Sepak Terjang sang Raja Mogok, Soerjopranoto

Melalui Personel Fabriek Bond, Soerjopranoto memobilisasi massa buruh untuk memprotes kezaliman para pengusaha dan pemerintah kolonial. Sebagai buntut aksinya itu, pemerintah kolonial menjulukinya Stakings Koning alias raja mogok.

Bangsawan yang Membumi: Raden Mas Soerjopranoto

Tidak banyak bangsawan yang mau hidup membaur dengan rakyat jelata. Hidup gelamor dalam kemewahanan adalah stereotipe paling umum untuk golongan ini.

Akan tetapi, tidak semua bangsawan acuh tak acuh terhadap penderitaan rakyat jelata. Soerjopranoto adalah salah satunya. Lahir di lingkungan Pakualaman pada 11 Januari 1871, Raden Mas Soerjopranoto banyak menghabiskan hidupnya untuk memperjuangkan nasib buruh yang tertindas.

Ayah Soerjopranoto, Kanjeng Pangeran Aryo Suryaningrat, merupakan putra sulung Pakualam III. Sayangnya, kebutaan yang dialaminya membuat dirinya tersingkir dari posisi pewaris takhta.

Penerus Pakualam III adalah sepupu Suryaningrat, Suryo Sasranigrat (Pakualam IV). Ia dikenal menggemari hidup glamor dan suka berpesta. Kebiasaan yang akhirnya menyeret keluarga Pakualaman ke dalam krisis keuangan.

Keadaan ini memaksa Suryaningrat beserta anak-anaknya keluar dari istana dan hidup sederhana. Hidup di luar istana ternyata membuat pribadi Soerjopranoto dan adiknya, Soewardi Soerjaningrat (Ki Hadjar Dewantara), peka terhadap permasalahan sosial kalangan bawah. Bahkan ia rela melepaskan gelar Raden Masnya untuk menceburkan diri dengan penduduk biasa.

Soerjopranoto
Soerjopranoto. Sumber historia.jogjaprov.go.id.

Seperti bangsawan lain pada masanya, Soerjopranoto diproyeksikan untuk berkarier sebagai pegawai pemerintah. Karena itu, ia memperoleh kesempatan untuk mengenyam pendidikan Barat. Awalnya ia masuk Europeesche Lagere School (ELS), lalu melanjutkan ke Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA).

Sejak muda, ia dikenal sebagai pemuda yang cerdas dan kritis. Perilakunya yang sulit diatur membuat keluarga Pakualaman dan pemerintah kolonial meradang. Akhirnya, ia dibuang ke Middelbare Landbouw School (MLS) Buitenzorg dengan alasan disekolahkan.

Setelah menyelesaikan studinya di MLS, ia memperoleh dua ijazah sekaligus yakni sebagai landbouwleraar (guru ilmu pertanian) dan landbouwkundige (ahli pertanian).

Setelah lulus, Soerjopranoto diangkat oleh pemerintah kolonial sebagai Kepala Dinas Pertanian (Landbouw consulent) merangkap pemimpin sekolah pertanian di Dieng, Wonosobo.

Di Wonosobo, ia semakin aktif berorganisasi dengan bergabung ke Boedi Oetomo (BO). Sayangnya, ia menganggap organisasi itu terlalu konservatif. Menurutnya BO hanya berisi orang-orang yang hidup di meja dan kamar yang enggan berjuang untuk persamaan kelas.

Setelah muak dengan Boedi Oetomo, Soerjopranoto memutuskan berhenti sebagai pegawai pemerintah dan beralih ke organisasi yang dianggapnya lebih radikal, yakni Sarekat Islam (SI). Kala itu SI Yogyakarta belum memiliki basis pendukung yang kuat.

Selain aktif di SI Yogyakarta, ia juga mendirikan Adhi Dharma Arbeidlseger pada 1915. Organisasi ini bergerak dalam bidang sosial-ekonomi dan bertujuan meningkatkan kesejahteraan buruh. Salah satu cara yang ditempuh adalah menyediakan kesempatan pendidikan bagi penduduk bumiputera.

Sekolah yang didirikan oleh Soerjapranoto ini menjadi laboratorium bagi adiknya, Ki hadjar Dewantara, sebelum ia mendirikan perguruan Taman Siswa.

Mendirikan Personeel Fabriek Bond

Pada akhir dekade pertama abad ke-20, ketimpangan ekonomi antara penduduk bumiputera dan pemegang modal semakin kentara.  Di kala perusahaan-perusahan partikelir meraup keuntungan yang tinggi, nasib para buruh justru memprihatinkan.

Gaji buruh yang kecil diperparah dengan inflasi tinggi, semakin menyeret mereka ke jurang nestapa. Celakanya, pemerintah kolonial justru bersikap abstain dengan kondisi ini.

Soerjopranoto
Pabrik gula di Delanggu sekitar tahun 1897.

Pemerintah terlihat enggan mengusik pemilik modal, karena mereka dianggap aset berharga untuk program kesejahteraan yang digencarkan pemerintah kolonial. Mereka baru ikut campur apabila terjadi konflik besar antara buruh dan pemilik modal.

Baca juga: Pasang Surut Industri Gula di Indonesia

Pada akhirnya eksploitasi tenaga kerja yang semakin brutal merangsang munculnya serikat-serikat buruh pada periode 1918-1919. Soerjopranoto tidak ketinggalan memanfaatkan momentum tersebut untuk mendirikan Arbeidsleger (tentara buruh) bernama Prawiro Pandojo in Joedo pada Agustus 1918 sebagai cabang Adhi Dharma.

Arbeidsleger itu kemudian berkembang menjadi Personeel Fabriek Bond (PFB)pada November 1918. Organisasi ini kemudian menjadi organisasi underbow perburuhan SI.

Soerjapranoto dan kelompoknya berpendapat sudah waktunya buruh membalas penindasan yang dilakukan oleh pemilik modal. Aksi mogok dianggap sebagai terobosan paling tepat untuk memberi pelajaran kepada penguasaha. Kapitalisme tidak akan berguna jika buruh sebagai faktor produksi berhenti bekerja.

Bertepatan dengan pendirian PFB, Soerjapranoto menyerukan dalam surat edaran pertama organisasi itu bahwa sudah tiba zaman tatkala rakyat dapat bersuara dan terlibat dalam pembuatan peraturan.

Zaman demokrasi sudah datang, sudah sepatutnya para buruh memiliki persamaan di mata hukum. Ia juga mengkritik arogansi para pemilik modal yang bertingkah layaknya “Tuhan,” yang seenak hati memecat dan memeras buruh.

PFB mulai menunjukkan taringnya pada musim penggilingan gula tahun 1919. Kala itu pengurus PFB banyak diundang menjadi orator dalam aksi mogok buruh pabrik gula di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Aksi ini membuat para pemilik modal kalang kabut dan mulai mempertimbangkan untuk menaikkan gaji buruh.

PFB tidak hanya mengirim pengurusnya, tetapi juga mendirikan cabang baru di tempat-tempat pemogokan. Melalui cara ini PFB tidak hanya sukses mengorganisasi pemogokan, tetapi juga menambah keanggotaan hingga mencapai 31.000 orang pada tahun 1920.

Pamor Soerjopranoto pun semakin melejit setelah dipilih menjadi pemimpin SI Yogyakarta. Di bawah kepemimpinannya, SI Yogyakarta menjadi cabang paling menonjol bersama SI Semarang pimpinan Semaoen. Kedua cabang ini sama-sama memiliki serikat buruh. SI Yogyakarta memiliki PFB, sedangkan SI Semarang memiliki Vereniging van Spoor-en Tramwegpersoneel/Serikat Buruh Kereta Api dan Trem (VSTP).

Sayangnya masa keemasan PFB tidak berlangsung lama. Serangan balasan yang dilakukan pemilik modal dengan melakukan blacklist terhadap buruh gula yang pernah terlibat mogok ternyata membuat gentar sebagian besar anggota PFB.

Kebijakan ini membuat banyak dari mereka kesulitan mendapat pekerjaan setelah dipecat. Berangsur-angsur anggota PFB pun memilih mundur dari keanggotaan.

Sementara itu, pemerintah kolonial yang sebelumnya terlihat tidak peduli, mulai menekan para pemilik perusahaan agar lebih memperhatikan kesejahteraan pekerja. Upah buruh pun secara bertahap dinaikkan.

Pasca keluarnya kebijakan itu, aksi-aksi PFB tidak mendapat respon seperti sebelumnya. Akhirnya, organisasi ini pun mengalami kemunduran. Menurut Mcvey dalam The Rise of Indonesian Communism, pada tahun 1922 jumlah anggota PFB hanya tersisa 400 orang.

Meskipun PFB mengalami kemunduran, perjuangan Soerjopranoto tidak berhenti begitu saja. Ia tetap aktif di Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII), hingga akhirnya mendirikan Partai Islam Indonesia (PII) bersama Soekiman yang ditendang dari PSII.

Selain itu, ia masih tetap aktif di pers melalui surat kabar Adhi Dharma, Boeroeh Bergerak (1920), Doenia Baroe (1923), dan Suara Bumiputera, yang terus menyuarakan hak-hak buruh. Sebagai buntut dari perjuangannya itu Soerjopranoto setidaknya tiga kali merasakan dinginnya jeruji besi.

Daftar Pustaka

Budiawan. Anak Bangsawan Bertukar Jalan. Yogyakarta: LKiS, 2006.

McVey, Ruth T. The Rise of Indonesian Communism. Singapura: Equinox Publishing, 2006.

Niel, Robert van. Munculnya Elite Modern Indonesia. Jakarta: Pustaka Jaya, 1984.

Shiraisi, Takashi. Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912–1926. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1997.

Wertheim, Wim F. “Conditions on Sugar Estates in Colonial Java: Comparisons with Deli.” Journal of Southeast Asian Studies, vol. 24, no. 2, 1993, pp. 268–84.

Similar Posts:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Unfortunately, this content is protected.