya akhirnya memutuskan untuk mengangkat senjata 1994. Bersamaan dengan kemarahan rakyat yang telah memuncak pada kondisi Afghanistan yang semakin makin semrawut mereka bangkit dari Kandahar.

Mullah Mohammed Omar
Mullah Mohammed Omar

Dengan bantuan persenjataan dan modal dari intelegent Pakistan (ISI), Taliban dengan cepat menjelma menjadi kekuatan baru yang diperhitungkan. Mereka kemudian mulai melakukan wilayah-wilayah Afghanistan yang dikuasai para Mujahiddin. Mereka tidak peduli wilayah tersebut dikuasai oleh Jami’a Islami atau Hizib Islami, karena Taliban memang tidak memihak salah satu dari dua golongan tersebut. Taliban terus menguasai wilayah-wilayah pemerintahan pada masa itu, tanpa menghela nafas mereka terus bergerak menuju kota Kabul. Hal ini membuat komandan tempur pemerintah terperangah dengan strategi Taliban. Puncaknya pada 26 september 1996, pasukan pemerintah yang dibawah pimpinan jenderal Mas’ud memutuskan menarik pasukan dari Kabul. Dengan demikian kota Kabul resmi menjadi wilayah kekuasaan Taliban.

Tanpa memperdulikan reaksi dunia, mereka menerapkan aturan baru di Kabul secara paksa. Penduduk Kabul kemudian dibuat tercengang ketika mendapatkan Najibullah (mantan presiden Afghanistan) bersama adiknya, mati tergantung di lapangan Ariana dengan tali nilon. Hanya dalam hitungan hari, para pemimpin Taliban mengeluarkan sederet aturan sosial yang melumpuhkan aktivitas kota Kabul.

BIBLIOGRAFI

Esposito, John. 2002. Ensiklopedi Oxpord: Dunia Islam Modern (Bandung: Mizan).

Maley, William. 1999. Taliban dan Multi Konflik di Afghanistan (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar).

Maryam, Siti dkk (ed). 2003. Sejarah Peradaban Islam Dari Masa Klasik HIngga Modern (Yogyakarta: LESFI).

Tohir, Ajid. 2011. Studi Kawasan Dunia Islam: Perspektif Etno-Linguistik dan Geo Politik (Jakarta: Rajawali Pers).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *